Bahan Renungan

Untuk apa-apa bicara berkaitan akhlak dan tasawuf.

Postby Dabbah Al-Ard on Wed Mar 20, 2002 2:15 am

From: Abu Sangkan <patrap1@y...>
Date: Thu Feb 28, 2002 8:20 am
Subject: Tafsir Qur'an Surat An-Nur

Mari kita buka surat An Nur 35, yang artinya :
Allah (pemberi) cahaya (kepada )langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya) yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi,<FONTCOLOR=#0000FF walaupun tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
Professor Ali Ash Shabuni, mufassir terkemuka masa kini memberikan penjelasan mengenai arti ayat diatas dalam kitab tafsir Shofwatut Attafaasir halaman 240, sebagai berikut ;
Allah cahaya bagi langit dan bumi, yaitu Allah sebagai munawwir ( yang menerangi ) langit dan bumi. Allah menerangi langit dengan bintang-bintang yang terang dan menerangi manusia di bumi dengan syariat dan hukum-hukum. Oleh sebab itu di turunkanlah utusan-utusan (rasul-rasul) yang mulia. Arti Cahaya ( Nur) disini adalah ciptaan Allah berupa bintang-bintang atau matahari, sedangkan Cahaya (Nur) bagi penduduk bumi berupa hukum-hukum atau syariat. Dan diturunkan rasul-rasul sebagai Nur yang memberikan pencerahan dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang …minadhz dhzulumati ilan nuur (Al Baqarah ayat 257 ). Pada tafsir ini disimpulkan bahwa cahaya itu ciptaan Allah bukan Allah itu sendiri. Jika demikian arti cahaya sebagai diluar Tuhan (ciptaan) maka kita telah syirik apabila menghadap kepada ciptaanNya.
Mari kita lanjutkan dengan pendapat yang lain :
Telah berkata Ath Thabari : Allah sebagai Pemberi petunjuk ( Al Hadi ) bagi penduduk langit dan bumi dengan cahayanya menuju kebenaran ( Al Haq ) dan memberikan tuntunan ( isymat ) untuk keluar dari perbuatan yang tercela.
Allah yang menuntun penduduk langit dan bumi dengan berbagai macam cara, berupa ilham, isymat ( tuntunan secara langsung ), sehingga orang keluar dari perbuatan yang tercela menjadi kebaikan. Hal ini terjadi kepada Nabi Yusuf Alaihissalam : Sungguh wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu ) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu, andai kata tidak melihat tanda (Burhan/ cahaya/ pencerahan) dari Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang berserah diri (Yusuf :24)
Allah memberikan pencerahan (burhan) kepada nabi Yusuf berupa bimbingan dan tuntunan (‘Isymat) agar selamat dari perbuatan yang tercela. Dengan demikian nabi Yusuf telah mendapakan Nur Allah, artinya Yusuf telah mendapatkan ilham dari Allah .
Kemudian pendapat Syekh Al Qurthuby : Kata Cahaya ( An Nur) bagi orang-orang Arab, sering digunakan sebagai majaz ( perumpamaan ) untuk memberikan makna kepada sesuatu kata yang sulit di ungkapkan, sehingga mereka cukup berkata itu "Nur".
Kata-kata majaz ini sebenarnya tidak perlu kita fahami sebagai arti yang sebenarnya , sebab kita akan menjadi bingung sendiri.
Seperti ungkapan seorang penyair : Engkau bagiku adalah Nur, artinya sebagai penolong dan penuntun.. ada juga orang yang berkata : Si fulan itu cahaya (Nur) bagi Negerinya , sebagai matahari dan bulan.
Bagi orang-orang Arab lumrah saja mengatakan bahwa Allah adalah Nur bagi alam semesta. Disebut demikian karena adanya alam ini berasal dari Allah, bergantung kepadanya, dan yang mengatur segala urusannya dengan ketetapan kudrat-Nya. Maka Allah disebut Nur alam semesta. Kita tidak perlu mengkotak-katik kata majaz ini sebab kita akan tersesat sendiri, seperti pada kalimat "saya mau pergi ke rumah sakit". Kalau kita tidak mengerti kata majaz, kita akan menjadi gila karena tidak akan menemukan rumah yang menderita sakit. Atau ada kalimat "nyiur melambai-lambai", kita cukup mengerti apa yang dimaksudkan tanpa harus mengatakan nyiur kok melambai-lambai, memangnya punya tangan ??. Pada masa Nabi hal itu tidak pernah ditanyakan artinya, karena para sahabat sudah faham maksudnya dan kalimat (majaz /perumpamaan) itu sudah terbiasa di gunakan untuk menjelaskan sesuatu yang sulit dimaknai dengan baik. Seperti pada kalimat "Allah menciptakan langit dan bumi dengan kedua tangannya.", kita tidak perlu membayangkan tangan Allah segede apa ya ..??
Berkata Ibnu Athaillah : beliau menafsirkan Nur yaitu " keadaan segala sesuatu pada dasarnya adalah kegelapan ( ketiadaan ), kemudian Allah menerangi dengan Nur-Nya sehingga menjadi tampak / terwujud atau menjadi ada. Kalaulah tidak ada wujud Allah maka tidak akan ada wujud segala sesuatu ini. Sebagaimana hadist Rasulullah Saw : Allahumma lakal hamdu anta nurussamawaati wal ardh waman fihinna ~ Ya Allah, Engkau adalah cahaya bagi langit dan bumi beserta isinya )
Pada dasarnya segala sesuatu itu tidak ada, yang ada hanyalah Allah. kemudian semua menjadi ada, disebabkan adanya Allah. maka Allah disebut Cahaya ( Nur ), karena yang memulakan ada.
Berkata Ibnu mas’uud : laisa ‘inda rabbikum lailun wa nahaarun. yang dimaksudkan adalah wujud Allah yang tidak terpengaruh oleh waktu malam ataupun siang, sebab Dzat Allah tidak terikat oleh segala sesuatu, akan tetapi segala sesuatu terikat atau bersandar kepada Dzatullah. Secara tegas beliau mengartikan nurussamawati wal ardh itu adalah Dzatullah.
Berkata Ibnu Qayyim : Allah swt menamakan dirinya Nur. Dan Allah juga menamakan kitabnya Nur, rasul-rasul-Nya sebagai Nur, menghijabi dirinya dan makhluknya dengan Nur.
Dengan demikian telah sepakat para mufassir untuk mengartikan Allah Nurussamawati wal Ardh sebagai Al hadi; yang memberikan hidayah, yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Dalam hal ini tidak ada pertentangan antara Ibnu Mas’ud, Ibnu Qayyim dan yang lainnya. Mereka sepakat bahwa Nur adalah Allah sendiri bukan cahaya-Nya. Sebab kalau cahaya dengan arti yang sebenarnya maka kita telah menyembah bukan Dzat-Nya tetapi ciptaan-Nya sehingga kita termasuk orang yang berbuat syirik. Sama halnya apabila kita menyembah matahari, karena matahari juga disebut Nur, kitab-kitab disebut Nur, ilmu juga disebut nur, hidayah berarti nur, si fulan juga nur bagi negaranya, Muhammad juga nur dst. Akan tetapi yang dibahas pada ayat diatas adalah Allah sebagai Nur, nurun ‘ala nurin. Dia cahaya diatas cahaya .
Untuk lebih jelasnya kita lanjutkan bagaimanakah kenyataan Nur yang dimaksudkan oleh tafsir berikutnya : ( matsalu nuurihi ) perumpamaan cahaya Allah dalam hati orang-orang mukmin bagaikan sebuah misykat ( kamisykatin fiha misbahun / cerukan pada dinding yang didalamnya terdapat pelita, yaitu cahaya yang terhimpun di dalam misykat yang mengakibatkan cahaya itu bersinar amat terang sekali .
Di dalam kitab Tasyhil dijelaskan : Bahwa makna sifat Nur Allah sulit digambarkan oleh pikiran manusia, maka dibuatlah perumpamaan seperti sifatnya misykat yang didalamnya ada pelita yang terang benderang karena sinarnya terhimpun disitu. Misykat itu ibarat hati orang mukmin, sedangkan hidayah itu adalah Nur Allah yang menuntun hati orang mukmin menuju jalan yang haq. Dengan Nur itulah Allah akan membimbing menjadi ‘khusyu’, bertakwa, bergetar hatinya dikala disebut nama Allah, dan menenangkan hati, serta melapangkannya. Nur Allah itu bukan berwarna kuning, biru, atau yang putih berkilauan, sebab itu masih berupa apa yang bisa kita bayangkan. Sedangkan Nur Allah bukan berupa huruf, bukan suara, bukan wujud materi. Seperti disebutkan didalam kitab Masyariq, bahwa Nur, ilham, wahyu, ialah sesuatu yang diberitahukan dalam keadaan tersembunyi dan cepat. Dikehendaki dengan cepat ialah dituangkan sesuatu pengetahuan-pengetahuan kedalam jiwa sekaligus dengan tidak lebih dahulu timbul pikiran dan muqaddimat-muqaddimatnya. Itulah yang dimaksudkan Allah memberikan tuntunan dengan Nur-Nya. Nur di sini berarti ilham atau wahyu , intuisi, naluri.
Almishbahu fii zujaajah), pelita itu terbuat dari kaca yang bening, seakan-akan bintang-bintang seperti mutiara, yang minyaknya berasal dari pohon zaitun yang di berkati. Dan mengandung manfaat yang sangat banyak.
Laasyarqiyya wa la gharbiyyah ~ tidak tumbuh ditimur dan tidak juga di barat. Ayat ini menggambarkan bahwa Nur itu tidak bisa digambarkan sehingga tidak bisa dikatakan berada dimana dan bagaimana. Tidak barat juga tidak timur berarti tidak ada batas ruang waktu, tidak ada tempat. Diibaratkan berada di ruang yang tidak ada apa-apa, misalnya berada di padang pasir yang luas, tidak ada gunung, tidak ada pohon, tidak ada goa, atau seperti kalau kita berada diruang angkasa, kita berada di luar pengaruh siang dan malam, tidak dibatasi oleh bumi dan planet lainnya maka kita akan berada di wilayah yang tidak ada barat, timur, atas, bawah, utara, selatan, tidak ada kemarin tidak ada akan datang , tidak ada hari senin, selasa , bulan, januari, februari dll, yang ada kekinian atau keabadian .

Kyai Tuguh (Seorang Ulama Khas di Bondowoso) memberikan wejangan hakikatnya dengan berbahasa Madura: "Neka akherat benne bere’ benne temor. Jebe neka sobung, madure neka sobung, Cena neka sobung, Mekkah neka sobung, Madina neka sobung, sebede Akherat!!" Ini Akhirat, bukan Barat bukan Timur, Pulau Jawa ini tidak ada, Madura tidak ada, Cina tidak ada, Mekkah tidak ada, Madina tidak ada, yang ada Akhirat. Inilah penggambaran bahwa alam hakikat itu tidak di bisa dibatasi oleh ruang dan waktu serta batasan pikiran sempit manusia. Kita harus memasukinya bukan berada pada batas ruang dan waktu ~ karena kita akan menjadi kecil dan sempit. Sebab pikiran dan perasaan tidak akan mampu menggambarkan (memberikan persepsi) atas keadaan hakikat kecuali kita mampu "memfanakan" diri dan alam semesta maka wajah Dzat yang ada . Karena rasa dan pikiran bukanlah sebuah ukuran untuk memberikan perbandingan yang amat luas dan tak terhingga, kasih sayang Allah tidak bisa di uraikan oleh keutuhan rasa manusia. Selama ini kita hanya mengira atau menyangka (dzhan) bahwa kasih sayang dan kehebatan Allah itu bisa kita rasakan. Itu hanyalah anggapan bukan keadaan yang sebenarnya. Karena rasa manusia itu terlalu kecil untuk bisa menggambarkan kenyataan kasih sayang Allah. Maka benarlah kita ini ternyata hanya bisa mengira dengan dzhan kita …inna dzhanni abdi …Aku menurut persangkaan hamba-hamba-Ku …..
... yukadu zaituha yudhi-u walaulam tamsashu naarun ~ yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api (kalimat ini merupakan mubalaghah, didalam mensifati minyak yang sangat bersih dan bening apalagi kalau disentuh api)
Nurun ‘ala Nurin ~ Allah adalah Cahaya diatas cahaya .
Sesungguhnya telah terhimpun cahaya dan penutup lampu yang indah, minyak yang bersih maka sempurnalah cahaya yang diperumpamakan dengannya. Maka Allah-lah yang berada diatas segala cahaya, karena Dialah yang menggerakkan cahaya (ilham) kepada siapa saja yang dikehendaki .
Kesimpulan dari tafsir diatas dengan mempertimbangkan beberapa pendapat ulama masyhur seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Athoillah, Ibnu Qayyim dan kitab-kitab yang terkenal keshahihannya adalah bahwa kata "NUR" merupakan kata majazi yang bisa digunakan untuk penyebutan apa saja yang memiliki kelebihan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Seperti matahari merupakan Nur bagi langit, si fulan adalah Nur bagi negerinya karena ia adalah anak yang telah membawa nama harum bangsanya serta pengabdiannya yang tidak ternilai. Rasulullah adalah Nur bagi ummat yang keadaannya sangat jahiliyyah, sehingga Syekh Al barzanji menulis syair untuk beliau " anta syamsu anta badru anta nurun fauqa nurin, engkau adalah matahari, engkau adalah bulan dan engkau adalah cahaya yang terang diatas segala cahaya.
Alqur’an juga di sebut An Nur, karena merupakan firman Allah yang memberikan jalan kebenaran dan tuntunan hidup bagi manusia.
Ilham merupakan Nur dari Allah, disebut Nur karena merupakan pencerah hati dari yang gelap dan buta menjadi faham dengan ilmu pengetahuan.
Gambaran ayat diatas adalah menerangkan keadaan hati orang mukmin yang terang setelah mendapatkan pencerahan dari Allah berupa ilham atau hidayah. Cahaya yang dimaksudkan bukanlah Dzat Allah akan tetapi ilham/ hidayah. Dan Allah menggelari dirinya sebagai Nur diatas Nur (Nurun ‘ala Nurin), yaitu Cahaya Yang menggerakkan Cahaya, yang menciptakan cahaya (bintang-bintang), menurunkan cahaya-cahaya yang menerangi ummat (rasul-rasul), memancarkan cahaya berupa ilham atau intuisi yang menerangi kebodohan (Al ilmu nurun / ilmu itu cahaya), cahaya-cahaya tersebut bukanlah Dzat Tuhan, dan barang siapa menyembah kepada cahaya-cahaya tersebut berarti telah terjebak kepada cahaya yang diciptakan Tuhan. Kita disuruh mencari sumber cahaya yaitu Nurun ‘Ala Nurin, Cahaya diatas Cahaya.
Ada dua Nur yang di uraikan diatas :
Pertama adalah Nur yang bersemayam dihati orang mukmin. Seperti yang telah digambarkan sebagai misykat yang didalamnya terdapat pelita yang terang dengan minyak yang berasal dari pohon zaitun yang diberkati. Maka Nur tersebut berarti ilham yang masuk kedalam jiwa yang dikendaki oleh Allah (pencerahan), melalui ilham itu manusia dapat mengikuti tuntunan atau petunjuk Allah kepada Yang Haq .
Yang kedua, Nurun ‘ala Nurin. yang dimaksud Nur disini adalah Dzat Allah. seperti yang telah diuraikan oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Qayyim. Karena Allah menamakan dirinya juga Nur, artinya yang mengadakan dan yang menggerakkan cahaya-cahaya, yang menurunkan Nur( ilham ) kedalam hati orang mukmin. Maka Allah disebut Nurun ‘ala nurin…cahaya diatas cahaya, yaitu cahaya yang menguasai seluruh cahaya. Dengan demikian Nur yang dimaksudkan adalah Dzat Allah yang tidak bisa diserupakan dengan makhluknya. Kepada Dzat inilah kita kembali dan bersujud, bukan kepada Nur yang diciptakan.
Katakanlah : Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa . barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukannya ( Al Kahfi: 110 )
Ayat ini merupakan peringatan bagi orang yang mencari Tuhannya untuk bermakrifat kepada Allah bukan kepada selain Allah, sebab banyak orang terjebak kepada logika yang keliru ketika ia berpendapat bahwa: kita tidak bisa membayangkan wajah Allah, lalu dengan sangat disesalkan ia mengatakan: kita cukup menuju kepada Nur-nya saja .
Ketidakbisaan kita untuk berkomunikasi kepada Dzat yang tidak bisa diserupakan dengan makhluknya bukan lantas kita harus mengatakan, "kalau begitu kita cukup menyembah kepada Nurnya saja, sedangkan Nur itu bukan Allah dan justru Allah secara tegas mengatakan diri-Nya juga disebut Nur diatas Nur. Artinya yang mengadakan Nur yang menyebabkan adanya Nur. Berarti nur-nur itu berada dibawah Allah atau bersandar kepada Allah. Dengan demikian kita tidak mungkin bersujud dan berkonsentrasi kepada yang bersandar (makhluk), sama halnya "sifat" yang bergantung dengan Dzat, maka sifat bukanlah Dzat itu sendiri.
Dialah yang memberikan taufik untuk mengikuti Nur-Nya yaitu Alqur’an. Dialah yang menyinari langit dan bumi dengan bintang-bintang (Nur) Dialah yang memberikan pengetahuan (Al ilmu nurun / ilmu adalah cahaya), Allah mengutus Rasulullah sebagai Nur untuk mengeluarkan masyarakat jahiliyyah (kegelapan) menuju Nur.
Sesungguhnya AKU ini bernama Allah, tidak ada Tuhan selain AKU, maka sembahlah AKU dan dirikanlah shalat untuk mengingat AKU . (QS Thaha:14 )
Ayat ini merupakan kalimat yang harus dijadikan pegangan di dalam beribadat dan mengingat Allah seperti shalat ataupun berdzikir. Yaitu sembahlah AKU-nya dan AKU (Dzat) mengenalkan dirinya bernama ALLAH. AKU inilah yang tidak laki-laki tidak perempuan dan tidak bisa di serupakan dengan makhluknya. Kepada AKU atau Dzatnya kita diperintahkan untuk menyembah dan bergantung, bukan kepada Nur-Nya.
Setelah kita mengambil perbandingan dari para ulama yang masyhur, maka kita bisa mengerti, ternyata tidaklah mudah kita memberikan penafsiran mengenai Al Qur’an yang mengandung banyak kalimat-kalimat majaz dan mutasyabihat. Untuk itu kita semestinya belajar terbuka agar bisa menerima masukan yang baik untuk dijadikan acuan kita berfikir. Dan tidak mudah menutup diri dari pendapat orang lain. Barang kali kitanya yang kurang mampu mencerna kalimat yang sulit atau kurangnya informasi mengenai ilmu yang lainnya, sehingga kita tidak bisa memberikan gambaran yang tepat atau paling tidak mendekati tepat.
Demikianlah uraian saya mengenai Tafsir QS An Nur, mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmahnya. Kalau kita masih belum puas dengan satu tafsir, insya Allah saya bersedia menterjemahkan tafsir-tafsir lainnya seperti pada tafsir Jalalain, Al Maraghi, Fi Dzhilalil Qur’an, Al Munir, Tafsir Ibnu Abbas dll. Kitab-kitab tersebut merupakan acuan yang bisa diterima oleh seluruh kalangan. Insya Allah

Wassalamualaikum Wr, Wb,
Abu Sangkan
Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahawa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.
Dabbah Al-Ard
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 68
Joined: Sun Mar 03, 2002 8:00 am

Postby Dabbah Al-Ard on Wed Mar 20, 2002 2:51 am

From: "Abu Sangkan" <patrap1@y...>
Date: Tue Jan 15, 2002 11:57 am
Subject: Tubuh bergetar

Sering kali kita mendengar kata bergetar digunakan untuk penyebutan sesuatu yang sulit di bahasakan secara verbal. Belum ada satu kalimat yang tepat yang bisa mewakili arti dan menunjukkan keadaan yang dirasakan orang, seperti getaran cinta, getaran rasa, getaran emosi, getaran gelombang elektromagnetik, getaran suara, getaran wahyu atau ilham .
Al Qur’an juga tidak secara gamblang menggambarkan keadaan Iman (ciri-ciri) yang sebenarnya, disana hanya disebutkan wajilats quluubuhum (bergetar hatinya, Al Anfaal:2 ), taq syairru minhu juludulladzina yakhsyauna rabbahum ( gemetar karenanya kulit/fisik orang-orang yang merasa takut kepada Tuhannya, Az Zumar :23).
Memang sulit bagi mufassir, penyair, seniman musik, pelukis atau filosof untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan secara transenden, sehingga mereka hanya mampu merangkai kata, bunyi, warna, sebagai ungkapan kedalaman makna dan arti yang tidak berasal dari apa yang bisa digambarkan seperti naluri, insting, inspirasi, ilham atau wahyu !! Yang turun melalui getaran penuh muatan makna dan pengertian yang berasal dari ilahi.
Sebelumnya saya akan mengajak anda untuk memperhatikan firman Allah surat Azzumar ayat 22-23, sebagai kajian mengenai getaran yang diakibatkan oleh proses dzikir, selanjutnya juga akan kita bahas secara universal dan ilmiah baik segi fisiologi maupun psikologi.
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima ) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya) ? maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata .
….gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu menginat Allah (dzikrullah) , itulah petunjuk Allah.
Penjelasan pada ayat diatas diawali dengan "terbukanya hati orang yang menerima cahaya Islam dari Tuhannya (pencerahan)‘, kemudian bergetar ( terguncang) fisik orang yang menerima cahaya atau pencerahan dari Tuhannya, lalu proses itu berlanjut dengan adanya harmonisasi antara fisik dan hati tatkala mengingat Allah ….itulah petunjuk Allah. Mungkin bisa saya tegaskan disini keadaan itu merupakan hal yang universal dan alami, bukan klenik atau khurafat .
Rasulullah pada saat pertama kali menerima wahyu di goa Hira mengalami guncangan tubuh atau beliau menggigil yang amat sangat, sehingga Siti Khadjah menyelimutinya . padahal udara di luar sangat panas. Sedangkan Siti Aisyah ra berkata : "Aku pernah melihat saatnya turun wahyu kepada Nabi pada suatu hari sangat dingin, kemudian Aku lihat dahi Nabi bercucuran keringat, pada saat itu aku menyekanya".
Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya dari Abdullah ibn ‘Umar ra, "saya bertanya kepada Nabi Saw. apakah engkau merasa bahwa wahyu akan datang ?" menjawab Nabi : "Kadang-kadang aku dengar suara gemerincing lonceng yang sangat keras, sesudah itu akupun terdiam mendengar itu. Tiap-tiap kali wahyu datang demikian aku merasa jiwaku akan dicabut". ( Rasulullah merasakan keadaan seperti ini yang paling berat dirasakan )
Kisah yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Shafwaan ibn Ya’la ibn Umayyah :
Ya’la berkata : Sementara Nabi berada di Ja’ranah, berteduh dibawah sehelai kain beserta beberapa shahabat, tiba-tiba datanglah seorang Badawy berbaju jubah yang berlumur dengan bau-bauan, lalu bertanya ; "Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau mengenai seorang yang berihram untuk umrah dengan memakai jubah yang berlumuran bau-bauan ?" maka Umar memberi isyarat kepada Ya’la, mengajak masuk ketempat Nabi berteduh, Ya’la melihat Nabi telah merah mukanya dan terus tertidur serta mengeluarkan orokan seperti orang epilepsy . Sesaat kemudian Nabi sadar , lalu Nabi berkata : "Mana orang yang baru bertanya tentang umrah". Sesudah orang itu di cari dan datang, Nabi berkata : "bau-bauan itu hendaklah kamu basuhnya tiga kali. Sedangkan jubah itu haruslah kamu tanggalkan dari badanmu. Sesudah itu berbuatlah apa yang kamu buat untuk haji".
Para orientalis Barat telah mempergunakan riwayat ini untuk menuduh Nabi Saw. orang yang telah kehilangan kesadarannya karena terserang epilepsy . Padahal nyata dari memperhatikan riwayat-riwayat itu, bahwa Nabi sesudah mengalami yang demikian itu, lalu memanggil juru tulisnya untuk menuliskan soal yang ditanyakan kepadanya tadi.
(Kepustakaan : Sejarah dan pengantar ilmu Alqur’an/ Tafsir , M Hasbi Ash Shiddiqy , Bulan Bintang, Jakarta 1954 )
Selanjutnya saya akan membahas "getaran" sebagai sesuatu yang alamiah bukan sebagai hal yang dianggap mistik kurafat atau bid’ah oleh sebagian kalangan .
Le Shan dalam bukunya yang terkenal How to Meditate, menyebutkan bahwa meditasi dan berfikir transendental dapat menambah ketahanan kulit terhadap aliran listrik hingga 400 persen. Ia juga menegaskan bahwa keadaan jiwa pada saat bermeditasi secara mendalam, merupakan puncak ketenangan yang dapat menolak segala emosi dan keruwetan pikiran.
Diantara perubahan kejiwaan yang betul-betul dirasakan oleh orang yang mengikuti latihan meditasi atau dzikir adalah tercapai perasaan tenang, sampai pada tingkatan pengetahuan pribadi yang tinggi, dan pada perasaan yang indah yang menggelorakan hubungan individu yang intim, penuh keoptimisan, dan perasaan mampu untuk berkarya dan berfikir jernih .
Saya berpendapat bahwa perasaan yang luar biasa ini adalah perasaan diatas alam materi yang dapat dirasakan - bukanlah hanya omong kosong atau sekedar pengalaman pribadi seseorang. Perasaan itu merupakan suatu kebenaran yang dapat dibuktikan dengan adanya kesamaan yang universal dalam pengalaman kehidupan rohani pada para rohniawan dari ahli ibadah diseluruh dunia. Mereka dapat mencapai tangga-tangga pengetahuan yang diperoleh melalui getaran-getaran makna . Kesamaan pengalaman universal tersebut memberi bukti kebenaran pengalaman mereka itu yang didalam Alqur’an disebut sunnatullah ( ketetapan Allah, hukum alam ).
Sebenarnya potensi ini sudah disediakan oleh Allah didalam fisik maupun rohani kita, hanya saja sering dihambat oleh kata-kata Bid’ah dan khurafat, yang menyebabkan orang Islam takut mendalami tafakkur atau berdzikir dengan baik dan meneliti dampak kejiwaan seperti yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti Barat .
Secara jujur mereka meneliti kejiwaan universal tanpa melihat dari sisi agama yang dianutnya. Mereka berfikir bersih dan jujur dengan apa yang diketahuinya.
Dalam tulisan ini saya sengaja memaparkan masalah tersebut dalam upaya menerangkan pengaruh pikiran, emosi, dan jiwa terhadap kesehatan jasmani atau bertambahnya daya listrik dalam tubuh terutama pada otak serta pengaruh terhadap meningkatnya zat-zat kimia yang banyak memberikan pengaruh ..terhadap ketenangan, fenomena fikiran, halusinasi, getaran tubuh dll , semuanya berupa kajian ilmiah yang tidak bisa dikatakan klenik atau mistik .
Mari kita buang jauh-jauh pikiran yang membatasi kajian universal terhadap fenomena yang sering muncul dari mental dan kejiwaan kita sendiri, atau kita perhatikan proses latihan yang dilakukan oleh aliran tenaga dalam, prana, taichi, olah rasa, subud, meditasi, dan bagaimana pendapat mereka tentang pengalaman yang didapat.
Semua terjadi secara alami dan fitrah yang dapat dirasakan oleh setiap orang. Getaran yang diperoleh secara alami tidak bisa dikatakan berasal dari jin atau syetan, dan hanya orang yang sempit pikirannya dalam memahami kejiwaan sehingga berpendapat bahwa sesuatu yang alamiah dikatakan bid’ah atau khurafat.
Saya kurang sependapat dengan orang yang mengatakan demikian, karena peristiwa sensasi yang memunculkan gerakan-gerakan yang tidak teratur, disebabkan terlalu banyaknya daya listrik yang dihasilkan yang memenuhi pusat otak dan tidak mampu disalurkan dengan baik ke seluruh jaringan syaraf, hampir sama dengan peristiwa ledakan listrik yang diperoleh penderita epilepsi, yang mengakibatkan terjadinya guncangan-guncangan yang tidak beraturan.
Seperti yang telah dikatakan oleh Le shan bahwa, bagi orang yang melatih meditasi akan menghasilkan ketahanan terhadap getaran listrik hingga 400 persen dari orang normal. Sehingga jika daya yang besar ini belum tersalurkan dengan baik maka akan menimbulkan gerakan-gerakan sensasional yang tidak beraturan., Akan tetapi jika sensasi gerakan-gerakan itu dibiarkan lepas, maka dengan sendirinya gerakan itu akan reda dan tubuh anda akan semakin ringan serta pikiran, hati dan gerakan tubuh akan serasi. Hal ini telah dilakukan bertahun-tahun oleh kaum Tao dalam menyelaraskan keseimbangan pikiran, jiwa dan tubuh yang menghasilkan gerakan harmoni yang gemulai seperti gerak taichi yang indah .
Gerakan tai-chi merupakan gabungan antara olah jiwa dan gerak atau meditasi gerak, dimana seseorang yang sudah mencapai keadaan ini, akan merasakan penyatuan dengan gerakan alam yang harmoni.




Mengapa Timbul getaran dan gerakan yang tidak beraturan ?

Untuk memudahkan dalam memahami hal tersebut saya akan kutip beberapa pendapat yang bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya baik secara ilmiah maupun penafsiran ulama yang cukup kuat pada masa sekarang.
Pada awalnya memang demikian, hampir seluruh orang yang mampu megkonsentrasikan pikirannya kepada satu objek dengan baik mereka akan mengalami dan merasakan getaran yang menyelimuti tubuhnya. Anda bisa membuktikan sendiri daya energi dalam tubuh anda. orang-orang yang melatih meditasi tai-chi atau yoga, psikhotronika dengan cara mengendorkan tubuhnya kemudian dia merasakan energi chi yang mengalir dalam tubuhnya. Bertambah lama bertambah kuat energi yang dihasilkan, akibatnya terkadang akan mengguncangkan tubuhnya dengan sangat keras atau bahkan seperti orang kesurupan dan epilepsy. Mengapa demikian ?
Berikut ini saya kutip pendapat J.B.S Haldane, hasil penelitiannya mengenai teori kuantum tentang kesadaran, seorang ahli biologi. Pada tahun 1950-an, fisikawan David Bohm mengamati adanya ‘analogi yang kuat antara proses kuantum dan pengalaman bathin dan pemikiran”. Sebagian teori modern mengarah pada penelitian tentang kesatuan atau koherensi kuantum (quantum unity atau quantum coherence) di suatu tempat di dalam struktur-struktur sel saraf di air di dalam sel saraf, di microtubule sel saraf, atau dalam aktivitas tertentu di dalam membran saraf, akan tetapi semua teori ini berfokus pada aktivitas mikro di dalam sel saraf tunggal. Baik problem ikatan (binding problem) maupun penelitian MEG (Magneto-Encephalography ) tentang osilasi 40 Hz menunjukkan bahwa kohenrensi diantara sel-sel saraf yang berbeda. Jadi, persoalannya sekarang adalah : apakah kohenrensi kuantum berskala besar juga ditemukan di seluruh bagian otak ??
Mari kita mulai dari sini ; apakah yang membuat syaraf tunggal itu berosilasi ? Diketahui bahwa aktivitas listrik yang berirama di dalam membran sel saraf itulah yang menjadi penyebabnya. Seluruh membran sel saraf dihubungkan dengan terowongan yang jika dirangsang secara kimiawi atau elektris memungkinkan ion (atom bermuatan listrik) melalui terowongan tersebut. Terowongan ini biasa dikenal sebagai terowongan ion. Oleh karena bermuatan listrik, ion-ion itu menghasilkan medan listrik ketika mereka bergerak disepanjang terowongan. Aktivitas ini menimbulkan osilasi elektris di dalam sel saraf itu sendiri. Medan listrik di seluruh bagian otak yang mengandung osilasi 40 Hz itu merupakan fenomena kolektif dari osilasi sel saraf tunggal. Pertanyaannya kemudian: apakah medan listrik di seluruh bagian otak itu merupakan medan listrik kuantum, yang didalamnya osilasi 40 Hz merupakan osilasi kuantam yang terrpadu ?
Michael Green dari City University of New York baru-baru ini mengajukan hipotesis bahwa aktivitas didalam ion sel syaraf itu dipicu oleh fenomena terowongan kuantum (quantum tunneling phenomena) Terowongan kuantum adalah suatu proses ketika suatu partikel mampu menerobos energi penghalang (barrier energy) dengan mengubah dirinya menjadi gelombang sebelum akhirnya menjadi partikel kembali di sisi seberangnya. Penjelasan ini sangat sesuai dengan pengamatan, jadi besar kemungkinan bahwa aktivitas kuantum di dalam terowongan ion tunggal itu memang benar-benar terjadi .(SQ, Danah Zohar dan Ian Marshall terj. Jalaluddin Rahmat, hal.74 )
Selanjutnya saya akan menterjemahkan secara bebas kitab tafsir karangan Prof. Mohammad Ali Ash Shobuni mengenai getaran sebagai proses datangnya petunjuk yang dimaksud dalam surat Az Zumar : 22-23
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata.
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah, itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk.
Ayat diatas memberikan ulasan bagaimana Allah membuka hati orang yang berdzikir, lalu memberikan Nur Ilahy sebagai petunjuk, kemudian dilukiskan orang yang tidak mendapatkan cahaya (hidayah) dari Tuhannya, sehingga mereka menemui jalan kesesatan disebabkan tidak mau berdzikir kepada Allah.
Ali Ash Shobuni, menafsirkan ayat 22 tersebut, yaitu Allah memberikan karunia keluasan hati (pencerahan) untuk menerima Islam (ajaran-Nya). Dan memberikan tuntunan terhadap hatinya dengan cahaya-Nya sehingga muncul rasa teguh atau mantap dalam hatinya. Yaitu rasa yang muncul dari bashirah dan keyakinan untuk menerima perintah dari Tuhan-Nya. Kemudian beliau menjelaskan bahwa kecelakaan yang besarlah bagi orang yang tidak mau berdzikir atau tidak khusyu’ ketika berdzikir kepada Allah dan mereka dalam kesesatan yang nyata.
Ayat berikutnya Allah menjelaskan bagaimana proses petunjuk itu diturunkan kepada orang yang berdzikir. Yaitu tampak bagi orang mukmin itu tanda-tanda keimanannya rasa ketakutan yang dalam tatkala dibacakan ayat-ayat Allah sehingga ia bergetar tubuhnya, disebabkan kedahsyatan yang hebat akan kalam Yang Maha Rahman. Kemudian menjadi lunak, tenang ,kulit (fisik) dan hati mereka tatkala mengingat Allah, yaitu, tathmainnu (tenang) dan taskun (diam/hening) hati dan fisiknya (hati dan fisiknya sudah menjadi satu) tatkala mengingat Allah .
Bahkan lebih dalam lagi ditafsirkan oleh para Arifin (Ahli Ma’rifat), Apabila mereka melihat Alam Keagungan Allah maka mereka pingsan (thasyu). Dan apabila mereka melihat atsar dari keindahan alam maka mereka menjadi hidup hatinya (‘Asyu). Dan berkata Ibnu Katsir : Hal ini merupakan bukti adanya kekuatan dari kalam Yang Maha Perkasa.
Demikian penafsiran dari para Ulama besar yang menyebutkan bahwa proses turunnya hidayah kepada orang-orang mukmin akan mempengaruhi fisik yang masih belum sinkron dengan hati yang tercerahkan, akan tetapi pada ayat tersebut terdapat kata tsumma yang artinya “kemudian”, menunjukkan bahwa getaran terhadap fisik itu akan berubah menjadi lunak, hening bahkan hati dan fisik tidak lagi bersimpangan tatkala berdzikir kepada Allah, hal ini bisa dirasakan apabila dijalankan dengan benar. (Diterjemahkan secara bebas oleh Abu Sangkan dari kitab Tafsir : Shafwatut Tafaasir, karangan Prof. Mohammad Ali Ash Shobuni, Beirut).

Wassalamu’alaikum wr, wb,
Abu Sangkan
Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahawa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.
Dabbah Al-Ard
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 68
Joined: Sun Mar 03, 2002 8:00 am

Postby Dabbah Al-Ard on Wed Mar 20, 2002 5:31 am

Subject: DI MANA ALLAH?
Oleh: Abu Sangkan

Berikut ini penjelasan saya, mudah-mudahan anda menjadi jelas, bisa
menerima & memahaminya.

ALLAH DIATAS LANGIT ???
-------------------------

Setelah saya membaca dalil-dalil yang cukup kuat dan meyakinkan ...
saya cukup mengerti maksudnya ...

Namun sayang... kelihatannya kurang difahami bahwa ayat-ayat Alqu'ran
mempunyai makna muhkamat dan mutasyabihaat, sehingga sangat keliru
kalau terjemahan dan pengertian "Allah bermukim diatas langit atau
diatas bumi"... dengan dalil kalau berdo'a menengadah keatas untuk
menandakan keberadaan Allah diatas ...

Alqur'an didalam mengungkapkan suatu masalah yang konkrit, misalnya
hukum rajam, hukum jinayat, hukum waris, hukum syariat mu'amalat,
dijelaskan dengan kalimat yang bukan majaz ... yaitu muhkamat artinya
sudah jelas, tidak perlu ditafsirkan lagi, seperti shalatlah kamu,
dan bayarlah zakat , dst...

Akan tetapi kalau sudah mencakup persoalan ghaib ... tentang Allah,
syurga, dan neraka, ... serta perasaan, maka Alqur'an menggunakan
kalimat perumpamaan ... metafora ... yang biasa disebut
mutasyabihaat..

Ada kelemahan bahasa manusia jika mengungkapkan rasa, sehigga
Rasulullah ketika menjelaskan masalah syurga-pun tidak menjelaskan
keadaan sebenarnya ... beliau hanya memberikan gambaran bahwa syurga
itu indah dan nikmat, dibawahnya ada air susu dan madu mengalir, ada
buah-buahan, korma, anggur dan arak....setelah itu beliau memberikan
penjelasan ... keadaan syurga itu tidak pernah terdengar oleh telinga
... tidak bisa terbayangkan oleh pikiran ... dan tidak pernah
terlintas dihati. Artinya bukan seperti apa yang digambarkan oleh
Rasulullah ... (lihat gambaran syurga dalam surat Yaasin ayat:55-57)

Bagaimana Rasulullah akan menjelaskan sesuatu, atau keadaan yang
didunia ini tidak ada. Bagaimana beliau akan memperbandingkan sesuatu
yang tidak ada didunia. Apa jadinya kalau syurga itu seperti apa
yang telah kita bayangkan tadi ... mirip dengan apa yang kita rasakan
... Hal ini juga terjadi kepada kita, ketika dihadapkan persoalan
ungkapan rasa misalnya, hatiku telah bersemi lagi ... mendidih rasa
hatiku tatkala melihat orang kafir itu membantai kaum muslim Bosnia
... perampok itu tergolong pembunuh berdarah dingin .... dan banyak
lagi ungkapan rasa yang tidak tertampung dan terwakili oleh kosa kata
bahasa verbal ....

Namun demikian, kita sudah memahami maksudnya tanpa harus menafsirkan
kalimat tersebut, sebab kalau kita mencoba menafsirkan ungkapan itu
maka akan terjadi kesalah fahaman yang pasti akan menyimpang,
sehingga wajarlah Rasulullah tidak pernah menafsirkan atau memberikan
keterangan hal tersebut berupa 'foot note' dalam Alqur'an, sebab para
sahabat sudah mengerti maksudnya tanpa harus bertanya apa maksudnya.
Misalnya ada orang berkata " saya mau pergi kerumah sakit" pasti anda
tidak akan mengernyitkan mata karena bingung..khan ? Jangan
ditafsirkan dengan mengatakan "rumah kok sakit"

Begitu pula tentang keberadaan Allah bahkan wujud Allah ...
Allah mempergunakan kalimat mutasyabihat dalam menerangkan keadaan
diri-Nya. seperti dalam firman-Nya :

" ... Allah adalah cahaya langit dan bumi" ( An Nur: 35)
" ... hai iblis apakah yang menghalangi kamu bersujud kepada yang
telah Ku Ciptakan dengan kedua tangan-Ku ..." ( Shaad:75 )
"maka Allah menjadikannya tujuh langit dalam dua hari..." (Fushilat:
12)
" ... Allah meliputi segala sesuatu" ( Fushilat : 54 )

"Dan Dia lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan
singgasana-Nya sebelum itu berada diatas air" (Al Hud:7)

Didalam artikel 'Bab Membuka Hijab', yang telah saya tulis & jelaskan
tentang pertanyaan dimana, dan seperti apa Allah swt ?

Firman Allah:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka
jawablah bahwasanya Aku ini dekat ..." (Al Baqarah :186)
".. dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya" ( Qaaf:16)
" ... ingatlah bahwa sesungguhnya Dia maha meliputi segala sesuatu"
(Al fushilat 54)
" ... kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah .. "(Al
baqarah:115)

Sangat jelas bagi kita, bahwa ungkapan-ungkapan mutasyabihat diatas,
dimengerti bukan untuk ditafsirkan, melainkan sebagai batasan fikiran
melalui konsepsi manusia. Bukan hal yang sebenarnya,sebab Allah
tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu ( As syura: 11), bahwa Allah
tidak bisa dilihat dengan mata manusia dan tidak bisa dijangkau oleh
fikiran manusia akan tetapi Allah Maha Melihat segala yang kelihatan
(Al An'am : 102-103)

Seperti yang pernah saya katakan, bahwa Allah mentasybihkan dan
meminjam kata-kata yang dimiliki manusia untuk memudahkan berdialog
dan memberikan pengertian dalam bentuk bahasa manusia dan ilmu, sebab
kalau kita menterjemahkan dengan kata sebenarnya maka akan ada
benturan-benturan yang saling bertentangan ...

Mari kita perhatikan firman Allah dibawah ini:

"Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan
singgasananya sebelum itu berada diatas air" ( Hud :7)

"Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang berada
diantara mereka dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam diatas
singgasana-Nya"( Sajdah :4)

Bukankah syirik, untuk memberikan tafsiran yang menggambarkan bahwa
Allah memerlukan singgasana dan bahwa singgasana itu seakan-akan
terapung diatas air dan juga seakan-akan Allah sesudah membuat langit
dan bumi berserta isinya naik kembali ke tahta-Nya ?

Alangkah anehnya, jika dikatakan Allah dalam menciptakan langit dan
bumi beserta isinya memerlukan waktu enam hari/masa ? Padahal bumi
dan matahari belum tercipta! Apa yang menjadi patokan waktu, ...
padahal ruang pun tidak ada. Namun demikian, saya akan sedikit
berikan gambaran masalah penciptaan alam dan persoalan waktu ...

Bilamana mahaledakan (big bang) itu terjadi ? Dari pengetahuan kita
mengenai kecepatan berkembangnya alam semesta, diperkirakan peristiwa
itu terjadi antara sepuluh sampai lima belas miliar atau ribu juta
tahun yang lalu. Kemudian, dari keliling kosmos dan umurnya, dapat
dihitung kembali suhu alam semesta sesaat sesudah ledakan itu
terjadi. Diperkirakan pada saat itu suhu kodmos melebihi seratus juta
juta juta juta derajat, karena kerapatan materi yang sangat tinggi
pula. Orang tidak pula dapat menamakan keadaan alam semesta pada
waktu itu. Kerapatan tinggi pada suhu rendah membentuk benda padat,
kerapatan rendah pada suhu tinggi membentuk gas, tetapi kerapatan
materi yang sangat tinggi yang dibarengi dengan suhu yang sangat
tinggi, ilmuwan pun tidak tahu keadaannya kecuali menamakannya
sebagai "sop kosmos" suatu fluida.

Inilah yang disebut dalam ayat 7 surat Hud dengan "air". Kata-kata "
singgasana-Nya berada diatas air (sebelum bumi dan langit
diciptakan), oleh karena mengandung makna bahwa pemerintahan atau
peraturan Allah ditegakkan atas fluida kosmos itu. Pada saat itu
materi beserta ruang kosmos sudah diatur oleh Allah. dan mereka
mengikuti serta tunduk pada peraturan-peraturan itu, jadi pada saat
diciptakan alam semesta, Allah telah menetapkan berlakunya hukum-
hukum alam sebagai sunnatullah. Dengan berlakunya hukum-hukum alam
ini maka semua makhluk, baik ruang kosmos, atom molekul, partikel dan
seluruh materi yang tersusun sebagai benda mati atau hidup, matahari,
bumi, bintang dan sebagainya, berjalan sepanjang waktu sesuai dengan
ketetapan hukum-hukum tersebut, ... tidak satupun yang menyimpang
kecuali izin Allah.

Kitapun dapat mengerti apa makna yang terkandung dalam surat Sajadah
ayat 4, dimana dinyatakan bahwa setelah melewati fase 'sop kosmos',
Allah menciptakan langit dan bumi beserta segenap isinya, dalam enam
hari dan menegakkan kekuasaan atau pemerintahan-Nya sekaligus sejak
awal penciptaan.

Kita semua mengetahui apa yang disebut ruang secara intuitif, yaitu
suatu volume berdimensi tiga yang dapat ditempati oleh suatu benda.
Tiap benda didalam ruang itu mempunyai tempat yang dalam ilmu
pengetahuan alam, ditunjukkan oleh apa yang disebut koodinat ruang.
Kita juga mengetahui apa yang dimaksud dengan kata-kata waktu, ... ia
memberikan urutan ketika berlangsung gejala gejala di dunia ini ...
"kemarin" mendahului "sekarang", dan "sekarang" lebih awal dari
"besok". Didalam sains, kita mengatakan bahwa gejala-gejala itu
mebuat koordinat waktu. jadi semua gejala alamiah memiliki koordinat
ruang dan waktu, karena mereka terjadi pada tempat-tempat dan pada
urutan waktu masing-masing. Orang mengatakan bahwa gejala-gejala alam
itu berjalan melalui kontinuum ruang dan waktu, sebab orang
beranggapan bahwa suatu gejala diikuti oleh gejala-gejala lanjutannya
dalam suatu rangkaian yang tak terputus, berlanjut atau kontinu.
Kecuali itu pengertian kontinuum ruang-waktu mengandung makna, bahwa
ruang dan waktu merupakan satu kebulatan yang tak terpisah satu sama
lain.

Kalau dulu waktu yang lamanya satu detik 'disini' dianggap sama
panjang dengan 'disana' dalam semesta ini, sekarang terbukti tidak
demikian halnya. Apabila seorang astronot membawa pencatat waktu
kesebuah planet diangkasa, bintang yang sangat dekat misalnya, ...
atau membawanya dalam pesawat ruang angkasa yang super cepat,
misalnya dengan tingkat laju yang mendekati kecepatan cahaya, maka
pencatat waktu yang identik yang berada dibumi akan dapat menunjukkan
dengan mudah satu detik pada astronot itu lebih lama jangka waktunya
dibanding satu detik dibumi.
Kenyataaan yang baru ditermukan dan dipahami para ilmuwan dalam abad
ke 20, sebenarnya telah disebut dalam Alqu'an pada ayat 5 surat As
Sajdah :

"Dia mengatur perintah dari langit sampai ke bumi, kemudian para
malaikat naik menghadap pada-Nya dalam satu hari yang ukuran lamanya
sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu"

Mudah-mudahan kita diberi kefahaman atas ilmu-ilmu_Nya yang
tersembunyi maknanya
Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahawa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.
Dabbah Al-Ard
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 68
Joined: Sun Mar 03, 2002 8:00 am

Postby Dabbah Al-Ard on Wed Mar 20, 2002 5:45 am

From: "Abu Sangkan " <patrap1@y...>
Date: Fri Mar 9, 2001 11:46 am
Subject: Hakikat Manusia

4 : Bab Hakikat Manusia (1/2)

Sebelum membaca bab ini, penulis menyarankan pembaca untuk memahami
bab terdahulu, yaitu Bab Makna Syari'at, Syari'at Sebagai Gerbang
Dunia Hakikat dan Etika Islam, sehingga dengan mengikuti bab tersebut
secara runut, harapan kami akan diperoleh pemahaman dan gambaran yang
utuh tentang apa yang ingin kami sampaikan.

Pada bab ini penulis akan menyampaikan perihal Hakikat Manusia, yang
terdiri atas dua bagian, yaitu tentang Kesadaran Diri dan Kesadaran
Universal.

4.1 Kesadaran Diri

Didalam filsafat kontemporer, kesadaran diri secara hakiki terpusat
pada pribadi manusia. Boleh jadi, tanpa situasi historis kita tidak
bisa memahami apa dan bagaimana esensi diri yang sebenarnya. Al
Qur'an membuka pintu dunia baru tentang kesadaran diri secara
berurutan, sampai kepada kesadaran yang universal. Ungkapan ini tidak
terikat oleh suatu aliran tertentu.
Saat dimana kesadaran diri muncul dan ketika dihadapkan persoalan,
manusia terdorong untuk memikirkan eksistensinya. Dimana
keberadaannya bagaikan terlempar begitu saja. "Aku" yang kehilangan
arah, berpaling dari dirinya sendiri, ia mawas diri dan menyelidiki
dirinya. Demikianlah suatu motif yang mula-mula bersifat historis dan
psikologis berubah menjadi suatu pertanyaan filosofis yang
mendesak : "Siapakah aku ini? Dengan kegembiraan dan harapanku?
Apakah tujuan hidup ini? Apakah artinya? Mengapa aku bereksistensi?
Dan bukannya tidak bereksistensi?"

Mengemukakan masalah mengenai pribadi dalam ungkapan-ungkapan
tersebut, berarti mengemukakan masalah kebebasan, masalah tanggung
jawab. Hal ini membawa kita kepada penelitian mengenai dasar dari
asal usul, baik dari sisi kebebasan maupun dari sisi tanggung jawab.
Hal tersebut akhirnya memunculkan masalah ketuhanan.
Apakah Allah itu masuk dalam definisi manusia atau tidak? Apakah
eksistensi manusia itu bersifat teosentris atau antroposentris ? Ada
apakah dengan pernyataan ulama populer "man arafa nafsahu faqad arafa
rabbahu?" (barang siapa tahu akan dirinya, maka ia tahu akan
Tuhannya).

Dalam arti yang sebenarnya, kata "eksistensi" berarti data kosmis,
sejauh manusia yang terlibat secara aktif di dalamnya. Hubungan erat
antara masalah manusia dengan masalah ketuhanan terlihat, baik pada
mereka yang mengingkari Allah maupun pada mereka yang mengikuti-Nya.
Kecenderungan tersebut pada dasarnya merupakan naluri manusia yang
tidak bisa dipungkiri dan merupakan fitrah manusia.
Mengatakan bahwa setiap pribadi memiliki naluri religiusitas dalam
pengertian apapun, baik yang sejati maupun yang palsu, sebenarnya
sama dengan mengatakan bahwa setiap pribadi memiliki naluri
untuk berkepercayaan. Dalam tinjauan antropologi budaya, naluri itu
muncul berbarengan dengan hasrat memperoleh kejelasan tentang hidup
ini sendiri dan alam sekitar, yang menjadi lingkungan hidup itu.
Karena itu setiap orang dan masyarakat pasti mempunyai keinsafan
tertentu tentang apa yang dianggap "pusat" atau "sentral" dalam hidup
seperti dikatakan oleh Mircea Elidae :

"Setiap orang cenderung, meskipun tanpa disadari mengarah kepusat dan
menuju pusat sendiri, dimana ia akan menemukan hakekat yang utuh
yaitu rasa kesucian. Keinginan yang begitu mendalam berakar dalam
diri manusia untuk menemukan dirinya pada inti wujud hakiki itu di
pusat alam, tempat komunikasi dengan langit -menjelaskan penggunaan
dimana akan ungkapan pusat alam semesta"

Disini kita akan mencoba menelusuri secara beruntun dari dasar
sekali. Alqur'an menyebutkan dalam Surat Adz Dzariat 21:

"Dan juga pada dirimu, maka apakah kamu tiada memperhatikan"

Juga dalam surat Al Hijr 28-29 :

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat :
sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat
kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka
apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke
dalamnya Ruh (cipataan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud". (QS Al Hijr 28-29).

Dalam kerangka ini kita mengambil garis yang jelas dari peristiwa
kejadian manusia, dimana para makhluk baik itu setan maupun malaikat
mempertanyakan kebijakan Allah yang akan menciptakan manusia, yang
menurut pandangan malaikat "manusia" adalah makhluk yang selalu
membuat keonaran dan pertumpahan darah (QS Al baqarah 30). Tidak
kalah sengitnya, setan memprotes keberadaan manusia yang dipandang
rendah, yang hanya diciptakan dari unsur tanah, sambil membanggakan
dirinya yang dibuat dari api.
Dalam keadaan ini para malaikat gigit jari dan begitu terheran-
heran : rahasia macam apa ini?
Bumi yang hina-dina dipanggil kehadirat Zat yang maha tak terjangkau
dengan segenap kehormatan dan kemuliaan ini.

Kelembutan illahi dan kebijakan Tuhan, berbisik lembut ke dalam
relung rahasia dan misteri malaikat,

"Aku tahu apa yang tidak kalian ketahui " (QS Al Baqarah 2: 30).

Raga manusia termasuk kedalam derajat terendah, sementara ruh manusia
termasuk ke dalam derajat tertinggi. Hikmah yang terkandung dalam hal
ini ialah bahwa manusia mesti mengemban beban amanat pengetahuan
tentang Allah. Karena itu mereka harus mempunyai kekuatan dalam kedua
dunia ini untuk mencapai kesempurnaan. Sebab tidak sesuatupun di
dunia ini yang memiliki kekuatan yang mampu mengemban beban amanat.
Mereka mempunyai kekuatan ini melalui esensi sifat-sifatnya (sifat-
sifat ruhnya), bukan melalui raganya.

Karena ruh manusia berkaitan dengan derajat tertinggi dari yang
tinggi, tidak satupun ruh di dunia yang menyamai kekuatannya, entah
itu malaikat maupun setan sekalipun atau segala sesuatu lainnya.
Demikian pula,jiwa manusia berkaitan dengan derajat yang paling
rendah, sehingga tidak sesuatupun jiwa di dunia bisa mempunyai
kekuatannya, entah itu hewan dan binatang buas atau yang lainnya.
Ketika mengaduk dan mengolah tanah, semua sifat hewan dan binatang
buas, semua sifat setan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati
diaktualisasikan. Hanya saja, tanah itu dipilih untuk
mengejawantahkan sifat "dua tangan-Ku". Karena masing-masing sifat
tercela ini hanyalah sekedar kulit luarnya saja, di dalam setiap
sifat itu ada mutiara dan permata berupa sifat illahi.

Penjelasan diatas merupakan urutan ungkapan mengenai hakekat diri
yang sebenarnya, dimana manusia sebagai makhluk yang sangat lemah dan
hina, disisi lain dinobatkan sebagai "khalifah" (wakil Allah).
Bertugas mengatur alam semesta dan merupakan wakil Allah untuk
menjadi saksi-Nya serta mengungkapkan rahasia-rahasia firman-Nya.
Para mahkluk yang lain tidak melihat ada dimensi yang tidak bisa
dijangkau olehnya, ia hanya mampu melihat pada tingkat yang paling
rendah dalam diri manusia. Sementara ia terhijab oleh ketinggian
derajat manusia yang berasal dari tiupan illahi (QS Al Hijir 28-29).

Ungkapan hakikat manusia mengacu kepada kecenderungan tertentu secara
berurutan dalam memahami manusia. Hakikat mengandung makna sesuatu
yang tetap, tidak berubah-ubah. Yaitu identitas esensial yang
menyebabkan sesuatu menjadi dirinya sendiri. Al Ghazaly yang hidup
pada abad pertengahan tidak terlepas dari kecenderungan umum pada
zamannya dalam memandang manusia. Didalam buku buku filsafatnya ia
mengatakan bahwa manusia mempunyai identitas esensial yang tetap,
tidak berubah-ubah yaitu An nafs (jiwanya).Yang dimaksud an nafs
adalah substansi yang berdiri sendiri, tidak bertempat dan merupakan
tempat pengetahuan intelektual (al makulat) yang berasal dari alam
malakut atau alam amr. Ini menunjukkkan esensi manusia bukan fisiknya
dan bukan fungsi fisik. Sebab fisik adalah sesuatu yang mempunyai
tempat. Dan fungsi fisik adalah sesuatu yang tidak berdiri sendiri.
Keberadaannya tergantung kepada fisik. Alam al amr atau alam malakut
adalah realitas diluar jangkauan indra dan imaginasi, tanpa tempat,
arah dan ruang. Sebagai lawan dari alam al khalq atau alam mulk yaitu
dunia tubuh dan aksiden-aksidennya esensi manusia, dengan demikian an
nafs adalah substansi immaterial yang berdiri sendiri dan merupakan
subyek yang mengetahui (Bashirah).

Untuk membuktikan adanya substansi immaterial yang disebut an nafs,
Al Ghazaly mengemukakan beberapa argumen. Persoalan kenabian,
ganjaran perbuatan manusia dan seluruh berita tentang akhirat tidak
ada artinya apabila an nafs tidak ada, sebab seluruh ajaran agama
hanya ditujukan kepada yang ada (al maujud) yang dapat memahaminya.
Yang mempunyai kemampuan bukanlah fisik manusia sebab apabila fisik
manusia mempunyai kemampuan memahami, objek-obyek fisik lainnya juga
mesti mempunyai kemampuan memahami. Kenyataan tidak demikian. Argumen
bersifat keagamaan ini , bagaimanapun tidak dapat meyakinkan orang
yang ragu terhadap kenabian dan hari akhirat, karena untuk
mempercayai argumen ini orang terlebih dahulu harus percaya akan
kenabian dan hari akhirat.

Selain itu, Al Ghazaly juga mengemukakan pembuktian dengan kenyataan
faktual dan kesederhanaan langsung, yang kelihatannya tidak berbeda
dengan argumen-argumen yang dibuat oleh Ibnu Sina (wafat 1037) untuk
tujuan yang sama, melalui pembuktian dengan kenyataan faktual. Al
Ghazaly memperlihatkan bahwa; diantara makhluk-makhluk hidup terdapat
perbedaan-perbedaan yang menunjukkan tingkat kemampuan masing-
masing. Keistimewaan makhluk hidup dari benda mati adalah sifat
geraknya.

Benda mati mempunyai gerak monoton yang didasari oleh prinsip alam,
sedangkan tumbuhan adalah makhluk hidup yang paling rendah
tingkatannya, selain mempunyai gerak yang monoton, juga mempunyai
kemampuan bergerak secara bervariasi. Prinsip tersebut disebut jiwa
vegetatif. Jenis hewan mempunyai prinsip yang lebih tinggi dari pada
tumbuh-tumbuhan, yang menyebabkan hewan, selain memiliki kemampuan
bisa bergerak bervariasi, juga mempunyai rasa. Prinsip ini disebut
jiwa sensitif. Dalam kenyataannya, manusia juga mempunyai kelebihan
dari hewan, selain mempunyai semua yang dimiliki jenis-jenis makhluk
tersebut, manusia mampu berpikir serta mempunyai pilihan untuk
berbuat dan untuk tidak berbuat. Ini berarti manusia mempunyai
prinsip yang memungkinkan berpikir dan memilih. Prinsip ini disebut
an nafs al insaniyyat. Prinsip inilah yang betul-betul membedakan
manusia dari segala makhluk lainnya.

Argumen kesadaran langsung yang dikemukakan seorang manusia,
menghentikan segala aktivitas fisiknya, sehingga ia berada dalam
keadaan tenang dan hampa aktivitas. Ketika ia menghilangkan segala
aktivitasnya, menurut Al Ghazaly, ada sesuatu yang tidak hilang di
dalam dirinya yaitu "kesadaran" yakni kesadaran akan dirinya. Ia
sadar bahwa ia ada, bahkan ia sadar bahwa ia sadar. Pusat kesadaran
itulah yang disebut an nafs al insaniyyat (diri sejati). Dikatakan
dalam suatu tafsir shafwatu at tafasir karangan prof. As Shabuny
dalam surat Al qiyamah ayat 14:

"akan tetapi di dalam diri manusia ada bashirah (yang tahu)."

Kata bashirah ini disebut sebagai yang tahu atas segala gerak
manusia, sekalipun sangat rahasia. Ia biasa menyebut diri (wujud)-nya
adalah "Aku". Wujud "Aku" yang memiliki sifat tahu, yang
memperhatikan dirinya atas perilaku hati, kegundahan, kebohongan,
kecurangan, serta kebaikan. Ia tidak pernah bersekongkol dengan
perasaan dan pikiran, ia jujur dan suci, sehingga manusia, setan dan
jin tidak bisa menembus alam ini karena ia sangat dekat dengan Allah
sekalipun manusia itu jahat dan kafir.
Ketika itu yang disadari bukan fisik dan yang sadarpun bukan fisik.
Kesadaran disini tidak melalui alat, tetapi bersifat langsung. Oleh
karena itu subyek yang sadar itu jelas bukan fisik dan bukan fungsi
fisik melainkan sesuatu substansi yang berbeda dengan fisik. Mungkin
juga dikatakan disini tidak bersifat langsung, tetapi melalui
perantara, yaitu melalui perbuatanku. Dalam perbuatanku ada yang
mendahului, yaitu kesadaran akan aku yang menjadi subyek perbuatan
itu. Kesadaran disini bagaimanapun bersifat langsung dan terlepas
dari aktivitas fisik. Dengan demikian subyek yang sadar, yang menjadi
esensi manusia itu nyata ada dan merupakan substansi yang berbeda
dengan fisik. Hal ini terbukti ketika manusia kehilangan aktivitas
pada moment menjelang tidur. Sang "Aku" (kesadaran) mengetahui dengan
sadar peristiwa yang dialami pada saat bermimpi. Begitupun kehidupan
keruhanian dalam mendasari kesadaran ihsan dengan menghentikan
aktivitas fisik sebagai kendali sahwati, maka yang timbul adalah
kesadaran diri yang mampu menembus alam malakut dan uluhiah. Dimana
manusia mencapai puncak eksistensi yang sejati. Kesejatian inilah
yang di tuntut oleh Allah dalam hal melakukan peribadatan, apakah
puasa, zakat, dan shalat. Dengan konteks ;

"ihklaskanlah peribadatanmu dengan tidak melakukan kesyirikan
sedikitpun" (QS. Az Zumar 11 & 14).

Aktivitas ruhani yang diajarkan oleh Allah untuk memperoleh
kesejatian ini adalah peribadatan saum, yang mana manusia dalam
sementara waktu diwajibkan mengendalikan emosinya dan aktivitas
keinginan hawa nafsu selama satu bulan di bulan ramadhan. Dengan
menahan rasa dan keinginan ragawi selama satu bulan penuh, samar-
samar akan terjadi proses transformasi kejiwaan yang tadinya
emosional berubah menjadi ketenangan, dan fisik seolah tidak lagi
menuruti keinginannya, sehingga sang fisik mengikuti kehendak-
kehendak diri yang sejati. Maka oleh Allah dikatakan mereka itu telah
mendapatkan karunia lailatul qadar, dimana ia mampu menembus seluruh
semesta ruhani dan kembali sebagai manusia sejati dan fitrah. Keadaan
Fitrah ini diungkap Al Qur'an, bahwa apabila telah terjadi fitrah
pada diri manusia maka sesungguhnya fitrah itu sama dengan kehendak
Allah (Qs Ar Ruum 30:30) :

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah);
(tetaplah) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah
itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Dalam hal ini manusia tersebut mendapat karunia kepatuhan dan
ketaqwaan seperti patuhnya alam semesta serta patuhnya tubuh manusia,
dimana manusia mengerti bahwa tidak pernah dirinya merencanakan ada,
kemudian kenapa aku ini dilahirkan sebagai laki-laki? Atau nafas ini
mengalir keluar masuk tanpa aku kehendaki dan bisakah aku
menangguhkan proses ketuaan. Hal ini merupakan renungan hakiki,
kenapa pikiran ini tidak sepatuh alam dan tubuh yang diselimuti
kekuasaan Allah. Ia begitu tampak jelas dalam gerakan dan keberadaan
alam dan diri ini.

Dengan argumen di atas jelas, bahwa an nafs berdiri sendiri, yang
dipertegas lagi dengan kenyataan bahwa ia tidak bertempat, baik
didalam badan maupun diluar badan. Karena an nafs bukan materi maka
dengan sendirinya tidak mengambil ruang dan tidak mempunyai tempat.
Sifat dasar an nafs tidak mengandung kemungkinan bertempat. Artinya
pernyataan tempat tidak sesuai dihubungkan kepada an nafs,
sebagaimana tidak sesuai sifat mengetahui atau tidak mengetahui
diletakkan pada benda mati.
Al Ghazaly tidak menerima pandangan bahwa an nafs berada di luar
badan, sebab apabila an nafs dalam keadaan demikian, menurutnya tidak
mungkin mengatur badan. Apabila kita percaya, pada pandangan
tersebut, maka keberatan lain akan timbul, yaitu apabila An nafs
bertempat di dalam badan akan ada dua kemungkinan, yaitu bertempat
pada seluruh badan atau pada sebagiannya saja. Kalau bertempat pada
seluruh badan, an nafs semestinya menyusut atau berpindah, jika
sebagian anggauta tubuh manusia terpotong dan ini tidak mungkin.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa esensi atau hakikat
manusia adalah substansi immaterial yang berdiri sendiri, bersifat
illahi (berasal dari alam amr), tidak bertempat di dalam badan,
bersifat sederhana, mempunyai kemampuan mengetahui dan menggerakkan
badan, diciptakan (tidak kadim) dan bersifat kekal pada dirinya. Ia
berusaha menunjukkan bahwa kesadaran jiwa dan sifat-sifat dasarnya
tidak dapat diperoleh melalui akalnya saja, tetapi dengan akal dan
sara' . Untuk itu selain kutipan ayat 29 surat Al Hijir di atas, juga
ayat-ayat yang lain yang menerangkan esensi manusia seperti surat Ali
Imron 169 :

"Jangan engkau sangka orang-orang yang terbunuh pada jalan Allah itu
mati, mereka itu hidup dan diberi rezeki disisi Tuhan."

"Katakan jiwa itu dari amr Tuhanku." (QS. Al Isra, 17: 85).

Ayat yang pertama menunjukkan kekekalan jiwa dan ayat yang kedua
untuk menunjukkan bahwa ia berasal dari dunia yang sangat dekat
dengan Allah, alam amr. Pembangkitan kesadaran akan diri, dikatakan
para ulama kerohanian sebagai ajang mujahadah untuk menemukan
kesejatian, dan dengan kesejatian itu pula manusia akan mencapai
hakikat "diri" serta terbukanya kebenaran adanya Allah secara hakiki,
yakni makrifatullah.
Pada periode pertengahan kejayaaan islam di jawa, berlangsung
semaraknya hidup berkerohanian yang dipelopori para dai (wali songo)
masa itu. Namun kita melihat kelebihan dan kekurangan metode yang
diajarkan, yang ajarannya masih banyak menyesuaikan dengan budaya
masyarakat kerohanian hindu, sehingga bentuk peribadatan yang masih
tersisa sekarang masih merupakan asimilasi dengan peninggalan hindu
dan budha. Akan tetapi apabila kita melihat dengan jernih ajaran yang
disampaikan oleh beliau dengan tetap memurnikan ketauhidan kita
kepada Allah, kita akan melihat nilai-nilai yang terkandung dari
ajarannya, misalnya dalam mantra berbahasa jawa, tentang perenungan
hakiki manusia serta penyadaran dan pencarian kesejatian yang
dikatakan dalam Al qur'an sebagai "bashirah" (Aku yang mengetahui).

Bismillahirrahmanirrahim (dengan nama Allah yang maha pengasih dan
penyayang). Melebu Allah..metu Allah (masuknya nafas karena
Allah.keluarnya nafas karena Allah). Anekadaken urip iku Allah (yang
mengadakan hidup itu Allah). Utek dunungno kodrate Allah (otak
letakkan atas kodrat Allah). Ya Hu ... Allah Ya Hu ... Allah Ya
Hu ... Allah (ya hu ... Allah ya hu ... Allah ya hu ... Allah). Nabi
Muhammad iku utusane Allah (nabi Muhammad itu rasullullah).

Artinya : (perlu diketahui dalam membaca kalimat mantra ini
diperlukan penghayatan dan pendalaman makna yang hakiki). Masuk dan
keluarnya nafas ini adalah kodrat Allah yang tidak bisa dicegah.
Manusia hanya menerima dengan pasrah atas kekuasaan Allah yang
meliputi nafas. Sehingga fikiran ini diajak patuh dan pasrah
bersamaan dengan patuhnya nafas tanpa reserve (totalitas). Yang
mengadakan hidup pada manusia (semesta) itu adalah Allah. Dimana
seluruh makhluk, apakah itu binatang, manusia, tumbuhan serta bumi,
matahari semuanya bergerak dinamis atas sifat hidup Allah (Al hayyu).
Otak adalah merupakan bentuk kekuasaan Allah atas manusia, yang mana
manusia diwajibkan berfikir dan berkontemplasi untuk menyatakan
sebagai wakil Allah (khalifah) maka dengan itu otak harus sesuai
dengan kehendak-kehendak Allah (perintah Allah). Wahai zat yang tidak
sama dengan makhluknya. Aku bersaksi bahwa nabi Muhammad itu
rasulullah.


4.2 Kesadaran Universal.

Kesadaran Universal berarti menghayati mulai dari kesadaran fisik
sampai kepada kesadaran transendental dimana sejatinya manusia adalah
sesuatu yang bukan fisik. Dengan sejatinya inilah manusia menunaikan
kebaktiannya kepada Allah sebagaimana fitrahnya (Qs Ar ruum : 30).

Al Qur'an telah banyak mengungkapkan tentang apa dan siapa manusia
sebenarnya, namun pengungkapan nya tidak akan menjadi suatu
kesadaran, apabila fikiran dan perasaan jiwa kita tidak pernah dibawa
ke alamnya secara nyata.

Kesadaran dimulai dari hal yang sangat sederhana. Adalah seorang bayi
yang tiba-tiba lahir dengan proses alami. Ia lahir bukan karena
permintaan dan kehendaknya. Ia tidak mengerti untuk apa dilahirkan.
Ia tidak punya apa-apa bahkan telanjang serta malupun tidak punya.
Kemudian sekelilingnya memberikan kesadaran secara bertahap. Mulai
dari pemberian nama dan identitas kelamin, dan batasan kesadaran yang
sangat sempit. Ia dikenalkan dengan dirinya bahwa namanya si Anu dan
jenis kelaminnya laki-laki. Diajarkannya pula nama-nama anggota
tubuhnya, ini telinga, ini kepala, ini tangan, dan seterusnya.
Kesadaran ini membuatnya terikat kepada sebatas apa yang ia terima
(ketahui). Sehingga sang diri terbelenggu dan tersesat dalam
ketidaktahuan siapa yang sebenarnya diri ini. Ada ungkapan
rasullullah "barang siapa mencintai sesuatu maka ia akan menjadi
hambanya".
Pakaian atau dodot dalam tembang ilir-ilir sunan Ampel adalah sesuatu
yang menimbulkan ikatan pada jiwa seseorang. Dalam filsafat perenial,
pakaian adalah sesuatu yang binding (mengikat) dalam jiwa manusia.
Jika manusia melakukan sikap yang `binding' dengan dunia
sekelilingnya, jiwanya akan terkungkung dan kebebasannya
(kesadarannya) terbelenggu. Oleh karena itu manusia dalam hidupnya
harus selalu berusaha melakukan `unbinding' terhadap dunia
sekitarnya. Maksudnya manusia harus mulai menyadari keterbatasan
dirinya, yang selama ini dijerumuskan oleh pengetahuan yang
diperoleh, bahwa diri ini hanya terbatas pada mata, telinga, kaki
serta anggauta tubuh yang kelihatan. Namun hal ini mustahil kalau
saya ungkap secara detail dalam tulisan ini, sebab kesadaran ini
harus dilakukan dengan latihan dan pengisian ilmu pengetahuan tentang
diri secara imanen transendental (pengalaman langsung).
Mari kita perhatikan tentang apa sebenarnya tubuh ini. Sekadar
bayangan kesadaran tentang diri agaknya hal-hal di bawah ini akan
menolong kita. Hirupan nafas masuk ke tubuh, lalu sekaligus
mengeluarkan zat residu berupa asam arang. Ibaratnya keadaan itu bisa
diserupakan dengan penerangan sebuah kota, yang dialirkan oleh
sentral listriknya. Perbandingan ini menjadi semakin tajam apabila
disadari dengan ilmu bahwa apa yang ada dalam kehidupan sehari-hari
dan kita pandang (sadari) sebagai bentuk tubuh manusia adalah
terbatas pada garis nyata. Sehingga kenyataan ini membuat orang
tertipu oleh pengetahuan yang ia miliki. Padahal lebih dari yang ia
bayangkan, bahwa manusia baik logam, tumbuhan dan gunung adalah
sebetulnya terdiri dari suatu untaian kejadian-kejadian atau proses.
Dimana segala alam lahir ini tersusun oleh senyawa-senyawa kimiawi
yang dinamai zarrah (atom). Dan atom-atom ini dalam analisa terakhir
adalah satu unit tenaga listrik, yang energi positifnya (proton)
berjumlah sebanyak energi negatifnya (elektron). Di dalam atom ini,
setiap detik terjadi loncatan dan pancaran (charge and spark) secara
terus menerus. Itulah semburan-semburan yang tidak ada hentinya dari
daya listrik. Manusia tidak mampu melihat semburan atau loncatan yang
tidak putus-putus dengan kecepatan yang sangat luar biasa ini dengan
kasat mata biasa, kecuali dengan kesadaran ilmu yang cukup.
Sebagaimana Al qur'an mengungkap-kan tentang gunung yang dianggap
oleh orang awam seperti diam tak bergerak :

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap ditempatnya,
padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan" (Qs An naml : 88).

Jadi kalau benda-benda termasuk manusia, yang dalam surat Al hijir 28-
29 diciptakan dari esensi alam, maka benarlah apa yang kita namai
benda adalah sebuah bongkahan besar "runtutan peristiwa" loncatan
listrik. Disini sama sekali tidak dijumpai lagi sesuatu yang padat
atau baku (tetap), bahan yang dipakai untuk pembentukan alam dan
manusia bukanlah benda atau zat-zat akan tetapi ialah "aksi" yaitu
aliran berangkai dari peristiwa-peristiwa. Tidaklah mengherankan
bahwa dari bahan-bahan yang sangat labil ini terbentuklah alam yang
selalu berubah-ubah, menjelma dari bentuk ke bentuk mengikuti suatu
proses evolusi.

Sampai disini kesadaran kita sampai kepada tahapan yang agak abstrak,
dimana penglihatan kita malah seakan-akan kehilangan penglihatan
dimana bentuk tubuh yang selama ini kita sadari. Jelas hal ini
membingungkan kesadaran yang telah lama terpatri, namun kita telah
mencoba melakukan pembangkitan kesadaran yang lebih luas, yaitu
kesadaran dimana tubuh bukanlah apa yang kita lihat seperti ini.
Tubuh adalah susunan inti materi yang setiap saat berubah dan
berganti. Terbatasnya kesadaran bahwa badan bukan lagi sekedar
tangan, kaki dan kepala, berubah meluas menjadi kesadaran universal,
yaitu kesadaran yang tidak ada batas. Pada tingkat kesadaran ini kita
agak bingung, yang mana sebenarnya wujud ini sebenarnya, karena
setelah ditelusuri secara rinci, badan yang tadinya disadari sebagai
sosok laki-laki atau wanita yang punya rupa cantik dan gagah, pelan-
pelan terhapus oleh kesadaran yang lebih luas, yaitu kesadaran jagat
raya atau disebut kesadaran makrokosmos. Bahwa wujud badan ini tidak
lagi sesempit dulu, aku tidak lagi sebatas kepala, tangan, dan kaki
saja, akan tetapi badanku adalah angin yang bergerak, atom-atom yang
bertebaran serta bergantian saling tukar dengan benda-benda yang
lain, badanku adalah butiran-butiran zarrah yang saling mengikat,
ya... aku saling ikat dengan tumbuhan, binatang, bumi serta dengan
angkasa yang maha luas. Badanku adalah jagad raya, dimana kesadaran
sudah berubah luas dan menjadi satu kesatuan dengan lingkungan kita.
Kesadaran ini akan memudahkan mengidentifikasikan siapa diri
sebenarnya. Setelah tahu esensi badan ini, yaitu kesadaran hakiki
yang menggerakkan dan mengatur alam semesta. Dikatakan dalam Al
Qur'an :

"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan
bintang-bintang itu ditundukkan dengan perintah-Nya. Sesungguhnya
dalam gejala-gejala itu terdapat ayat-ayat Allah -(atau tanda-tanda
kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mempergunakan akal". (QS An
Nahl 12).

Sebenarnya di dalam ayat ini tercantum juga ungkapan bahwa Allah
menunduk-kan dan mengatur kelakuan matahari, bintang dan bulan dengan
perintah-Nya. Peraturan inilah yang diikuti oleh seluruh alam semesta
(makrokosmos), bagaimana ia harus bertingkah laku. Ia juga disebut
hukum alam, atau peraturan yang diikuti oleh alam. Lebih jelas lagi
bila kita baca ayat 11 surat Fushilat :

"Kemudian Dia mengarah kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia
berkata kepadanya dan kepada bumi : "Silahkan kalian mengikuti
perintah-Ku dengan suka hati atau dengan terpaksa".
Jawab mereka : "Kami mengikuti dengan suka hati".

Ayat ini membuktikan bahwa alam taat mengikuti segala perintah dan
peraturan sang pencipta. Dan peraturan yang telah ditetapkan Allah
itu tidak berubah selamanya, seperti yang telah ditegaskan dalam ayat
23 surat Al Fath :

"Sebagai sunatullah (atau peraturan Allah) yang telah berlaku sejak
dahulu, sekali-kali kamu tak akan menemukan perubahan bagi sunatullah
(atau hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah) itu.

Apabila zat-zat, tubuh manusia dan benda-benda dalam alam sudah
dipahami sebagai rangkaian kejadian-kejadian, serta menurut kemauan
sunatullah, maka sebenarnya atom-atom atau zarrah bergerak bukan atas
kemauannya sendiri, akan tetapi ada sosok yang bukan dirinya, dimana
atom-atom itu bergerak mengikuti kekuatan yang maha besar. Benda-
benda kecil itu hanya patuh terhadap yang tidak bisa diperbandingkan
dengan sesuatu. Wujud itu begitu absolut. Ternyata benda-benda ini
tidak mati, akan tetapi ia bergerak dan dihidupkan oleh suatu kuasa
yang maha besar. Itulah metakosmos yang hidup, yang perkasa, yang
meliputi segala benda, Ialah Rabbul alamin...

Pada kesadaran ini sebaiknya kita berhenti sejenak dan jangan
dipahami dengan pemikiran yang berlarut-larut. Biarkan Allah yang
akan menuntun hati dan pengetahuan tentang ilmu selanjutnya dengan
tetap mematuhkan jiwa dan tubuh kita kehadirat Allah yang maha suci.
Apabila kita meluruskan pandangan jiwa dan tubuh kita terhadap
perintah-perintah-Nya (Ad dien) serta menundukkan dan memasrahkan
segala ketaatan, tubuh ini akan taat seperti taatnya alam semesta
tanpa kita rekayasa, ia akan hidup seperti hidupnya alam, serta ia
akan teratur seperti teraturnya matahari serta planet-planet yang
tidak berbenturan. Ia akan patuh seperti patuhnya malaikat.
Demikianlah justru menurut pikiran logis, bahwa adanya diri
(mikrokosmos), dan alam semesta (makrokosmos), telah mengajak
kesadaran untuk sampai kepada pembuktian adanya Allah yang maha ghaib
(metakosmos).

Pada pembahasan kali ini, mungkin ada hal-hal yang menyulitkan
pembaca memahami hakikat diri. Untuk itu maka selanjutnya penulis
akan mengajak para pembaca masuk ke dalam dunia yang lebih kongkrit,
yaitu bagaimana melakukan dan memasuki dunia rohani dengan benar.
Pada bab-bab berikutnya akan saya untai praktek-prakteknya dan
pembaca bisa mengikuti dengan seksama.

Wassalamu'alaikum Wr, Wb,
Abu Sangkan
Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahawa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.
Dabbah Al-Ard
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 68
Joined: Sun Mar 03, 2002 8:00 am

Postby Dabbah Al-Ard on Wed Mar 20, 2002 6:09 am

From: "Abu Sangkan " <patrap1@y...>
Date: Fri Mar 2, 2001 10:55 am
Subject: Syariat

Bab Syariat (1/2)

2.1 Makna Syariat

Umat Islam sering terjebak dalam pengertian sempit makna syariat,
sehingga tak jarang kehilangan substansinya, akibatnya mereka hanya
melakukan ibadah seremonial dan tidak mendapatkan sesuatu yang
berharga yakni pembuka jalan menuju kebenaran syariat. Sikap terhadap
shalat misalnya, betapa banyak nilai penghayatan dan kekhusyu'an yang
terabaikan. Shalat bukan lagi sebagai kebutuhan dialog dan memohon
petunjuk tetapi telah berubah menjadi kewajiban yang harus dipenuhi
dengan berbagai macam larangan dan ancaman yang mengerikan, sehingga
terasa sekali muncul ketidaknyamanan dalam setiap melakukan syariat
Islam. Hal ini tidak ubahnya seperti tawanan perang yang harus
memenuhi kewajiban membayar upeti seraya terbayang betapa kejamnya
sang penguasa.
Belum lagi dalam melaksanakan petunjuk Al Qur'an yang terasa dikejar
target syarat sahnya syariat selain hitung-hitungan amal, dan jarang
mengarah pada pemahaman akan fungsi syariat itu sendiri.

Setiap syariat (aturan Allah) merupakan jalan dengan segala rambu-
rambunya menuju hikmah yang dikandung di dalam teks dan praktek
secara sempurna, serta pembuka tabir dibalik "firman". Syariat bukan
hanya untuk dibaca dan disucikan tanpa menyentuh isi tujuan yang
dibaca, seperti tercantum dalam surat Al Alaq 1-5 :

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan
manusia dari `alaq. Bacalah ! dan Tuhanmu yang paling pemurah. Yang
telah mengajar manusia dengan perantara kalam. Dia telah mengajarkan
manusia apa yang tidak diketahuinya".

Memang, Al Qur'an adalah firman Allah yang disucikan sehingga
memegangpun harus suci dari hadast, namun hal ini bukan berarti haram
bagi manusia untuk memahami sesuai dengan kadar pemikiran dan
pemahamannya, karena Al Qur'an itu diturunkan sebagai petunjuk
manusia dan semesta alam.

Sikap jumud (pendek akal) ini pun pernah diprotes RA Kartini pada
gurunya, KH Sholeh Darat, ketika ia mengusulkan agar Al Qur'an itu
diterjemahkan. Bagi Kartini, Al Qur'an yang begitu agung tidak hanya
bacaan suci yang berpahala dan pengobat hati saja, namun ia merupakan
petunjuk hidup di dunia maupun di akhirat. Menurutnya, andai Al
Qur'an sudah diterjemahkan waktu itu, insya Allah Bangsa Indonesia
akan sadar pada integritasnya sehingga tidak akan mau menjadi budak
Belanda. Kata "iqra" merupakan jendela untuk melihat kehidupan alam
semesta yang luar biasa luasnya. Ayat ini menyiratkan makna, betapa
Al Qur'an membuka cakrawala dunia ilmu (pengetahuan) yang dapat
digali melalui kata `baca'.

Sejarah dunia pun mengakui bahwa pada abad ke tujuh, Islam telah
mengalami masa kejayaan dan peradaban yang pesat. Islam telah
berhasil mengembangkan khazanah landasan ilmu pengetahuan dan
teknologi, sehingga sampai abad ke tiga belas dilakukan secara terus-
menerus penggalian dan pengembangan ilmu pengetahuan, yang kelak
dijadikan landasan ilmu pengetahuan modern.
Jabir Ibnu Hayyan (721-815) yang namanya dilatinkan menjadi Geber,
adalah orang yang telah melakukan intizhar dan merupakan orang
pertama yang mendirikan suatu bengkel dan mempergunakan tungku untuk
mengolah mineral-mineral dan mengekstraksi menjadi zat-zat kimia dan
mengklasifikasikannya, oleh karena itu para cendekiawan barat
mengakui bahwa dia adalah orang pertama yang menggunakan metode
ilmiah dalam kegiatan penelitiannya di bidang alkemi yang kemudian
oleh ilmuwan barat diambil alih serta dikembangkan menjadi apa yang
kita kenal sekarang sebagai ilmu kimia.
Didalam sejarah ilmu pengetahuan yang ditulis oleh sarjana Eropa
disebutkan bahwa Mohammad Ibnu Zakaria ar-rozi (865-925) telah
menggunakan alat-alat khusus untuk melakukan proses-proses yang lazim
dilakukan ahli kimia seperti distilasi, kristalisasi, kalsinasi dan
sebagainya. Buku Ar-rozi, yang namanya dilatinkan menjadi Razes,
dianggap sebagai manual atau buku pegangan laboratorium kimia yang
pertama di dunia, dan dipergunakan oleh para sarjana barat, yang baru
berabad-abad kemudian mempelajari sains yang telah dikembangkan oleh
umat islam, di universitas-universitas islam di Toledo dan Cordoba,
Spanyol.

Terlalu banyak ilmuwan islam dan karya mereka untuk disebutkan pada
kesempatan ini, dan begitu dalam pula pengaruh karya tokoh-tokoh
ilmiah itu di Eropa dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan hingga
masih dirasakan berabad-abad kemudian.

Apakah sebabnya pada masa dahulu umat islam giat sekali mengembangkan
islam secara mendalam baik dalam bidang hukum, filsafat, sains,
maupun tasawuf. Dengan bersyariat secara benar, Islam mengalami
kemajuan di bidang ilmu pengetahuan secara pesat, dan dengan
meningkatnya pengetahuan, kita mengenal sifat dan perilaku alam;
gejala-gejala alamiah yang kompleks atau musykil dapat kita terangkan
dan uraikan menjadi gejala-gejala yang lebih sederhana yang mudah
kita ketahui. Dari sini muncul teori untuk menerangkan suatu gejala,
ataupun teori yang disusun untuk meramalkan gejala yang akan terjadi
bila diadakan suatu percobaan tertentu dalam laboratorium, kemudian
dilakukan eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori. Begitu
seterusnya, hingga sains secara natural tumbuh dan berkembang terus
dari hasil serangkaian kegiatan kaji-mengkaji secara struktural dan
sistimatis silih berganti (disebut intizhar). Hal tersebut hanya
dapat terjadi dalam suatu generasi yang begitu gigihnya melakukan
intizhar (penelitian) atas dasar keislaman yang terkandung dalam Al
Qur'an, dan bukan dengan cara disucikan dalam makna yang keliru,
sehingga muncul kerancuan ilmu pengetahuan yang diakibatkan oleh
penyampaian tentang Islam yang tidak Islami.
Sebagai akibatnya, bisa kita lihat dan rasakan sekarang ini,
bagaimana kebanyakan muslim menganggap belajar fisika, biologi, kimia
dan ekonomi bukan ilmu islam. Mereka anti pati dengan ilmu dunia yang
dianggap bukan berasal dari Al Qur'an, dan mereka hanya kenal tentang
islam sebagai musabaqoh Al Qur'an, haji, zakat, dan shalawat nabi
serta upacara-upacara seremonial, berikut segala larangan dan
ancaman, amalan dan ganjaran, tidak lebih dari itu, dan selain itu
ditolak habis.

Sesungguhnya di dalam Al Qur'an banyak diperoleh ayat yang mendorong
umat islam untuk melakukan intizhar dan menggunakan akal pikiran
seperti tercantum dalam surat Yunus ayat 101 :

"Katakanlah (hai Muhammad) perhatikanlah dengan intizhar/nazar apa-
apa yang ada di langit dan di bumi".

Bahkan dalam surat Al Ghasiyah ayat 17-20 dipertanyakan :

"Maka apakah mereka tidak melakukan intizhar dan memperhatikan unta,
bagaimana ia diciptakan. Dan langit bagaimana ia ditinggikan. Dan
gunung bagaimana ia didirikan. Dan bumi bagaimana ia dibentangkan.
Maka berikanlah peringatan karena engkaulah pemberi peringatan".

Penggunaan akal pikiran untuk dapat mengungkapkan tanda-tanda
kekuasaan dan kebesaran Allah ditegaskan dalam surat An-Nahl ayat
11 :

"Dia menumbuhkan bagimu dengan air hujan itu, tanaman zaitun, korma,
anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya yang demikian itu
merupakan ayat-ayat Allah (tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi orang-
orang yang berfikir."

Yang kemudian dilanjutkan dalam ayat 12 :

"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan
bintang-bintang itu ditundukkan dengan perintah-Nya. Sesungguhnya
dalam gejala-gejala itu terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang
yang menggunakan akal"

Sebenarnya didalam ayat ini tercantum juga ungkapan, bahwa Allah
menundukkan dan mengatur perilaku matahari, bintang, dan bulan dengan
perintah-Nya. Peraturan Allah inilah yang diikuti oleh seluruh alam
semesta beserta isinya, bagaimana ia harus bertingkah laku. Yang
kemudian oleh manusia disebut sebagai hukum alam, atau peraturan yang
diikuti oleh alam. Lebih jelas lagi kita baca surat Fushilat ayat
11 :

"Kemudian dia mengarah kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia
berkata kepadanya dan kepada bumi :"Silahkan kalian mengikuti peritah-
Ku dengan suka hati atau terpaksa". Jawab mereka :"Kami mengikuti
dengan suka hati".

Ayat ini membuktikan bahwa alam taat mengikuti segala perintah dan
peraturan sang pencipta, termasuk apa yang disebut alam pada diri
manusia (mikrokosmos), termasuk segala yang ada dalam tubuh kita
seperti detak jantung, darah mengalir menghantarkan nutrisi ke
seluruh jaringan tubuh, nafas menghembus tanpa kita perintahkan yang
semuanya bergerak diluar kehendak kita. Semua serba teratur dan
tunduk patuh kepada peraturan-peraturan yang ditetapkan, mereka
bekerja dalam ketetapan dan fungsinya masing-masing. Namun demikian
manusia tetaplah manusia yang selalu saja tidak pernah bersyukur dan
menyadari bahwa semua itu adalah karunia Allah yang maha pemurah, dan
tetap saja kebanyakan manusia mengingkari hal itu semua sebagai
rahmat-Nya. Walaupun seluruh instrumen tubuh manusia itu sesungguhnya
ikut dalam peraturan islam yang merupakan ketetapan Allah.


2.2 Syariat sebagai Gerbang Dunia Hakekat

Saat ini, banyak umat Islam yang mengalami kehilangan arah dan tempat
pijakan. Mereka mengerti dan memahami ketertinggalannya dari dunia di
luar Islam, tapi mereka tidak mengetahui darimana memulainya dan
bagaimana cara untuk mengejar ketertinggalannya, akibatnya cara-cara
yang dilakukannya menjadi keliru dan mereka terpuruk karena terlalu
ingin cepat bangkit dari ketertinggalannya. Hal tersebut tampak dari
semangat yang kadang berlebihan dengan diiringi emosi yang tinggi,
sehingga hal itu memudahkan musuh-musuh islam untuk mensiasati dan
menjadikan umat islam sebagai kaum teroris dan berbagai kesan kurang
baik lainnya.

Hal ini harus diakui merupakan keteledoran umat islam dalam
melaksanakan ajaran dengan pengertian yang keliru. Islam harus
kembali kepada hati yang suci, yang dalam firman Allah dikatakan
...."yang mampu memuat Dzat-Ku"
Dengan demikian seharusnya manusia akan berkata-kata dengan Rab-nya
tentang hidup, tentang ilmu, tentang informasi dan rencana-rencana
untuk menghadapi semua permasalahan di dunia maupun di akhirat,
bukankah Allah berjanji akan melindungi seorang mukmin dengan
mengalahkan sepuluh orang musuh ?. Kaum yang sedikit dengan kekuatan
spiritual yang luar biasa mampu menang dalam perang Badar yang
dahsyat. Nabi Musa dengan keteguhannya dalam bertauhid mampu
mengalahkan Raja Fir'aun, dan masih banyak lagi pejuang-pejuang
sahid kita yang tetap teguh pada jalan tauhid dan berkomunikasi
dengan Allah Yang Agung, dalam menghadapi musuh.

Kita sadar bahwa begitu agungnya Al Quran, dan begitu piciknya kita
dalam memahami syariat, sehingga kita lihat ummat Islam sekarang
terpuruk dan saling menyalahkan. Kita lihat pula gerakan atau harokah-
harokah islam muncul dimana-mana dengan berbagai bentuk penawaran
berupa konsep keislaman yang lebih murni, namun apa yang terjadi,
kenyataannya mereka masih sangat rapuh sehingga diantara mereka masih
terjadi adu otot dikhalayak ramai, bahkan seperti anak kecil saling
cemooh dan masing-masing pihak merasa yang paling benar dan islami.
Satu hal yang belum ada dalam jiwa ummat adalah kelembutan hati
akibat jauhnya dari ingat kepada Allah, memulainya sesuatu tindakan
bukan dilandasi karena Allah, serta kurang siapnya kita dalam
menembus hati yang panas dan gersang dengan sapaan jiwa yang manis
penuh kasih. Kita belum memiliki keberanian untuk mengatakan akulah
yang salah dan terima kasih atas nasihatmu, padahal untuk hal seperti
itu Allah sudah memberikan peringatan seperti yang tercermin dalam
surat Al Asyr ayat 3 :
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan
nasehat menasehati supaya menta'ati kebenaran dan nasehat menasehati
supaya menetapi kebenaran".

Kali ini penulis akan membicarakan masalah syariat dari sisi yang
lain, bukan lagi hanya memaparkan mengenai bersyariat untuk
memikirkan mengenai ayat-ayat kauniah, tetapi bagaimana masuknya
seorang mukmin sejati dalam bersyariat sehingga mencapai kepada
tingkat hakikat syariat secara transendental, dimana pada kondisi ini
kita dapat mengetahui bagaimana melaksanakan syariat dan merasakan
keimanan yang sebenarnya, dengan tetap mengacu pada kontrol Al Qur'an
dan Al hadist.
Imam Hasan Al Banna berkata di dalam risalah ta'lim :
`Bagi iman yang tulus, ibadah yang benar serta mujahadah (berjuang
menundukkan hawa nafsu) akan melahirkan cahaya kelezatan, yang Allah
limpahkan ke dalam hati siapa saja yang Dia kehendaki diantara hamba-
hamba-Nya. Akan tetapi ilham, khowatir (lintasan-lintasan hati),
kasyf (penyingkapan rahasia ghaib) dan mimpi bukanlah merupakan dalil-
dalil hukum syariat dan tidak dianggap kecuali dengan syarat tidak
bertentangan dengan hukum agama dan nash-nash-Nya (nash dari Al
Qur'an dan As Sunnah).'

Didalam menyikapi prinsip syariat, ada dua golongan/kategori yang
termasuk di dalamnya, yaitu : Golongan pertama, golongan yang
mengabaikan cita rasa yang terkandung dalam syariat, atau mereka
menilai sesuatu secara lahiriah saja tanpa melihat kepada pengertian
sesungguhnya, yang mana mereka/golongan ini mengingkari pengaruh
apapun yang timbul dari iman yang dalam, ibadah yang benar, serta
ketulusan dalam bermujahadah di dalam mencemerlangkan akal dan
memberi hidayah kepada hati. Golongan kedua, yaitu golongan orang
yang di dalam melaksanakan ibadah (bersyariat), tidak hanya sampai
kepada makna lahiriah saja, tetapi perhatian terhadap penghadapan
jiwa secara hanif (lurus) dan sungguh-sungguh dalam berjuang
melumpuhkan hawa nafsu.
Di dalam hadist shahih, Rasulullah SAW bersabda : "Akan dapat
merasakan makanan iman ialah : orang yang ridho terhadap Allah
sebagai Tuhannya, islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai
nabinya (HR Muslim dari Al Abbas).
Sufyan bin Usyainah pernah ditanya "Mengapakah ahlul ahwa (yang
bergelimang dalam nafsu) itu begitu kuat cintanya kepada nafsunya ?"
Sufyan menjawab : "Apakah engkau lupa firman Allah yang mengatakan
"Dan mereka itu telah dimesrakan dalam hati-hati mereka untuk
menyembah anak lembu dengan kekufuran mereka (QS. Al Baqarah : 92)".
Setiap peribadatan yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh akan
menyebabkan kesejukan dalam hati dan kemudahan untuk melakukan
kebaikan-kebaikan yang diridhoi Allah SWT, dan sebaliknya apabila
kita melakukannya dengan sekedarnya saja atau hanya memenuhi syarat
sahnya syariat, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali rasa
penat dan jenuh. Yang akan terasa adalah kekakuan dan kecongkakkan di
hati yang bersimbulkan keislaman, sehingga jadilah budaya kita
adalah budaya islam yang kaku dan jauh dari sifat kasih sayang serta
kebusukan hati yang diseliputi bungkus syariat islam.
Kenyataan ini hendaknya kita koreksi, bagaimana sikap orang mukmin
terhadap sesama, dan bagaimana mereka, bila disebut asma Allah....
lalu bergetar serta tersungkur dan menangis tak tertahankan.

Didalam Al Qur'an banyak dijelaskan ciri-ciri orang mukmin sejati,
yang seharusnya menjadi acuan dalam hidup kita dalam melakukan
peribadatan kepada Allah SWT. Tidak seharusnya kita takluk dan kalah
terhadap nafsu, dimana akhirnya kita tetap berkubang dalam kecintaan
terhadap bimbingan setan yang sesat. Kesulitan hati dalam merasakan
nikmat Allah berupa kelezatan iman, cemerlangnya hati, kekhusuan
serta berbuat baik, disebabkan ada bisikan pembimbing yang setia
setiap saat dalam melakukan kekejian dan kemungkaran, yaitu setan
laknatullah. Sebagaimana dicantumkan dalam Al Qur'an surat Az Zukhruf
36
"Barang siapa yang berpaling dari dzikir kepada yang maha pemurah,
kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang
menjadi teman yang selalu menyertainya".
Sedangkan dalam surat Al Mujadalah ayat 19 Alah berfirman, yang
artinya :
"Telah dikerasi mereka oleh setan, maka setan itu telah menjadikan
mereka lupa kepada menyebut Allah"
Dilanjutkan dalam surat An Nissa 142, yang artinya :
"Mereka gemar memperlihatkan amalan-amalannya kepada manusia ramai
dan mereka tiada menyebut Allah kecuali hanya sedikit"
Juga dalam surat An Nur ayat 21 , yang artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-
langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan itu
menyuruh perbuatan yang keji dan mungkar. Sekiranya tidak karena
karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak
seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-
lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan
Allah maha mendengar lagi maha mengetahui".

Dari ayat-ayat diatas terlihat dengan jelas keterangan Al Qur'an
mengenai betapa setan merupakan penyebab utama dalam mengarahkan
manusia untuk berbuat keji dan mungkar, sehingga manusia tidak lagi
mampu berbuat yang diperintahkan Allah. Namun demikian Allah
menjelaskan dalam Al Qur'an, bahwa Allah sendirilah yang akan
mengangkat manusia ketika manusia dalam perangkap setan.
Kita tidak akan mampu menolak ajakan setan sebab mereka berada dalam
pusat hati kita sehingga kita bagaikan terpengaruh hipnotis dimana
selalu menuruti apa yang diperintahkan setan. Maka jadilah kita orang
yang selalu dalam bimbingan setan. Hati kita menjadi keji tanpa harus
melalui proses berpikir, rasa jahat itu akan muncul seketika dalam
hati dan merasakan sulitnya berbuat kebajikan.
Akan tetapi kekuatan atas kesungguhan dalam menghayati perilaku
syariat mengakibatkan si pelaku menemui hakikat (kebenaran) dari apa
yang dilakukan selama ini. Seperti diungkapkan Al Qur'an mengenai
shalat
"bahwa sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar"
(Al Ankabut : 45 ).

Pemahaman atas ayat tersebut adalah bahwa shalat merupakan alat
pencegah dari segala perbuatan buruk. Satu hal yang akan penulis
kedepankan dalam masalah shalat, adalah bagaimana kita menghayati dan
meluruskan jiwa kita dalam menghadap kepada yang menciptakan langit
dan bumi, dengan tidak sedikitpun kesyirikan dalam hati maupun
pikiran kita, yang semuanya membutuhkan kehadiran hati, perasaan
serta dialog yang telah disyariatkan. Apabila si pelaku dapat
melakukannya dengan totalitas tinggi (kaaffah), maka ia akan
mendapatkan karunia ketidakmampuan berbuat keji dan mungkar, serta
akan dimudahkan untuk selalu bersikap baik, karena di dalam hati
orang itu sudah timbul perasaan ihsan yang terus-menerus terhadap
Allah. Syariat tidak lagi menjadi beban si pelaku, tetapi merupakan
energi bagi kehidupan serta menjadi alat komunikasi yang indah untuk
selalu berdialog dalam do'a. Ketidak-mampuan dalam melakukan
perbuatan keji dan mungkar adalah merupakan karunia Allah, merupakan
kenyataan (hakikat), dimana pelaku tidak lagi merasa tertekan dan
terbebani syariat yang begitu banyak.

Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa kecintaan
terhadap perbuatan keji dan mungkar itu hanya dapat diatasi dengan
membawakan hati tersebut selalu teringat kepada Allah serta
mengihklaskan hati kita hanya untuk Allah.
Sebagaimana Allah firmankan dalam surat Yusuf 24 :
"Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu)
dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita
itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikian itu
karena hendak memalingkan yusuf dari perbuatan jahat dan keji, karena
sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba yang ikhlas"
Allah telah mengisyaratkan pada ayat-ayat di atas bahwa kita tidak
akan mampu beribadah dengan baik atau melakukan syariat yang begitu
banyak, dan rasanya mustahil kita memenuhi aturan-aturan yang telah
ditetapkan oleh Allah, kecuali atas karunia dan bimbingan-Nya. Untuk
mendapatkan bimbingan serta amanah Allah kita diharapkan memasrahkan
diri setiap saat dalam segenap keadaan, dengan cara mengingat Allah
baik pagi maupun petang, serta mengiklaskan setiap peribadatan hanya
untuk Allah semata. Begitulah Allah memalingkan nabi Yusuf dari
perbuatan tercela dengan menuntun dan mencabut rasa keji dan mungkar
dihatinya. Atas dasar keiklasan dan pemasrahan yang kuat kepada Allah
akhirnya nabi Yusuf mendapatkan karunia terlepas dari ajakan setan.

wassalamu'alaikum wr, wb,
Abu Sangkan
Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahawa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.
Dabbah Al-Ard
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 68
Joined: Sun Mar 03, 2002 8:00 am

Postby Dabbah Al-Ard on Wed Mar 20, 2002 6:11 am

From: "Abu Sangkan " <patrap1@y...>
Date: Fri Mar 2, 2001 2:31 pm
Subject: Etika Islam

Bab Etika Islam


Masalah kemerosotan moral dewasa ini menjadi santapan keseharian
masyarakat kita. Meski demikian tidak jelas faktor apa yang menjadi
penyebabnya. Masalah moral adalah masalah yang pertama muncul pada
diri manusia, "baik ideal maupun realita".
Secara ideal bahwa ketika pertama manusia di beri "ruh" untuk pertama
kalinya dalam hidupnya, yang padanya disertakan "rasio"penimbang baik
dan buruk (QS. As Syams 7-8).

Secara realita bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, dimana individu
merupakan bagian dari masyarakat manusia, maka yang awal mula muncul
dalam kesadarannya ialah pertanyaan "What must be ?"(Apa yang
seharusnya), yang lalu disusul dengan "What must I do ?"(Apa yang
dilakukan) pelaksanaan "What must I do?", menanti lebih dulu
jawaban "What must be?". Pertanyaan "What must be?", ditujukan kepada
kemampuan rohani pada diri manusia yang berbentuk kategori-kategori
tertentu yang tidak timbul dari pengalaman maupun pemikiran,
kemampuan ini bersifat intuitif dan apriori. Oleh sebab itu masalah
moral adalah masalah "normatif".

Didalam hidupnya manusia dinilai! Atau akan melakukan sesuatu karena
nilai! Nilai mana yang akan dituju tergantung kepada tingkat
pengertian akan nilai tersebut.
Pengertian yang dimaksud adalah bahwa manusia memahami apa yang baik
dan buruk serta ia dapat mambedakan keduanya dan selanjutnya
mengamalkannya. Pengertian tentang baik buruk tidak dilalui oleh
pengalaman akan tetapi telah ada sejak pertama kali "ruh" ditiupkan.
Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa
itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (QS. Asy Syams 91: 7-8)
Pengertian (pemahaman) baik dan buruk merupakan asasi manusia yang
harus diungkap lebih jelas, "atas dasar apa kita melakukan sesuatu
amalan".

Imam Alghazali menamakan pengertian apriori sebagai
pengertian "awwali". Dari mana pengertian-pengertian tersebut
diperoleh, sebagaimana ucapannya : Pikiran menjadi sehat dan
berkeseimbangan kembali dan dengan aman serta yakin dapat menerima
kembali segala pengertian-pengertian awwali dari akal itu. Semua itu
terjadi tidak dengan mengatur alasan atau menyusun keterangan,
melainkan dengan Nur (cahaya) yang dipancarkan Allah SWT ke dalam
batin dari ilmu ma'rifat. Di sini, Al Ghazali mengembalikannya ke
dasar pengertian awwali yaitu pengertian Ilahiyah. Sedang Plato
menyebutnya "idea". Ia mengungkapkan bahwa "idea" hakekatnya sudah
ada, tinggal manusia mencarinya dengan cara menenangkan pikiran atau
disebut mencari inspirasi bagi seniman. Jelasnya "idea" bukan timbul
dari pengalaman atau ciptaan pikiran sehingga menghasilkan "ide".

Kesadaran tentang keberlangsungan ide yang sejak awal ruh ditiupkan,
menyebabkan Allah dalam firman-firmanNya menghendaki manusia masuk
pada posisi asasinya yang disebut "idul fitri", yaitu kembali
kepada "kesejatian diri". Sebab kesejatian inilah yang bisa
dipertanggung-jawabkan kebenaran sikapnya karena perilaku yang keluar
bersandar pada kejernihan fitrah. Maka sesungguhnya fitrah itu
sejalan dengan kehendak Allah (fitrah Allah), yang disebut dalam Al
Qur'an ;
` Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah).
(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut
fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama
yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya' (QS.Ar
Arrum : 30).

Pada dasarnya fitrah manusia itu suci, akan tetapi proses penerimaan
ide (ilham) tersebut, terkadang menjadi tidak murni disebabkan
kekotoran jiwa yang diliputi nafsu syahwat. Dalam hal ini Allah
berfirman :
` Dan demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan
kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu Dan merugilah orang
yang mengotorinya'. (QS Asy Syams 7-10).
Betapa bahayanya ilham-ilham tersebut bila diterima oleh jiwa yang
kotor, sebab pengetahuan-pengetahuan itu akan digunakan untuk
mencuri, korupsi, menipu dan merusak alam semesta. Tetapi sebaliknya,
alangkah indahnya jika ilham-ilham tersebut diterima oleh jiwa yang
tenang dan bersih yang akan menimbulkan kemaslahatan bagi dirinya
maupun alam semesta.

Maka dari sini dapat dimengerti, walau seseorang sudah memiliki
pengertian `baik buruk secara apriori', bukan berarti ia telah tahu
secara mutlak, karena pengertiannya masih bersifat relatif dan hal
itu akan lebih jelas jika disinari oleh wahyu ketuhanan. Hal ini
karena ia tidak akan mampu menelusuri secara intelektual tanpa
adanya `daya spiritual' dalam menerima ide yang sesuai dengan Fitrah
Allah. Sebaliknya kalau dibiarkan jiwa kita diam, terbelenggu oleh
keinginan syahwat, maka apa yang diperoleh oleh jiwa berupa ide ilmu
pengetahuan, akan digunakan sesuai dengan kepentingan syahwatnya.
Kembali kepada masalah `nilai', seseorang pasti akan dinilai atau
pasti akan melakukan sesuatu karena nilai, dan jika `nilai' tersebut
masih bersifat relatif, maka nilai tersebut akan tergantung kepada
dasar yang ia pakai. Bisa jadi, mencuri itu mendapat nilai kebajikan
apabila perilaku tersebut didasari oleh hukum-hukum tentang
permalingan, juga sekularisme, hedonisme, komunisme dan atheisme.
Dasar-dasar inilah yang akan menilai perilaku itu baik atau buruk.
Begitupun tata nilai ketuhanan (Islam), setiap `perilaku' Islam
sangat menekankan orientasi niat yang kuat, menyandarkan
peribadatannya didasari konsep "Lillahi ta'ala".

Perilaku seseorang baru bisa dikatakan mempunyai nilai, apabila dasar
setiap `laku' manusia mengandung tuntutan kesadaran, dan bukan
paksaan!!. Hal ini sesuai dengan Hadist Nabi :
`Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai niat. Dan seseorang
diganjar sesuai dengan niatnya' (Hadist riwayat Bukhari Muslim).
Dalam hadist tersebut jelas, setiap perilaku mempunyai dasar (niat),
sehingga perbuatannya dikategorikan atau dinilai baik atau buruk
sangat tergantung kepada niatnya. Dalam suatu riwayat, ketika
Rasulullah Hijrah ke Madinah, diungkapkan masalah "niat".
` Maka barang siapa hijrahnya didasari (niat) karena Allah dan
Rasulullah maka hijrahnya akan sampai diterima oleh Allah dan
Rasulullah. Dan barang siapa hijrahnya didasari (niat) karena
kekayaan dunia yang akan didapat atau karena perempuan yang akan
dikawin, maka hijrahnya terhenti (tertolak) pada apa yang ia hijrah
kepadanya'. (Al Hadits)
Di sini sangat penting kesadaran akan "niat" untuk memperjelas
perbedaan mana yang baik menurut nafsu, dan baik menurut Allah.
Perilaku yang lalai atau tidak karena Allah seperti dalam shalat,
maka nilai kelurusan shalat yang terhalang oleh pikiran yang tidak
khusyu' akan berakibat pada rusaknya nilai ibadah shalat. Seperti
yang termaktub alam Al qur'an: "Maka celakalah bagi yang melakukan
shalat karena"niat"-nya (lalai) terhambat oleh ingin dilihat orang
lain1). Perbuatan macam ini tidak bisa dikatakan sebagai "Dien".
Sebab agama mempunyai satu dasar penilaian yang sangat sempurna
yakni; Islam, Iman, dan Ihsan.

Etika pada umumnya menentukan "sadar bebas" sebagai obyeknya, dan
ternyata hal ini hanya melihat dari segi lahiriah perbuatan.
Setia dan bertingkah baik an-sich tanpa memperhitungkan syarat lain,
memang dapat digolongkan ke dalam "kebajikan". Namun belum tentu
dikategorikan dalam kebajikan jika ditinjau lebih jauh pada kondisi-
kondisi lain, yakni pada apakah perbuatan itu `bersangkut paut' atau
apa yang melatar belakangi perbuatan tersebut. Misalnya : Si
Abdullah memberikan sedekah kepada fakir miskin. Ketika terjadi
tindakan tersebut terdapat :
1. Subjek yang berbuat, yaitu `Abdullah'
2. Objek yang diperbuat, yaitu Abdullah melakukan "sedekah".
3. Objek yang terkena perbuatan, yaitu sedekah diberikan kepada fakir
miskin
4. Objek yang dipergunakan, yaitu niat karena apa (bisa karena ingin
dilihat orang, karena Allah dll).
Pada faktor-faktor inilah disamping "niat" batin, Islam meletakkan
nilai syarat yang ikut mengambil bagian dalam menilai suatu perbuatan
sebagai tindakan etis. Tegas sekali Islam mewajibkan "niat karena
Allah" sebagai tanggung jawab penghambaan kepada Kholiqnya.
Tanggung jawab Islam dalam syariat (etika ketuhanan) selalu
mengandung kedalaman dimensi yang tidak saja tindakan fisik sebagai
objek nilai, juga di dalamnya nilai psikologis merupakan tindakan
etis yang secara naluriah, mengembalikan kepada Fitrah Allah. Dalam
tahapan ini manusia sampai kepada tahapan tertinggi yang dalam
tindakannya sesuai dengan kehendak Allah (Fitrah Allah), dan
diharapkan setiap perilaku (ibadah) sampai kepada syarat; islam, iman
dan ihsan. Karena akan dikatakan (dinilai) sebagai agama apabila
meliputi ketiga kriteria tersebut.

Dalam Hadist riwayat Bukhori dan Muslim disebutkan :
` Sesungguhnya Jibril pernah datang kepada Nabi dalam bentuk seorang
Arab Badui, lalu ia bertanya kepadanya tentang islam, maka Nabi
menjawab, "Islam itu, ialah hendaknya engkau bersaksi sesungguhnya
tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan
Allah, engkau mendirikan shalat, engkau keluarkan zakat, engkau puasa
bulan Ramadhan dan engkau pergi haji ke Baitullah jika engkau mampu
pergu ke sana. Lalu Jibril bertanya apakah Iman itu? Nabi
menjawab, "Yaitu hendaknya engkau beriman kepada Allah, kepada
Malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada para Utusan-Nya, bangkit
dari kubur sesudah mati, dan hendaknya engkau beriman kepada takdir
tentang takdir baik dan buruknya. Jibril bertanya lagi, apakah ihsan
itu? Nabi menjawab, yaitu hendaknya engkau menyembah Allah yang
seolah-olah engkau melihat Allah, sekalipun engkau tidak bisa melihat-
Nya tetapi Ia bisa melihat engkau.

Kemudian dalam akhir Hadist itu dikatakan Rasulullah saw bersabda
(kepada para sahabatnya) :
` Dia itu Jibril, Ia datang kepadamu untuk mengajarkan tentang
agamamu'.
Hal ini seluruhnya termasuk agama, dan agama (dien) itu sendiri
berarti khudhu' (tunduk) dan dzull (merendah) seperti perkataan : "Ku
tundukkan dia, maka ia tunduk" yakni : beribadah kepada Allah dan
taat kepada-Nya serta merendahkan diri kepada-Nya.
Agama meliputi :
a. Islam : berupa syariat Islam (syahadat, shalat, zakat, puasa,
haji).
b. Iman : kepercayaan, keyakinan, transendental.
c. Ihsan : kekuatan psikologis dimana ia mengaitkan nilai
perilakunya karena Allah.
Maka setiap peribadatan, apakah itu shalat, zakat, puasa akan terasa
sia-sia apabila dilakukan tanpa dibarengi dengan tunduk dan patuh
serta merasakan adanya sikap "ihsan" (seakan-akan melihat Allah, jika
tidak mampu melihat-Nya sesungguhnya Ia melihat kalian). Hal inilah
yang selalu menjadi permasalahan pokok dan mensosialisasi sebagai
kebiasaan buruk yang tidak lagi menjadi masalah, padahal kita
bertahun-tahun melakukan peribadatan tidak mendapatkan apa-apa
kecuali capek dan sia-sia. Ihsan adalah kontak batin dan dialogis,
responsif. Ihsan adalah roh setiap peribadatan, dan menentukan
diterima tidaknya peribadatan. Sikap ini pula yang menjadikan ihsan
itu rukun agama, yang apabila ditinggalkan salah satu rukun agama,
maka batallah sebagai agama. Permasalahan rukun agama ini telah
dihukumkan dan disyaratkan kepada orang yang sampai baligh.
Sebagaimana Hadist Rasulullah :
"Hukum tidak berlaku bagi tiga golongan; orang yang tidur sampai
bangun, anak kecil sampai mimpi basah, dan orang gila sampai sembuh"
(Abu Dawud, Ibnu Majah dan Annasay, hadist sohih).
Selanjutnya Islam mengajarkan bahwa seorang muslim yang beramal
kebajikan, tetapi tujuannya bukan Lillahi ta'ala tidak mungkin
diterima amalnya, sebagaimana firman Allah :
"Kami menurunkan kitab ini kepada engkau dengan sebenarnya, sebab itu
sembahlah Allah seraya mengihklaskan agama bagi-Nya saja" (Qs. Az-
Zumar : 2).

Nash tersebut di atas merupakan kesimpulan dari tujuan etika Islam,
yaitu mengembalikan kepada posisi fitrah manusia, yang dengan
kesadaran itu, maka ia akan menjadi manusia paripurna dan ia akan
berakhlaq sebagaimana akhlaq Allah, dengan kecenderungan berbuat baik
tanpa beban dan paksaan.Untuk itu kecenderungan berbuat baik akan
terjadi apabila kita mampu berusaha membersihkan jiwa. Dan kebersihan
jiwa akan didapat apabila kita melaksanakan peribadatan sesuai
dengan kriteria-kriteria pada penjelasan di atas.

Wassalamu'alaikum Wr, Wb,
Abu Sangkan
Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahawa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.
Dabbah Al-Ard
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 68
Joined: Sun Mar 03, 2002 8:00 am

Postby Jin on Wed Mar 20, 2002 11:15 pm

:asap:
Jin
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 15
Joined: Wed Feb 27, 2002 8:00 am


Return to Bicara Akhlak & Tasawuf

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest