Buku Lama : Mujahid Da'wah...

Untuk apa-apa bicara umum berkaitan Islam.
Pengendali :: KulopAtoi

Postby Arif_Fachrudin on Sat Oct 12, 2002 5:05 am

7. Politik
Zaman kolonial dahulu banyak Muballighin yang takut politik.
Politik baginya “tabu”. Kaum penjajah berusaha sekeras-kerasnya agar Ummat Islam Indonesia bukan saja tidak tahu politik, tapi harus takut kepada politik.
Zaman kolonial masih diperdebatkan hubungan Agama dan politik.
Masih dalam perdebatan waktu itu ideologi kenegaraan Islam.
Guru-guru kolonial melalui sekolah-sekolah kolonial mendidik bangsa kita, bahwa agama dan politik harus terpisah. Tidak ada hubungan antara Masjid dan Negara.
Pendidikan yang begitu dimaksudkan untuk mengabadikan kolonialisme Belanda di Indonesia.
Begitu zaman kolonial dahulu, sebelum kita merdeka.
Sekarang setelah Indonesia Merdeka, persoalan dan pengajian kolonial itu harus sudah tidak ada.
Setiap warganegara Republik Indonesia kini harus berpolitik, harus mengerti politik.
Tukang beca dan petani-kampungpun sekarang telah biasa menuturkan politik.
Politik telah memasuki segala gelanggang, segala ruang dan bidang.
Malah politik telah memasuki dunia olahraga dan pertunjukan kesenian.
Tidak sah menjadi warganegara kalau kita menjauhkan diri dari politik.
Kalau ada orang yang masih menyangsikan bahkan menyangkal adanya hubungan politik dengan Islam, eratnya ikatan Masjid dan Negara, orang itu terang masih berjiwa kolonial.
Para Muballigh Islam harus mengerti politik. Saya tiak menganjurkan agar mereka ikut secara aktif dalam permainan “akrobatik-politik”.
Saya hanya menganjurkan agar Muballighin Islam mengerti politik.
  1. Politik Islam
    Salah satu dari ciri Nubuwwah (ke Nabian) Muhammad adalah membawa konsepsi politik kenegaraan Islam dan melaksanakan konsepsi itu.
    Tidak sempurna Nubuwwah Muhammad, sebagai Nabi Penutup, jikalau Rasul yang besar itu tidak berbicara dan berbuat bagaimana mengatur masyarakat, bagaimana mengendalikan negara.
    Bagaimana mengatur dan menyusun masyarakat, bagaimana hubungan antara pemimpin dengan rakyat, apa hak dan kewajiban timbalbalik antara yang memerintahkan dengan yang diperintah, segala itu diatur dlam organisasi masyarakat yang bernama Negara.
    Literatur politik Islam dalam segala bahasa, harus dibaca dan dipelajari oleh Muballighin kita.
    Dengan jalan itu mereka akan dapat mempertajam pengertian dan memperdalam faham dalam masalah perjuangan.
  2. Politik Nasional
    Yang saya maksudkan dengan politik nasional ialah Politik dalam negeri kita.
    Sebagai seorang Muballigh saudara harus mempunyai dokumentasi yang baik tentang jalannya Revolusi Indonesia yang multi-complex ini.
    Kejadian-kejadian penting dinegeri kita harus saudara ikuti dengan kesadaran.
    Dinamika revolusi hanya saudara fahamkan, jika saudara sedikitnya mempunyai basis-basis pengetahuan politik.
    Hampir-hampir saya berkata, Muballigh yang buta politik, tidak akan laku bergerak dalam Indonesia Merdeka.
    Saudara harus mempunyai catatan yang rapi mengenai gerak dinamika revolusi sejak proklamasi sampai sekarang. Dari sana saudara akan mengetahui letak kedudukan Ummat Islam; dimana posisi kaum Muslimin dalam kondisi dan konstelasi politik di Indonesia.
    Dari sana saudara akan mengetahui perimbangan kekuatan politik dan ideologi yang bergerak di Indonesia sekarang.
    Saudara malah dapat juga membuat perspektif dari Revolusi Indonesia.
    Revolusi Indonesia memuncak sewaktu Bangsa kita memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, melalui pertempuran dan perundingan. Revolusi Indonesia dijalankan oleh dua-kekuatan, kekuatan dalam negeri dan kekuatan luar negeri. Dua-kekuatan itu bergerak serempak, tupang-menupang.
    Dua-kekuatan itu menentukan haluan Revolusi Indonesia.
    Para Juru Da’wah harus aktif memberikan perspektif kepada Revolusi Indonesia yang belum selesai itu, dibidangnya sendiri.
    Kini kita telah kembali ke UUD ’45. Presiden Sukarno secara resmi menyatakan bahwa kembali ke UUD ’45 itu telah mencakup “Piagam Jakarta”.
    Piagam Jakarta menyuratkan “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”
    Secara formil dan konstitusionil kegiatan Ummat Islam umumnya dan Muballighin chususnya mendapat jaminan dan perlindungan. Perjuangan Da’wah mendapat “surat jalan” yang berlaku sepanjang masa.
    Untuk menjalankan tugas sebagai Juru Da’wah, saudara tidak boleh buta tentang pengertian-pengertian pokok yang menyangkut ideologi negara.
    Manifesto politik, sosialisme Indonesia, filsafat Panca Sila, dan segala peraturan dan kebijaksanaan politik yang dijalankan, harus saudara ketahui dengan cara yang mendalam.
  3. Politik Internasional
    Saudara harus tahu percaturan politik internasional, baik sebelum Perang Dunia maupun sesudah Perang Dunia. Dari panggung Volkenbond sampai kepanggung PBB sekarang. Bagaimana para negarawan dunia mencari perdamaian dan mengatasi ketegangan internasional.
    Kini pola dunia tidak lagi terbagi antara dua-kekuatan raksasa :
    Amerika dan Rusia.
    Antara Peking dan Kremlin ada semacam kompetisi, rebutan pengaruh di Afro-Asia dan di Dunia.
    Tampaknya negarawan-negarawan Afro-Asia merasakan adanya rebutan itu dengan kewaspadaan yang tajam.
    Afro-Asia yang bukan komunis, telah merupakan kekuatan besar, diluar kekuatan kapitalis dan komunis.
    Apa yang dinamakan “sengketa ideologi” antara Peking dan Kremlin pada hakekatnya adalah politik adu-kuat yang satu tidak mau dibawah dominasi dari yang lain. Tampaknya, Kremlin lebih mendapatkan pengikut, karena politik Krusycof lebih lunak dan terbuka.
    Politik berbulanmadu antara Kremlin dan Gedungputih, buat sementara melegakan hati dan pikiran manusia, dan buat sementara ancaman perang dunia III tidak lagi menghantui ummat manusia.
    Tampaknya falsafah hidup berdampingan secara damai, kini adalah politik yang diterima oleh sebagian besar negara-negara dunia, karena ia memberi kesempatan dan kemungkinan kepada bangsa dan negara-negara untuk membangun dirinya masing-masing, menciptakan kemakmuran bagi rakyatnya.
    Islam yang hendak saudara Da’wahkan adalah agama internasional.
    Oleh karenanya sebagai Juru Da’wah saudara harus mengikuti dan mempelajari gerakan dan gelagat politik internasional.
    Muballighul Islam harus mengetahui situasi-umum didunia sekarang ini, dimana kita menyaksikan suatu konfrontasi dan kompetisi terbuka antara kekuatan dunia.
    Pergolakan internasional tambah memperjelas kedudukan Ummat Islam diarena itu.
    Pertarungan ideologis antara demokrasi liberalisme disatu fihak dan komunisme difihak yang lain, ada pengaruh langsung bagi kehidupan bangsa dan negara Afro-Asia.
    Tidak ada negara didunia sekarang yang hidupnya “berdaulat-penuh” yang tidak bergantung sama sekali kepada negara lainnya, baik moril maupun materiil.
    Kemajuan teknik telah memperdekat hubungan antar bangsa dan negara.
    Negara-negara terbelakang dan baru berkembang memerlukan bantuan dari negara-negara yang kuat dan berkecukupan.
    Sebaliknya, negara-negara kuat dan berkecukupan rupanya mempunyai “kepentingan” yang khas pula membantu negara-negara yang masih muda.
    Jika para Muballighin kita mengetahui situasi umum internasional, betapa kemarin, betapa kini dan akan bagaimana nanti, bukanlah masalah yang sulit untuk membangun semacam “Zending Islam internasional.”
    Sudah tiba sa’atnya Dakwah Islam kita perdengarkan ditengah-tengah percaturan kedua-tenaga raksasa itu.
    Islam agama internasional dan dia menghadapi jahiliyah internasional pula.
    Jamaluddin Al-Afghany dan Muhammad Abduh pernah menda’wahkan Islam dari negeri Barat, dengan menerbitkan majalah “Al-‘Urwatul Wutsqa”.
    Al Amir Syakib Arsalan pernah menggerakkan Da’wah Islamiyah dari Swiss, dan kini diteruskan oleh Dr. Said Ramadhan dengan “Islamic Centre”nya dan menerbitkan kembali majalah “Al-Muslimeen”.
    Kegiatan Da’wah Islamiyah dilapangan internasional, mendampingi politik internasional dari negara-negara Muslimin, akan merupakan sumbangan besar bagi pembangunan Dunia Baru, membina perdamaian yang kekal dan abadi.
    Para Muballighin Islam di Indonesia yang berbakat kearah itu harus mempersiapkan dirinya, dengan meletakkan minat dan perhatian mengikuti arus politik internasional yang bergerak dengan cepatnya itu.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Sun Oct 13, 2002 3:21 am

8. Ekonomi
Ditengah kesibukan dan kehausan dunia mencari sistem ekonomi yang mampu menciptakan bahagia bersama, baik jasmaniah maupun ruhaniah, para Juru Da’wah harus menggali sistem ekonomisme Islam.
Dienul Islam bukan saja petunjuk, Hidayah dan Hujjah bagi keselamatan manusia diachirat, ia bukan saja merupakan rituil keagamaan, tetapi juga sistem, aturan dalam lapangan ekonomi.
Literatur Ekonomi Islam dalam segala bahasa, sejak dulu hingga kini, telah banyak tersiar.
Sosialisme religeus yang hendak dilaksanakan di Indonesia mengundang para Ulama dan Muballighul Islam untuk memberikan sumbangan untuk memasukkan sebanyak mungkin hukum dan syariat Islam didalamnya.
Kita tidak bisa menyumbangkan ajaran Islam itu untuk membangun sosialisme Indonesia yang religeus itu, jika para Muballigh kita tidak ada pengetahuan tentang ajaran dan gambaran ekonomi dalam Islam, gambaran sosialisme Islam.
Ekonomisme dan sosialisme Islam tidak hanya menentang kapitalisme dan riba dalam segala bentuknya, penghisapan dan pemerasan dalam segala manifestasinya, tapi memberikan moral dan watak luhur, memberikan jaminan dan kepastian bagi segala manusia sebagai pribadi.
Sosialisme Islam jauh samasekali dari taqlidisme, mencaplok aliran luar dan dijadikan ajaran Islam.
Jauh sebelum Marx dan Engels lahir kedunia, Islam telah meninggalkan ajaran dan teladan, bagaimana mengatur rezki-penghidupan manusia, bagaimana menciptakan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat.
Para Juru Da’wah harus pandai membuka pengertian kepada masyarakat tentang resep dan konsepsi ekonomi dalam Islam, yang bebas dari penindasan manusia atas manusia.
Bagaimana Islam memecahkan persoalan kaum yang lapar, bagaimana Islam mencegah penghisapan dan pemerasan, dalam Islam bukan lagi teori, bukan lagi leer, bukan lagi semboyan atau slogan, tapi telah pernah dipraktekkan dalam bentuk yang sesuai dengan zaman waktu itu, dan ajaran dan teladan itu masih dapat dilakukan disegala zaman, disegala selat dan benua.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Tue Oct 15, 2002 4:07 am

9. Sosiologi
Sosiologi adalah ilmu masyarakat, ilmu ijtima’iyah.
Ia adalah cabang ilmu pengetahuan yang penting. Penting diketahui oleh orang yang hendak menjadi pemuka dan pemimpin.
Juru Da’wah perlu mengetahui sosiologi, ilmu masyarakat.
Tugas kegiatan mereka sehari-hari ialah menghadapi alam masyarakat. Jika tidak mengetahui ilmu masyarakat, akan cangguhlah dia menghadapi masyarakat. Ia malah terasing dari masyarakat. Masyarakat tidak merasa perlu akan dia, sebab dia adalah anggota masyarakat yang tidak tahu seluk beluk ilmu masyarakat.
Masyarakat mempunyai norma tanpa formula, mempunyai hukum dan undang yang tidak tertulis, tapi mempunyai wibawa yang lebih kuat dari undang-undang yang tertulis.
Jika umpama entah karena keliru atau sadar melanggar undang-undang tertulis, kita akan menerima hukuman penjara atau denda yang sudah ditetapkan. Ada jangkanya, ada ukurannya.
Akan tetapi kalau kita melanggar undang-undang yang tidak tertulis, undang-undang dan hukum masyarakat, nama kita akan bernoda sepanjang masa, malah anak cucu kita akan mewarisi noda itu dalam masa yang panjang.
Ilmu ijtima’iyah ( ilmu masyarakat) menerangkan hubungan, hak dan kewajiban antara individu dan gemeenschap, kedudukan orang seorang dalam masyarakat.
Individu mempunyai kewajiban kepada masyarakat, tetapi dia juga mempunyai hak-muthlak dan asasi yang tidak boleh ditelan oleh masyarakat.
Kewajiban yang harus dipenuhi dan hak yang wajib dimiliki.
Masyarakat yang beradab dan beradat menghargai norma dan qa’idah-qa’idah kemasyarakatan itu.
Islam sebagai agama yang hendak mengatur masyarakat, cukup memberikan tuntunan dan pegangan.
Fungsi Islam dalam masyarakat telah menjadi pembahasan yang sangat luas dikalangan pemikir-pemikir Islam.
Para Juru Da’wah selain harus membelajari ilmu masyarakat (sosiologi), juga dan terutama harus memperdalam faham pengertiannya tentang qa’idah-qa’idah Islam dalam soal kemasyarakatan.
Masyarakat yang kita hadapi sehari-hari mempunyai watak sendiri, dan watak dari masyarakat itu banyak terpengaruh oleh irama hidup anggota masyarakat itu.
Juru Da’wah akan berhasil menyampaikan ajakan dan seruan Islam kepada ummat ramai, jikalau dia mengetahui dan menguasai ilmu masyarakat, norma, hukum hidup, undang dan watak dari masyarakat yang dihadapinya.
Mengetahui ilmu masyarakat bagi seorang Muballigh bukan hanya sekedar hendak tahu. Bukan sekedar ilmu untuk ilmu, tapi terutama ilmu untuk amal, ilmu untuk berbuat.
Rasio perjuangan yang benar dan kebijaksanaan yang wajar dalam masyarakat.
Bagaimana Rasulullah SAW membina Mu’amalah dan Musyawarah Islamiyah di Madinah, adalah konsepsi ditangan Muballigh.
Sosiologi umum untuk pelengkap bahan, ilmu ijtima’iyah dan konsepsi Mu’amalah dan Musyawarah Islamiyah untuk dijadikan pedoman dan pegangan.
Saudara sangat beruntung menjadi Muballigh di Indonesia, menghadapi masyarakat Indonesia.
Bung Karno sering mengatakan dimana-mana bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat religeus, masyarakat keagamaan.
Kalau ada orang propaganda atheisme, anti Ketuhanan dan anti Agama dalam masyarakat yang religeus itu, selain dari dia tidak tahu samasekali ilmu masyarakat, masyarakat Indonesia sendiri tidak akan menerima propaganda yang demikian itu.
Watak dan sifat chas dari masyarakat Indonesia yang religeus itu, membuka kesempatan bagi segenap Juru Da’wah dan Muballighin Islam untuk menyampaikan seruan Islam seluas-luasnya dalam masyarakat.
Dengan mengenal watak dan sifat masyarakat yang dihadapi, Muballighul Islam akan lancar dan tangkas membawa fahamnya kepada manusia.


<font size=-2>[ Mesej ini diubah oleh: Arif_Fachrudin pada 2002-10-14 14:12 ]</font>
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Wed Oct 16, 2002 12:37 am

10. Psikologi
Psikologi adalah ilmu jiwa, ilmu nafs, yaitu studi ilmiah tentang aktivitas individu dalam hubungan dengan lingkungannya 1)
Seorang Muballigh berchutbah kepada manusia ramai, menyampaikan keyakinan hidup dan patokan hidup ‘aqidah hidup dan qa’idah hidup.
Chutbah seorang Juru Da’wah bukanlah hanya sekedar ucapan lidah dan gerakan bibir dialamatkan kekuping sipendengar, tapi ada tujuan yang lebih jauh, ialah alam ruhani manusia.
Suara wahyu yang hendak disampaikan, sasarannya bukanlah kuping lahir, tapi kuping-bathin, alam bathin, benua ruhani.
Surat itu tidak akan sampai kepada alamatnya, jika sipengantar surat tidak tahu alamat yang dituju.
Laksana kapalterbang, ia tidak mungkin mendarat disembarang tempat. Sudah ada landasan chusus yang tersedia baginya, tempat dia naik dan tempat dia turun.
Demikian pulalah wahyu Ilahy; hinggap dan mendaratnya adlah dialam jiwa, dibenua ruhani manusia.
Seorang Muballigh yang tidak tahu ilmu jiwa, ilmu nafs, adalah ibarat seorang pilot yang tidak tahu lapangan terbang, dimana mestinya dia mendarat atau landing.
Seorang akan berhasil gemilang dalam perjuangan Da’wah, jikalau dia mengerti ilmu jiwa artinya tahu sifat dan watak manusia; tahu sifat dan watak tanah tempat menyemai bibit, tahu pula tanaman apa yang bisa tumbuh disitu. Bukan itu saja, tapi tahu pula bagaimana cara menyemai dan memupuk, hingga tanaman itu subur dan berbuah.
Kekeliruan dan kesalahan psikologisbukanlah soal yang kecil.
Dia bisa membawa akibat bukan saja tidak menghasilkan apa yang dituju, tapi malah merugikan perjuangan dan strategi umum dari Da’wah itu sendiri.
Tidak mengenal ilmu jiwa, dengan sendirinya tiada hubungan antara si Juru Da’wah dengan sipendengar Da’wah.
Ada dinding tebal yang membatas, ada hijab gelap yang menahan.
Dalam suatu musyawarah Alim Ulama, ada utusan “pusat” yang datang dengan pakaian yang layak dipakai ditempat tennis, tanpa kupiah, tanpa baju.
Belum dia bicara hadirin sudah antipati melihatnya, karena utusan “pusat” itu tidak sopan kelihatannya, ditengah-tengah Ulama yang didewakan ditempat itu.
Seorang Muballighat (wanita) utusan “pusat” juga, diundang kesuatu daerah yang rakyatnya 99% hidup melarat. Muballighat “pusat” itu memakai semua perhiasannya, gelang dan subang berliannya, cincin dan liontin yang gemerlap-gemerlip. Dia terang tidak bisa memberi tuntunan kepada wanita yang hadir, karena dirinya telah dibuatnya menjadi “tontonan”, seripanggung yang senang menyinggung perasaan rakyat dengan mempertontonkan pakaian dan perhiasan ditengah rakyat yang papa dan sengsara.
Seorang intelek-politici baru saja datang dari luar negeri.
Diundang pula kesuatu daerah yang fanatik Islam, kuat agamanya.
Intelek-politici yang buta ilmu jiwa itu berceramah, membentangkan pengalamannya diluar negeri. Menyaksikan gedung bertingkat puluhan dinegeri anu, rumah pencakar langit dinegeri sana. Dengan bangga dia mengatakan, bahwa kita di Indonesia juga mempunyai pusaka nenek-moyang yang tidak kalah dengan negara-negara luar itu, karena kita juga mempunyai candi Borobudur dan Prambanan.
Coba saudara pikirkan, dimuka Ulama dan Ummat Islam yang fanatik, intelek-politici yang buta ilmu jiwa itu membanggakan agama Budha !
Masih ada utusan “pusat” ber-Tabligh disuatu daerah. Karena dia utusan “pusat” dia mengira pidatonya akan menarik sipendengar dari awal sampai achir, 6 jam lamanya belia “pusat” ini berpidato.
Sipendengar telah mengantuk karena ‘asyik mendengarkan pidato utusan “pusat”.
Dia berpidato hanya untuk dirinya. Dia yang bicara dan dia pula yang mendengar, yang lain sudah tertidur.
Itu contohnya Muballigh yang tidak mengetahui ilmu jiwa.
Mengetahui ilmu jiwa, baru 15 menit dia berpidato, dia sudah merasa, apakah ada “kontak” antara jiwanya dengan jiwa sipendengar atau tidak.
Kalau dikalangan hadirin sudah banyak yang batuk, sudah ramai bisikan disana dan disini, turun sajalah !.
Mengerti ilmu jiwa, artinya memegang kunci wasiat, psikologi menuntun kita cara bagaimana menghadapi manusia, mendekati manusia yang beraneka corak ragamnya itu.

1) Robert S. Woodworth & Donald G. Marquis, Psychology, page 20.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Wed Oct 16, 2002 3:54 am

11. Massa- Psikologi
Massa-psikologi adalah ilmu jiwa massa. Massa adalah gelombang manusia yang sudah luluh, padu menjadi jeladren.
Saudara temui mereka dalam rapat samudera, ditanah lapang luas, atau sedang pawai, sedang tenggelam dalam gempita slogan, mengibarkan panji-panji.
Saudara adalah pembicara utama dalam rapat samudera itu.
Sudah agak lama masa itu menunggu. Mereka ingin lekas melihat siapa saudara dan akan bagaimana pidato saudara.
Punggung dan kepalanya sudah terbakar oleh terik matahari yang keras, kerongkongannya kering karena haus, berdesak-desak laksana gelombang ditengah laut.
Tahukah saudara apa yang menguasai massa-rakyat itu ?
Yang menguasai mereka pada waktu itu adalah perasaan. Otak dan pikirannya berhenti bekerja. Perasaan massa itu membulat, luluh dan padu.
Jarak puluhan kilo ditempuhnya, ingin melihat saudara, ingin mendengar pidato saudara. Nama saudara telah lama dimasyhurkan ditempat itu, sebagai seorang orator besar.
Kalau saudara memang seorang Muballigh yang ulung, yang mengerti massa-psikologi, saudara akan mahir saja menghadapi massa-rakyat yang ratusan ribu jumlahnya itu.
Ada yang perlu saya katakan kepada saudara :
Pertama, sebelum saudara berpidato, saudara telah menang, menang tanpa perang !
Massa-rakyat perhatiannya bulat kearah saudara. Saudara tak usah lagi minta perhatian mereka.
Kedua, bebaskan mereka dari cengkeraman, terik matahari, ialah dengan pidato yang berapi-api yang panasnya lebih keras dari sinar matahari yang membakar punggung mereka.
Ingat, berapi-api tapi berisi !
Waktu itu massa-besar ditangan saudara.
Ketiga, telah saya katakan diatas, otak dan pikiran mereka waktu itu berhenti bekerja.
Oleh karena itu saudara jangan membahas persoalan ilmiyah, jangan menggunakan istilah-istilah keilmuan yang minta dipikirkan.
Tetapi kemukakan persoalan-persoalan yang populer, yang langsung mereka rasakan.
Saudara waktu itu bukan sedang berkuliah di-aula universitas, tapi berpidato dimuka massa-rakyat yang besar.
Keempat, gunakan bahasa rakyat, mudah difaham dan gampang ditangkap.
Jangan bersenandung dengan bahasa sastera ditempat itu.
Jangan tele-tele, jangan banyak ngelantur.
Kelima, ambillah kesimpulan yang bulat dari pidato saudara itu.
Kesimpulan itu akan menjadi buahtutur mereka setelah mereka pulang ketempatnya masing-masing.
Jangan biarkan mereka bubar dan pulang dengan hampa tangan.
Kesimpulan bulat yang saudara berikan itu akan menjadi buahbibir sepanjang masa, akan menjadi pembicaraan dikalangan mereka.
Keenam, sifat seluruh pidato saudara itu : bersemangat, berapi, padat berisi, penuh dan sungguh, menggambarkan keyakinan yang teguh dan kepercayaan yang tegak !
Saya pernah mendengar Cokroaminoto dan Tan Malaka berpidato, saya selalu ‘asyik mengikuti Bung Karno berpidato. Ketiga “volksredenaar” itu paling menguasai psikologi-massa.
Bung Karno paling pandai menguasai massa, paling tahu massa-psikologi.
Suaranya gemuruh, lidahnya lancar, bahasanya populer, mudah difaham.
Tidak ada soal yang sukar dan pelik kalau sudah jatuh kelisan orator besar itu.
Saya kira, kalau berpidato dimuka massa-rakyat Bung Karno belum ada tandingannya.
Tan Malaka dan Cokroaminoto pidatonya padat, penuh api kepahlawanan, berjiwa keperwiraan.
Saya kira kalau ketiga beliau-beliau itu seandainya menyuruh massa-rakyat menyeberang lautan api atau lobang gelap, massa-rakyat akan patuh-menurut.
Demikian kuat kuasanya seorang orator dan agitator yang mengerti massa-psikologi.
Ratusan ribu malah jutaan massa-rakyat digenggamnya dalam tangannya, dibentuknya menurut maunya.
Saudara tidak usah “mahajan tuah” hendak mencontoh Cokro, hendak menjadi Tan Malak atau Bung Karno.
Saudara harus berkembang menurut bakat dan kodrat saudara sendiri, berirama dengan kodrat dan bakat saudara sendiri.
Dari latihan dan kesungguhan yang terus menerus, saudara akan bertemu dengan bentuk saudara. Dan kalau sudah bertemu bentuk diri sendiri, itulah dia saudara.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Thu Oct 17, 2002 2:51 pm

12. Perbandingan Ideologi
Pengertian ideologi adalah konsepsi cita, pola dan formula serta struktur dari suatu masyarakat yang hendak diciptakan, sesuai dengan pandangan hidup atau filsafat hidup golongan yang berjuang.
Ruang-lingkup suatu ideologi ditentukan oleh luas sempitnya ruang lingkup pandangan hidup atau filsafat itu.
Ideologi adalah bayangan atau pancaran dari keyakinan yang dianut, bayangan atau refleksi dari ‘aqidah yang diperjuangkan.
Dia sebenarnya tidak berhak dinamakan suatu ideologi, kalau tidak bersumber kepada pandangan atau filsafat hidup : kebawah tidak berurat dan keatas tidak berpucuk.
Oleh karena ideologi itu adalah bayangan dan pancaran dari keyakinan dan pandangan hidup, maka ia tidak mungkin dibinasakan dan dilenyapkan dengan kekuatan apapun jua, selama keyakinan dan pandangan hidup itu masih tertanam dalam kalbu manusia.
Dalam percaturan politik di Indonesia tidak semua ideologi yang diperjuangkan dan dianut oleh golongannya bersumber kepada keyakinan, pandangan dan filsafat hidup yang dijadikan tempat bertolak.
Banyak orang Islam yang menganut dan memperjuangkan ideologi bukan ideologi Islam, karena pengertiannya tentang Islam tidak menyeluruh tapi menyudut.
Sejak dikeluarkannya Penpres No 7 yang mengatur dibolehkannya partai-partai hidup dengan syarat jikalau partai-partai itu mencantumkan dlam anggaran dasarnya menerima Panca-Sila, semua partai yang ada sekarang termasuk PKI yang hakikatnya anti Panca-Sila, menerima Penpres No 7.
Para Mujahid Da’wah perlu memperkaya dirinya dengan pengetahuan tentang berbagai ideologi yang hidup di Indonesia sekarang.
Pengetahuan itu adalah perlu, untuk memahirkan diri sendiri dalam menyampaikan Da’wah dan seruan Islam kepada segenap lapisan masyarakat, sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat itu sendiri.
Mengerti dan menguasai perbandingan ideologi yang hidup dalam masyarakat berarti, mengerti dan menguasai jaringan dan kehidupan masyarakat; masyarakat yang kita hadapi setiap hari, dimana kita hidup didalamnya sebagai anggota.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Thu Oct 17, 2002 2:52 pm

a. Komunisme.
Saya telah cukup banyak menulis dan berbicara tentang komunisme, menelanjangi kepalsuan dan kebathilan komunisme. Saya telah mempelopori berdirinya “Front Anti Komunis” tahun 1954 di Bandung.
Kepada saya dan kawan-kawan dilemparkan tuduhan-nista bahwa kami “komunistophobi”, dan karena kami anti komunis kami harus menjalankan pengasingan politik bertahun-tahun sampai buku ini ditulis.
Hanya sejarah juga yang akan menjadi hakim kelak, siapa yang benar diantara kita.
Kami telah cukup menulis dan berbicara mengenai bahaya komunis, baik terhadap Agama dan Panca Sila, maupun terhadap Negara dan Revolusi.
Kami telah cukup memberi peringatan tulus kepada segenap Ummat ber-Agama dan kaum nasionalis di Indonesia, agar mereka jangan bermain mata dengan kaum komunis.
Sayang, peringatan itu tidak mendapat sahutan. Jeritan kami adalah laksana suara lepas ditengah sahara tandus, tak ada kuping yang sudi menangkap, malahan mereka melemparkan tuduhan kepada kami bahwa kaim memecah persatuan nasional.
Malah partai-partai Agama yang masih hidup rela melacurkan ideologinya dengan kaum komunis dalam pola NASAKOM !
Kepada para Mujahid Da’wah dari tempat yang sunyi ini saya serukan, kiranya mereka mempelajari kembali kepalsuan ideologi komunisme dari sumber aslinya.
Baca literatur komunisme mengenai Agama dan Susila, pandangan mereka tentang Demokrasi dan hak-hak Asasi manusia.
Baca buku-buku komunis mengenai konsepsi ekonomisme mereka, filsafat sosial mereka dan sebagainya.
Konfrontir semua itu dengan filsafat dan ajaran Islam !
Saudara akan menemui pertentangan diametral didalamnya, tak ada titik-pertemuan didalamnya.
Disitu akan ternyata kelak betapa sesatnya kaum Agama yang rela bekerjasama dengan kaum komunis; dan akan ternyata pula betapa tak ada dasarnya “Nasakom Bersatu” atau “Nasakom Jiwaku” yang didendangkan selama ini.
Persatuan Nasakom hanyalah semacam pelacuran ideologi, yang bertentangan dengan segala ajaran Agama didunia.
Komunisme yang anti Tuhan dan anti Agama bisa dipercaya menerima Panca Sila ?
Ini adalah kebodohan yang serius, kesalahan dan dosa yang tak dapat diampuni.
Kepada para Mujahid Da’wah terletak tanggung jawab yang berat, agar memelihara masyarakat Islam dari racun berbisa Nasakom yang terkutuk itu.
Silahkan dan biarkan partai-partai Islam merendamkan dirinya dalam kubangannya Nasakom yang busuk itu !
Tapi jaga dan pelihara Ummat Islam jangan sampai kemasukan racun Nasakom !
Untuk itu para Mujahidin Da’wah mempelajari komunisme, agar mereka menentangnya dengan perngertian dan pengetahuan, tidak dengan membabi-buta.
Jikalau masyarakat sudah diselamatkan dari bahaya dan bencana komunisme, dengan sendirinya Negara dan Revolusi tidak akan bergerak diatas relnya yang salah, relnya Nasakom yang dikendalikan oleh RRC itu.
Pelajarilah komunisme dari sumber aslinya untuk menghantam komunisme itu !
Komunisme tak ada tempatnya di Indonesia. Indonesia adalah Bangsa dan Negara yang ber-Tuhan dan ber-Agama.
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Thu Oct 17, 2002 2:52 pm

b. Marhaenisme.
Marhaenisme adalah penemuan asli Bung Karno sewaktu beliau berumur disekitar duapuluhan. Ia berasal dari dialog beliau dengan seorang petani yang hidupnya tidak berkecukupan sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Petani itu namanya Marhaen !
Dari nama petani Marhaen ini Bung Karno menciptakan ajarannya yang terkenal sampai kini dengan Marhaenisme.
Ideologi itu pula yang diperjuangkan PNI dan Partindo dizaman kolonial sampai sekarang (1964).
Dalam konferensi Partindo bulan Juli 1933 di Yogyakarta lebih jelas Marhaenisme dirumuskan sebagai berikut :
  1. Marhaenisme, yaitu sosio nasionalisme dan sosio demokrasi.
  2. Marhaen yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat, dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain.
  3. Partindo memakai perkataan Marhaen, dan tidak proletar, oleh karena perkataan proletar sudah termaktub dalam perkataan Marhaen, dan oleh karena perkataan proletar itu bisa juga diartikan bahwa kaum tani dan lain-lain kaum yang melarat tidak termaktub didalamnya.
  4. Karena Partindo berkeyakinan, bahwa didalam perjuangan menuju ke Indonesia merdeka dan ke Republik politik sosial, kaum proletar dan kaum tani melarat dan kaum melarat Indonesia lain-lain itu yang harus menjadi elemen-elemennya (bagian-bagiannya), maka Partindo memakai perkataan Marhaen itu.
  5. Didalam perjuangan Marhaen itu maka Partindo berkeyakinan, bahwa kaum proletar mengambil bagian yang besar sekali.
  6. Marhaenisme adalah asas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang didalam segala halnya menyelamatkan marhaen.
  7. Marhaenisme adalah pula cara-perjuangan untuk mencapai susunan masyarakat dan susunan negeri yang demikian itu, yang oleh karenanya, harus suatu cara-perjuangan yang revolusioner.
  8. Jadi Marhaenisme adalah : cara perjuangan dan asa yang menghendaki hilangnya tiap-tiap kapitalisme dan imperialisme, serta berdirinya suatu Republik Indonesia yang berdasar politik-sosial.
  9. Marhaenist adalah tiap-tiap orang bangsa Indonesia, yang menjalankan Marhaenisme.

Saya kira ini lah rumusan yang otentik mengenai Marhaenisme !
Ideologi Marhaenisme dianut dan diperjuangkan oleh Partindo dan Partai Nasional Indonesia.
Diwaktu yang achir-achir ini kedua partai itu merubah rumusan ideologinya.
Partindo menyatakan ideologinya ialah Marxisme / Soekarnoisme; sedangkan PNI merumuskan Marhaenisme adalah Marxisme yang ditrapkan, sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat Indonesia.
Bagaimana sebenarnya mentrapkan Marxisme itu di Indonesia bagi penulis belumlah jelas.
Perubahan rumusan ideologi kedua partai itu kebetulan bersamaan dengan kemajuan PKI di Indonesia.
Perubahan itu secara tidak langsung telah memberikan kemenangan ideologis kepada PKI, karena ajaran Marx (Marxisme) secara legal dan formil telah berdominasi dalam tubuh kedua partai nasional itu.
Memang, sejak dilahirkannya Nasakom PKI mengantongi kemenangan setiap hari, sementara golongan Agama dan nasionalis kehilangan watak aslinya.
Sewaktu Partindo merumuskan ideologinya adalah Marxisme-Soekarnoisme dan PNI menyatakan bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang ditrapkan dalam kondisi masyarakat Indonesia, D.N. Aidit menyahut, PNI pasti ditelan bulat-bulat oleh PKI.
Apakah Asmara Hadi dari Partindo dan Ali Sastroamijoyo dari PNI sadar akan hal itu ?
Sejarah diwaktu dekat akan memberi jawab dengan bahasanya sendiri.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Thu Oct 17, 2002 2:52 pm

c. Panca Sila
Panca Sila adalah ideologi, dasar dan filsafat Negara Republik Indonesia.
Menurut sejarah yang kita baca, sila yang lima dari Panca Sila mula pertama digali oleh Mr. M. Yamin dalam sebuah pidato beliau pada Rapat Dokuritu Zunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) tanggal 29 Mei 1945 di Jakarta.
Tanggal 29 Mei-lah lahirnya Panca Sila, dan penggalinya adalah Muhammad Yamin.
Dalam uraian pidato Muhammad Yamin yang panjang itu, urutan sila yang lima itu disusun sebagai berikut :
1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan Rakyat (Ke’adilan Sosial)
Tanggal 1 Juni 1945, baru Bung Karno berpidato tentang Dasar dari Negara yang akan dibentuk, dalam rapat yang sama.
Beliau sama sekali tidak mengeluarkan penemuan dan galian baru, hanya membawakan tafsiran dan rumusan baru dari sila yang lima yang telah dikemukakan oleh Muhammad Yamin tanggal 29 Mei.
Hanya urutannya mendapat perubahan sedikit, sebagai berikut :
1. Kebangsaan
2. Kemanusiaan
3. Demokrasi
4. Kesejahteraan Rakyat
5. Ketuhanan.
Karena kecakapan Bung Karno berpidato yang tanpa teks itu, seluruh hadirin terpesona dibuatnya.
Mulai waktu itu istilah Panca Sila dipopulerkan oleh Bung Karno sendiri, ialah penemaan kepada sila-sila yang lima diatas.
Sebenarnya istilah Panca Sila tiak ada disebut dalam UUD 45, atau UUD lainnya.
Telah banyak pembahasan dikemukakan mengenai Panca Sila. Telah banyak buku ditulis, dan telah sering seminar diadakan.
Sewaktu Majlis Konstituante membicarakan Dasar Negara, Panca Sila telah jauh diteropong dan dianalisa dari segala segi, dikaji dan diteliti dari segala sudut.
Sayang, sampai sekarang (1964) belum ada tafsiran atau interpretasi yang resmi mengenai Panca Sila yang dapat dijadikan pegangan dalam kehidupan Negara.
Masing-masing orang dan tiap-tiap kepala telah memberikan tafsir sendiri, sesuai dengan pandangan dan tinjauan hidupnya. Orang komunispun mempunyai tafsir sendiri mengenai Panca Sila yang tentunya tidak sama dan tidak serupa dengan golongan lainnya.
Saya kira satu-satunya lembaga yang kompeten mentafsirkan Panca Sila ialah MPR, (pilihan rakyat).
Perlu ada tafsir yang resmi yang akan dijadikan pegangan oleh segala fihak dalam kehidupan Negara dan Revolusi.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Thu Oct 17, 2002 2:52 pm

d. Sosialisme Kerakyatan.
Berbeda dengan ajaran komunis yang otoriter dan totaliter, timbul disebelah itu aliran Sosialisme Kerakyatan.
Mereka merumuskan ideologinya sebagai : sosialisme yang menjunjung tinggi kerakyatan, akan tetapi kerakyatan yang sesungguhnya hanya dapat diwujudkan dengan dan didalam sosialisme.
Kerakyatan adalah pemerintahan rakyat yang dilaksanakan oleh rakyat sendiri untuk rakyat. Ia mesti mengandung hak-hak kemanusiaan yang berikut :
  1. Hak tiap orang untuk mempunyai kehidupan pribadi sendiri dengan tiada diganggu oleh Negara.
  2. Persamaan tiap warga negara untuk hukum, apa juga turunannya, sukunya, laki atau perempuan, apa juga agamanya atau warna kulitnya.
  3. Perwakilan rakyat jalan pemilihan merdeka, yang sama dan rahasia.
  4. Pemerintahan yang dilakukan oleh mayoritet akan tetapi dengan menjunjung hak-hak minoritet.
  5. Pembuatan undang-undang yang dikuasai oleh perwakilan rakyat.
  6. Pengadilan yang tidak dipengaruhi oleh pemerintah.

Kaum sosialis memperjuangkan supaya Universal Declaration of Right of Man, yang telah diterima oleh Sidang Umum PBB berlaku disemua negeri didunia.
Kerakyatan harus dipertahankan terhadap serangan diktator serta totaliterisme. Akan tetapi ia tak dapat dibeli dengan jalan-jalan reaksioner.
Kaum kapitalis dengan politiknya yang konservatif ataupun reaksioner tidak sanggup mempertahankan demokrasi terhadap reaksi dan totaliterisme jika tidak dengan bantuan aktif daripada kaum kerja dan rakyat jelata umumnya.
Kerakyatan memberikan hak untuk berdirinya lebih dari satu partai politik dalam suatu negeri. Begitu pula ia menjamin hak oposisi.
Akan tetapi kerakyatan berhak malah berkewajiban membela diri terhadap mereka yang menggunakan hak-hak kerakyatan untuk menghancurkan kerakyatan itu sendiri dan mendirikan diktator.
Kaum sosialis menyatakan rasa solidernya dengan sekalian rakyat yang menderita penindasan atau penghisapan oleh feodalisme, penjajahan atau diktator totaliter, serta membantu usaha rakyat itu memperoleh kemerdekaannya.
Dalam salah satu tulisannya mengenai Sosialisme, S. Syahrir, seorang sosialis dan pemikir politik terbesar disamping Hatta menulis :
Sosialisme adalah suatu cita-cita, ajaran dan suatu pandangan hidup. Akan tetapi sosialisme adalah pula suatu gerakan untuk merubah masyarakat hidup bersama, serta kehidupan kita umumnya. Malahan sosialisme sekarang pun merupakan kekuasaan-kekuasaan diberbagai negeri dan bangsa dimana kaum yang mengaku dirinya sosialis telah berhasil untuk memegang tampuk pemerintahan.
Sosialisme adalah untuk sebagian suatu tujuan dan satu ajaran, satu teori, akan tetapi kita baru akan lengkap mengerti apa yang harus kita fahamkan dengan sosialisme itu, jika kita tambahkan pada pengetahuan teori kita tentang berbagai ajaran sosialisme pengetahuan tentang gerakan-gerakan sosialis, tentang praktek dalam perjuangan untuk mencapai sosialisme.
Tujuan sosialisme umumnya diketahui orang terpelajar.
Yaitu mencapai suatu masyarakat pada mana rezki adil dan rata terbagi, suatu masyarakat yang tidak mengenal penghisapan dan penindasan, artinya suatu masyarakat pada mana tiada terdapat orang yang sengsara dan mati kelaparan sedangkan ada pula orang lain yang hidup dalam kemewahan dan kekayaan yang berlebihan, suatu masyarakat pada mana tidak terdapat bahwa segolongan kecil orang menguasai kehidupan orang banyak yang lain secara ekonomis ataupun politis. Apalagi suatu masyarakat pada mana segolongan kecil manusia dapat memperkaya diri mereka atas dasar kemiskinan dan kebodohan golongan manusia yang terbesar.
Dasar tuntutan Sosialisme adalah moril. Sosialisme memihak pada orang banyak yang miskin serta sengsara serta terbelakang dalam segi kehidupan.
Sosialisme menentang penindasan, penghisapan serta kesewenangan dari satu golongan kecil yang berkuasa terhadap golongan yang terbesar. Ia berbuat begitu adalah oleh karena sosialisme berpegang pada keyakinan bahwa pada yang miskin, sengsara dan lemah selalu akan terdapat lebih banyak kebenaran dan kebaikan daripada yang berkuasa dan kaya serta merajalela.
Sosialisme berpihak pada yang banyak, yang lemah dan miskin oleh karena kemanusiaan terdiri dari yang banyak itu.
Oleh karena itu maka dasar dan jiwa sosialisme, inti sosialisme adalah rasa setia-kawan kemanusiaan.

Dari formula diatas tentang Sosialisme Kerakyatan, kita akan cepat diberi tahu, bahwa aliran sosialisme kerakyatan menentang secara laki-laki akan doktrin yang dikemukakan oleh komunisme !
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Thu Oct 17, 2002 2:52 pm

e. Ideologi Islam
Diatas semua ideologi dan pandangan dunia yang kita kemukakan diatas, Ummat Islam mempunyai suatu ideologinya sendiri.
Ia bukanlah hasil percikan-permenungan seorang filosof; ia bukanlah buah pemikiran otak seorang pujangga.
Tapi sumbernya dari alam ghaib, wahyu Ilahy yang diturunkanNya kepada Rasul pilihan Muhammad Shahibur risalah.
Wahyu Ilahy itu yang menjadi sumber hidupnya Ideologi Islam, dan ia telah melintasi segala abad dan menempuh berbagai amukan ujian dan percobaan, ujian faham dan ujian waktu.
Ia menjadi cemerlang dan bertambah terang, tatkala ia diteliti dan diuji dari segi manapun juga.
Wahyu yang diterima Muhammad dari Tuhannya, tidak hanya terbatas dalam bidang rituil-upacara hubungan antara manusia dengan Tuhan, tapi mencakup dan mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya.
Ia bukan saja berbicara dalam bidang ‘Aqidah dan ‘Ibadah (Syachsiyyah), tapi juga ia menuturkan peri kehidupan Mu’amalah, Ma’isyah dan Daulah atau Syar’iyyah Ijtima’iyyah.
Islam menciptakan dan memelihara kesatuan, kebulatan dan keseimbangan !
Keseimbangan antara Dunia dan Achirat dalam ajaran Agama.
Keseimbangan antara Bumi dan Langit dalam susunan alam.
Keseimbangan antara Jasmani dan Ruhani dalam susunan hidup.
Keseimbangan antara Upah dan Kerja dalam dunia usaha.
Keseimbangan antara otak dan hati dalam dunia ruhani insani.
Retak dan rusaknya keseimbangan ini berarti binasa dan malapetaka yang akan menimpa dunia dan kemanusiaan.
Untuk memelihara keseimbangan, harmoni, kebulatan dan kesatuan itu, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana menurunkan aturan, undang-undang, hudud dan ketetapan yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim, seperti yang diteladankan oleh Sunnah Rasulullah kepadanya.
Dalam pengertian kesatuan dan kebulatan itulah Islam dirumuskan sebagai Negara. Sebagaimana telah berulang-ulang dinyatakan, Islam tidak mengenal pemisahan antara Agama dan Negara. Pemisahan Agama dn Negara bukan ajaran Islam. Memisahkan Agama dari Negara atau Negara dengan Agama, bukan Islam namanya, sebab ia bertentangan dengan hakikat wahyu dan fungsi wahyu.
Jalinan dan paduan antara Hukum, Hakim dan Mahkum’alaih, seluruhnya bergantung kepada adanya Negara sebagai organisasi masyarakat, Ideologi Islam menuntut adanya Kehidupan Ruhani, Kesejahteraan Ijtima’i, Kemakmuran Madani dan Kekuatan Askari !
Semua itu berjalin-berkelindan, kait berkait, tak bisa dipisahkan satu dengan lainnya.
Semua itu adalah isi dan rangka dari Negara Bahagia yang diridlai Tuhan.
Untuk menjamin terlaksananya idaman isi dan rangka atau pola dan formula itu, maka dalam Negara Keridlaan Ilahy yang dicita-citakan Islam itu harus ada dan terjamin :
  1. Agama Islam betul-betul menjadi ikutan ummatnya (Dienun Muttaba’)
  2. Pemerintahan yang berjalan diatas Hidayat Allah.
  3. Ke’adilan yang meliputi segala bidang kehidupan.
  4. Ketenteraman umum (Al-amnul’aam)
  5. Memudahkan segala urusan dan kegiatan masyarakat.
  6. Menumbuhkan harapan, melenyapkan putus asa.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Thu Oct 17, 2002 2:53 pm

Dienul Muttaba’ (Agama menjadi ikutan segala pemeluknya).
Alangkah banyaknya Ummat Islam yang tidak suka kepada peraturan dan Undang-undang Islam! Alangkah banyaknya Ummat Islam yang tidak mengetahui kelengkapan dan keindahan ajaran Islam!
Disini terletak kepentingan Da’wah Islamiyah.
Kita harus sanggup meng-fungsionilkan ajaran Islam, sehingga ia betul-betul dijadikan pimpinan dan petunjuk dalam segala bidang kegiatan Ummat kita. Agama yang memberi batas dan sempadan bagi segenap pemeluknya, mana perintah yang wajib dijalankan dan cegahan yang wajib dijauhi.
Segala itu hendaklah kita lakukan dengan Da’wah dan Tabligh, tidak dengan paksaan dan kekerasan.
Keyakinan tidak mengenal paksaan atau ancaman.
Suatu keyakinan yang ditanamkan dengan paksaan dan ancaman, itu bukan keyakinan dan itu bukan kebenaran. Kebenaran tidak perlu dipropagandakan dengan paksaan dan ancaman. Ia cukup kuat mempertahankan dirinya, tidak perlu diamankan tapi perlu diamalkan !
Dienun muttaba’ bagi pemeluk Islam tidak perlu menyinggung adanya keragaman hidup beragama atau toleransi-sosial antara Agama.
Islam memberi jaminan penuh bagi kemerdekaan berpikir, berfaham dan beragama. Tak ada paksaan dalam Agama !
Riwayat berbilang abad telah menjadi saksi, betapa toleransi-sosial antara Agama ini dipertahankan dan dibela ole kaum Muslimin dengan konsekwen.
Hanya kepada Muslimin Islam menuntut pelaksanaan ajarannya secara konsekwen pula.
Pemerintahan yang berjalan diatas Hidayat Allah (Hukum Rasyidah). Taufiq dan Hidayah Allah yang selalu diharapkan dalam segala pidato, akan hampa arti dan isinya, jika tidak disertai amal-perbuatan, bahwa segala tindak-tanduk, sikap dan kelakuan serta kebijaksanaan tidak disesuaikan dengan Quran dan Sunnah Nabi.
Islam hanya akan menjadi buahbibir atau “lipservice” semata, jikalau aturan dan ajaran Islam tidak dijadikan petunjuk jalan, tidak dijadikan “al-Furqan”, garis pemisah antara Haq dengan Bathil, antara Ma’ruf dengan Munkar, antara Sunnah dan Bid’ah.
Sepanjang perjalanan tarich, sangat sering Islam dipakai alat untuk pemuasan nafsu-keinginan sang berkuasa, dijadikan bola-tendangan disepak kesana dan kemari menurut keinginan sipemain bola.
Kita menyaksikan betapa penguasa berbuat atas nama Islam untuk menghancurkan Islam sendiri.
Islam hanya tinggal menjadi tulisan dan sebutan, menjadi pengakuan kosong dan kesaksian hampa tiada isi, karena isinya dan ajarannya tidak dijadikan petunjuk jalan.
Dalam sebuah Hadits Rasulullah Saw. :
Sesungguhnya Allah mempunyai para penjaga dan pemelihara, dilangit dan dibumi; yang dilangit ialah para Malaikat dan dibumi ialah para pemerintah yang mengatur rezki mereka dan menjaga keamanan mereka.

Seorang ahli Hikmat pernah berkata :
Adab-kebudayaan itu dua macam, yaitu adab dalam syari’at dan adab dalam siasat. Dengan adab dalam syari’at dapat segala kewajiban dikerjakan dengan ringan, karena sesuai dengan hati nurani, dan adab dalam siasat, manusia hidup teratur, negara aman dan ma’mur.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Thu Oct 17, 2002 2:53 pm

Dienul Muttaba’ (Agama menjadi ikutan segala pemeluknya).
Alangkah banyaknya Ummat Islam yang tidak suka kepada peraturan dan Undang-undang Islam! Alangkah banyaknya Ummat Islam yang tidak mengetahui kelengkapan dan keindahan ajaran Islam!
Disini terletak kepentingan Da’wah Islamiyah.
Kita harus sanggup meng-fungsionilkan ajaran Islam, sehingga ia betul-betul dijadikan pimpinan dan petunjuk dalam segala bidang kegiatan Ummat kita. Agama yang memberi batas dan sempadan bagi segenap pemeluknya, mana perintah yang wajib dijalankan dan cegahan yang wajib dijauhi.
Segala itu hendaklah kita lakukan dengan Da’wah dan Tabligh, tidak dengan paksaan dan kekerasan.
Keyakinan tidak mengenal paksaan atau ancaman.
Suatu keyakinan yang ditanamkan dengan paksaan dan ancaman, itu bukan keyakinan dan itu bukan kebenaran. Kebenaran tidak perlu dipropagandakan dengan paksaan dan ancaman. Ia cukup kuat mempertahankan dirinya, tidak perlu diamankan tapi perlu diamalkan !
Dienun muttaba’ bagi pemeluk Islam tidak perlu menyinggung adanya keragaman hidup beragama atau toleransi-sosial antara Agama.
Islam memberi jaminan penuh bagi kemerdekaan berpikir, berfaham dan beragama. Tak ada paksaan dalam Agama !
Riwayat berbilang abad telah menjadi saksi, betapa toleransi-sosial antara Agama ini dipertahankan dan dibela ole kaum Muslimin dengan konsekwen.
Hanya kepada Muslimin Islam menuntut pelaksanaan ajarannya secara konsekwen pula.
Pemerintahan yang berjalan diatas Hidayat Allah (Hukum Rasyidah). Taufiq dan Hidayah Allah yang selalu diharapkan dalam segala pidato, akan hampa arti dan isinya, jika tidak disertai amal-perbuatan, bahwa segala tindak-tanduk, sikap dan kelakuan serta kebijaksanaan tidak disesuaikan dengan Quran dan Sunnah Nabi.
Islam hanya akan menjadi buahbibir atau “lipservice” semata, jikalau aturan dan ajaran Islam tidak dijadikan petunjuk jalan, tidak dijadikan “al-Furqan”, garis pemisah antara Haq dengan Bathil, antara Ma’ruf dengan Munkar, antara Sunnah dan Bid’ah.
Sepanjang perjalanan tarich, sangat sering Islam dipakai alat untuk pemuasan nafsu-keinginan sang berkuasa, dijadikan bola-tendangan disepak kesana dan kemari menurut keinginan sipemain bola.
Kita menyaksikan betapa penguasa berbuat atas nama Islam untuk menghancurkan Islam sendiri.
Islam hanya tinggal menjadi tulisan dan sebutan, menjadi pengakuan kosong dan kesaksian hampa tiada isi, karena isinya dan ajarannya tidak dijadikan petunjuk jalan.
Dalam sebuah Hadits Rasulullah Saw. :
Sesungguhnya Allah mempunyai para penjaga dan pemelihara, dilangit dan dibumi; yang dilangit ialah para Malaikat dan dibumi ialah para pemerintah yang mengatur rezki mereka dan menjaga keamanan mereka.

Seorang ahli Hikmat pernah berkata :
Adab-kebudayaan itu dua macam, yaitu adab dalam syari’at dan adab dalam siasat. Dengan adab dalam syari’at dapat segala kewajiban dikerjakan dengan ringan, karena sesuai dengan hati nurani, dan adab dalam siasat, manusia hidup teratur, negara aman dan ma’mur.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Thu Oct 17, 2002 2:53 pm

Ke’adilan yang merata.
‘Adil artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan zhalim atau zhulm artinya tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya.
‘Adil dalam pembagian rezki ialah mengatur rezki itu sesuai dengan keperluan masyarakat, berat atau ringannya beban dan tanggungan keluarga yang berhak. ‘Adil bukan samarata samarasa !
Sebuah keluarga yang mempunyai anggota 10 orang, tidak boleh disamakan dengan keluarga yang anggotanya terdiri dari 15 orang.
‘Adil dalam tindakan hukum ialah menjatuhkan hukum terhadap siapa yang bersalah, tidak pilih bulu dan kedudukan, tidak pilih pangkat dan martabat.
‘Adil dalam masyarakat memperlindungi silemah dari pemerasan dan penindasan golongan yang kuat. ‘Adil dalam dunia ekonomi dengan mencegah agar kekayaan tidak beredar hanya dikalangan kaum kaya dan berpunya.
Ke’adilan yang merata ialah, jangan sampai ada pengisapan oleh manusia atas manusia, oleh golongan yang kuat atas golongan yang lemah.
Sesungguhnya Allah memerintahkan supaya bersikap adil dan berlaku adil. ( QS. An Nahl: 90 )

Rasulullah Saw pernah bersabda :
Tiga perkara yang menyelamatkan, dan tiga perkara pula yang dapat mencelakakan.
Yang menyelamatkan ialah, bersikap adil diwaktu marah dan diwaktu ridla. Takut kepada Allah diwaktu terang dan waktu gelap, berlaku hemat diwaktu berada dan diwaktu papa.
Yang mencelakakan ialah : kikir yang dipatuhi, nafsu yang dipatuhi, berlaku sombong.

Setiap Muslim harus bersikap adil terhadap dirinya sendiri dengan mengerjakan amal shaleh dan menjauhi ma’siat. Kalau dia bersikap zhalim terhadap dirinya, berarti dia menenggelamkan dirinya kedalam lembah api-nista dan sengsara.
Dari seseorang yang berlaku zhalim terhadap dirinya jangan diharapkan dia akan bersikap adil terhadap orang lain.
Setiap orang Islam wajib bersikap adil terhadap orang yang lebih rendah dan lemah, melindungi dia dari segala perkosaan. Pemimpin dan pemerintah melindungi rakyatnya, dan rakyat mematuhi pemimpinnya.
Ketenteraman Umum.
Hilangnya ketenteraman dan terganggunya keamanan dan ketertiban adalah karena merajalelanya kemungkaran, lalu lalangnya manusia mengerjakan pelanggaran hukum.
Kewajiban alat negara (polisi dan tentara) sebenarnya bukan saja mencari dan mengejar manusia yang melakukan kesalahan, tapi berusaha dengan segala kesungguhan memintasi agar jangan sampai ketenteraman dan keamanan dan ketertiban hukum terganggu.
Suatu pemerintahan yang berjalan diatas Hidayat Allah (Hukumah Rasyidah) harus mampu dan kuasa membawa masyarakat kejalan yang benar, harus mampu menjalankan “amar ma’ruf dan nahi munkar”.
Allah Swt berfirman dalam Al Quran :
Dila’nat orang kafir dari Bani Israil dengan lidah Nabi Daud dan Nabi ‘Isa anak Maryam, sebab kema’siatan mereka, dan mereka melanggar batas Agama. Adalah mereka itu tidak suka saling melarang dari melakukan kemunkaran yang mereka lakukan, yang demikian itu adalah sejahat-jahat pekerjaan mereka. ( QS. Al-Maidah ayat 78 )

Sabda Rasulullah Saw
Apabila manusia melihat yang zhalim dan mereka tidak melarangnya, maka ummat itu sudah dekat masanya akan mendapat siksa Allah yang merata dikalangan mereka.

Firman Tuhan dan Hadits Nabi yang kita kutip diatas menjelaskan kepada kita, bahwa meninggalkan Nahi munkar adalah sikap yang amat amat tercela dalam pandangan Islam, dan itu adalah suatu tanda bahwa kejatuhan dan keruntuhan sesuatu bangsa sudah dekat.
Para pejuang yang melakukan “amar ma’ruf dan nahi munkar” sangat dibutuhkan disegala masa dan ketika, bukan pemecah persatuan, bukan orang yang tenggelam dalam persoalan tetek-bengek seperti yang sering dituduhkan orang.
Dalam kitab “adabul Islam” bab “Adabul hukumah” diterangkan :
Jabatan kepolisian adalah pangkat ke Islaman yang mahapenting, yang wajib bagi tiap-tiap orang Islam, yang dapat menjalankannya. Sebab ia itu termasuk kepada ”amar ma’ruf, nahi munkar”.

Fungsi dari segenap aparatur negara, mandataris dan fungsionaris, tentara dan polisi ialah berkisar pada “amar ma’ruf nahi munkar”.
Karena itulah yang menjadi sumbernya keamanan dan ketertiban.
Segenap warganegara perlu diberi jaminan dan kepastian, jangan dihinggapi oleh kesangsian dan ketakutan.
Jaminan bermilik dan berpunya, jaminan keamanan tempat diam, jaminan atas hak-hak asasi y ang dibawanya lahir kedunia harus mendapat perlindungan yang penuh tanpa ancaman dan perkosaan.
Kemerdekaan menyiarkan Agama (Da’wah) dan kemerdekaan menyusun diri dalam ikatan-jama’ah ke-Agamaan, segala itu adalah unsur pokok terlaksananya keamanan umum dan ketertiban hukum.
Negara yang beradab dan beradat harus memberikan jaminan dan kepastian, tanpa gangguan dari fihak manapun jua.
Disebelah itu, segenap warganegara apa juga fungsi dan kedudukannya, Ulama, Zu’ama, pedagang, tani dan sebagainya harus bertanggungjawab atas terlaksananya keamanan dan ketentraman umum.
Hidup chaos dan centang-prenang, hidup yang jauh tatatertib dan tatakrama, hidup yang tidak tahu aturan atau melanggar aturan, bukanlah hidup bangsa yang beradab dan bersusila.
Bangsa dan Negara akan menjadi cemar dan bernoda, jika keamanan terganggu selalu atau warganegaranya berada dalam kesangsian dan ketidak-pastian.
Ciriwanci hidup ber-Negara dan bermasyarakat yalah tegaknya disiplin dan berlakunya tatatertib; harmoninya hubungan antara pemerintah dan rakyat, harmoninya kehidupan dan perjalanan masyarakat.
Sewaktu Nabi Ibrahim a.s. membuka Kota Makkah, do’a pertama yang beliau munajatkan kepada Tuhan ialah keamanan dan ketenteraman bagi negara yang dibuka pertama kalinya.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Thu Oct 17, 2002 2:53 pm

Memudahkan segala urusan
Pemerintah yang berjalan diatas Hidayat Allah (Hukumah Rasyidah), yang membela keadilan dan kebenaran akan menempuh jalan dan kebijaksanaan memudahkan segala urusan.
Undang-undang yang dibuat, peraturan yang dibikin, ketetapan yang diambil dan beleid-kebijaksanaan yang akan dijalankan, harus bertujuan meringankan, memudahkan, melapangkan bagi rakyat seluruhnya.
Jangan ada peraturan yang memberatkan, jangan ada kebijaksanaan yang menekan, jangan ada ketetapan yang menyempitkan hidup rakyat.
Pemerintah yang tidak mampu menempuh kebijaksanaan “memudahkan” segala urusan.
Dalam “Adabul Hukumah” diterangkan :
Diantara yang terpenting yang diperintahkan oleh syara’ dalam urusan pemerintahan ialah meluaskan perlindungan dan ketentraman, kemajuan dan kemakmuran Negara, dengan jalan memudahkan lalulintas perdagangan dan menghidupkan industri.

Birokrasi yang berlebih-lebihan, birokratisme yang kaku dan beku, dan seribusatu peraturan yang tidak perlu yang menyusahkan hidup rakyat, menyempitkan ruang-gerak rakyat dalam dunia ekonomi, dan kebijaksanaan yang menekan dan memberatkan pundak rakyat, segala itu hanylaha akan menumbuhkan rasa anti dan benci dari fihak rakyat kepada pemerintah.
Tugas membayar pajak yang berat ditambah dengan iuran negara lainnya, semua itu hanyalah akan membuat rakyat (yang diperintah) menjadi muak terhadap pemerintah yang berkuasa.
Ringankan, jangan beratkan !
Lapangkan, jangan sempitkan !
Itulah fungsi dan misi pemerintah dari suatu negara menurut ajaran Islam.
Tumbuhkan harapan, basmi putus asa.
Bangsa yang telah dihinggapi penyakit putus asa dan hilang harapan, adalah bangsa yang sudah kehilangan syaraf, kehilangan gensi dan harga diri.
Jiwanya sudah tak sanggup tegak ditengah-tengah segala pergaulan manusia, semangatnya telah layu terkulai tak sanggup bergumul, kalbunya telah kuncup menjadi kering dan menunggu kejatuhan belaka.
Rasulullah Saw pernah bersabda :
Al-amalu rahmatun minal Laahi li ummatie.
Harapan itu, adalah rahmat dari Allah bagi ummatku.
Uuluwwul himmah minal Iman.
Tinggi cita-cita itu adalah sebagian dari Iman.



_________________
Astaghfirullah al'adziim...

<font size=-2>[ Mesej ini diubah oleh: Arif_Fachrudin pada 2002-10-17 01:07 ]</font>
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Thu Oct 17, 2002 2:53 pm

Pemerintah yang bijaksana, yang mempunyai bashirah dan horizon, yang mempunyai pandangan jauh ketepi ufuk, harus menumbuhkan himmah dan harapan dikalangan rakyatnya.
Tarbiyatul-iradah, didikan kemauan, menumbuhkan cita-cita dan menguntumkan bunga-harapan dalam dada Ummat.
Menyuburkan idealisme dan optimisme dan melenyapkan apatisme dan defaitisme, sinisme dan vatalisme, itulah tugas para pemimpin terhadap rakyatnya.
Dada rakyat yang bergolak dengan idealisme dan optimisme, akan berjuang terus mengejar dan mencapai kesempurnaan.
Tanpa putus asa dan hilang harapan.
Tanpa layu terkulai atau kering menguning.
Subur menghijau, tegak dengan segala kemegahan dan kebanggaan.
Bangga karena dia terpilih menjadi seorang pejuang yang tak mengenal putus asa, tak mengenal patah harapan.
Bangsa yang sanggup bangun setelah jatuh berkali-kali, yang sanggup tegak setelah rebah berulang-ulang.
Itulah Rijalun Ruhaniyyun, angkatan penerus dari para Mujahidin dan kafilah pejuang masa silam, yang dari bibirnya tersimpul-senyum ucapan sakti : ......... ‘isy kariman, au mut syahidan !, hidup jaya dan mati mulia sebagai syuhada.
Jika dibumi maksud tak sampai cita-cita tidak tercapai, namun diachirat pasti bertemu dengan janji Tuhan, Taman Firdausi telah menanti.
Menang sekarang dan menang setelah pulang.
Itulah harapan yang harus kita tanamkan dalam dada segenap Insan, putera dan warga dari negara keridlaan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Harapan yang demikian itu harus menjadi dagingnya seluruh manusia yang ber-Tuhan dan ber-Agama, darahnya darah segala Insan yang mengaku ber-Tuhan dan ber-Agama.
Itulah Ideologi Islam dalam empat-kerangka : Ruhani, Ijtima’i, Madani dan ‘Askari, dan begitu pulalah rumus-formula yang pokok-pokok mengenai itu semuanya.
Masih banyak aspek-aspek yang perlu dikaji dan diteliti dalam pembahasan Ideologi Islam itu. Akan tetapi buku ini bukan bertujuan untuk itu.
Fasal ini sekedar memanggil himmah dan gairah para Mujahid Da’wah, agar mereka memperluas ilmu dan mempertajam pengertian tentang Ideologi Islam yang mereka perjuangkan, kapan saja dan dimana saja, dan juga supaya mengetahui dan menguasai faham dan pandangan ideologi lain yang hidup ditengah-tengah masyarakat yang dihadapi sehari-hari.
Masih banyak pula ideologi yang tidak dikupas disini, yang dianut juga oleh dunia luar. Ada ideologi yang sudah tenggelam dan lenyap dalam laut sejarah, ada pula yang masih dihadapkan dimahkamah sejarah.
Urgensinya membahas tiap-tiap ideologi disini tak ada, dan buku ini bukan pula dimaksudkan untuk itu 1)
______________
1) Bagi yang ingin menambah pengetahuan tentang berbagai Ideologi, kita persilahkan membaca buku “Tentang Dasar Negara Republik Indonesia dalam Konstituante” (3 jilid)


_________________
Astaghfirullah al'adziim...

<font size=-2>[ Mesej ini diubah oleh: Arif_Fachrudin pada 2002-10-17 01:07 ]</font>
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Mon Oct 21, 2002 1:26 am

13. Pengetahuan Bahasa !
Secara sambil lalu dihalaman lain telah saya singgung pertalian dan hubungan Juru Da’wah dengan bahasa.
Ilmu yang saudara hendak sampaikan, Da’wah yang hendak saudara lancarkan, sangat tergantung kepada lancar atau tidaknya lidah dan bahasa yang saudara pakai.
Pidato saudara akan mendapat sambutan yang baik dan meriah, jikalau saudara mempunyai lidah yang berwibawa dan bahasa yang indah-menarik.
Tergantung kepada tempat dimana saudara berpidato, bahasa daerah atau bahasa nasional yang akan saudara pakai.
Tergantung kepada tingkat dan taraf kecardasan para pengunjung, tingkat dan taraf bahasa yang badaimana yang saudara akan pergunakan.
Hanya perlu ditekankan disini, saudara harus menggunakan bahasa yang bersih dan bermutu, baik bahasa daerah maupun bahasa nasional.
Saudara tidak boleh menggunakan bahasa dan istilah yang kotor.
Banyak saya mengenal pembicara, baik ia Kiyai malah ada profesor; mutu pidatonya tidak begitu rendah, akan tetapi bahasa dan istilah yang dipakainya kotor, malah melantur kelapangan seks dan syahwat, bertele-tele. Terbitlah rasa benci dan antipati dikalangan sipendengar. Lenyaplah pengaruh sang Kiyai atau sekadang profesor ditempat itu.
Islam agama yang suci. Oleh karena itu hendaklah ia disampaikan dengan bahasa dan istilah yang bersih dan bermutu pula, jangan bahasa cabul.
Pelajarilah bahasa daerah dan bahasa nasional yang baik !.
Disamping itu yang muthlak perlu diketahui dan dikuasai ialah bahasa Arab.
Bahasa Arab adalah bahasa ‘Ibadah, bahasa Quran dan Hadits, bahasa Uchuwwah dan Jama’ah Islamiyah. Bahasa Arab adalah bahasa resmi kaum Muslimin.
Mempelajari dan menguasai bahasa Arab bagi si Juru Da’wah bukan lagi fakultatif, akan tetapi wajib. Ia bukan bahasa asing, tapi bahasa kita.
Ilmu Islam yang begitu banyak seluk-beluknya mustahil dapat diketahui dan dikuasai secara tajam dan mendalam, tanpa mengetahui dan menguasai bahasa Arab.
Pengetahuan tentang bahasa asing (Belanda, Inggeris, Jerman, Perancis dan lain-lain) perlu untuk memperkaya diri dengan ilmu modern.
Kemajuan pengetahuan dan technik telah memperdekat hubungan benua dan antara bangsa. Manusia penduduk dunia dipaksanya untuk lebih mengenal dan mendekati satu sama lain. Pendekatan kehidupan dan kemanusiaan meratakan jalan untuk menyusun Dunia Baru yang lebih baik.
Mengenal bahasa artinya mengenal bangsa, mengenal adat istiadat, kebudayaan bangsa itu.
Perintah ta’aruf yang diturunkan al-Quran kepada Ummat Islam termasuk didalamnya mengenal bahasa bangsa yang bersangkutan.
Mengetahui bahasa asing berarti mengetahui dunia mereka, mengenal bangsa mereka dan kehidupan mereka.
Kita janganlah seperti katak bawah tempurung.
Kita haruslah mempunyai pandangan yang jauh dan penglihatan yang luas.
Rasulullah Saw pernah memerintahkan, agar kita menuntut ilmu walaupun kenegeri Cina. Tercakup didalamnya menuntut ilmu bahasa.
Kalau para Muballigh kita kaya dalam bahasa, ia tidak akan canggung kaku menghadapi siapa saja.
Para Mujahidin Da’wah harus mengetahui dan menguasai bahasa asing, dan orang asingpun harus kita ajar bahasa kita yang indah gemulai itu.
Pertukaran bahasa dan kebudayaan akan mempermudah terujudnya silaturahmi-kemanusiaan, memperdekat hubungan antara benua dan bangsa.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Tue Oct 22, 2002 12:06 am

14. Bacalah !
Secara chusus saya hendak menganjurkan saudara supaya banyak membaca.
Juru Da’wah (baik pengarang maupun ahli pidato), harus menyediakan sekian jam dalam sehari untuk membaca.
Walaupun saudara dapat mempelajari Islam dari sumber aslinya (bahasa Arab), saya menganjurkan saudara supaya banyak membaca buku-buku Islam dalam bahasa Indonesia.
Baca segala literatur Kristen, Komunis, nasionalis, sosialis.
Bacalah semua dengan cermat, teliti dan seksama, kritis.
Hasil dari bacaan yang banyak itu :
  1. Ilmu saudara akan bertambah, dan saudara tidak akan pernah merasa kekurangan bahan dalam kegiatan menjalankan tugas.
  2. Saudara akan beroleh pengetahuan sejarah, terutama sejarah kebangkitan dan perjuangan Ummat Islam Indonesia, bagaimana generasi sebelum saudara menyusun diri, bagaimana perjuangan cita Islam dari masa kesemasa terletak kelemahan dan kekurangannya.
  3. Saudara akan mengetahui dari sumber aslinya ajaran agama luar Islam, dan akan tahu pula sudah sampai dimana mereka berhasil meng Keristenkan bangsa Indonesia.
  4. Saudara akan mengetahui dari sumber aslinya pula ideologi yang bergerak di Indonesia sekarang, dan sudah sampai kemana pula ideologi-ideologi itu merebut pasar masyarakat kita.
  5. Dari banyak membaca dan banyak mengerti itu saudara akan bertambah fanatik kepada Islam tapi tidak sempit. Fanatik artinya cinta dan setia kepada keyakinan dan Agama, tapi tidak boleh sempit faham.
    Saudara akan tahu perbandingan agama yang ada didunia sekarang, saudara akan tahu pula membuat konfrontasi antara ideologi Islam dengan ideologi luar Islam.
  6. Saudara akan dapat menyusun dokumentasi-pribadi dari catatan dan guntingan koran yang saudara lakukan setiap hari. Dokumentasi itu sangat perlu bagi seorang Juru Da’wah, apalagi kalau dia juga seorang pengarang.
  7. Dengan tidak terasa kekayaan bahasa Indonesia saudara akan bertambah naik dan baik. Saudara akan tahu garis-pemikiran angkatan lama, bagaimana cara mereka merumuskan persoalan perjuangan, dan akan mengetahui “kesenian” yang mereka miliki dalam menyusun pikiran dan menyatakan pendirian.
  8. Jika saudara terpaksa pada suatu waktu melayani (menjawab) keyakinan lain, saudara kan melayaninya dengan argumen, tidak sentimen, dengan hujjah tidak dengan marah.
    Muballighul Islam harus bersikap sportif (ksatria); harus mampu melayani keyakinan luar Islam, terutama keyakinan yang menentang Islam.
    Muballighin Islam harus sanggup, mempertahankan kemurnian Islam dari serangan luar Islam, bagaimanapun bentuk dan coraknya serangan itu.
  9. Saudara perlu mempunyai buku-catatan. Dari banyak membaca, saudara akan bertemu dengan Quran dan Hadits yang perlu dicatat, akan bertemu dengan atsar dan kata hikmat, dengan soal dan kejadian penting.
    Semuanya itu perlu saudara catat, pindahkan kedalam buku-catatan. Kelak suatu waktu saudara memerlukan tidak susah lagi mencarinya. Dimana saja saudara berada dan bila saja, dengan mendadak datang inspirasi kepada saudara. Inspirasi segeralah catat, segera rumuskan dan abadikan dalam bukucatatan. Biasanya inspirasi itu datangnya hanya sekali, kalau kita lalai mencatatnya dia akan lenyap kembali, dan tak datang lagi.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Wed Oct 23, 2002 7:41 am

15. Dengarkan !
Disamping banyak membaca, saudara saya anjurkan supaya banyak mendengar.
Dengan banyak mendengar saudara akan mendapat latihan secara langsung.
Dengarkan chutbah para Ulama dan Muballighin kenamaan.
Dengarkan pidato para pemimpin partai apa saja.
Dengarkan chutbah para chatib setiap jum’ah, dengarkan chutbah para pendeta di Gereja setiap minggu melalui radio saudara.
Sejak umur belasan tahun sampai kini saya senang mendengarkan pidato siapa saja, dari partai mana saja. Saya tidak peduli apa isi dan nilai pidatonya.
Saya senang mendengarkan pidato-pidato Cokro dan Salim dari PSII.
Saya senang mendengarkan pidato Harsono Cokroaminoto.
Saya senang mendengarkan pidato Burhanuddin dari Pendidikan Nasional Indonesia zaman kolonial dulu.
Saya senang mendengar pidato Muchtar Luthfi, Duski Samad dan Gaffar Ismail dari Persatuan Muslimin Indonesia (Permi).
Saya asyik mendengarkan pidato gembong-gembong Partindo zaman penjajahan, seperti Bung Karno, Amir Syarifuddin, Yamin dan Sutoyo Alamsyah.
Saya senang mendengarkan wejangan K.H.M Mansur yang tenang meluas.
Saya terpaku mengikuti uraian Buya A.R. St. Mansur yang penuh kedalaman, meresap dan menyerap.
Saya terpesona jika mendengarkan ceramah M. Natsir yang tajam, cerah dan jernih itu.
Saya senang mendengarkan pidato Hamka yang kuat ingatan itu.
Dari mendengarkan tokoh-tokoh yang saya sebutkan diatas, saya mendapat didikan langsung, bagaimana caranya berpidato yang baik, bagaimana tehnik yang baik.
Dari beliau-beliau itu, langsung tak langsung, saya mendapat didikan dan membentuk diri.
Kepada para angkatan muda saya ingin menganjurkan, agar banyak mendengar; mendengarkan pidato para pemimpin kita yang masih hidup. Mungkin saudara tidak doyan mendengarkan isinya, tapi saudara akan mengetahui tehnik pidato, kesenian berpidato. Malah saudara karena sudah mempunyai ukuran sendiri, dapat pula membuat kritik atas segala pidato-pidato itu, baik isinya maupun caranya.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Thu Oct 24, 2002 2:27 am

16. Luaskan Pergaulan
Seiring dengan banyak membaca, banyak mendengarkan, saya memperingatkan saudara supaya memperluas pergaulan dan memperbanyak hubungan.
Sebagai Juru Da’wah saudara tidak boleh kaku bergaul. Saudara tidak boleh mengurung diri dalam kandang sempit, atau menjadi “ayam jago” dilesung yang sebuah.
Saudara harus banyak bergaul, banyak berhubungan dan berkenalan dengan orang-orang penting.
Datangi para Ulama dan Zu’ama yang kenamaan dan banyak pengalaman.
Dengarkan baik-baik paparan pengalamannya dalam hidup dan perjuangan, suka dan dukanya.
Tanyakan apa saja kepada beliau-beliau itu, pengalamannya dalam perjuangan pasang naik dan pasang surutnya.
Butir-butir pengalaman yang mereka paparkan kepada Anda, tidak mungkin Anda peroleh dalam buku-buku.
Tanyakan kepada mereka bagaimana pendapatnya mengenai suatu kejadian penting.
Saya anjurkan saudara meluaskan pergaulan, bukan hanya dengan pemimpin-pemimpin Islam, tetapi juga dengan pemimpin-pemimpin lain.
Beda faham dan pendapat, beda organisasi, beda keyakinan dan pandangan hidup, tidak boleh menghalangi saudara untuk bergaul dengan segala manusia didunia ini.
Menulis buku ini mempunyai pergaulan yang luas, banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh Indonesia, dari semua partai.
Dari pergaulan yang luas itu, banyak dia mendapat untung, memperkaya diri dengan pengalaman, melatih diri dalam pergaulan.
Saya pernah mengagumi seseorang dan pernah pula benci kepada seseorang.
Saya kagumi dia karena baiknya, dan saya benci kepada yang lain karena buruk budinya.
Akan tetapi, setelah kedua-duanya saya dekati, ternyata manusia yang saya kagumi tadi ada cacatnya, dan yang saya jijiki tadi ada baiknya.
Ternyata dari pergaulan dan pendekatan kita dengan segala manusia, rupanya didunia ini tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia “paripurna”, - tidak ada Insan Kamil.
”Yang baik ada cacatnya dan yang buruk ada imbuhnya !”
Bergaul dan bermu’amalah dengan siapa saja dengan cara yang baik, dianjurkan didalam Islam. Bermu’amalah dengan manusia yang berbeda keyakinan hidupnya dengan kita, bukan berarti “tasybuh”. Keyakinan boleh berbeda malah bertentangan, tetapi pergaulan antar manusia harus baik.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Fri Oct 25, 2002 2:30 am

17. Milikilah Keberanian !
Diantara du’a Rasulullah Saw, ialah meminta supaya dijauhkan dari penyakit “jubn”, pengecut.
Ummat yang sudah dihinggapi penyakit “jubn” adalah Ummat yang sudah kehilangan kepribadian, kehilangan syaraf.
Sebagai pendukung Risalah dan penyampai Da’wah Muballighul Islam harus berani, tidak takut atau pengecut.
Dr. Dale Carniage dalam bukunya “Penuntun Hidup Senang dan Tenang” berkata :
”Orang yang berani mengemukakan pendapatnya biasanya menjadi pemimpin”

Prof. Musthafa Ghalayainy dalam bukunya “Izatunnasyi’in” telah mengupas tiga manusia (Pengecut, Membabi Buta, Berani). 1)
Tentang pengecut dia berkata :
Telah kuperiksa dengan seksama tentang tabi’at manusia, tidak kudapati satu perilaku yang lebih rendah yang membawa kepada kehinaan dan yang melekaskan maut sebelum mati, selain daripada sifat “pengecut”.
Maka membiarkan orang memaksakan kejahatan dan kezaliman, atas sesuatu ummat, adalah suatu sifat yang keji sekali yang membawa tanda keruntuhan itu ummat, karena mulianya sesuatu ummat, manakala disana ada patriot-patriot bangsa yang berdarah prajurit.
Biasankanlah diri kamu dengan berani, sebagai kebiasaan orang bermarwah dan bersopan tinggi, benar dalam perkataan, bahagia dalam amal.
Pengecut telah merusak-rusak bangsa, achirnya bangsa itu jauh ketinggalan ditingkat yang paling bawah. Orang zalim telah berkuasa, orang bodoh menjadi diktator, orang-orang fasik telah memperdaya. Jika terus-menerus juga hal yang demikian, alamat kebinasaan dan keruntuhan bangsa yang akan tiba.
Janganlah kamu takut dari cercaan orang yang mencerca, karena hendak menegakkan kebenaran. Jangan takut kekerasan orang zalim, karena pengecut berarti mati, dan berani berarti hidup.

Tentang membabi buta beliau berkata :
Membabi buta satu rahasia besar dari sejumlah rahasia-rahasia yang menyebabkan terjadinya kekecewaan dalam lapangan amal. Kepadanya kembali sebahagian besar sebab sia-sia buah usaha kita dan menyebabkan kita selalu berhampa tangan.

Achirnya tentang sifat Berani Ghalayainy berkata :
Berani ialah perbatasan antara dua achlak yang hina, yaitu membabi buta dan pengecut. Pengecut ialah sifat yang terlalu ketakutan sedang membabi buta sifat yang terlalu nekat sehingga melampaui dari batas berani.
Sedang berani adalah jalan yang membawa keselamatan. Orang yang berani itu, ia akan maju jika maju itu membawa satu ketetapan pasti, dan mundur jika pekerjaan itu lebih menguntungkan.
Jika keberanian itu terhapus terus menerus, negeri akan menjadi seperti kueh yang akan dibagi-bagi, disegenap fihak orang akan memekiki meminta pertolongan, tidak seorangpun dapat menolong.
Segenap orang akan mengerjakan ma’siat, tidak ada seorangpun yang berani melarang. Dimasa itu terjadilah kiamat besar, menjadikan ummat hamba perbudakan, timbul bahaya besar yang menghapuskan kebudayaan ummat, menghilangkan kemerdekaannya, sehingga bangsa itu merupakan bangsa yang tak ada lagi dipermukaan bumi. Inilah jika bangsa itu menjadi pengecut, baik pengecut adabi maupun maddi.

Ucapan ahlididik yang besar itu, yang disampaikannya kepada angkatan muda Islam 50 tahun yang lalu (1910-an), berlaku seluruhnya buat angkatan muda Islam Indonesia, angkatan Muballighin dan Mujahidin Islam Indonesia.
Para Juru Da’wah dan Muballighin Islam harus memiliki keberanian dalam melakukan tugas. Berani karena keyakinan, berani karena Iman dan kepercayaan.
Berani menentang dan mematahkan kesuliatan, berani mengatakan kebenaran dan membela kebenaran. Berani menyatakan yang munkar, berani menyatakan yang ma’ruf.
Tugas kegiatan Da’wah Islamiyah dan risalah-perjuangan amar ma’ruf dan nahi munkar, sungguh-sungguh meminta keberanian adabi (syaja’ah al adabiah), meminta morele moed dari segenap Muballigul Islam.
Sifat berani adalah sikap positif, pengecut adalah naif, nekat adalah negatif.
Muballighul Islam tidak boleh memakai sifat takut (libasul chauf), pengecut adalah kematian dan kemusnahan.
Muballighul Islam tidak pula boleh bertindak nekat, membuta tuli, kalap dan gelap mata.
Pakaian yang harus menghiasi diri para Muballighin Islam ialah berani; berani menentang mata manusia, berani menempuh kesulitan, berani menahankan penderitaan, berani melakukan sesuatu yang bermakna dan berguna bagi Agama dan Ummat Islam.
Keberanian yang demikian timbul dari keyakinan, kebenaran ketulusan hati, perhitungan yang matang.
Itulah dia tenaga ruhani yang mampu memandang jauh kedepan, mampu membuat harapan dan kemungkinan baru, membuat perspektif bagi kelangsungan dan kehidupan risalah-Da’wah Islamiyah.
Risalah Kubra yang dibebankan kepundak Muballigh tidak mungkin diangkat dengan jiwa pengecut, jiwa yang maju mundur, bimbang dan ragu.
Keberanian yang berhitung, bukan nekat yang membuta !
Tugas Muballigh bukan saja menumbuhkan “syaja’ah al-adabiah” dalam dirinya, tetapi membebaskan ummat dari kungkungan ketakutan, kungkungan kesangsian dan ketidak-pastian.
Risalah meng-kuduskan dunia menghendaki keberanian dari Ummat Da’wah.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif Fachrudin on Sun Jun 08, 2003 10:20 pm

Alhamdulillah, aku menemukan link di internet mengenai buku Mujahid Dakwah ini, rupanya sekarang dicetak ulang lagi...

bagi kengkawan yang menginginkan buku ini sila order disini
Astaghfirullah al'adhim..
Arif Fachrudin
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 177
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Postby Arif_Fachrudin on Fri Jun 13, 2003 6:10 pm

Assalamu'alaikum...
:nangis:
sangat menyesal, saya tak boleh meneruskan menulis buku ini, setelah menerima imel dari pemilik copyright buku tersebut.
demikian harap menjadikan maklum adanya..
:nangis:

bagi kengkawan yang nak memilikinya sila order langsung kepihak penerbit atau kunjungi http://www.penerbitdiponegoro.com
harga buku tersebut Rp. 15.600,- dalam ringgit kurang lebih dalam RM 7 kot.. + ongkos kirim ke mesia :D

Semuga kita kaum muslimin semua dapat mengambil manfaat dari isi buku tersebut, dan semuga buku tersebut menjadi amal jariyah Tok Isa Anshary, yang mengalirkan pahalanya yang tiada putus-putusnya, amin.

wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu.

Date: Fri, 13 Jun 2003 14:17:16 +0700
From: "penerbitdiponegoro" <dpnegoro@indosat.net.id> | This is spam | Add to Address Book
Subject: RE: Assalamu'alaikum..
To: "Arif Fachrudin" <ariffachrudin@yahoo.com>


Assalamu'alaikum wr.wb.
Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas saran dan pujian saudara Arif mengenai buku Mujahid Da'wah. Namun seperti yang anda ketahui bahwa sampai saat ini hanya Penerbit Diponegoro yang memiliki hak untuk mencetak dan memperbanyak buku tersebut, maka tanpa menyingkirkan niat baik saudara untuk membagi kebaikan dari isi buku tersebut, kami berharap agar saudara dapat menghentikan kegiatan penulisan kembali buku tersebut. Buku Mujahid Da'wah masih kami terbitkan dan dapat anda peroleh melalui toko al-kitab atau dengan memesan langsung kepada kami.
Kami juga sangat berterima kasih atas kejujuran saudara, karena itu adalah satu kebaikan yang anda miliki, Insya Allah akan mendapat balasan dari Allah SWT.
Sekali lagi anda dapat membeli buku tersebut langsung kepada kami dengan potongan 30%, menjadi Rp. 10.920,- tidak termasuk ongkos kirim.
Anda dapat mengajak rekan-rekan anda yang berminat terhadap buku tersebut untuk membeli bersama-sama.
Demikian pemberitahuan dari kami, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih!

Hormat saya,

Wijanarko
Sekretaris Direktur
-----Original Message-----
From: Arif Fachrudin [mailto:ariffachrudin@yahoo.com]
Sent: Monday, June 09, 2003 11:47 AM
To: dpnegoro@indosat.net.id
Subject: Assalamu'alaikum..


Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh.

Sebelumnya perkenalkan saya :
Nama : Arif Fachrudin
Alamat : Jl. Semeru 26 Ponorogo

Saya mendapatkan imel ini dari website www.penerbitdiponegoro.com yang saya dapatkan dari search engine (google.com, keyword Mujahid Dakwah) dan saya mendapatkannya baru kemarin (8 Juni 2003).

Perlu saudara ketahui, bahwa saya telah menuliskan kembali sebagian isi buku Mudjahid Da'wah dan saya upload di internet, yaitu di situs pribadi saya dan di forum diskusi bicaramuslim.com sejak tahun 2001, saya menyalinnya dari buku Mudjahid Da'wah cetakan pertama.
Buku tersebut saya temukan di gudang dirumah kakek saya.
Didalam buku tersebut tertera (mungkin) harga buku tersebut yaitu Rp. 225,- , di dalam buku tersebut ada tulisan tangan nama yang tidak/belum saya kenal, (mungkin) nama pemiliknya yaitu Ashabul Yamin Amir, IV B IKIM, dan catatan (mungkin) tanggal pembelian : Gontor, 20 Jan 73, (mungkin) Ashabul Yamin Amir adalah salah satu pelajar yang pernah kos dirumah kakek saya yang (mungkin) bukunya tersebut ketinggalan.
saya menuliskan kembali isi buku tersebut karena saya berpikir isi dari buku tersebut perlu menjadi pelajaran bagi setiap muslim, dan waktu itu (tahun 2001) saya mencoba mencarinya di internet (search dengan kata kunci : Mujahid Dakwah maupun Isa Anshary dan yang berkaitan dengan buku tersebut) saya tidak menemukannya juga, baru beberapa bulan setelah saya mengupload di internet, kemudian saya menemukannya yang berkaitan dengan buku tersebut di situs hidayatullah.com dan kemudian kemarin saya mendapatkan di situs resmi penerbit diponegoro, alhamdulillah akhirnya saya bisa menghubungi yang berhak untuk menyampaikan izin dan keikhlasannya karena saya telah menshare isi buku tersebut secara terbuka di internet ini (walaupun sampai sekarang belum selesai juga saya menyalinnya) namun demikian selanjutnya saya hanya akan meneruskan penyalinan tersebut hanya jika pihak penerbit diponegoro memberikan izin kepada saya untuk meneruskan usaha saya tersebut, dan jika pihak penerbit diponego
Disamping itu tadi pagi saya sudah menulis di forum bicara muslim bagi yang berminat mendapatkan buku tersebut saya berikan link di form order yang terdapat di situs www.penerbitdiponegoro.com semoga ini juga tidak dipersalahkan.

Buku Mudjahid Da'wah yang ada pada saya tersebut ada beberapa halaman yang hilang yaitu : hal. 227 - 228 untuk itu jika boleh saya ingin mendapatkan tulisan dari lembar yang hilang tersebut.

demikian surat dari saya, sekali lagi mudah-mudahan penerbit diponegoro tidak mempermasalahkan saya karena kelancangan saya menyalin isi buku tersebut sebelum mendapat izin dari pihak penerbit.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa ridha dengan segenap aktifitas kita amin...

Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh.
Astaghfirullah al'adziim...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Dakwah kesufian

Postby Ahdahwahdah on Fri Apr 22, 2005 6:17 pm

Dakwah kesufian tidak pernah berakhir dan tidak pernah sekerat jalan. Berterusan selagi ada hayat.

http://groups.msn.com/JalanKesufian/salambenua.msnw

Sila tulis apa saja disini.
sekian
Ahdahwahdah
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 50
Joined: Fri Feb 18, 2005 10:18 pm
Location: OWN

Re: Buku Lama : Mujahid Da'wah...

Postby Arif_Fachrudin on Tue Apr 12, 2011 1:12 am

Insya ALLAH saya akan melanjutkan menaip isi buku Mujahid Da'wah ini... saya sudah tidak hiraukan lagi mesej yang pernah dikirimkan kesaya yang mengaku dari CV Penerbit Diponegoro.. saya meneruskan menulis buku ini dengan niyat, semoga buku ini benar-benar menjadi investasi Penulisnya yang devidennya sentiasa mengalir memperindah menerangi alam kubur KHM Isa Anshary penulis buku ini.. insyaALLAH...
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

Re: Buku Lama : Mujahid Da'wah...

Postby Arif_Fachrudin on Sat Apr 16, 2011 5:15 pm

IX. LATIHAN DAN KEGIATAN

Tujuhbelas pokok yang saya kemukakan diatas, adalah persyaratan mutlak yang harus adanya bagi seorang Muballigh. Dia tidak usah "menguasai" tiap-tiap pokok itu, dia tidak usah menjadi seorang "spesialis", tapi dia harus tahu pengertian umum dari tiap-tiapnya.
Itulah bekal, itulah sangu bagi seorang Muballigh.
Pengetahuan agama yang sudah dimilikinya, yang menyeluruh sifatnya itu, pengetahuan tentang susunan masyarakat bangsanya, dan pengetahuan bagaimana cara mendekati manusia yang berbagai corak ragam itu, segala itu telah memperkaya dirinya, membuat dirinya menjadi orang yang "berpunya".
Sebagai orang yang telah "berpunya" dia sekarang harus mengeluarkan "zakat" dari kekayaan ilmunya.
Dia wajib mengeluarkan "zakat" dan dia berdosa kalau tidak mengeluarkannya.
Bagaimana caranya menyampaikan ilmu itu kepada manusia ramai?
Anda belum pernah ber Tabligh dimuka orang banyak?
Kepada saudara yang baru tumbuh itu saya ingin memberi petunjuk.
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

IX. LATIHAN DAN KEGIATAN

Postby Arif_Fachrudin on Sun Apr 17, 2011 6:26 am

1. Latihan Lidah
Ambillah sebuah buku yang paling saudara senangi isinya, majalah atau koran harian.
Didalamnya saudara akan menemui karangan yang paling menarik hati saudara.
Karangan yang saudara senangi itu tentunya buah tangan seorang yang saudara kagumi pula.
Bacalah karangan itu keras-keras, seperti orang berpidato.
Baca seterusnya, atau ulang kembali membaca yang tadi. Lakukanlah itu setiap waktu dikala senggang.
Hasil dari latihan itu saudara akan menemukan "suara" dan "nada" yang saudara punyai.
Dimuka telah saya ajarkan agar saudara rajin mendengarkan pidato siapa saja. Nah, sewaktu saudara membaca buku keras-keras itu, saudara boleh meniru nada irama/suara siapa saja yang saudara senangi.
Saudara boleh meniru-niru Bung Karno umpamanya, saudara toch dalam latihan: latihan lidah dan latihan suara.
Saudara boleh juga berpidato seorang diri dalam kamar saudara, berdiri dimuka kaca. Saudara boleh membuat sikap yang pantas, bagaimana caranya seorang berpidato.
Saban hari latihan itu saudara lakukan!
Last edited by Arif_Fachrudin on Sun Apr 17, 2011 2:31 pm, edited 1 time in total.
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

IX. LATIHAN DAN KEGIATAN

Postby Arif_Fachrudin on Sun Apr 17, 2011 8:57 am

2. Latihan Da'wah
Yang pokok ialah saudara harus memulai, cara bagaimana melahirkan pendapat, cara bagaimana merumuskan pikiran dan keyakinan dimuka orang banyak.
Mulailah itu dikalangan teman-teman yang sebaya, dalam ruangan yang terbatas.
Dalam pertemuan berkala, dengan jalan mengadakan diskusi, adu pendapat, debat bertukar pikiran mengenai apa saja.
Jika saudara mendapatkan teman yang sefaham, adakanlah latihan Muballighin.
Minta beberapa ulama dan sarjana Islam, untuk memberikan pelajaran yang chas, sesuai dengan keachlian guru yang saudara datangkan. Jika latihan Muballighin itu menelan waktu 6 bulan seumpamanya, lepaskan para pengikut latihan kedalam masyarakat dengan tugas, bahwa dia harus mempraktekkan hasil latihan selama 6 bulan itu. Setelah dua bulan, panggil dan kumpulkan kembali mereka untuk menempuh latihan yang kedua.
Dalam latihan yang kedua, simurid wajib melaporkan hasil, pengalamannya selama 2 bulan itu. Segala laporan itu harus didiskusikan secara terbuka, dan ambillah kesimpulan atasnya.
Dari laporan dan diskusi yang diadakan terus menerus itu, akan tampak kelak siapa yang akan berkembang dan siapa yang tidak.
Saya harap saudara termasuk kader yang bisa berkembang.
Last edited by Arif_Fachrudin on Sun Apr 17, 2011 2:30 pm, edited 1 time in total.
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

IX. LATIHAN DAN KEGIATAN

Postby Arif_Fachrudin on Sun Apr 17, 2011 2:30 pm

3. Kegiatan
Saya memesankan saudara berkembang dan membentuk diri dengan kegiatan dan kesungguhan dari bawah. Saudara harus mencari "lebensraum" dalam masyarakat. Kedudukan dalam masyarakat adalah kedudukan yang kuat dan teguh. Kedudukan yang harus saudara tebus dengan kegiatan.
Kedudukan bukan buat kedudukan, tapi buat kelangsungan perjuangan Da'wah, buat mengembangkan bakat dan kodrat saudara.
Dalam masyarakat saudara telah mendapat tempat, walaupun didaerah yang terbatas dan kecil. Tempat itu sudah cukup buat saudara untuk bertolak seterusnya.
Selama saudara mengembangkan kegiatan dalam masyarakat, saudara akan bertemu dengan modal, kekayaan yang tidak akan habis-habisnya. Modal dan kekayaan itu ialah Masjid. Itulah modal dan kekayaan Ummat Islam.
Saudara sendiri telah mendapat tempat dalam Masjid. Masjid tempat pengajian. Masjid tempat menyusun jamaah dan uchuwwah. Pelopori Sholatul Jama'ah dalam Masjid, kalau mungkin setiap waktu, kalau belum mungkin, waktu Subuh, Maghrib, Isya'.
Adakan pengajian sesudah Maghrib sebelum 'Isya, adakan ceramah kilat sesudah Subuh.
Dari Sholatul Jama'ah saudara berangsur-angsur menyusun Ummat, membangun persaudaraan Ummat.
Masjid harus saudara pakai sebagai pusat kehidupan dan kegiatan Islam, pusat kehidupan dan kegiatan masyarakat.
Kesatuan Masjid akan keluarlah anggota masyarakat yang baik, anggota yang tahu hak dan kewajibannya sebagai anggota Masyarakat. (1)
(1) Betapa penting dan vitalnya kedudukan Masjid, saya persilahkan saudara membaca buku Sidi Ghazalba "Masjid : Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam", 1962

Disana saudara dapat menyusun tenaga amal, tenaga kerja. Hidup bergotong royong, bantu-membantu, tolong-menolong.
Himpun dana dan susun tenaga untuk kepentingan bersama.
Dana dan tenaga yang sudah tersusun, pakai sehemat-hematnya guna kepentingan bersama. Tanamkan rahim sosial diantara anggota Jamaah, menolong orang yang lemah, membantu kaum yang lapar.
Sebagai pusat kehidupan dan kegiatan Ummat Islam, Masjid itu harus bersih, kolam dan saluran air harus bersih, Perbaiki dan kerjakan bersama secara gotong-royong. Tenaga bersama yang sudah tersusun itu akan dapat memikul yang berat dan menjinjing yang ringan, menyelesaikan apa saja yang bermanfaat bagi agama dan masyarakat.
Sampai dapur teman (anggota jamaah) yang tidak berasap bisa diringankan oleh tenaga bersama itu.
Satu keluarga tidak akan senang dan tinggal diam, jika ada tetangganya (anggota Jamaah) yang menderita kesusahan.
Hidup koperatif dan kolektif dapat saudara mulai dari Masjid.
Rasa senasib-sepenanggungan dapat saudara ciptakan melalui Masjid. Menyusun masyarakat yang baik, terhormat dan bergensi, dapat saudara ciptakan melalui Masjid.
Amar Ma’ruf dan nahi munkar mudah dilaksanakan melalui Masjid. Pendeknya, kembalikan Masjid kepada fungsinya: pusat ber’ibadah dan ber-Jamaah.
Hidup berjamaah yang diteladankan oleh Rasulullah saw. 14 abad yang silam.
Hidup berjamaah itulah pelabuhan bertolak yang jarang disinggahi oleh Ummat Islam secara sadar.
Saya hendak mengemukakan kepda saudara satu-dua contoh dari kekuatan Jamaah.
Disuatu kota ada sebuah Masjid, kepunyaan sebuah perkumpulan Islam.
Disitu teman saya memimpin Shalatul Jama’ah setiap waktu.
Rata-rata jama’ah hanya terdiri dari 100 orang. Yang 100 orang itu adalah anggota dari perkumpulan yang mempunyai Masjid itu. Aneh, uang iuran bulanan yang hanya sebesar 5 rupiah susah masuknya kedalam kas perkumpulan.
Akan tetapi, sewaktu kepada Jamaah mengemukakan, bahwa untuk kepentingan Jamaah kita perlu membeli kitab Tafsir yang harganya sekian puluh ribu rupiah, uang yang sebesar itu dalam satu subuh terkumpul. Mudah saja anggota Jamaah mengeluarkannya.
Ini semangat dan kekuatan Jamaah.
Tahukah saudara, Tabligh Agama yang diselenggarakan oleh “perseorangan” tapi bersemangat Jamaah, lebih dikunjungi oleh kaum Muslimin jika dibandingkan dengan kalau diadakan oleh “perkumpulan”?. Mereka tidak lagi diikat oleh tali organisasi yang biasa, tetapi diikat oleh jiwa dan semangat, yang jauh lebih kuat dan teguh dari tali perkumpulan dan perhimpunan.
Jamaah itu terbentuk karena refleksi dari Sholat berjamaah. ‘Ibadah memancarkan kehidupan Jamaah, kehidupan Uchuwwah. Dibenua Jamaah itu saudara mengembangkan kegiatan, membentuk kodrat dan tha’at, menyuburkan bakat sehingga mekar-menguntum.
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

IX. LATIHAN DAN KEGIATAN

Postby Arif_Fachrudin on Tue Apr 19, 2011 8:28 am

4. Cara Berpidato
Karena kegiatan dan kesungguhan saudara dalam masyarakat dan dalam Masjid, saudara telah didahulukan selangkah dalam masyarakat, dan mendapat tempat yang layak dalam Masjid.
Saudara telah diberi tugas oleh masyarakat, ikut ber-Tabligh dalam pengajian berkala yang dilangsungkan setiap pekan di Masjid tempat saudara.
Saudara telah banyak belajar, membaca dan mendengar. Saudara telah menjadi orang yang "tahu semua", walaupun belum menguasainya. Dan saudara tidak akan dapat menguasai semuanya, yang saudara pelajari itu.
Jika saudara hendak berpidato, pertama-tama saya hendak memesankan, agar saudara memilih acara atau menetapkan dulu persoalan apa yang hendak saudara pidatokan.
Pertama, saudara harus menguasi masalah itu sedalam mungkin. Saudara harus menjaga, jangan sampai orang banyak melihat saudara orang yang sedang belajar.
Pelajarilah masalah itu seteliti-telitinya!.
Apa masalah yang hendak saudara bahas? Tentukan lebih dahulu, agar sewaktu menghadapi orang banyak saudara tidak lagi berpikir mencari-cari masalah yang hendak saudara Tablighkan.
Perlu saya peringatkan, pemilihan masalah harus saudara hubungkan dengan kehendak atau penyakit Ummat, atau kepentingan perjuangan. Jikalau saudara diminta berpidato disuatu tempat, biasanya panitya pengundang yang menetapkan acara buat saudara. Pelajarilah masalah itu sedalam-dalamnya agar pidato saudara tidak mengecewakan panitya yang mengundang saudara.
Dibawah ini saya daftarkan masalah-masalah yang boleh saudara kupas dimana-mana:
1. Tauhid membentuk Pribadi Muslim.
2. Tauhid dasar didikan.
3. Susunan Masyarakat Islam.
4. Persaudaraan dalam Islam.
5. Sosialisme Islam.
6. Faham Persaudaraan dalam Islam.
7. Islam dan Character Building.
8. Islam agama Perdamaian.
9. Kedudukan Wanita dalam Islam.
10. Hikmah 'Ibadah Haji.
11. Hikmah Sholat.
12. Fungsi Islam dalam masyarakat.
13. Kehendak wahyu dari alam ghaib.
14. Teologi dan filosofi Islam.
15. Pengertian Ahli Sunnah wal Jama'ah.
16. Bahaya bid'ah dan firqah.
17. Ummat Islam menentukan nasibnya.
18. Falsafah Isra' dan Mi'raj.
19. Meratakan faham Quran dan Sunnah dalam masyarakat.
20. Rahasia kemunduran Ummat Islam.

Itulah rangkaian contoh masalah yang dapat saudara bahas dalam Tabligh-tabligh dimana-mana.
Pelajarilah masalah itu lebih dahulu secara mendalam !.
Buatlah pokok-pokoknya, bangun menjadi binaan yang harmonis, laras dan wajar.
Simpan catatan dan tulisan baik-baik, agar kelak saudara tidak usah lagi mengumpulkan bahan, jika hendak berpidato atau mengarang. Biasanya dalam praktek pidato yang baik terdiri dari :
a. landasan.
b. pendahuluan.
c. uraian.
d. kesimpulan.

Yangmulia AR. Sutan Mansur biasanya kalau berpidato dimulainya dengan membaca ayat-ayat Al Quran dengan lagunya yang terkenal. serem dan mendirikan bulu roma.
Tampaknya kekuatan ruh yang membuat lidah beliau luar biasa hebatnya.
Banyak Muballigh-muballigh pengikut beliau di Minangkabau yang mencontoh AR Sutan Mansur membaca Quran. Sudah tentu yang mencontoh tidak sama dengan yang dicontoh.
Saudara saya ajarkan supaya juga membaca seayat dua dari Al Quran atau Hadits sebagai landasan masalah yang hendak saudara pidatokan.
Bacalah dengan tenang, fasih : baca dengan jiwa, dengan ruh dan semangat.
Sewaktu saudara membaca ayat-ayat Al Quran itu, perhatian hadirin sepenuhnya tertuju kepada saudara.
Saudara tiba pada pendahuluan. Disini kesenian seorang Juru Da'wah mendapat ujian.
Jangan sekali-kali saudara membuat reklame tentang diri saudara dalam pendahuluan itu. Hadirin umumnya tidak senang mendengar pidato reklame. Biarlah orang lain saja yang mengenalkan siapa saudara.
Pendahuluan pidato saudara itu hendaknya sudah membayangkan kearah mana saudara akan berjalan seterusnya. Saudara harus dapat memikat dan mengikat perhatian hadirin sewaktu membuat kata pendahuluan.
Pusatkan minatnya dan hatinya, kuasai jiwanya !
Setelah itu saudara sampai kepada uraian dan kupasan.
Saudara harus datang dengan membawa qa'idah-qa'idah yang kuat, logika dan dialektika yang kukuh, analisa yang tajam, fakta yang nyata dan hujjah yang terang, sehingga saudara dapa memberikan pengertian yang cerah dan jernih kepada hadirin.
Pada tingkat mengurai, saya hendak memberi peringatan !
  • Saudara tidak boleh banyak membuka front dalam uraian itu, tidak ngawur atau ngelantur, agar hadirin tidak bingung dan tidak mengerti apa sebenarnya yang saudara Tabligh-kan.
  • Jangan banyak humor (kelakar), walaupun humor biasanya membangkitkan perhatian dan ketawa pada pendengar. Saudara harus sungguh-sungguh, serius.
    Menyampaikan agama harus dengan segala kesungguhan dan kepenuhan.
    Seorang Muballigh bukanlah "tukang pelawak" diatas panggung komedi sandiwara.
  • Kalau terpaksa saudara harus menyinggung atau melayani keyakinan luar atau golongan luar, janganlah persoonlijk, tapi zakelijk.
    jangan dengan sentimen, tapi dengan argumen. Jangan bersifat penyerangan, tapi pembelaan, jangan offensif tapi defensif.
    Saudara harus fair, sportif dan ksatria.
  • Jangan saudara mempamerkan buku-buku yang saudara baca; jual tampang, menunjukkan awak orang luar biasa. Hadirin tidak memerlukan sama sekali menonton pameran atau seminar yang tidak menarik itu.
  • Jangan menghina orang dan atau golongan lain. Setiap kuping yang normal tidak akan suka mendengar perkataan penghinaan.
    Jangan menunjukkan sikap kebencian kepada siapapun juga.
    Kita tidak boleh menanam kebencian atau dendam kesumat dalam masyarakat.
    Beda keyakinan dan pandangan, tidak perlu menumbuhkan dendam dan kebencian.
    Ideologi boleh bersaing, keyakinan boleh bertarung. Tapi hendaklah dijaga jangan sampai melahirkan kebencian golongan atau dendam kesumat.
    Harus dijaga jangan sampai "rust dan orde" terganggu, jangan sampai mengganggu ketentraman dan keamanan masyarakat, jangan sampai mengganggu dan merugikan negara.
  • Saudara harus menggunakan bahasa dan istilah yang mudah difaham, bahasa populer dan bahasa rakyat.
    Rakyat harus mengerti betul apa yang saudara bentangkan. jangan membawa istilah yang tidak dimengerti oleh rakyat, istilah yang saudara sendiri barangkali tidak mengerti. Pilihlah bahasa dan kata yang hidup, yang dinamis.
  • Sekali lagi, berpidatolah dengan tenang, dengan sungguh, padat dan berisi.
  • Perhatikan sikap pendengar. Sudah muak atau belum, sudah kenyang atau belum. Jangan saudara hanya mencari kepuasan diri dengan pidato panjang.
    Muballigh yang arif pasti mengetahui, dimana ia harus mengachiri pidatonya.
  • Hampir lupa saya memperingatkan kepada saudara, bahwa alun dan irama suara dalam berpidato harus dijaga sedemikian rupa, sehingga tidak sumbang terdengarnya.
    Saya pernah bertabligh disuatu daerah bersama-sama dengan seorang Kiyai besar.
    kiyai besar itu bukan main banyak ilmunya. Quran dan Hadits hafal luar kepala, atsar dan kata-hikmat bercucuran laksana air terjun.
    Akan tetapi sayang, Kiyai kita tidak mengatur alun dan irama suara dalam berpidato. Semenjak salam pembuka sampai kepada salam penutup, suaranya tetap diatas; tak pernah menurun atau mendatar. Bukan main sumbangnya, tegang dan kering.
    Dipenginapan Kiyai besar kita bertanya kepada saya, bagaimana pendapat saya tentang pidatonya.
    Saya jawab secara jujur: Isi dan materi pidato Kiyai bukan main bagusnya dan banyaknya. Hanya sayang, cara Kiyai berpidato terdengar sangat sumbang.
    Tekanan suara Kiyai tetap dan menetap diatas. Sambil ketawa saya katakan kepadanya, .......... cara yang begitu, namanya "Muballigh kampungan !"
    Dipukulnya muka saya mendengar resensi saya itu, pukul sayang.
Mengatur irama dan suara, sangat penting sewaktu kita berpidato. Mulailah berpidato dengan suara dan nada yang tenang, berangsur-angsur naikkan keatas, keatas dan keatas lagi. Sesudah itu berangsur-angsur turunkan kebawah.
Dampingi pula dengan gerakan tangan dan sikap tubuh yang seirama dengan getaran suara.
Dihalaman terdahulu saya katakan bahwa saudara harus mengambil kesimpulan dari pidato saudara yang panjang itu. Ummat pendengar memerlukan keringkasan dan kesimpulan dari pidato saudara itu. Kalau saudara seorang Muballigh yang mahir dan bijak, sipendengar yang banyak itu akan mudah menghafalkan kesimpulan itu, dan akan menyampaikannya kepada teman-tamannya yang tidak datang.
Menjadi buah mulut, buah tutur dimana-mana.
Rakyat merasa ada pegangan dari kesimpulan yang saudara berikan.
Saya peringatkan lagi, antara pendahuluan, uraian dan kesimpulan, harus ada tali temalinya, harus berjalin berkelindan, harus ada rantai, dan rantai itu tidak boleh putus atau ungkai.
Jaga keharmonian dan kelarasan dalam pidato saudara.
Tidak perlu saya kemukakan lagi, bahwa bahasa yang saudara pakai harus lancar, fasih dan lincah. Apa lagi kalau saudara membaca ayat Quran dan Hadits.
Saya banyak mengenal pemimpin-pemimpin besar Islam. Puluhan tahun menjadi pemimpin Islam, sejak Partai Islam yang tertua. Tapi sampai achir hidupnya, sepotong ayatpun dia tak pernah hafal. Mengucapkan salampun, kentara muallaf-nya.
Salah satu dari "kekurangan" pak Cokro menurut pandangan saya ialah, beliau tidak bisa membaca Quran menurut aslinya. Lidahnya masih lidah Jawa totok.
Sebaliknya kelebihan Salim diantaranya terletak disitu. Bahasa apa saja yang beliau pakai, fasih.
Kefasihan lidah ini saya temui juga pada saudara A. Ghafar Ismail, Muballigh kenamaan itu.
Coba saudara pikirkan, kalau saudara berpidato didaerah yang rakyatnya fanatik, biasa mendengar bacaan Al-Quran dengan cara yang baik, tiba-tiba mendengar bacaan Quran saudara tidak karuan, harga saudara akan merosot dimata mereka.
Biasanya Muballigh-muballigh "kaum muda" kurang memperhatikan ini, padahal sangat penting.
Saudara patuhilah petunjuk-petunjuk diatas. Saudara akan berkembang terus, berkat kegiatan dan ketangguhan saudara.
Bertahun-tahun kegiatan dan pembantingan tulang yang harus saudara berikan.
Belasan dan puluhan tahun saudara harus menempuh kesungguhan berjuang itu.
Sehingga achirnya saudara menemui bentuk. Muballigh yang representatif, yang dihajatkan oleh masyarakat kaum Muslimin.
Kalau sudah jadi, artinya saudara tidak lagi menjadi figuur Masjid yang pertama tadi, tetapi sedikitnya telah menjadi figuur daerah atau wilayah, lokal dan regional.
Tetapi saudara jangan lupa kepada "purwadaksina", jangan lupa kepada tempat asal dimana kita tumbuh pertama kalinya.
Saudara teruskan kegiatan dan pembantingan tulang itu dengan segala kesungguhan, dengan sabar dan tawakkal, dengan idealisme yang kukuh dan teguh.
Saudara kelak akan dikenal dan bernama dalam masyarakat Islam Indonesia.
Tidak lagi figuur lokal dan regional, tapi telah menjadi figuur nasional, dalam arti saudara telah menjadi Muballigh Islam Indonesia, telah menjadi Jurubicara Ummat Islam Indonesia.
Menjadi Shahibud Da'wah, Mujahid Da'wah, Muballighul Islam kaliber nasional, itu artinya menjadi Jurubicara Islam. Kedudukan itu jangan dianggap sebagai kehormatan, tetapi tugas.
Tugas saudara semakin berat, dan tanggung-jawab semakin berat dan besar.
Gelanggang perjuangan saudara bertambah luas, tugas saudara bertambah berat, dan tanggung-jawab bertambah besar.
Saudara yang akan menggantikan angkatan lama yang sudah tua.
Beliau-beliau itu akan pulang membawa laporan kepada Tuhannya. BBengkalai ini jatuh seluruhnya ketangan angkatan muda, selesaikanlah !
Teruskan menempuh jalan suci ini, dengan keyakinan yang padu, jiwa membaja dan semangat yang tak kunjung padam.
"Adriku ichwanakum fil jihad !"
Arif_Fachrudin
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1204
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: Ponorogo

PreviousNext

Return to Bicara Muslim

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 2 guests