Riwayat hidup dan kisah para sufi

Untuk apa-apa bicara berkaitan akhlak dan tasawuf.

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby seraiwangi on Tue Oct 14, 2008 12:26 am

Salam Ukhuwwah Fillah
BismiLlah wal HamduliLlah wa asy-Syukru liLlah

...petikan yang diambil dr seorang sahabat..moga ada manfaat utk semua...InsyaAllah

*******************************************************************************************************************************************

Syeikh Ibnu 'Atoillah As Sakandari

Karya
Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atho' meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah.Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam ialah kitabnya yang bernama Hikam, yang telah diberikan komentar oleh beberapa orang ulama di kemudian hari dan yang juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuklah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.
Kitab ini dikenali juga dengan nama al-Hikam al-ata'iyyah untuk membezakannya daripada kitab-kitab lain yang juga berjudul Hikam.

Image

Ibnu Atha’illah al-Sakandari, Pengarang Kitab al-Hikam
Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Atho’ al-Sakandari al-Judzami al-Maliki al-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya’rib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aa’ribah. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H.

Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili -pendiri Thariqah al-Syadziliyyah-sebagaimana diceritakan Ibnu Atho’ dalam kitabnya “Lathoiful Minan “ : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: "Demi Allah… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”.

Keluarga Ibnu Atho’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atho’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’ Sholihin
Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho’illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus berlanjt sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya.

Ibnu Atho’ menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atho’ yaitu Abul Abbas al-Mursy mengatakan: "Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Atho’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku", dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: "Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: " Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka". Dengan bijak Nabi mengatakan : " Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka". Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Atho’illah) demi orang yang alim fiqih ini”. Pada akhirnya Ibn Atho' memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Atho’illah menjadi tiga masa:

Masa pertama
Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho’illah bercerita: "Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau". Pendapat saya waktu itu bahwa yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.

Al-Syeikh Ibnu “Atoillah Al-Sakandari menukilkan dalam kitabnya Al-Hikam :

الرجاء ما قارنه العمل والا فهو أمنية

“Suatu pengharapan itu mestilah diiringi dengan usaha, sekiranya tidak ia hanyalah menjadi angan-angan kosong sahaja”

p/s..bersambung...
Image
User avatar
seraiwangi
Ahli Emeritus
Ahli Emeritus
 
Posts: 1974
Joined: Wed Mar 22, 2006 3:54 pm

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby seraiwangi on Tue Oct 14, 2008 11:54 pm

sambungan :

Masa kedua
Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini.
Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya ulama' tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini.

Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atho' mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : "apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf.
Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyemak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara'. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyat al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku".

Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.

Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : "Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan : "Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata : "Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?". Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : "Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga".
Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka". Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah".
Image
User avatar
seraiwangi
Ahli Emeritus
Ahli Emeritus
 
Posts: 1974
Joined: Wed Mar 22, 2006 3:54 pm

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby seraiwangi on Thu Oct 16, 2008 8:13 am

Sambungan :

Masa ketiga
Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho' dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke ribaan Yang Maha KAsih pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atho’illah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Ia membedakan antara Uzlah dan kholwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT.

Menurut Ibnu Atho’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya. Ibnu Atho’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.

Ibnu Hajar berkata: "Ibnu Atho’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan".

Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : "Ibnu Atho’illah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah". Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tobaqoh al-syafi’iyyah al-Kubro”.

Karomah Ibn Athoillah
Al-Munawi dalam kitabnya “Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan: “Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: "Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia...". Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras: "Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka". Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Atho’illah ketika meninggal kelak.

Di antara karomah pengarang kitab al-Hikam adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketiak mendengar teman-temannya menjawab "Tidak". Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya : "Siapa saja yang kamu temui ?" lalu si murid menjawab : "Tuanku… saya melihat tuanku di sana ". Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : "Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya”.

Wafat
Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia maya ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro.

Sumber : Dari petikan..
Image
User avatar
seraiwangi
Ahli Emeritus
Ahli Emeritus
 
Posts: 1974
Joined: Wed Mar 22, 2006 3:54 pm

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby seraiwangi on Sat Oct 18, 2008 10:15 am

Salam Ukhuwwah Fillah..
BismiLlah wal HamduliLlah wa asy-Syukru liLlah


Image

Tazkiratul Auliya’ – 62 Orang Wali Allah
Syekh Fariduddin ‘Attar

‘Buku ini adalah terjemahan dari buku yang berjudul TAZKIRATUL-AULIYA’ dalam bahasa Parsi karangan Syekh Fariduddin ‘Attar, seorang penyair dan sufi agung dari Iran. Terjemahan dalam Bahasa Melayu ini saya usahakan berdasarkan edisi Bahasa Inggerisnya yang diterbitkan oleh Syekh Muhammad Ashraf, Kashimiri Bazar, Lahore, Pakistan…

Buku ini mengandungi kata-kata dan peristiwa-peristiwa yang berlaku dalam kehidupan enam puluh dua orang sufi yang mahsyur namanya. Orang-orang ini ialah orang-orang yang mendampingi diri mereka dengan Tuhan dan mereka memandang Tuhan sahaja dan tidak kepada yang lain. Untuk mengetahui mereka itu sebenarnya, maka teruskanlah membaca buku ini. Di situ akan diketahui pandangan dan sikap mereka itu terhadap hidup dan lain-lain lagi…’

Penterjemah,
Abdul Majid bin Hj. Khatib

Image
Antara kisah sufi yang ada dalam buku ini ialah:
- Hasan Al-Basri
- Malik bin Dinar
- Rabi’atul-adawiyah Al-Basriyyah
- Ibrahim bin Adham
- Dzu’n-nun Al-Misri
- Sufyan Al-Thauri
- Imam Ahmad bin Hanbal
- Al-Junaid Al-Baghdadi

Ini adalah antara sufi yang kita selalu dengar namanya namun adakah kita tahu kisah mereka atau sekadar mendengar nama saja?
Image
User avatar
seraiwangi
Ahli Emeritus
Ahli Emeritus
 
Posts: 1974
Joined: Wed Mar 22, 2006 3:54 pm

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby maut_memangil on Wed Feb 04, 2009 3:48 pm

mane nak cr buku nie serai wangi
tiade nyata hanya ALLAH, aku umat rasulullah
User avatar
maut_memangil
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 115
Joined: Tue Nov 04, 2008 5:19 pm
Location: subang jaya

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby frust tunggeng on Wed Feb 04, 2009 4:25 pm

maut_memangil wrote:mane nak cr buku nie serai wangi

keluaran Pustaka Aman Press, Kelantan if not mistaken ... mana2 pun ada .. Alhallaj, Abu Yazid, Ma'aruf Alkarki etc
Allah berdiri dgn sendiri
frust tunggeng
Ahli Emeritus
Ahli Emeritus
 
Posts: 1186
Joined: Thu Jul 14, 2005 10:30 am
Location: sini je

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby seraiwangi on Wed Feb 04, 2009 11:11 pm

maut_memangil wrote:mane nak cr buku nie serai wangi


kat mana2 toko buku agama ..insya'Allah ada buku tu...
yg dalam simpanan serai edisi pertama...lupa dah tahun brapa beli(kene semak dulu)....yg serai letak kat posting atas tu edisi baru...
Image
User avatar
seraiwangi
Ahli Emeritus
Ahli Emeritus
 
Posts: 1974
Joined: Wed Mar 22, 2006 3:54 pm

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby maut_memangil on Fri Feb 06, 2009 3:04 pm

mekasih nanti try cari
tiade nyata hanya ALLAH, aku umat rasulullah
User avatar
maut_memangil
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 115
Joined: Tue Nov 04, 2008 5:19 pm
Location: subang jaya

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby WARIS on Fri Feb 06, 2009 4:07 pm

maut_memangil wrote:mekasih nanti try cari





Alaaa...nko ni poyonyer...
nko ajak le seraiwangi tu jumpa kat mana2 utk tengok buku yg dia katakan tu... :D
Selain tengok buku...boleh erat tali silaturahim... :P
WARIS

Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah s.a.w.bersabda, "Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..!

Sila layari: http://enwaris.blogspot.com/
WARIS
Ahli Kehormat
Ahli Kehormat
 
Posts: 9331
Joined: Wed Dec 28, 2005 4:03 pm

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby maut_memangil on Tue Feb 10, 2009 11:13 am

bkn poyor en waris

aku nak mengelak dr perlakuan sumbang mahram hahaha

try cr kat kdai buku tp x jumpa br 2kedai la...ade mase nanti try cr agi
tiade nyata hanya ALLAH, aku umat rasulullah
User avatar
maut_memangil
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 115
Joined: Tue Nov 04, 2008 5:19 pm
Location: subang jaya

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby WARIS on Tue Feb 10, 2009 11:29 am

Ala nko ni banyak alasan la plak...
..nko suruh la serai bawa muhrimnya masa jumpa tu...

..hek eleh.. :D
WARIS

Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah s.a.w.bersabda, "Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..!

Sila layari: http://enwaris.blogspot.com/
WARIS
Ahli Kehormat
Ahli Kehormat
 
Posts: 9331
Joined: Wed Dec 28, 2005 4:03 pm

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby maut_memangil on Tue Feb 10, 2009 2:25 pm

..nko suruh la serai bawa muhrimnya masa jumpa tu...


En waris nak betui kan sikit muhrim tue org yg tengah berihram
mahram tue ertinye org yg kite camana nak sebut lak nie
cth mahram lak bile bersentuhan sesama air sembayang jadi batal
tiade nyata hanya ALLAH, aku umat rasulullah
User avatar
maut_memangil
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 115
Joined: Tue Nov 04, 2008 5:19 pm
Location: subang jaya

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby al-afif on Tue Feb 10, 2009 2:54 pm

da dapat da...
TAZKIRATUL-AULIYA.
ust. kasi pinjam :kenyit:
ilmu dicari
al-afif
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 507
Joined: Thu Aug 10, 2006 5:16 pm
Location: kl

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby seraiwangi on Tue Feb 10, 2009 2:59 pm

Salam Ukhuwwah Fillah ..buat semua....

maut_memangil wrote:
try cr kat kdai buku tp x jumpa br 2kedai la...ade mase nanti try cr agi


InsyaAllah..if tuan benar2 perlukan buku tu...seraiwangi boleh tolong dapatkan....bagi address ...nanti ada masa serai cuba pos pd tuan..InsyaAllah...

al-afif wrote:da dapat da...
TAZKIRATUL-AULIYA.
ust. kasi pinjam :kenyit:


Alhamdulillah.....bagus la tu...
al-afif....dah dapat pinjam buku tu...jangan tak baca pulak....hehe
p/s..just joking... :kenyit:
Image
User avatar
seraiwangi
Ahli Emeritus
Ahli Emeritus
 
Posts: 1974
Joined: Wed Mar 22, 2006 3:54 pm

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby seraiwangi on Fri Feb 13, 2009 4:18 pm

dari petikan....tentang kisah ..

Fariduddin al Attar ( Wafat 607 H / 1220 M )

Fariduddin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim lebih dikenal dengan nama Attar, si penyebar wangi . Meskipun sedikit yang diketahui dengan pasti tentang hidupnya, namun agaknya dapat dikatakan bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 506
H/1119 dekat Nisyapur di Persia Barat-Laut (tempat kelahiran Umar Khayyam) dan meninggal sekitar tahun 607 H/1220
di Syaikhuhah dalam usia yang amat lanjut. Sebagian besar dari apa yang diketahui tentang dirinya bersifat legendaris,
juga kematiannya di tangan seorang perajurit Jenghis Khan. Dari catatan kenang-kenangan pribadinya yang tersebar di
antara tulisan-tulisannya agaknya dapat disebutkan bahwa ia melewatkan tiga belas tahun dari masa mudanya di
Meshed.

Menurut Dawlatshah, suatu hari Attar sedang duduk dengan seorang kawannya di muka pintu kedainya, ketika
seorang darwis datang mendekat, singgah sebentar, mencium bau wangi, kemudian menarik nafas panjang dan
menangis. Attar mengira darwis itu berusaha hendak membangkitkan belas kasih mereka, lalu menyuruh darwis itu
pergi.
Darwis itu berkata, "Baik, tak ada satu pun yang menghalangi aku meninggalkan pintumu dan mengucapkan
selamat tinggal pada dunia ini. Tetapi aku sedih memikirkanmu, Attar. Mana mungkin kau pernah memikirkan maut dan
meninggalkan segala harta duniawi ini?"; Attar menjawab bahwa ia berharap akan mengakhiri hidupnya dalam
kemiskinan dan kepuasan sebagai seorang darwis. "Kita tunggu saja" kata dsrwis itu, dan segera sesudah
itu ia pun merebahkan diri dan mati.

Peristiwa ini menimbulkan kesan yang amat dalam di hati Attar sehingga ia meninggalkan kedai ayahnya, menjadi murid
Syaikh Bukn-ud-din yang terkenal, dan kemudian dilanjutkan kepada sufi Abu Sa'id bin Abil Khair. Mulailah ia
mempelajari sistem pemikiran sufi, dalam teori dan praktek. Selama tiga puluh sembilah tahun ia mengembara ke
berbagai negeri, belajar di pemukiman-pemukiman para syaikh dan mengumpulkan tulisan-tulisan para sufi yang saleh,
sekalian dengan legenda-legenda dan cerita-cerita. Kemudian ia pun kembali ke Nisyapur di mana ia melewatkan sisa
hidupnya. Konon ia memiliki pengertian yang lebih dalam tentang alam pemikiran sufi dibandingkan dengan dua ratus
ribu sajak dan banyak karya prosa. Ia hidup sebelum Jalaluddin Rumi. Ditanya siapa yang lebih pandai diantara
keduanya itu, seorang sufi mengatakan, "Rumi membumbung ke puncak kesempurnaan bagai rajawali dalam
sekejap mata; Attar mencapai tempat itu juga dengan merayap seperti semut." Rumi mengatakan,'Attar
ialah jiwa itu sendiri".

Setelah Attar menyelesaikan kajian tasawufnya dengan kedua gurunya itu, ia banyak membaca kitab-kitab tasawuf
seperti Hikayat al-Masyaikh karya Abu Muhammad Ja'far bin Muhammad al-Khuldi (wafat 348 H/959), kitab al-Luma
karangan Abu Nasser Abdullah bin Ali al-Sarraj (wafat 378/988), kitab Thabaqat al-Shufiyah karangan Abdurrahman
Muhammad bin al-Husein al-Sulami (wafat 412 H/1021), kitab Hilyatul Aulia karangan Abu Na'im al-Asfihani (wafat 430
H/1038), kitab al-Risalah karangan Abul Qasim al-Qusyairi (wafat 465 H/1072), kitab Kasyf al-Mahjub karangan al-
Hujwiri (wafat 467 H/1075) dan kitab-kitab tasawuf lainnya. Sebagaimana sufi-sufi lainnya, ia juga banyak mengadakan
perjalanan dan salah satu di antaranya perjalanannya menuju Mekkah menunaikan ibadah haji. Disamping itu ia banyak
bergaul dengan kaum sufi di masanya, hidup bersama mereka dan memimpin mereka.
Al-Attar bergelar di kalangan sufi dengan Saitu al-Salikin (Cemeti orang-orang sufi), karena ia mampu memimpin
mereka berada dalam petunjuk suci dan dapat membakar cinta mereka dalam menuangkan kasih rindu mereka ke
dalam karya-karya puisi dan prosa ketuhanan yang indah.

Karya-karya Fariduddin al-Attar berjumlah 114 judul, berbentuk puisi dan prosa dan seluruhnya berkaitan erat dengan
ajaran-ajaran tasawuf dan kehidupan para sufi yang jatuh cinta kepada Tuhan. Diantara karya-karya al-Attar antara lain :

- Manthiq al-Thair
- Asrar Nameh
- Tazkiratul Aulia


Dalam Manthiq al-Thair , secara simbolis diceritakan perjalanan manusia menuju tuhan atas dasar keikhlasan dan
kecintaan yang murni.
Para burung yang melakukan perjalanan abadi itu harus melalui tujuh lembah yang luas dan amat
berat, dimulai dengan lembah keraguan, lembah cinta, lembah pemahaman, lembah kebebasan, lembah keesaan murni,
lembah ketakjuban dan terakhir adalah lembah kefanaan dan kefakiran. Menurut Attar, perjalanan sufi menuju Tuhan
bukan didasarkan kepada pengetahuan akal tetapi didasarkan kepada pengetahuan batin melalui pintu hati yang
terdalam. Dalam perjalanan menuju Tuhan, banyak orang yang berhenti dalam argumentasi rasional baik fiqih maupun
Ilmu kalam atu lainnya yang sebenarnya masih dalam perjalanan permulaan. Maka perjalanan ini harus dilanjutkan
dalam ilmu-ilmu kerohanian hingga mampu melaksanakan mujahadah dan riyadhah.

Dalam Asrar Nameh , Attar menganjurkan kepada kita agar beroleh keselamatan diperlukan menempuh jalan syariat, tarikat dan hakikat secara harmonis dan sempurna atau dengan kata lain, dimulai dengan pencarian dengan akal dan kemudian diikuti dengan kematapan keyakinan dalam hati.
Menurut Attar, dalam memasuki dunia tasawuf, orang tidak boleh tidak harus melaksanakan riyadhah dan mujahadah
sebagaimana lazimnya dilaksanakan oleh para sufi. Sementara itu pelaksanaan berbagai pembersihan termasuk
pembersihan jiwa, pemurnian niat, keteguhan hati dan kesiapan rohani selama dalam mujahadah dan riyadhah panjang
menuju Tuhan. Dalam perjalanan akhir, orang akan sampai dalam maqam fana dan baqa, fana dengan dirinya dan baqa
bersama Tuhannya. Dalam kedudukan seperti itu, Attar memperingatkan bahwa sampainya sufi kepada Tuhan itu bukan
dalam bentuk ittihad atau hulul.

Dalam rangka memahami seluk-beluk tasawuf dan batas-batasnya serta bimbingan dan hikmah-hikmah para sufi yang
dikaji, Attar menulis bukunya Tazkiratul Aulia . Konon, untuk menulis buku ini, Attar telah membaca kitab-kitab tasawuf tidak kurang dari 710 buah. Kitab itu ditulisnya, disamping karena dorongan dari sahabat-sahabatnya, juga karena dia beranggapan bahwa perkataan-perkataan para sufi itu ibarat bala tentara yang besar memperkuat dan membentengi
hati orang-orang beriman yang sewaktu-waktu mendapat serangan atau cobaan-cobaan dalam perjalanan panjang dan
dapat menumbuhkan dan menyuburkan bibit cinta abadi kepada Tuhan.

Sebagaimana telah diuraikan, perjalanan menuju Tuhan dijalankan melalui jalan hati degan segala kebersihan jasmani
dan rohani sebagai pendukungnya.
Agar perjalanan selalu dlm gelora dan penuh semnagat , maka maqam mahabbah
(cinta murni) adalah salah satu maqam yang amat penting dan menentukan. Dengan kata lain, perjalanan rohani yang
jauh dan berat itu harus didorong dan dibakar terus dengan api cinta yang selalu bergejolak tanpa mengenal henti, ibarat
binatang laron yang terbang malam menuju sinar api sampai terbakar karena dorongan cinta sejati.
Kupandang wajah-Mu dengan hati, Bersinar ibarat permukaan lautan, Adalah di sana laut semesta, Yang menyimpan
seluruh mutiara? Karena al-Attar jatuh cinta, Hatinya berkobar terus berkobar, Tiap tarikan nafas terdalam, Berkilauan
bara menyala.

Melalui riyadhah dan mujahadah, perjalanan menapak setingkat demi setingkat bergerak maju dan gerak maju itu lebih
dari yang diperhitungkan karena jazabah yang datang daripada-Nya. Maka perjalanan itu tidak akan jauh bagi yang
dikehendaki-Nya. Maka banyak isyarat dan tanda-tanda Ilahi yang ada di sekitar manusia, tetapi manusia banyak terlena
atau alpa hingga isyarat dan tanda-tanda Ilahi menjadi asing bagi manusia. Keterlenaan dan kealpaan manusia itu
karena pengaruh jasmani dan rohani yang tidak bersih, kelemahan jiwa karena himpitan materi dan kedurhakaan yang
menjauhkan rahmat Ilahi. Maka riyadhah dan mujahadah diperlukan melebihi dari biasanya hingga terwujud kebersihan
jasmani dan rohani dan jiwa menjadi sensitif dan tajam terhadap tanda dan isyarat ilahiyah itu.
Telah kau tunjukkan tanda untuk mengenal-Mu,
Kau adalah segala yang meliputi ciptaan ini,
Segala yang kulihat, tapi jiwa dalam tubuh,
Terhalang buat menatap-Mu,
Dan kau sembunyikan diri-Mu dalam jiwa suci,
O jiwa dalam jiwa! Rahasia dalam rahasia!
Segala yang ada ini ada dalam kau,
Namun, kau lebih dari segala ini.
Pada tahun 1862 ditemukan sebuah batu nisan di luar Nisyapur, yang didirikan antara tahun 1469 dan 1506 (Sekitar
dua ratus lima puluh tahun sepeninggalan Attar). Di nisan itu terukir inskrpsi dalam bahasa Parsi yang berbunyi sebagai
berikut :
Allah kekal
Dengan nama Allah Yang Pengasih Yang Pengampun
Di sini di tanam Adn bawah, Attar menebarkan wangi pada jiwa orang-orang yang paling sederhana. Inilah makam
seorang yang begitu mulia sehingga debu yang terusik kakinya akan merupakan kolirium di mata langit; maka syaikh
Attar Farid yang terkenal, yang menjadi ikutan orang-orang suci; makam penebar wangi yang utama dengan nafasnya
yang mengharumi dunia dari kaf ke kaf. Di kedainya, sarang para malaikat, langit bagai botol obat semerbak dengan
wangi sitrun. Bumi Nisyapur akan terkenal hingga hari kiamat karena orang yang termasyur ini. Tambang emasnya
terdapat di Nisyapur sebab ia dilahirkan di Zarwand di wilayah Gurgan. Ia tinggal di Nisyapur selama delapan puluh
tahun, dan tiga puluh dua tahun dari waktu itu dilewatkannya dalam ketenangan. Dalam usia yang sudah amat lanjut ia
dikejar-kejar pedang pasukan tentara yang menelan segalanya. Farid tewas di zaman Huluku Khan, terbunuh sebagai
syahid dalam pembantaian besar-besaran yang terjadi ketika itu.... Semoga Tuhan Yang Maha Tinggi mempersegar
jiwanya! Tinggkatkanlah, o Robbi, kebajikannya.
Makam orang yang mulia ini terletak di sini dalam wilayah pemerintahan Syah Alam, Seri Baginda Sultan Abu Igazi
Hesein....
Selebihnya, inskripsi ini menyatakan pujian terhadap Sultan, bila, dan dimana ia meninggal dan dikuburkan. Maha Suci
Engkau Ya Allah.... Muliakan lah dan Agungkan lah, serta abadikanlah harum wewangian semerbak hikmah yang tetap
segar memasuki relung jiwa para penempuh spiritual.

dari petikan : NurulKhatami.com-Majelis Kajian Tasawuf http://nurulkhatami.com
Image
User avatar
seraiwangi
Ahli Emeritus
Ahli Emeritus
 
Posts: 1974
Joined: Wed Mar 22, 2006 3:54 pm

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby maut_memangil on Thu Mar 26, 2009 2:23 pm

cerita lah lagi wahai cik serai wangi....
tiade nyata hanya ALLAH, aku umat rasulullah
User avatar
maut_memangil
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 115
Joined: Tue Nov 04, 2008 5:19 pm
Location: subang jaya

Re: Riwayat hidup dan kisah para sufi

Postby WARIS on Thu Oct 22, 2009 7:31 am

maut_memangil wrote:
..nko suruh la serai bawa muhrimnya masa jumpa tu...


En waris nak betui kan sikit muhrim tue org yg tengah berihram
mahram tue ertinye org yg kite camana nak sebut lak nie
cth mahram lak bile bersentuhan sesama air sembayang jadi batal



Kaum muslim(ah) seringkali dibingungkan dengan istilah muhrim dan mahram. Aku sendiri, pada awalnya, termasuk yg golongan ini.

Muhrim, bagi kebanyakan kaum muslim, berarti pihak2 yg DILARANG DINIKAHI. Sementara istilah mahram sendiri, mungkin tidak banyak yg tahu.

Jika ditinjau dari bahasa, muhrim dalam bahasa Arab adalah muhrimun (huruf mimnya di-dhammah) yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Sedangkan mahram bahasa Arabnya adalah mahramun (huruf mimnya di-fathah) artinya orang yang diharamkan nikah dengannya selama2nya (baik lelaki atau perempuan lain).

Mahram ini berasal dari kalangan wanita, yaitu orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Di sisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar (perjalanan) bersamanya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan dengannya dan seterusnya dari hukum-hukum mahram.

Mahram sendiri terbagi menjadi tiga kelompok, yakni mahram karena nasab (keturunan), mahram karena penyusuan, dan mahram mushaharah (kekeluargaan kerena pernikahan).
WARIS

Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah s.a.w.bersabda, "Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..!

Sila layari: http://enwaris.blogspot.com/
WARIS
Ahli Kehormat
Ahli Kehormat
 
Posts: 9331
Joined: Wed Dec 28, 2005 4:03 pm

Previous

Return to Bicara Akhlak & Tasawuf

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests