CARA BERPAKAIAN MUSLIMAH YANG DITENTUKAN SYARAK

Untuk apa-apa bicara khusus berkaitan kaum Hawa.
Pengendali :: limau nipis, BALKIS

CARA BERPAKAIAN MUSLIMAH YANG DITENTUKAN SYARAK

Postby dania_natasya on Thu Dec 23, 2004 4:31 pm

Assalamualaikum,

Kepada sesiapa yang dapat membantu,
bolehkan, anta/anti semua menerangkan secara
terperinci tentang sebenarnya jenis pemakaian wanita Muslim
yang dibenarkan oleh syarak berserta dengan dalil-dalil yang sahih.

Sebabnya, bila saya utarakan pertanyaan saya ini banyak pendapat yang menyatakan perlu menutup seluruh bahagian kecuali muka dan tapak tangan.

Adakah hanya memadai dengan syarat di atas?
Tanpa perlu ada jenis pakaian yang dibenarkan?
Maksudnya adakah pemakaian seluar panjang, kemeja dan selainnya dibolehkan oleh Islam untuk muslimah?

Itu saja kemusykilan saya. Harapnya ada yang sudi membantu.

Sekian, terima kasih.

Wassalam.
dania_natasya
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 157
Joined: Mon May 24, 2004 1:20 pm

Postby fikrul mustanir on Thu Dec 23, 2004 6:43 pm

Wa alaikumus salam,

Diharap artikel dibawah dapat membantu. :D

Ia saya ambil dari http://www.hayatulislam.net/comments.ph ... 7_0_1_9_C9

Kerana ianya dalam bahasa Indonesia kemungkinan terdapat kesukaran untuk memahaminya. Misalnya "busana" maksudnya "pakaian", "bisa" ertinya "boleh", "kerudung" ertinya" "tudung", dan "bercelana" ertinya "berseluar".

Wasalam. :D
_____________________________________

Banyak kesalahpahaman terhadap Islam di tengah masyarakat. Misalnya saja jilbab. Tak sedikit orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan jilbab adalah kerudung. Padahal tidak demikian. Jilbab bukan kerudung. Kerudung dalam al-Qur’an surah An-Nuur [24]: 31 disebut dengan istilah khimar (jamaknya: khumur), bukan jilbab. Adapun jilbab yang terdapat dalam surah al-Ahzab [33]: 59, sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah.


Kesalahpahaman lain yang sering dijumpai adalah anggapan bahwa busana muslimah itu yang penting sudah menutup aurat, sedang mode baju apakah terusan atau potongan, atau memakai celana panjang, dianggap bukan masalah. Dianggap, model potongan atau bercelana panjang jeans oke-oke saja, yang penting ‘kan sudah menutup aurat. Kalau sudah menutup aurat, dianggap sudah berbusana muslimah secara sempurna. Padahal tidak begitu. Islam telah menetapkan syarat-syarat bagi busana muslimah dalam kehidupan umum, seperti yang ditunjukkan oleh nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah. Menutup aurat itu hanya salah satu syarat, bukan satu-satunya syarat busana dalam kehidupan umum. Syarat lainnya misalnya busana muslimah tidak boleh menggunakan bahan tekstil yang transparan atau mencetak lekuk tubuh perempuan. Dengan demikian, walaupun menutup aurat tapi kalau mencetak tubuh alias ketat —atau menggunakan bahan tekstil yang transparan— tetap belum dianggap busana muslimah yang sempurna.

Karena itu, kesalahpahaman semacam itu perlu diluruskan, agar kita dapat kembali kepada ajaran Islam secara murni serta bebas dari pengaruh lingkungan, pergaulan, atau adat-istiadat rusak di tengah masyarakat sekuler sekarang. Memang, jika kita konsisten dengan Islam, terkadang terasa amat berat. Misalnya saja memakai jilbab (dalam arti yang sesungguhnya). Di tengah maraknya berbagai mode busana wanita yang diiklankan trendi dan up to date, jilbab secara kontras jelas akan kelihatan ortodoks, kaku, dan kurang trendi (dan tentu, tidak seksi). Padahal, busana jilbab itulah pakaian yang benar bagi muslimah.

Di sinilah kaum muslimah diuji. Diuji imannya, diuji taqwanya. Di sini dia harus memilih, apakah dia akan tetap teguh mentaati ketentuan Allah dan Rasul-Nya, seraya menanggung perasaan berat hati namun berada dalam keridhaan Allah, atau rela terseret oleh bujukan hawa nafsu atau rayuan syaitan terlaknat untuk mengenakan mode-mode liar yang dipropagandakan kaum kafir dengan tujuan agar kaum muslimah terjerumus ke dalam limbah dosa dan kesesatan.

Berkaitan dengan itu, Nabi Saw pernah bersabda bahwa akan tiba suatu masa di mana Islam akan menjadi sesuatu yang asing —termasuk busana jilbab— sebagaimana awal kedatangan Islam. Dalam keadaan seperti itu, kita tidak boleh larut. Harus tetap bersabar, dan memegang Islam dengan teguh, walaupun berat seperti memegang bara api. Dan insyaAllah, dalam kondisi yang rusak dan bejat seperti ini, mereka yang tetap taat akan mendapat pahala yang berlipat ganda. Bahkan dengan pahala lima puluh kali lipat daripada pahala para shahabat. Sabda Nabi Saw:

Islam bermula dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” [HR. Muslim no. 145].

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata, “Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah Saw menjawab, “Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).” [HR. Abu Dawud, dengan sanad hasan].


2. Aurat Dan Busana Muslimah

Ada 3 (tiga) masalah yang sering dicampuradukkan yang sebenarnya merupakan masalah-masalah yang berbeda-beda.

Pertama, masalah batasan aurat bagi wanita.

Kedua, busana muslimah dalam kehidupan khusus (al hayah al khashshash), yaitu tempat-tempat di mana wanita hidup bersama mahram atau sesama wanita, seperti rumah-rumah pribadi, atau tempat kost.

Ketiga, busana muslimah dalam kehidupan umum (al hayah ‘ammah), yaitu tempat-tempat di mana wanita berinteraksi dengan anggota masyarakat lain secara umum, seperti di jalan-jalan, sekolah, pasar, kampus, dan sebagainya. Busana wanita muslimah dalam kehidupan umum ini terdiri dari jilbab dan khimar.

a. Batasan Aurat Wanita

Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Lehernya adalah aurat, rambutnya juga aurat bagi orang yang bukan mahram, meskipun cuma selembar. Seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutup. Hal ini berlandaskan firman Allah SWT:

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. an-Nuur [24]: 31).

Yang dimaksud “wa laa yubdiina ziinatahunna” (janganlah mereka menampakkan perhiasannya), adalah “wa laa yubdiina mahalla ziinatahinna” (janganlah mereka menampakkan tempat-tempat (anggota tubuh) yang di situ dikenakan perhiasan) (Lihat Abu Bakar Al-Jashshash, Ahkamul Qur’an, juz III, hal. 316).

Selanjutnya, “illa maa zhahara minha” (kecuali yang (biasa) nampak dari padanya). Jadi ada anggota tubuh yang boleh ditampakkan. Anggota tubuh tersebut, adalah wajah dan dua telapak tangan. Demikianlah pendapat sebagian shahabat, seperti ‘Aisyah, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar (Al-Albani, 2001 : 66). Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 310 H) berkata dalam kitab tafsirnya Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, juz XVIII, hal. 84, mengenai apa yang dimaksud dengan “kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (illaa maa zhahara minha): “Pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah yang mengatakan, ‘Yang dimaksudkan adalah wajah dan dua telapak tangan’.” Pendapat yang sama juga dinyatakan Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, juz XII, hal. 229 (Al-Albani, 2001 : 50 & 57).

Jadi, yang dimaksud dengan apa yang nampak dari padanya adalah wajah dan dua telapak tangan. Sebab kedua anggota tubuh inilah yang biasa nampak dari kalangan muslimah di hadapan Nabi Saw sedangkan beliau mendiamkannya. Kedua anggota tubuh ini pula yang nampak dalam ibadah-ibadah seperti haji dan shalat. Kedua anggota tubuh ini biasa terlihat di masa Rasulullah Saw, yaitu di masa masih turunnya ayat al-Qur’an (An-Nabhani, 1990 : 45). Di samping itu terdapat alasan lain yang menunjukkan bahwasanya seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan dua telapak tangan karena sabda Rasulullah Saw kepada Asma’ binti Abu Bakar:

“Wahai Asma’ sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud].

Inilah dalil-dalil yang menunjukkan dengan jelas bahwasanya seluruh tubuh wanita itu adalah aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Maka diwajibkan atas wanita untuk menutupi auratnya, yaitu menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya.

b. Busana Muslimah Dalam Kehidupan Khusus

Adapun dengan apa seorang muslimah menutupi aurat tersebut, maka di sini syara’ tidak menentukan bentuk/model pakaian tertentu untuk menutupi aurat, akan tetapi membiarkan secara mutlak tanpa menentukannya dan cukup dengan mencantumkan lafadz dalam firman-Nya (Qs. an-Nuur [24]: 31) “wa laa yubdiina” (Dan janganlah mereka menampakkan) atau sabda Nabi Saw “lam yashluh an yura minha” (tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya) [HR. Abu Dawud]. Jadi, pakaian yang menutupi seluruh auratnya kecuali wajah dan telapak tangan dianggap sudah menutupi, walau bagaimana pun bentuknya. Dengan mengenakan daster atau kain yang panjang juga dapat menutupi, begitu pula celana panjang, rok, dan kaos juga dapat menutupinya. Sebab bentuk dan jenis pakaian tidak ditentukan oleh syara’.

Berdasarkan hal ini maka setiap bentuk dan jenis pakaian yang dapat menutupi aurat, yaitu yang tidak menampakkan aurat dianggap sebagai penutup bagi aurat secara syar’i, tanpa melihat lagi bentuk, jenis, maupun macamnya.

Namun demikian syara’ telah mensyaratkan dalam berpakaian agar pakaian yang dikenakan dapat menutupi kulit. Jadi pakaian harus dapat menutupi kulit sehingga warna kulitnya tidak diketahui. Jika tidak demikian, maka dianggap tidak menutupi aurat. Oleh karena itu apabila kain penutup itu tipis/transparan sehingga nampak warna kulitnya dan dapat diketahui apakah kulitnya berwarna merah atau coklat, maka kain penutup seperti ini tidak boleh dijadikan penutup aurat.

Mengenai dalil bahwasanya syara’ telah mewajibkan menutupi kulit sehingga tidak diketahui warnanya, adalah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwasanya Asma’ binti Abubakar telah masuk ke ruangan Nabi Saw dengan berpakaian tipis/transparan, lalu Rasulullah Saw berpaling seraya bersabda:

“Wahai Asma` sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) tidak boleh baginya untuk menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini.” [HR. Abu Dawud].

Jadi Rasulullah Saw menganggap kain yang tipis itu tidak menutupi aurat, malah dianggap menyingkapkan aurat. Oleh karena itu lalu Nabi Saw berpaling seraya memerintahkannya menutupi auratnya, yaitu mengenakan pakaian yang dapat menutupi.

Dalil lainnya juga terdapat dalam hadits riwayat Usamah bin Zaid, bahwasanya ia ditanyai oleh Nabi Saw tentang Qibtiyah (baju tipis) yang telah diberikan Nabi Saw kepada Usamah. Lalu dijawab oleh Usamah bahwasanya ia telah memberikan pakaian itu kepada isterinya, maka Rasulullah Saw bersabda kepadanya:

“Suruhlah isterimu mengenakan baju dalam di balik kain Qibtiyah itu, karena sesungguhnya aku khawatir kalau-kalau nampak lekuk tubuhnya.” [HR. Ahmad dan Al-Baihaqi, dengan sanad hasan. Dikeluarkan oleh Adh-Dhiya’ dalam kitab Al-Ahadits Al-Mukhtarah, juz I, hal. 441] (Al-Albani, 2001 : 135).

Qibtiyah adalah sehelai kain tipis. Oleh karena itu tatkala Rasulullah Saw mengetahui bahwasanya Usamah memberikannya kepada isterinya, beliau memerintahkan agar dipakai di bagian dalam kain supaya tidak kelihatan warna kulitnya dilihat dari balik kain tipis itu, sehingga beliau bersabda: “Suruhlah isterimu mengenakan baju dalam di balik kain Qibtiyah itu.”

Dengan demikian kedua hadits ini merupakan petunjuk yang sangat jelas bahwasanya syara’ telah mensyaratkan apa yang harus ditutup, yaitu kain yang dapat menutupi kulit. Atas dasar inilah maka diwajibkan bagi wanita untuk menutupi auratnya dengan pakaian yang tidak tipis sedemikian sehingga tidak tergambar apa yang ada di baliknya.

c. Busana Muslimah Dalam Kehidupan Umum

Pembahasan poin b di atas adalah topik mengenai penutupan aurat wanita dalam kehidupan khusus. Topik ini tidak dapat dicampuradukkan dengan pakaian wanita dalam kehidupan umum, dan tidak dapat pula dicampuradukkan dengan masalah tabarruj pada sebagian pakaian-pakaian wanita.

Jadi, jika seorang wanita telah mengenakan pakaian yang menutupi aurat, tidak berarti lantas dia dibolehkan mengenakan pakaian itu dalam kehidupan umum, seperti di jalanan umum, atau di sekolah, pasar, kampus, kantor, dan sebagainya. Mengapa? Sebab untuk kehidupan umum terdapat pakaian tertentu yang telah ditetapkan oleh syara’. Jadi dalam kehidupan umum tidaklah cukup hanya dengan menutupi aurat, seperti misalnya celana panjang, atau baju potongan, yang sebenarnya tidak boleh dikenakan di jalanan umum meskipun dengan mengenakan itu sudah dapat menutupi aurat.

Seorang wanita yang mengenakan celana panjang atau baju potongan memang dapat menutupi aurat. Namun tidak berarti kemudian pakaian itu boleh dipakai di hadapan laki-laki yang bukan mahram, karena dengan pakaian itu ia telah menampakkan keindahan tubuhnya (tabarruj). Tabarruj adalah, menempakkan perhiasan dan keindahan tubuh bagi laki-laki asing/non-mahram (izh-haruz ziinah wal mahasin lil ajaanib) (An-Nabhani, 1990 : 104). Oleh karena itu walaupun ia telah menutupi auratnya, akan tetapi ia telah bertabarruj, sedangkan tabarruj dilarang oleh syara’.

Pakaian wanita dalam kehidupan umum ada 2 (dua), yaitu baju bawah (libas asfal) yang disebut dengan jilbab, dan baju atas (libas a’la) yaitu khimar (kerudung). Dengan dua pakaian inilah seorang wanita boleh berada dalam kehidupan umum, seperti di kampus, supermarket, jalanan umum, kebun binatang, atau di pasar-pasar.

Apakah pengertian jilbab? Dalam kitab Al Mu’jam Al Wasith karya Dr. Ibrahim Anis (Kairo : Darul Maarif) halaman 128, jilbab diartikan sebagai “Ats tsaubul musytamil ‘alal jasadi kullihi” (pakaian yang menutupi seluruh tubuh), atau “Ma yulbasu fauqa ats tsiyab kal milhafah” (pakaian luar yang dikenakan di atas pakaian rumah, seperti milhafah (baju terusan), atau “Al Mula`ah tasytamilu biha al mar’ah” (pakaian luar yang digunakan untuk menutupi seluruh tubuh wanita).

Jadi jelaslah, bahwa yang diwajibkan atas wanita adalah mengenakan kain terusan (dari kepala sampai bawah) (Arab: milhafah/mula`ah) yang dikenakan sebagai pakaian luar (di bawahnya masih ada pakaian rumah, seperti daster, tidak langsung pakaian dalam) lalu diulurkan ke bawah hingga menutupi kedua kakinya.

Untuk baju atas, disyariatkan khimar, yaitu kerudung atau apa saja yang serupa dengannya yang berfungsi menutupi seluruh kepala, leher, dan lubang baju di dada. Pakaian jenis ini harus dikenakan jika hendak keluar menuju pasar-pasar atau berjalan melalui jalanan umum (An-Nabhani, 1990 : 48).

Apabila ia telah mengenakan kedua jenis pakaian ini (jilbab dan khimar) dibolehkan baginya keluar dari rumahnya menuju pasar atau berjalan melalui jalanan umum, yaitu menuju kehidupan umum. Akan tetapi jika ia tidak mengenakan kedua jenis pakaian ini maka dia tidak boleh keluar dalam keadaan apa pun, sebab perintah yang menyangkut kedua jenis pakaian ini datang dalam bentuk yang umum, dan tetap dalam keumumannya dalam seluruh keadaan, karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya.

Dalil mengenai wajibnya mengenakan dua jenis pakaian ini, karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bagian atas (khimar/kerudung):

“Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. an-Nuur [24]: 31).

Dan karena firman Allah SWT mengenai pakaian bagian bawah (jilbab):

“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.” (Qs. al-Ahzab [33]: 59).

Adapun dalil bahwa jilbab merupakan pakaian dalam kehidupan umum, adalah hadits yang diriwayatkan dari Ummu ‘Athiah r.a., bahwa dia berkata:

“Rasulullah Saw memerintahkan kaum wanita agar keluar rumah menuju shalat Ied, maka Ummu ‘Athiyah berkata, ‘Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?’ Maka Rasulullah Saw menjawab: 'Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya!’” [Muttafaqun ‘alaihi] (Al-Albani, 2001 : 82).

Berkaitan dengan hadits Ummu ‘Athiyah ini, Syaikh Anwar Al-Kasymiri, dalam kitabnya Faidhul Bari, juz I, hal. 388, mengatakan: “Dapatlah dimengerti dari hadits ini, bahwa jilbab itu dituntut manakala seorang wanita keluar rumah, dan ia tidak boleh keluar (rumah) jika tidak mengenakan jilbab.” (Al-Albani, 2001 : 93).

Dalil-dalil di atas tadi menjelaskan adanya suatu petunjuk mengenai pakaian wanita dalam kehidupan umum. Allah SWT telah menyebutkan sifat pakaian ini dalam dua ayat di atas yang telah diwajibkan atas wanita agar dikenakan dalam kehidupan umum dengan perincian yang lengkap dan menyeluruh. Kewajiban ini dipertegas lagi dalam hadits dari Ummu ‘Athiah r.a. di atas, yakni kalau seorang wanita tak punya jilbab —untuk keluar di lapangan sholat Ied (kehidupan umum)— maka dia harus meminjam kepada saudaranya (sesama muslim). Kalau tidak wajib, niscaya Nabi Saw tidak akan memerintahkan wanita mencari pinjaman jilbab.

Untuk jilbab, disyaratkan tidak boleh potongan, tetapi harus terulur sampai ke bawah sampai menutup kedua kaki, sebab Allah SWT mengatakan: “yudniina ‘alaihinna min jalabibihinna” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka).

Dalam ayat tersebut terdapat kata “yudniina” yang artinya adalah yurkhiina ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). Penafsiran ini —yaitu idnaa’ berarti irkhaa’ ila asfal— diperkuat dengan dengan hadits Ibnu Umar bahwa dia berkata, Rasulullah Saw telah bersabda:

“Barang siapa yang melabuhkan/menghela bajunya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada Hari Kiamat nanti.’ Lalu Ummu Salamah berkata,’Lalu apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung-ujung pakaian mereka (bi dzuyulihinna).” Nabi Saw menjawab,’Hendaklah mereka mengulurkannya (yurkhiina) sejengkal (syibran)’ (yakni dari separoh betis). Ummu Salamah menjawab, ‘Kalau begitu, kaki-kaki mereka akan tersingkap.’ Lalu Nabi menjawab, ‘Hendaklah mereka mengulurkannya sehasta (fa yurkhiina dzira`an) dan jangan mereka menambah lagi dari itu.” [HR. At-Tirmidzi, juz III, hal. 47; hadits sahih] (Al-Albani, 2001 : 89).

Hadits di atas dengan jelas menunjukkan bahwa pada masa Nabi Saw, pakaian luar yang dikenakan wanita di atas pakaian rumah —yaitu jilbab— telah diulurkan sampai ke bawah hingga menutupi kedua kaki.

Berarti jilbab adalah terusan, bukan potongan. Sebab kalau potongan, tidak bisa terulur sampai bawah. Atau dengan kata lain, dengan pakaian potongan seorang wanita muslimah dianggap belum melaksanakan perintah “[/i]yudniina ‘alaihinna min jalaabibihina[/i]” (Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbabnya). Di samping itu kata min dalam ayat tersebut bukan min lit tab’idh (yang menunjukkan arti sebagian) tapi merupakan min lil bayan (menunjukkan penjelasan jenis). Jadi artinya bukanlah “Hendaklah mereka mengulurkan sebagian jilbab-jilbab mereka” (sehingga boleh potongan), melainkan Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka (sehingga jilbab harus terusan) (An-Nabhani, 1990 : 45-51).


3. Penutup

Dari penjelasan di atas jelas bahwa wanita dalam kehidupan umum wajib mengenakan baju terusan yang longgar yang terulur sampai ke bawah yang dikenakan di atas baju rumah mereka. Itulah yang disebut dengan jilbab dalam al-Qur’an.

Jika seorang wanita muslimah keluar rumah tanpa mengenakan jilbab seperti itu, dia telah berdosa, meskipun dia sudah menutup auratnya. Sebab mengenakan baju yang longgar yang terulur sampai bawah adalah fardlu hukumnya. Dan setiap pelanggaran terhadap yang fardlu dengan sendirinya adalah suatu penyimpangan dari syariat Islam di mana pelakunya dipandang berdosa di sisi Allah. [M. Shiddiq al-Jawi]


Daftar Bacaan

1. Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. 2001. Jilbab Wanita Muslimah Menurut Al-Qur`an dan As Sunnah (Jilbab Al-Mar`ah Al-Muslimah fi Al-Kitab wa As-Sunnah). Alih Bahasa Hawin Murtadlo & Abu Sayyid Sayyaf. Cetakan ke-6. (Solo : At-Tibyan).

2. ----------. 2002. Ar-Radd Al-Mufhim Hukum Cadar (Ar-Radd Al-Mufhim ‘Ala Man Khalafa Al-‘Ulama wa Tasyaddada wa Ta’ashshaba wa Alzama Al-Mar`ah bi Satri Wajhiha wa Kaffayha wa Awjaba). Alih Bahasa Abu Shafiya. Cetakan ke-1. (Yogyakarta : Media Hidayah).

3. Al-Baghdadi, Abdurrahman. 1998. Emansipasi Adakah dalam Islam Suatu Tinjauan Syariat Islam Tentang Kehidupan Wanita. Cetakan ke-10. (Jakarta : Gema Insani Press).

4. Ali, Wan Muhammad bin Muhammad. Al-Hijab. Alih bahasa Supriyanto Abdullah. Cetakan ke-1. (Yogyakarta : Ash-Shaff).

5. Ambarwati, K.R. & M. Al-Khaththath. 2003. Jilbab Antara Trend dan Kewajiban. Cetakan Ke-1. (Jakarta : Wahyu Press).

6. Anis, Ibrahim et.al. 1972. Al-Mu’jamul Wasith. Cet. 2. (Kairo : Darul Ma’arif)

7. An-Nabhani, Taqiyuddin. 1990. An-Nizham Al-Ijtima’i fi Al-Islam. Cetakan ke-3. (Beirut : Darul Ummah).

8. Ath-Thayyibiy, Achmad Junaidi. 2003. Tata Kehidupan Wanita dalam Syariat Islam. Cetakan ke-1. (Jakarta : Wahyu Press).

9. Bin Baz, Syaikh Abdul Aziz et.al. 2000. Fatwa-Fatwa Tentang Memandang, Berkhalwat, dan Berbaurnya Pria dan Wanita (Fatawa An-Nazhar wa al-Khalwah wa Al-Ikhtilath). Alih Bahasa Team At-Tibyan. Cetakan ke-5. (Solo : At-Tibyan).

10. Taimiyyah, Ibnu. 2000. Hijab dan Pakaian Wanita Muslimah dalam Sholat (Hijab Al-Mar`ah wa Libasuha fi Ash-Shalah). Ditahqiq Oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Alih Bahasa Hawin Murtadlo. Cetakan ke-2. (Solo : At-Tibyan).

11. ---------- et. al. 2002. 5 Risalah Hijab Kumpulan Fatwa-Fatwa Tentang Pakaian, Hijab, Cadar, Ikhtilath, Berjabat Tangan, dan Khalwat (Majmu’ Rasail fi Al Hijab wa As-Sufur). Alih Bahasa Muzaidi Hasbullah. Cetakan ke-1. (Solo : Pustaka Arafah).

12. Qonita, Arina. 2001. Jilbab dan Hijab. Cetakan ke-1. (Jakarta : Bina Mitra Press).
User avatar
fikrul mustanir
Ahli Emeritus
Ahli Emeritus
 
Posts: 2495
Joined: Wed Aug 13, 2003 5:53 pm
Location: The Future Daulah Khilafah

Postby dania_natasya on Fri Dec 24, 2004 5:35 pm

terima kasih...
mmm..jadi maksudnya di sini...
pemakaian baju kurung yang longgar pun sebenarnya
tak dibolehkan di tempat umum...
eeekk....?? :-?
ISLAM IS THE WAY OF LIFE
dania_natasya
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 157
Joined: Mon May 24, 2004 1:20 pm

Postby fikrul mustanir on Fri Dec 24, 2004 5:45 pm

Bergitula kekiranya....menurut hukum yang kami tabbani berdasarkan pendapat yang lebih kuat. :D
User avatar
fikrul mustanir
Ahli Emeritus
Ahli Emeritus
 
Posts: 2495
Joined: Wed Aug 13, 2003 5:53 pm
Location: The Future Daulah Khilafah

Postby KulopAtoi on Fri Dec 24, 2004 6:33 pm

Assalamualaikum :)

Syukran kepada brader fikrul diatas sumbangan dan kesediaan saling bantu membantu sesama Muslim.

Semuga Allah terus membantu kita..

Saya nak tambah beberapa penulisan berhubung dengan Aurat.. semuga ianya mempertingkatkan kefahaman kita dan bakal menjadi perangsang untuk menambah amalan kita :)

AURAT DALAM ISLAM

PENGERTIAN AURAT

Aurat diambil dari perkataan Arab 'Aurah' yang bererti keaiban. Manakala dalam istilah fekah pula aurat diertikan sebagai bahagian tubuh badan seseorang yang wajib ditutup atau dilindungi dari pandangan.

Di dalam Islam terdapat beberapa keadaan di mana masyarakat Islam dibenarkan membuka aurat dan ia hanya pada orang-orang tertentu.

PERINTAH MENUTUP AURAT

Perintah menutup aurat telah difirmankan oleh Allah S.W.T dalam Surah Al-Ahzab ayat 33;

"Dan hendaklah kamu tetap diam di rumah kamu serta janganlah kamu mendedahkan diri seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah zaman dahulu; dan dirikanlah sembayang serta berikanlah zakat; dan taatilah kamu kepada Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah (perintahkan kamu dengan semuanya itu) hanyalah kerana hendak menghapuskan perkara-perkara yang mencemarkan diri kamu-wahai "ahlul bait", dan hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya (dari segala perkara yang keji)."

Dari penerangan ayat di atas, jelaslah kepada kita bahawa hukum menutup aurat adalah wajib sebagaimana wajibnya perintah mengerjakan sembahyang, berzakat dan perintah-perintah yang lainnya.

Dengan menutup aurat, wanita Islam mudah dikenal dan dapat mengelak dari diganggu oleh mereka yang ingin mengambil kesempatan.

Wanita yang menutup aurat akan mudah dikenali. Jika sekiranya mereka membuka aurat dengan sewenang-wenangnya, maka dengan secara tidak langsung mereka cuba merangsang lelaki untuk mengganggunya. Maka berlakulah perkara-perkara sumbang, dengan itu juga akan timbulah berbagai-bagai fitnah dari masyarakat tentang diri mereka.

Dalam hal ini Allah S.W.T. telah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 59:

"Wahai Nabi, suruhlah isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan yang beriman, supaya melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar); cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu. Dan (ingatlah) Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani. "

Islam telah menggariskan batasan aurat pada lelaki dan wanita. Aurat asas pada lelaki adalah menutup antara pusat dan lutut. Manakala aurat wanita pula adalah menutup seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan.

Aurat lelaki pada bila-bila masa dan apabila bersama-sama sesiapa pun adalah sama iaitu antara pusat dan lutut.

Tetapi bagi wanita terdapat perbezaan dalam beberapa keadaan antaranya:


1. Aurat Ketika Sembahyang

Aurat wanita ketika sembahyang adalah menutup seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan.

2. Aurat Ketika Sendirian

Aurat wanita ketika mereka bersendirian adalah bahagian anggota pusat dan lutut. Ini bererti bahagian tubuh yang tidak boleh dilihat adalah antara pusat dan lutut.

3. Aurat Ketika Bersama Mahram

Pada asasnya aurat seseorang wanita dengan mahramnya adalah pusat dan lutut. Walau pun bagitu wanita dituntut agar menutup mana-mana bahagian tubuh badan yang boleh menaikan syahwat lelaki walaupun mahram sendiri.

Perkara ini dilakukan bagi menjaga adab dan tata susila wanita terutama dalam menjaga kehormatan agar perkara-perkara sumbang dan tidak diingini tidak akan berlaku.

Oleh itu, pakaian yang labuh dan menutup tubuh badan digalakkan walaupun semasa bersama mahram adalah pakaian yang lengkap dan labuh.

Syarak telah menggariskan golongan yang dianggap sebagai mahram kepada seseorang wanita iaitu:

1. Suami
2. Ayah, termasuk datuk belah ibu dan bapa.
3. Ayah mertua
4. Anak-anak lelaki termasuk cucu samada dari anak lelaki atau perempuan
5. Anak-anak suami.

Dalam perkara ini Islam mengharuskan isteri bergaul dengan anak suami kerana wanita tersebut telah dianggap dan berperanan sebagai ibu kepada anak-anak suaminya.

6. Saudara lelaki kandung atau seibu atau sebapa.

7. Anak saudara lelaki kerana mereka ini tidak boleh dinikahi selama-lamanya.

8. Anak saudara dari saudara perempuan.

9. Sesama wanita samada ada kaitan keturunan atau yang seagama.

10. Hambanya Sahaya.

11. Pelayan yang tidak ada nafsu syahwat.

12. Anak-anak kecil yang belum mempunyai syahwat terhadap wanita.

Walau pun begitu, bagi kanak-kanak yang mempunyai syahwat tetapi belum baligh, wanita dilarang menampakkan aurat terhadap mereka.

Al-Quraan dengan jelas menerangkan perkara ini dalam surah An-Nur ayat 31;

Dan katakanlah kepada perempuan -perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan ;janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya, dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau anak-anak mereka, atau bapa mertua mereka, atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya. "

Imam Syafie berpendapat; perhiasan yang dimaksudkan yang dimaksudkan dalam ayat di atas terbahagi kepada dua makna iaitu:

1. Perhiasan yang bersifat semula jadi seperti muka, pipi mulut, mata, bibir, hidung, kaki, betis, peha dan lain-lain anggota.

2. Perhiasan seperti pakaian, alat-alat solek, cincin, rantai leher, gelang kaki dan sebagainya.

Oleh itu, umat Islam digalakkan mengawal diri agar tidak melanggar batasan-batasan yang telah digariskan oleh Islam terutamanya dalam soal perhiasan dan berpakaian.

4. Aurat Ketika Di Hadapan Lelaki Bukan Mahram

Kewajipan menutup aurat di hadapan lelaki bukan mahram adalah amat penting dan perlu dilaksanakan oleh setiap wanita, bagi mengelak daripada berlaku perkara yang tidak diingini seperti rogol dan sebagainya. Perkara ini terjadi disebabkan memuncaknya nafsu para lelaki akibat dari penglihatan terhadap wanita memakai pakaian yang tidak senonoh dan mendedahkan sebahagian tubuh badan mereka.

Wanita yang bersuami pula, dengan terlaksanakan kewajipan ini, akan dapat membantu suami, yang mana dosa seorang isteri yang membuka aurat akan ditanggung oleh suami. Oleh itu, wanita-wanita perlulah memahami batas-batas aurat ketika berhadapan dengan orang-orang yang tertentu dalam keadaan yang berbeza-beza.

5. Aurat Ketika Di Hadapan Wanita Kafir

Aurat wanita apabila berhadapan atau bergaul dengan wanita bukan Islam adalah tutup keseluruhan tubuh badan kecuali muka dan tapak tangan.

Rasulullah SAW. bersabda dalam sebuah hadis yang bermaksud: Abdullah bin Abbas ada menyatakan, Rasulullah SAW. pernah bersabda yang maksudnya:

"Tidak halal kaum wanita Islam itu dilihat oleh kaum Yahudi dan Nasrani".

6. Aurat ketika Bersama Suami

Apabila seorang isteri bersama-sama dengan suaminya di tempat yang terlindung dari pandangan orang lain, maka Islam telah memberi kelongaran dengan tiada membataskan aurat pada suaminya.

Ini bererti suami dan isteri tiada sebarang batasan aurat terhadap mereka berdua. Isteri boleh mendedahkan seluruh anggota badannnya bila berhadapan dengan suaminya.

Mu'awiyah bin Haidah mengatakan: "Aku pernah bertanya: Ya Rasulullah, bagaimanakah aurat kami, apakah boleh dilihat oleh orang lain?” Baginda menjawab: "Jagalah auratmu kecuali terhadap isterimu atau terhadap hamba abdi milikmu". Aku bertanya lagi: "Ya Rasulullah, bagaimanakah kalau ramai orang mandi bercampur-baur di satu tempat?" Baginda menjawab: "Berusahalah seboleh mungkin agar engkau tidak boleh melihat aurat orang lain dan ia pun tidak boleh melihat auratmu". Aku masih bertanya lagi: "Ya Rasullullah, bagaimanakah kalau orang mandi sendirian?" Baginda menjawab: "Seharuslah ia lebih malu kepada Allah daripada malu kepada orang lain".

(Hadis riwayat Iman Ahmad dan Abu Dawud)
KulopAtoi
K. Pengendali
K. Pengendali
 
Posts: 1848
Joined: Sat Feb 24, 2001 8:00 am
Location: Ujung Sana

Postby KulopAtoi on Fri Dec 24, 2004 6:47 pm

Dari Fiqh Dan Perundangan Islam

BATAS AURAT

Semua imam mazhab mensyaratkan menutup aurat supaya sembahyang menjadi sah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini. Tetapi para fuqahak' mempunyai pendapat berbeza dalam menetapkan batas aurat bagi orang lelaki, hamba perempuan dan juga orang perempuan biasa (bukan hamba). Pendapat mereka secara terperinci adalah seperti berikut:

MAZHAB HANAFI

Aurat orang lelaki ialah di bawah pusat hingga di bawah lutut. Maka lutut adalah aurat menurut pendapat yang asah berdasarkan Hadith berikut:

Aurat orang lelaki ialah apa yang terdapat antara pusat dengan lututnya. Hadith Nabi

Berdasarkan sebuah Hadith da'if menurut pendapat al-Daruqutni:

Lutut adalah sebahagian daripada aurat.

Dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya... .

(Sarah al-Nar 24:31)

Aurat hamba perempuan sama dengan aurat orang lelaki. Tetapi ditambah belakang, perut dan sisinya. Ini berdasarkan perkataan Umar r.a. yang bermaksud:

"Buangkanlah kain tudung kepala wahai hamba perempuan. Apakah kamu menyerupai wanita-wanita yang merdeka?"

Disebabkan dia (hamba perempuan) keluar dari rumah untuk keperluan tuannya dengan memakai pakaian kerjanya seperti biasa, maka dianggap sebagai muhrim (orang yang diharam kahwin) bagi orang lain untuk mengelakkan kerumitan.

Orang perempuan (selain hamba) dan khunsa (orang yang tidak tentu sifat jantinanya), menurut pendapat yang asah di kalangan ulama' Hanafi, aurat mereka ialah seluruh anggota tubuh sehingga rambutnya yang berjuntai, kecuali muka, kedua-dua tapak tangan dan kedua-dua kakinya (pergelangan hingga hujung jari), baik di sebelah luar mahupun sebelah tapak menurut pendapat yang muktamad kerana darurat.

Menurut pendapat yang rajih, suara bukanlah aurat. Menurut pendapat yang azhar, sebelah luar tapak tangan adalah aurat. Tetapi menurut pendapat yang asah, tapak tangan dan sebelah luarnya bukan aurat.

Menurut pendapat yang muktamad, kedua-dua kaki bukan aurat semasa sembahyang. Tetapi menurut pendapat yang sahih, kedua-duanya adalah aurat dari segi penglihatan dan penyentuhan. Ini berdasarkan firman Allah S.W.T.:

Tempat perhiasan yang zahir ialah muka dan dua tapak tangan, sebagaimana perkataan Ibn Abbas dan Ibn Umar, dan sabda Rasulullah s.a.w.:

Orang perempuan itu aurat, apabila ia keluar, maka syaitan memandang kepadanya.228

Dan Hadith riwayat `Aisyah yang telah disebut sebelum ini:

Wahai Asma', orang perempuan apabila meningkat umur haid (umur baligh), tidak boleh dilihat padanya kecuali ini dan ini.

Baginda menunjukkan kepada mukanya dan kedua-dua tapak tangannya.229

Begitu juga Hadith yang diriwayatkan oleh `Aisyah yang telah disebutkan sebelum ini:

Allah S.W.T. tidak menerima sembahyang orang perempuan yang sudah datang haid (baligh) tanpa tudung kepala.

Ditegah perempuan remaja daripada memperlihatkan mukanya di kalangan orang lelaki. Tegahan itu bukan kerana muka itu sebagai aurat, tetapi untuk mengelak timbulnya fitnah atau nafsu syahwat. Tujuan tegahan memperlihatkan mukanya adalah kerana dibimbangkan orang lelaki akan melihat mukanya yang boleh mengakibatkan timbul fitnah. Ini kerana dengan memperlihatkan muka membolehkan orang lelaki memandangnya dengan keinginan syahwat.

Tidak harus melihat muka orang perempuan dan pemuda yang belum tumbuh misai dan janggut (yang masih terlalu muda) dengan nafsu syahwat, kecuali kerana keperluan, seperti kadi, saksi atau pembuktian terhadapnya dan orang yang ingin meminang boleh melihatnya sekalipun timbul nafsu syahwat, tetapi dengan niat beramal dengan Sunnah Nabi, bukan untuk memuaskan nafsu. Begitu juga ketika mengubati tempat yang sakit sekadar yang diperlukan.

Menurut pendapat yang muktamad di kalangan ulama' Hanafi, mendedahkan satu per empat bahagian anggota aurat (yang berat, mughallazah, iaitu kemaluan hadapan dan belakang dan sekelilingnya, ataupun aurat ringan (mukhaffafah), iaitu selain dua kemaluan tadi) dengan tidak sengaja selama kadar melakukan satu rukun sembahyang, maka terbatal sembahyang itu.

Ini disebabkan satu per empat bahagian sama hukumnya dengan seluruh bahagian, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini. Tetapi tidak terbatal sembahyang jika terdedah kurang daripada satu per empat.

Oleh itu, jika seseorang mendedahkan satu per empat daripada perut, paha, rambut yang berjuntai daripada kepala, kemaluan belakang, zakar, kedua-dua buah zakar atau kemaluan hadapan perempuan, maka terbatal sembahyangnya jika berlalu selama kadar melakukan satu rukun sembahyang, tetapi jikalau tidak berlalu selama kadar tersebut, maka tidak terbatal sembahyangnya itu.

MAZHAB MALIKI

Pendapat yang sepakat dalam mazhab ini mewajibkan menutup aurat daripada pandangan orang ramai.

Ketika bersembahyang, menurut pendapat yang sahih daripada mazhab ini, diwajibkan menutup perkara berikut:

Aurat orang lelaki ketika bersembahyang ialah aurat berat (mughallazah) sahaja, iaitu kemaluan hadapan, zakar berserta buah zakar dan kemaluan belakang yang terletak antara kedua-dua papan punggung. Oleh itu, diwajibkan mengulangi sembahyang dengan segera sekalipun terdedah kedua-dua papan punggung sahaja, ataupun terdedah ari-ari. Paha tidak dikira sebagai aurat pada pandangan mereka, hanya zakar dan buah zakar sahaja berdasarkan Hadith riwayat Anas:

Bahawa di dalam Peperangan Khaibar, Rasulullah s.a.w. telah terkoyak kain pada pahanya, sehingga aku temampak keputihan pahanya.

Aurat hamba perempuan ialah kedua-dua kemaluan dan papan punggung. Oleh itu, jika terdedah sesuatu daripadanya atau terdedah paha seluruhnya atau sebahagian daripadanya, maka hendaklah diulangi sembahyang dengan segera sebagaimana juga orang lelaki.

Waktu mengulangi sembahyang bagi sembahyang Zuhur dan Asar ialah semasa matahari kekuningan. Bagi sembahyang Maghrib dan Isya' pula ialah seluruh malam dan bagi sembahyang Subuh semasa naik matahari.

Aurat berat (mughallazah) orang perempuan (bukan hamba) ialah seluruh badan kecuali dada, tepi kepala, kedua-dua belah tangan dan kedua-dua belah kaki (dari pangkal paha hingga hujung jari) dan bahagian belakang yang bersetentang dengan dada sama hukumnya dengan dada.

Jika terdedah aurat ringan (mukhaffafah) daripada dada atau sebahagian daripadanya sekalipun belakang kakinya bukan perut kakinya, maka hendaklah diulangi sembahyang pada masa yang dikehendaki sebagaimana yang telah diterangkan sebelum ini, iaitu bagi waktu Zuhur dan Asar sewaktu kekuningan dan bagi waktu Maghrib dan Isya' sepanjang malam dan bagi waktu Subuh ialah naik matahari. Itu adalah daripada segi sembahyang.

Dari segi pandangan dan sembahyang, maka diwajibkan juga menutupnya. Tidak disyaratkan tutup aurat bagi orang lelaki dan hamba perempuan di luar sembahyang. Aurat orang perempuan (selain hamba) di hadapan orang perempuan Islam atau kafir ialah antara pusat dengan lutut.

Wajib menutup seluruh tubuh orang perempuan (selain hamba) ketika berada di hadapan lelaki asing (bukan muhrim) kecuali muka dan kedua-dua belah tapak tangan, kerana kedua duanya bukan aurat. Namun begitu diwajibkan juga menutup muka dan tapak tangan supaya tidak menimbulkan fitnah.

Orang lelaki tidak dibenarkan melihat dada orang perempuan muhrim dan seumpamanya, sekalipun sebab menjadi muhrim itu kerana persemendaan dan persusuan, kecuali muka dan bahagian-bahagian termasuk tengkuk, kepala dan belakang tapak kaki dan sekalipun penglihatan itu tidak menimbulkan keseronokan.

Hukum tersebut berbeza dengan hukum di sisi ulama' Syafi'i dan para ulama' lain yang membenarkan melihat seluruh tubuh kecuali antara pusat dan lutut. Kebenaran itu adalah sebagai kemudahan (fushah).

Daripada huraian itu, jelas bahawa aurat orang lelaki dan orang perempuan dalam sembahyang terdiri daripada aurat berat (mughallazah) dan aurat ringan (mukhaffafah).

Aurat berat bagi orang lelaki ialah kemaluan hadapan dan lubang dubur. Aurat ringan mereka ialah bahagian-bahagian selain kemaluan hadapan dan lubang dubur yang terdapat di antara pusat dan lutut.

Aurat berat bagi hamba perempuan ialah kedua-dua papan punggung dan yang terdapat di antara seperti lubang dubur, kemaluan hadapan dan yang di atas daripada ari-ari. Aurat ringan baginya ialah paha dan apa yang terdapat di atas ari-ari sehingga pusat. Aurat berat bagi orang perempuan (selain hamba) ialah seluruh tubuhnya kecuali kaki, tangan, dada dan bahagian belakang yang bersetentang dengan dada. Aurat ringan baginya ialah seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua-dua belah tapak tangannya.

Oleh itu, jika seseorang melakukan sembahyang dalam keadaan terdedah aurat berat, sedangkan ia tahu dan berdaya untuk menutupinya sekalipun dengan membeli atau meminjam, menurut pendapat yang rajih, maka terbatal sembahyangnya dan hendaklah diulangi menurut pendapat yang masyhur di kalangan ulama' Maliki.

Sebaliknya, seseorang yang melakukan sembahyang dalam keadaan terdedah aurat ringannya, maka tidak terbatal sembahyangnya sekalipun hukum membuka aurat ringan ialah makruh dan diharamkan melihat nya. Walaupun begitu, digalakkan orang yang melakukan sembahyang dalam keadaan terdedah aurat ringannya supaya mengulangi sembahyangnya itu dalam waktu darurat (bagi Zuhur dan Asar ialah waktu kekuningan, Maghrib dan Isya' pula ialah sepanjang malam dan Subuh waktu terbit matahari).

Diharamkan melihat aurat ketika terdedah, sekalipun tidak menimbulkan keseronokan. Tetapi melihatnya ketika tertutup hukumnya harus kecuali jika diintai dari sebelah atas penutupnya, maka hukumnya adalah tidak harus.

Aurat dinisbah dari segi pandangan bagi orang lelaki ialah apa yang terdapat antara pusat dengan lutut. Aurat orang perempuan ketika berada di hadapan orang lelaki asing ialah seluruh badannya kecuali muka dan kedua-dua belah tapak tangannya dan ketika berada di hadapan muhrimnya seluruh tubuhnya kecuali muka, kepala, tengkuk, kedua-dua belah tangan dan kedua-dua belah kaki. Tetapi jika dibimbangi menimbulkan keseronokan, maka haram mendedahkan perkara-perkara tadi. Pengharaman itu bukan kerana perkara tersebut menjadi aurat, tetapi kerana dibimbangi menimbulkan keseronokan. Orang perempuan dengan orang perempuan atau dengan muhrimnya sama seperti lelaki dengan lelaki, boleh dilihat selain yang terdapat antara pusat dengan lutut.

Bahagian yang boleh dilihat oleh orang perempuan pada orang lelaki asing adalah sama dengan hukum orang lelaki dengan muhrim-muhrimnya, iaitu boleh dilihat pada muka, kepala, kedua-dua belah tangan dan kedua-dua belah kaki.

MAZHAB SYAFI`I

Aurat orang lelaki ketika bersembahyang, tawaf dan ketika berada di hadapan orang lelaki asing dan orang perempuan yang muhrim ialah antara pusat dengan lututnya. Ini berdasarkan riwayat al Harith bin Abi Usamah daripada Abu Usamah daripada Abu Said al-Khudri r. a.:

Aurat orang MU'min ialah antara pusat dengan lututnya.

Dan riwayat al-Baihaqi:

Dan apabila salah seorang daripada kamu mengahwinkan hamba perempuannya dengan hamba lelakinya atau orang upahannya, maka janganlah hamba perempuan itu melihat auratnya.

Dan banyak Hadith yang diriwayatkan tentang penutupan paha sebagai aurat. Antaranya ialah Hadith:

Janganlah kamu mendedahkan pahamu dan janganlah kamu melihat paha orang hidup dan orang mati.'

Dan sabda Rasulullah s.a.w. kepada Jarhad al-Aslami:

Tutuplah pahamu, sesungguhnya paha itu aurat

Menurut pendapat yang sahih di kalangan ulama` Syafi’i, pusat dan lutut tidak dikira sebagai aurat. Ini berdasarkan Hadith riwayat Anas yang menceritakan Nabi Muhammad s.a.w. mendedahkan pahanya, sebagaimana yang diterangkan dalam Mazhab Maliki sebelum ini. Tetapi diwajibkan menutup sebahagian lutut supaya tertutup juga paha dan begitu juga sebahagian pusat supaya tertutup, juga bahagian di bawah pusat, kerana apabila tidak sempurna kewajipan kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu juga menjadi wajib sebagaimana yang telah dijelaskan oleh ulama' Syafi'i, Hanbali dan Maliki dalam Usul al-Fig h.236

Aurat lelaki ketika berada di hadapan perempuan asing (bukan muhrim) daripada segi penglihatan ialah seluruh tubuhnya, dan ketika keseorangan hanya dua kemaluan sahaja. Hujah ulama' Maliki yang bersandarkan kepada Hadith riwayat Anas dan 'Aisyah yang membuktikan bahawa paha bukan sebahagian daripada aurat ditolak dengan empat alasan:

Hadith tersebut menceritakan perbuatan, sedangkan hujung paha dibenar didedahkan khususnya ketika peperangan dan permusuhan dan Usul al-Filth menetapkan bahawa perkataan lebih kuat hujahannya daripada perbuatan.

Hadith yang diriwayatkan oleh Anas dan `Aisyah tidak dapat menguatkan penentangan terhadap perkataan-perkataan ulama' yang sahih lagi umum.

Hadith yang diriwayatkan oleh `Aisyah dalam Sahih Muslim adalah diragui. Hadith itu bermaksud:

"Bahawa Rasulullah s.a.w. berbaring di rumahku sedangkan kedua-dua paha atau betisnya terdedah."

Betis tidak dikira sebagai aurat menurut ijma` ulama', maka bahagian yang terdedah itu diragui apakah betis ataupun paha yang terdedah.

Pendedahan paha yang menjadi isu dalam peristiwa ini adalah khusus bagi Nabi Muhammad s.a.w. kerana tidak ada bukti yang menunjukkan Bahawa perbuatan itu menjadi ikutan. Oleh itu, wajib berpegang dengan perkataan-perkataan yang jelas menunjukkan Bahawa paha adalah sebahagian daripada aurat.

Aurat hamba perempuan sama seperti aurat orang lelaki menurut pendapat yang asah, kerana kepala dan tangan hamba perempuan dan orang lelaki dikira bukan aurat dan kerana kepala dan tangan adalah anggota yang terpaksa dibuka untuk digunakan.

Aurat orang perempuan (selain hamba) dan juga khunsa (orang yang tidak tentu jantinanya atau yang mempunyai kedua-dua organ jantina) ialah pada seluruh tubuhnya kecuali muka dan kedua-dua tapak tangan, sama ada belakang tapak tangan atau perut tapak tangan yang meliputi dari hujung jari hingga ke pergelangan tangan. Ini berdasarkan firman Allah S.W.T.:

Dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya... . Surah at-Nur 24:31

Ibn Abbas dan `Aisyah r.a. berkata bahawa yang dimaksudkan dengan yang zahir itu ialah muka dan kedua-dua tapak tangan kerana Nabi Muhammad s.a.w. melarang orang perempuan yang berihram (sama ada untuk mengerjakan haji atau umrah) daripada memakai sarung tangan dan penutup muka.

Jika muka dikira sebagai aurat, nescaya tidak diharamkan menutupnya semasa berihram. Kerana terpaksa dibuka muka untuk keperluan berjual beli dan membuka tapak tangan untuk keperluan mengambil dan memberi sesuatu, maka ia tidak dikira sebagai aurat.

Jika terdedah sebahagian daripada aurat ketika bersembahyang sedangkan berupaya menutup kedua-duanya, maka terbatal sembahyang itu, kecuali jika terdedah disebabkan oleh tiupan angin atau kerana terlupa dan ditutup dengan segera, maka tidak terbatal sembahyang itu sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini. Jika terdedah aurat bukan kerana tiupan angin atau dengan sebab binatang atau kanak-kanak yang belum mumaiyiz, maka terbatal sembahyang itu.

Orang lelaki tidak wajib menutup auratnya daripada pandangannya sendiri, tetapi makruh melihat auratnya.

Aurat orang perempuan, (selain hamba) semasa di luar sembahyang dan di hadapan orang lelaki asing (bukan muhrim) ialah seluruh badannya dan semasa di hadapan orang perempuan kafir juga seluruh badannya kecuali anggota yang terpaksa dibuka untuk keperluan pekerjaan dan menunaikan hajat. Adapun semasa di hadapan orang perempuan Islam dan orang lelaki muhrim, auratnya ialah antara pusat dengan lututnya.

Dalil seluruh utama' tentang kewajipan menutup aurat dan tegahan terhadap orang lelaki daripada melihat aurat lelaki lain, dan tegahan terhadap orang perempuan daripada melihat aurat orang perempuan lain ialah

Hadith riwayat Abu Sa'id al-Khudri:

Orang lelaki tidak boleh memandang aurat orang lelaki lain dan orang perempuan tidak boleh memandang aurat orang perempuan lain, dan orang lelaki tidak boleh tidur bersama-sama orang lelaki lain dalam satu pakaian dan orang perempuan tidak boleh tidur bersama sama orang perempuan lain dalam satu pakaian.

Hadith riwayat Bahzu bin Hakim daripada ayahnya daripada datuknya yang bermaksud: "Aku berkata,

`Wahai Rasulullah s. a.w., aurat apakah boleh kita dedahkannya dan apakah ditegah?'

Sabdanya,

`Pelihara olehmu aurat kamu melainkan daripada isterimu atau hamba milikmu.'

Kataku,

`Sekiranya orang ramai?'

Sabdanya,

'Jika terdaya mengelak daripada dilihat oleh sesiapa pun, maka jangan dibiarkan dilihat.'

Kataku,

`Jika salah seorang daripada kami berkeseorangan?'

Sabdanya,

`Maka Allah Taala lebih utama untuk malu kepada-Nya."'240

Hadith itu menunjukkan tidak harus bertelanjang di tempat kosong dan ia disokong oleh Hadith riwayat Ibn Umar menurut alTirmizi bahawa Rasulullah s.a.w. telah bersabda:

Janganlah kamu bertelanjang, sesungguhnya bersama-sama kamu ada (malaikat) yang tidak berpisah dari kamu kecuali ketika kamu membuang air dan ketika seseorang lelaki itu berseronok-seronok dengan ahlinya, maka malulah kepada mereka (malaikat) dan hormatilah mereka

Al-Bukhari mengatakan harus bertelanjang ketika mandi berdasarkan kisah Nabi Musa dan Nabi Ayub.

MAZHAB HANBALI

Aurat orang lelaki ialah apa yang ada antara pusat dengan lututnya. Ini berdasarkan Hadith yang telah disebutkan sebelum ini dan yang dipakai oleh ulama' Hanafi dan Syafi'i sebagai dalil mereka. Tetapi pusat dan lutut bukan aurat. Ini berdasarkan Hadith riwayat Umru bin Shu'aib yang telah disebutkan sebelum ini:

... Bahawa apa yang di bawah pusat sehingga lutut adalah aurat.

Dan Hadith Abu Ayyub al-Ansari:

Di bawah pusat dan di atas kedua-dua lutut ialah aurat.242

Alasannya bahawa lutut ialah batas bukan aurat seperti pusat. Orang khunsa musykil (seseorang yang mempunyai dua organ jantina) yang tidak jelas sama ada lelaki ataupun perempuan tidak d1wajibkan menutup aurat oleh kerana tidak jelas sifatnya.

Di samping itu, agar sembahyang menjadi sah, menurut yang zahir daripada mazhab ini diwajibkan ke atas orang lelaki menutup salah satu bahunya sekalipun dengan kain yang nipis yang boleh menjelaskan warna kulit kerana kewajipan menutup bahu adalah berdasarkan Hadith:

Janganlah seseorang lelaki itu melakukan sembahyang di dalam satu kain yang tidak ada sesuatu apa pun di atas bahunya.24s

Larangan tersebut menunjukkan pengharaman dan lebih diutamakan daripada qiyas. Abu Daud meriwayatkan daripada Buraidah:

Rasululah s.a.w. melarang seseorang daripada melakukan sembahyang di dalam selimut dan menutup bahu (seperti selimpang) dengannya_

Sebaliknya, seseorang yang mempunyai sesuatu yang hanya dapat menutup sama ada aurat sahaja atau baju sahaja, maka hendaklah dia menutup auratnya dan wajib sembahyang secara berdiri. Ini berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w.:

Jika kain itu luas, maka selisihkan dan ikatkan kedua-dua tepinya dan jika ia sempit, maka ikatkan kuat-kuat pada pinggangnya.

Orang lelaki hendaklah menutup auratnya daripada penglihatan orang lain, bahkan daripada penglihatannya sendiri ketika sedang mengerjakan sembahyang. Jika ternampak auratnya melalui saku bajunya yang terbuka luas apabila rukuk` atau sujud, maka hendaklah dikancingkannya atau seumpamanya supaya ia tertutup. Ini kerana perintah menutup aurat itu adalah umum.

Begitu juga diwajibkan menutup aurat sekalipun ketika keseorangan atau di dalam gelap. Ini berdasarkan Hadith riwayat Bahzu bin Hakim yang telah disebut sebelum ini yang bermaksud:

"Pelihara olehmu aurat kamu melainkan daripada isterimu atau hamba milikmu ... ."

Tidak diwajibkan menutup aurat dengan tikar, tanah, Lumpur berada di dalam parit, kerana benda-benda itu tidak tetap dan di dalam parit pula menyusahkan. Tidak terbatal sembahyang jika terdedah sebahagian kecil aurat. Ini berdasarkan riwayat Abu Daud daripada Umru bin Salmah yang terdedah kain tutupnya ketika sujud kerana singkat. Jika terdedah sebahagian besar daripada aurat, maka terbatal sembahyang. Perbezaan sama ada aurat yang terdedah kecil atau besar adalah menurut kebiasaan.

Sebaliknya, jika terdedah sebahagian besar daripada aurat dengan tidak sengaja dan ditutup pada ketika itu juga tanpa berlalu masa panjang, maka tidak terbatal sembahyang. Ini di sebabkan pendek masa sama pendek dengan ukuran. Tetapi jika berlalu masa yang panjang atau sengaja dibuka, maka terbatal sembahyang itu secara mutlak.

Aurat hamba perempuan sama seperti aurat orang lelaki, iaitu apa yang ada antara pusat dengan lutut menurut pendapat yang rajih. Ini berdasarkan Hadith riwayat Umru bin Shuaib (Hadith marfuk yang telah disebutkan sebelum ini yang bermaksud: "Dan apabila salah seorang daripada kamu mengahwinkan hamba perempuannya dengan hamba lelakinya atau orang upahannya, maka janganlah hamba perempuan itu melihat auratnya."

Aurat orang perempuan yang sudah baligh (selain hamba) ialah seluruh tubuhnya kecuali muka. Menurut pendapat yang rajih daripada dua riwayat di kalangan ramai ulama', kedua-dua tapak tangan juga terkecuali. Ini berdasarkan firman Allah S.W.T:

Dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya... .

Surah al-Nur 24:31

Ibn Abbas dan Aisyah r.a. berkata bahawa yang dimaksudkan dengan yang zahir ialah muka dan kedua-dua tapak tangan dan tidak boleh mendedah selain muka dan kedua-dua tapak tangannya semasa sembahyang.

Ini berdasarkan Hadith-hadith yang telah disebutkan sebelum ini menurut pendapat ulama' Syafi'i.

Dalil yang mewajibkan tutup kedua-dua kaki ialah Hadith riwayat Ummu Salamah yang bermaksud: "Aku bertanya,

"Wahai Rasulullah, adakah orang perempuan bersembahyang dengan memakai baju dan tudung kepala tanpa sarung?'" Baginda menjawab:

Ya, jika bajunya labuh, maka tutupilah belakang kakinya-146

Hadith tersebut menunjukkan wajib menutup kedua-dua belah kaki kerana ia kawasan yang tidak boleh dibuka semasa berihram haji dan umrah, maka tidak boleh juga didedahkan ketika bersembahyang seperti kedua-dua betis.

Memadai bagi orang perempuan menggunakan pakaian yang cukup untuk menutup bahagian yang wajib sahaja. Ini berdasarkan Hadith riwayat Ummu Salamah yang tersebut tadi. Tetapi digalakkan melakukan sembahyang di dalam baju yang labuh yang dapat menutup kedua-dua kakinya dan tudung kepala yang boleh menutup kepala dan tengkuk dan selendang yang diselimuti dari atas baju.

Hukum terdedah aurat orang perempuan, selain muka dan kedua-dua tapak tangan, sama ada kecil atau besar adalah sama hukumnya dengan kes orang lelaki seperti yang telah dibincang kan sebelum ini. Aurat orang perempuan di hadapan orang lelaki muhrimnya ialah seluruh tubuh kecuali muka, tengkuk, kedua-dua belah tangan, kaki dan betis.

Sebagaimana pendapat ulama' Syafiei juga, ulama' Hanbali mengatakan bahawa seluruh tubuh orang perempuan sehingga muka dan kedua-dua tapak tangan, di luar sembahyang, ialah aurat. Ini berdasarkan sabda Rasulullah yang telah disebutkan sebelum ini yang bermaksud: "Orang perempuan adalah aurat." Diharuskan mendedah aurat untuk berubat, bersendirian di bilik air, bersunat, untuk mengetahui pencapaian umur baligh, untuk mengetahui dara dan bukan dara dan kecacatan.

Aurat orang perempuan Islam (selain hamba) di hadapan orang perempuan kafir menurut pendapat ulama' Hanbali adalah sama seperti auratnya di hadapan orang lelaki muhrim, iaitu apa yang ada di antara pusat dengan lutut. Menurut pendapat jumhur, seluruh tubuh kecuali yang terdedah ketika melakukan pekerjaan rumah.

Punca perselisihan ialah pentafsiran bagi ayat al-Qur'an dalam Surah al-Nur, iaitu firman Allah S.W.T:

Dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka, melainkan kepada suami mereka, ... atau perempuan-perempuan Islam... . Surah al-Nur 24:31

Menurut pendapat ulama' Hanbali dan para ulama' lain, ganti nama bihinna (mereka) mencakupi orang perempuan secara umum tanpa perbezaan antara Islam dengan kafir. Justeru itu, harus bagi orang perempuan Islam memperlihatkan perhiasan tubuhnya kepada orang perempuan kafir, sama dengan apa yang harus baginya memperlihatkan kepada orang perempuan Islam.

Menurut pendapat jumhur ganti nama bihinna di sini ialah khusus bagi orang perempuan Islam sahaja, iaitu khusus bagi persahabatan dan persaudaraan Islam. Justeru itu, tidak harus bagi orang perempuan Islam memperlihatkan apa pun daripada perhiasan tubuhnya kepada orang perempuan kafir.247

Jelas kepada kita bahawa pendapat ulama' Hanbali dan ulama' Hanafi adalah lebih utama kerana ia bersepakat dengan Hadith yang menyuruh kanak-kanak yang berumur tujuh tahun supaya bersembahyang dan dipukul apabila meningkat umur 10 tahun jika tidak sembahyang.

Bahagian Aurat Terpisah daripada Tubuh Badan

Menurut pendapat ulama' Hanafi dan Syafi'i, diharamkan melihat aurat lelaki sama ada bahagian yang menjadi aurat itu masih sedaging dengan tubuh badan atau sudah terpisah daripada tubuh badan seperti rambut, lengan ataupun peha.

Menurut pendapat ulama' Hanbali bahagian aurat yang terpisah daripada tubuh badan tidak diharamkan melihatnya kerana hilang kehormatannya apabila terpisah.

Menurut pendapat ulama' Maliki harus melihat bahagian aurat yang sudah terpisah daripada tubuh ketika pemiliknya masih hidup. Tetapi diharamkan melihatnya sesudah dia mati sama seperti bahagian aurat yang masih sedaging dengan tubuh badan.

Suara Orang Perempuan

Menurut pendapat jumhur, suara orang perempuan tidak dikira sebagai aurat, kerana para sahabat mendengar suara isteri-isteri Nabi Muhammad s.a.w. untuk mempelajari hukum-hukum agama. Tetapi diharamkan mendengar suaranya yang berbentuk lagu dan irama sekalipun bacaan al-Qur'an, kerana dikhuatiri akan menimbulkan fitnah.
KulopAtoi
K. Pengendali
K. Pengendali
 
Posts: 1848
Joined: Sat Feb 24, 2001 8:00 am
Location: Ujung Sana

Postby KulopAtoi on Fri Dec 24, 2004 7:22 pm

Dan seterusnya pendapat Dr Yusuf Qardhawi pula :kenyit:

Bab Niqab : Dari Fatwa Muashirah Penulisan Dr. Yusuf Qardhawi

Adakah Niqab Itu Wajib?

Soalan:

Kami telah membaca apa yang telah tuan tulis sebagai mempertahankan niqab, iaitu berkenaan jawapan tuan terhadap serangan yang mengatakan bahawa niqab adalah bidaah yang berlaku di dalam masyarakat Islam. Di dalam jawapan tuan juga disebut bahawa pendapat yang mengatakan bahawa wajib ke atas wanita untuk memakai niqab adalah antara pandangan yang terdapat di dalam Fikah Islami.

Berdasarkan jawapan tuan itu, para wanita yang melazimi pemakaian niqab telah mendapat haknya meskipun pendapat tuan itu menyatakan bahawa niqab adalah tidak wajib.

Sekarang kami benar-benar berharap agar tuan (sebagaimana wanita yang melazimi pemakaian niqab itu telah mendapat haknya dalam berhadapan dengan wanita yang tidak memelihara adab adab berpakaian (mutabarrijah) dalam Islam dan juga pihak pihak yang menyeru ke arah itu), dapat pula menyempurnakan hak kami selaku wanita yang melazimi hijab dalam berhadapan dengan saudara-saudara kami yang memakai niqab dan juga mereka yang menyeru ke arah itu.

Ini kerana mereka dari semasa ke semasa terus menyerang kami hanya semata-mata kerana kami tidak menutup muka yang pada dakwaan mereka adalah punca kepada fitnah memandangkan muka lah tempat terhimpun nya kecantikan seorang wanita.

Mereka menambah lagi bahawa perbuatan kami meninggalkan niqab itu adalah bertentangan dengan al-Quran, Sunnah dan juga petunjuk para salaf yang terdahulu. Berkemungkinan tuan selaku orang yang berpihak kepada orang yang melazimi hijab juga menerima serangan-serangan seperti ini.

Meskipun apa yang telah tuan nyatakan di dalam " Halal Dan Haram Dalam Islam " dan juga " Fatawaal Mu'asiroh telah memadai, tetapi kami benar-benar berharap agar tuan dapat memberikan keterangan tambahan sebagai hujah, penerang mereka yang berhujah sekaligus menghapuskan segala yang meragukan dan menamatkan debat mengenainya.

Semoga Allah menjadikan kebenaran pada perkataan dan juga tulisan tuan.

Sekumpulan Pemudi Yang Melazimi Hijab

Jawapan:

Anak-anak dan juga saudari-saudari saya yang dimuliakan.

Sesungguhnya tidak ada alasan mengapa saya harus berdiam diri atau berpada dengan apa yang saya tulis sebelum ini.

Saya sedar bahawa debat mengenai isu yang dikategorikan sebagai masalah khilafiah ini tidak sekali-kali akan terhenti dengan sebuah rencana, kajian ilmiah ataupun sebuah kitab.

Selagi mana sebab-sebab yang menyebabkan perselisihan pendapat masih ada, maka selama itulah perselisihan sesama sendiri mengenainya tidak akan selesai sekalipun di kalangan orang Islam yang ikhlas dan berpegang teguh dengan ajaran Islam.

Bahkan kadang-kadang keikhlasan dan juga kuat nya seseorang itu berpegang kepada ajaran Islam yang menjadikan perselisihan tersebut semakin parah. Ini kerana setiap pihak bersemangat dengan pandangan masing-masing. Mereka beranggapan bahawa pandangan mereka adalah benar serta berkaitan dengan urusan agama yang akan diganjari jika dilaksanakan dan akan diseksa jika dilalaikan.

Perselisihan pendapat itu akan tetap kekal selagi mana nas-nas yang menjadi asas kepada sesuatu hukum itu sendiri adalah terdedah kepada perselisihan; sama ada di sudut kesahihan nas itu sendiri ataupun di sudut pemahaman nya. Keadaan tersebut juga akan tetap kekal selagi mana kemampuan manusia di dalam mengeluarkan sesuatu hukum itu adalah berbeza. Begitu juga sikapnya terhadap nas-nas itu sendiri; ada orang lebih mengutarakan zahir nas daripada maksud yang terangkum di dalamnya, ada pula orang yang mengutamakan rukhsoh (kelonggaran) daripada a'zimah dan ada juga orang yang mengutamakan sikap berhati-hati daripada mengambil mudah. Begitulah sebaliknya.

Perselisihan pendapat itu juga akan tetap berlaku selagi mana ada orang yang mengambil pendapat-pendapat Ibnu Umar yang keras atau mengambil rukhsoh-rukhsoh Ibnu Abbas. Pendek kata selagi mana ada orang yang bersembahyang Asar ketika di perjalanan dan yang tidak akan bersembahyang sebelum sampai di Bani Quraizoh, maka selama itulah perselisihan tetap akan berlaku."'

Sesuai dengan sifat rahmah Allah (s.w.t) kepada kita, maka perselisihan pendapat yang sebegitu tidak dikira sebagai berdosa. Dan orang yang tersilap di dalam ijtihad nya adalah dimaafkan. Malah mereka tetap diganjari dengan satu pahala. Bahkan ada yang berkata bahawa: "Tiada siapa yang silap di dalam ijtihad pada masalah furuk' (cabang) bahkan semuanya itu adalah benar belaka".

Walaupun di kalangan sahabat dan juga para tabien sendiri berlaku perselisihan pendapat, tetapi ia sedikit pun tidak mendatangkan mudarat kepada mereka. Malah mereka tetap hormat-menghormati dan sembahyang bersama tanpa rasa benci.

Walaupun saya percaya bahawa perselisihan ini akan tetap berterusan, tetapi saya tetap akan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh anak-anak dan juga saudari-saudari sekalian sebagai mengulang apa yang telah saya nyatakan di samping beberapa tambahan. Mudah mudahan Allah akan membantu saya di dalam memperkatakan sesuatu yang benar, menamatkan perselisihan atau paling kurang pun meredakan ketegangan yang ada. Semoga dengan ini akan memberi ketenangan kepada mereka yang melazimi pemakaian hijab dan juga memudahkan kepada mereka yang menyeru ke arah pemakaian niqab.

Mendedahkan Muka Dan Dua Tapak Tangan Adalah Mazhab Jumhur Fuqahak:

Di sini ingin saya menyatakan sesuatu hakikat yang saya kira tidak lagi perlu kepada penegasan memandangkan ia adalah suatu perkara yang sedia maklum di kalangan ahli ilmu. Hakikat tersebut ialah pendapat jumhur Imam Mazhab semenjak daripada zaman sahabat lagi yang mengatakan bahawa niqab itu adalah tidak wajib ke atas wanita Muslimah di samping harus bagi mereka untuk mendedahkan muka dan juga dua tapak tangan di hadapan lelaki yang bukan muhrimnya.

Oleh yang demikian segala gempak atau gawat yang dicetuskan oleh mereka yang ikhlas daripada kalangan yang tidak berilmu atau pelajar-pelajar yang bersikap keras dan melampau terhadap kata kata Syeikh Muhammad Al-Ghazali itu tidak ada sebarang nilai. Begitu juga terhadap apa yang ditulis oleh beliau di dalam beberapa buah kitab dan juga rencana nya.

Golongan yang menentang nya itu seolah-olah menganggap bahawa apa yang disebut oleh Al-Ghazali itu adalah pendapat baru. Sedangkan apa yang diperkatakan oleh beliau tidak lain hanyalah pengulangan terhadap apa yang telah disebut oleh para imam yang muktabar dan juga fuqahak yang terbilang. Apatah lagi pandangan tersebut disokong dengan dalil dalil dan juga athar di samping diperkukuhkan dengan pemerhatian serta dipraktikkan pula ketika zaman sahabat yang telah disifatkan sebagai sebaik-baik kurun. Perkara ini akan kami perjelaskan nanti.

Mazhab Hanafi.

Di dalam kitab "al-lkhtiar" disebut bahawa:

" Tidak boleh melihat kepada wanita merdeka yang bukan muhrimnya melainkan pada muka dan juga dua tapak tangannya. Itu pun jika tidak dibimbangi akan membangkitkan syahwat. Telah diriwayatkan daripada Abu Hanifah bahawa beliau telah menambah satu lagi anggota iaitu kaki. Anggota-anggota tersebut harus untuk didedahkan kerana ia sangat diperlukan terutamanya ketika proses mengambil dan memberi sesuatu. Mengenal mukanya juga diperlukan khususnya semasa berurusan dengan orang lain (bukan muhrim). Malah anggota anggota tersebut juga turut diperlukan dalam kerja-kerja yang bersangkutan dengan hidupnya. Apatah lagi sekiranya tidak ada orang lain yang akan menyaranya.

Imam Abu Hanifah berkata lagi: "Dalil kepada pendapat ini ialah firman Allah:

Maksudnya: " Janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. An-Nuur: 31

Kebanyakkan para sahabat menafsirkan ayat tersebut sebagai celak mata dan juga cincin. Maksudnya ialah tempat kepada perhiasan-perhiasan tersebut iaitu muka dan juga dua tapak tangan. Ini kerana sebagaimana yang telah kami terangkan bahawa harus melihat celak mata, cincin dan beberapa perhiasan lain yang dipakai oleh kaum kerabat ataupun orang lain yang dihalalkan untuk berkahwin. Jadi apa yang dimaksudkan di sini ialah tempat kepada perhiasan-perhiasan tersebut. Kalau di dalam kaedah tata bahasa Maksudnya:

Membuang mudhof dan menjadikan mudhof ilaihi' berada ditempatnya. "

Beliau berkata lagi: " Adapun kaki sebagaimana yang telah diriwayatkan bahawa ia bukanlah aurat. Ini kerana anggota kaki adalah diperlukan untuk berjalan. Kalau lah muka serta tangan yang sering menjadi punca timbul nya syahwat itu harus untuk didedahkan, maka kaki adalah jauh lebih utama untuk didedahkan.

Di dalam riwayat lain pula disebut bahawa kaki adalah aurat ketika di luar sembahyang sahaja.

Mazhab Maliki.

Di dalam kitab " As-Syarhus Shoghir " karangan ad-Dardir atau yang disebut sebagai " Aqrabul Masaalik Ila Mazhab Malik " disebut: " Aurat bagi wanita merdeka di hadapan bukan muhrimnya adalah seluruh badan melainkan muka dan juga dua tapak tangan. Kedua-dua anggota tersebut adalah bukan aurat".

Ketika mengulas kitab tersebut as-Sowi telah berkata di dalam Hasyiahnya: " Harus untuk kita melihat kedua-dua anggota tersebut; tidak kira sama ada yang zahir ataupun yang batin. Dengan syarat tidak disertai dengan rasa berahi kerana jika ia disertai dengan rasa berahi maka ia akan menjadi haram.

Beliau berkata lagi: " Adakah wajib ke atas wanita ketika itu untuk menutupi muka dan dua tapak tangannya? Soalan ini ditujukan kepada Ibnu Marzuq selaku pendapat yang masyhur di dalam mazhab. Atau adakah wanita tidak diwajibkan untuk menutupi kedua-duanya sebaliknya kaum lelaki lah yang sepatutnya menundukkan pandangan? Persoalan ini adalah antara persoalan yang telah dinaqal oleh al-Muwaq daripada `Iyad.

Ibnu Marzuq di dalam kitabnya " As-Syarhul Warglabiyah " telah membezakan antara wanita yang cantik dengan yang hodoh; jika seseorang wanita itu berwajah cantik maka wajib ke atasnya untuk menutupi anggota tersebut. Tetapi jika wanita itu berwajah hodoh, maka dia tidak diwajibkan untuk menutupinya.

Mazhab Syafie.

Imam as-Syirazi di dalam kitabnya "Al-Muhazzab" pula telah berkata:

" Aurat bagi setiap wanita yang merdeka ialah keseluruhan anggota tubuhnya melainkan muka dan juga dua tapak tangan".

Imam an-Nawawi telah berkata:

" Had tapak tangan ialah sehingga ke pergelangan tangan. Ini adalah berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas mengenai firman Allah (s.w.t) yang bermaksud:

" Janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak daripadanya".

Beliau telah mengatakan bahawa yang dimaksudkan dengan firman Allah itu ialah muka dan juga dua tapak tangan. Dalil lain yang menunjukkan bahawa kedua-dua anggota itu tidak termasuk di dalam aurat wanita ialah larangan Rasulullah (s.a.w) kepada wanita-wanita yang mengerjakan haji supaya tidak memakai sarung tangan dan juga niqab. Sekiranya muka dan tapak tangan itu aurat, maka sudah tentu Rasulullah (s.a.w) tidak akan menegah wanita yang mengerjakan haji itu daripada memakainya.

Apatah lagi pendedahan kedua-dua anggota tersebut adalah sangat diperlukan terutamanya ketika melakukan sesuatu urusan seperti jual beli, memberi dan mengambil sesuatu dan sebagainya. Dengan keperluan-keperluan seperti ini, maka kedua-dua anggota tersebut tidak dikategorikan sebagai aurat.

Imam an-Nawawi berkata lagi:

" Ada di kalangan ulama-ulama mazhab Syafie yang menyebut bahawa perut tapak kaki juga bukan aurat. "

Al-Muzani pula berkata:

" Kedua belah tapak kaki adalah bukan aurat. Pendapat Mazhab ialah yang pertama iaitu seluruh anggota tubuh wanita adalah aurat melainkan muka dan juga dua tapak tangan. "

Mazhab Hambali

Ibnu Qudamah al-Hambali di dalam kitabnya " al-Mughni " telah berkata:

" Tiada suatu mazhab pun yang berselisih pendapat mengenai keharusan wanita mendedahkan mukanya ketika sembahyang. Dan wanita juga tidak dibenarkan untuk mendedahkan anggota tubuhnya melainkan muka dan dua tapak tangannya sahaja. Di dalam masalah mendedahkan dua tapak tangan terdapat dua riwayat. "


Kebanyakan tokoh-tokoh ilmuwan telah sepakat mengatakan bahawa wanita hendaklah mendedahkan mukanya ketika sembahyang. Mereka juga telah sepakat mengatakan bahawa wajib bagi wanita yang merdeka untuk menutup kepalanya ketika sembahyang. Sesiapa di kalangan mereka yang bersembahyang dalam keadaan terdedah kepalanya, maka sembahyang nya adalah tidak sah dan dia dikehendaki mengulang semula sembahyang nya.

Abu Hanifah telah berkata:

" Kedua belah tapak kaki tidak termasuk di dalam kategori aurat kerana kedua-duanya itu sering terdedah sebagaimana muka ".

Imam Malik, al-Auzaie dan Syafie telah berkata:


" Seluruh tubuh wanita adalah aurat melainkan muka dan kedua tapak tangannya sahaja. Oleh itu, selain daripada kedua-dua anggota itu hendaklah ditutup semasa sembahyang. Ini berdasarkan kepada tafsiran yang dibuat oleh Ibnu Abbas kepada firman Allah dalam surah an-Nur yang bermaksud

" Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya"

sebagai muka dan dua tapak tangan. Pendapat ini juga berdalilkan kepada hadis Rasulullah yang melarang wanita daripada memakai niqab dan memakai sarung tangan semasa dalam ihram haji. Sekiranya muka dan dua tapak tangan adalah aurat, maka Rasulullah (s.a.w) tidak akan melarang daripada menutup kedua-duanya. Juga kerana keperluan menuntut supaya muka didedahkan dalam urusan jual beli dan begitu juga dengan tangan ketika memberi dan menerima sesuatu.

Sebahagian dan pada ulama-ulama besar dalam mazhab Hanbali telah berkata:

" Keseluruhan badan wanita adalah aurat. "

Ini berdasarkan kepada sabda Rasulullah (s.a.w) yang bermaksud:

"Wanita adalah aurat. "

Hadis ini diriwayatkan oleh Tarmizi. Beliau berkata: Hadis ini adalah hadis hasan sahih, tetapi wanita diberi kelonggaran untuk mendedahkan muka serta dua tapak tangannya kerana jika diwajibkan akan mendatangkan kesusahan kepadanya. Begitu juga diharuskan melihat muka dengan tujuan meminang. Ini kerana muka adalah tempat berhimpunnya segala kecantikan. Inilah pendapat Abu Bakar al-Haris bin Hisyam yang mengatakan:

" Seluruh badan wanita adalah aurat termasuklah kukunya. "

(Sampai di sini petikan daripada kitab al-Mughni)

Pandangan Mazhab-mazhab Lain:

Imam an-Nawawi menyebut di dalam kitab al-Majmuu' ketika menerangkan tentang mazhab-mazhab ulama dalam masalah aurat:

Pendapat Syafie, Malik, Abu Hanifah, al-Auzaie, Abu Thaur, satu riwayat daripada Imam Ahmad dan beberapa ulama yang lain menyebutkan bahawa aurat wanita yang merdeka ialah seluruh tubuhnya melainkan muka dan dua tapak tangannya sahaja.

Berkata Abu Hanifah, as-Thauri dan al-Muzani bahawa kedua-dua kaki wanita bukan aurat.

Berkata Imam Ahmad bahawa seluruh tubuh wanita adalah aurat melainkan mukanya sahaja.

Pendapat yang sama juga telah dikemukakan oleh mazhab Daud sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Nailul Autoor.

Manakala Ibnu Hazmin pula sebagaimana yang tersebut di dalam kitab al-Muhalla telah mengecualikan muka dan dua tapak tangan daripada lingkungan aurat.

Saya akan menyebutkan sebahagian dalil-dalil mereka pada tempatnya nanti.

Ini adalah pendapat sekumpulan sahabat dan tabi'ien sebagaimana yang dapat diketahui dengan jelas melalui penafsiran mereka terhadap makna firman Allah (s.w.t) di dalam surah an-Nur yang bermaksud " yang (biasa) nampak daripadanya ".

Dalil Golongan Yang Berpendapat Harus Mendedahkan Muka Dan Dua Tapak Tangan.

Saya hanya boleh menyebutkan dalil-dalil syarak yang terpenting sahaja yang dipegang oleh golongan yang mengatakan tidak wajib memakai niqab dan harus mendedahkan muka dan kedua tangan (iaitu pendapat jumhur para imam) melalui apa yang akan saya tuliskan. Itu sudah mencukupi, insya Allah.

1: Tafsiran para sahabat mengenai firman Allah maksudnya:
" Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. " An-Nur: 31

Jumhur ulama dari kalangan sahabat serta ulama-ulama yang selepas mereka telah menafsirkan firman Allah ini dengan muka dan dua tapak tangan. Mereka juga menafsirkannya sebagai celak mata dan juga cincin atau barang perhiasan yang seumpamanya.

Al-Hafiz as-Sayuti di dalam kitabnya ad-Durrul Manthur fi Tafsirbil Ma'thurtelah menyebut sejumlah pandangan mengenainya. Antaranya:

i. Telah dikeluarkan oleh Ibnul Munzir daripada Anas dimana beliau telah berkata bahawa yang dimaksudkan dengan firman Allah itu ialah celak mata dan juga cincin.

ii. Telah dikeluarkan oleh Sa'id bin Mansur, Ibnu Jarir, Abdun bin Hamid, Ibnul Munzir dan al-Baihaqi daripada Ibnu Abbas (r.a) bahawa yang dimaksudkan dengan ayat tersebut ialah celak mata, cincin, anting-anting serta kalung.

iii. Telah dikeluarkan oleh Abdul Razak dan Abdun bin Hamid daripada ibnu Abbas bahawa yang dimaksudkan dengan ayat tersebut ialah perut tapak tangan dan juga cincin.

iv. Telah dikeluarkan oleh Abu Syaibah, Abdun Bin Haamid dan Ibnu Abu Hatim daripada Ibnu Abbas bahawa yang dimaksudkan dengan ayat tersebut ialah muka, tapak tangan dan juga cincin.

v. Telah dikeluarkan oleh Ibnu Abu Syaibah, Abdun bin Hamid dan Ibnu Abu Hatim daripada Ibnu Abbas bahawa yang dimaksudkan dengan ayat tersebut ialah muka, kedua tapak tangan dan cincin.

vi. Telah dikeluarkan oleh Ibnu Abu Syaibah, Abdun bin Hamid dan Ibnu Abu Hatim daripada Ibnu Abbas bahawa yang dimaksudkan dengan ayat tersebut ialah permukaan muka dan perut tapak tangan.

vii. Telah dikeluarkan oleh Ibnu Abu Syaibah, Abdun Bin Hamid, Ibnu al-Munzir dan al-Baihaqi di dalam kitab Sunannya daripada Aisyah (r.a) bahawa beliau telah ditanya tentang perhiasan yang zahir. Lalu beliau menjawab: " Gelang tangan dan al-fatakh (sejenis cincin)." Kemudian Aisyah telah menggenggam hujung lengan bajunya.

viii. Telah dikeluarkan oleh Ibnu Abu Syaibah daripada Ikrimah bahawa yang dimaksudkan dengan ayat tersebut ialah muka dan juga lompang pada pangkal leher (atas dada).

ix. Telah dikeluarkan oleh Ibnu Jarir daripada. Said bin Jubair bahawa yang dimaksudkan dengan ayat tersebut ialah muka dan juga tapak tangan.

x. Telah dikeluarkan oleh Ibnu Jarir daripada Ato' bahawa yang dimaksudkan dengan ayat tersebut ialah dua tapak tangan serta muka.

xi. Telah dikeluarkan oleh Abdul Razak dan Ibnu Jarir daripada Qatadah bahawa yang dimaksudkan dengan ayat tersebut ialah dua pemegang (tapak tangan), cincin dan juga celak mata.

Telah berkata Qatadah bahawa telah sampai kepada aku perkhabaran bahawa Rasulullah (s.a.w) telah bersabda:

" Tidak halal kepada wanita Islam yang beriman kepada Allah dan juga Hari Kiamat (untuk mendedahkan anggota tubuhnya) melainkan ini dan ini sahaja, sambil baginda memegang separuh daripada hastanya ".

xii. Telah dikeluarkan oleh Abdul Razak dan Ibnu Jarir daripada al-Masur bin Makhramah bahawa yang dimaksudkan dengan ayat tersebut ialah dua buah gelang tangan, cincin dan juga celak mata.

xiii. Telah dikeluarkan oleh Said dan Ibnu Jarir daripada Ibnu Juraij bahawa Ibnu Abbas telah berkata ketika mentafsirkan ayat tersebut: "Ia adalah cincin dan juga pemegang tapak tangan. Kemudian Ibnu Juraij berkata lagi bahawa Aisyah (r.a) telah menafsirkan ayat tersebut dengan gelang dan juga al-fatakh (sejenis cincin). Aisyah berkata bahawa anak perempuan saudara lelaki kepada ibunya iaitu Abdullah bin at-Tufail telah masuk menemuinya dalam keadaan berperhiasan, lalu dia masuk menemui Rasulullah (s.a.w), lalu baginda pun berpaling daripadanya. Maka Aisyah berkata: " Perempuan tersebut adalah anak kepada saudara lelaki ibuku." Rasulullah (s.a.w) bersabda: " Apabila seorang wanita itu telah baligh, maka tidak halal baginya untuk mendedahkan sesuatu daripada tubuhnya melainkan mukanya dan jangan sampai melebihi had ini sambil baginda memegang pertengahan lengannya."

Ibnu Mas'ud telah menolak tafsiran yang telah dibuat oleh Ibnu Abbas, Aisyah dan juga Anas (r.a). Beliau telah menafsirkan ayat tersebut dengan baju dan juga jilbab.

Saya berpandangan bahawa tafsiran Ibnu Abbas dan mereka yang sepakat dengannya adalah tafsiran yang paling rajih. Ini kerana pengecualian yang terdapat di dalam ayat tersebut selepas larangan daripada menzahirkan perhiasan, jelas menunjukkan kepada suatu keringanan serta kemudahan. Sedangkan menzahirkan baju, jilbab atau yang seumpamanya bukan lagi sebagai keringanan ataupun kemudahan, akan tetapi ia adalah suatu tuntutan atau perkara yang mesti berlaku.

Oleh kerana itu, pandangan ini telah ditarjihkan oleh at-Tobari, al-Qurtubi, ar-Razi, al-Baidhawi dan ramai lagi. Dan inilah pandangan jumhur.

Ketika mentarjih pendapat ini, al-Qurtubi telah menegaskan bahawa oleh kerana secara lumrahnya muka dan dua tapak tangan itu sentiasa terdedah ketika melakukan adat ataupun ibadat seperti sembahyang dan haji, maka pengecualian di dalam ayat tersebut adalah cukup sesuai untuk dikembalikan kepada kedua-duanya.

Ini dikuatkan lagi dengan hadis yang telah diriwayatkan oleh Abu Daud bahawa Asma' binti Abu Bakar telah masuk menemui Rasulullah (s.a.w) dalam keadaan berpakaian nipis lalu baginda pun berpaling daripadanya seraya berkata: 'Wahai Asma'! Sesungguhnya apabila seseorang wanita itu telah baligh, maka tidak harus untuk dilihat daripada tubuhnya melainkan ini dan ini", sambil baginda menunjuk ke arah muka dan dua tapak tangannya.

Hadis tersebut secara bersendirian tidak dapat untuk dijadikan hujah kerana ia adalah hadis mursal di samping perawi yang mengambil hadis ini daripada Aisyah adalah dhaif. Walau bagaimanapun ia dikukuhkan dengan hadis lain iaitulah hadis Asma' binti U'mais dan perlakuan kaum wanita pada zaman Rasulullah (s.a.w) dan para sahabat.

Dengan sebab inilah al-Albani iaitu seorang ulama hadis telah mengkategorikan hadis tersebut sebagai hadis hasan seperti yang beliau sebutkan di dalam beberapa karangan beliau, antaranya Hijaabul Mar'ah al-Muslimah, al-Irwaa', Sahihul Jami'is Soghir dan Takhrij al-Halal wal Haram.

2: Suruhan Melabuhkan Jilbab Supaya Menutupi Leher Bukannya Muka.
Firman Allah:

" Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya. " an-Nuur: 3

`Al-Khumur' adalah kata nama jamak bagi `khimar '. Ia, adalah merujuk kepada penutup kepala. `Juyub' pula adalah kata nama jamak kepada `jaib' iaitulah bukaan leher baju atau seumpamanya. Di dalam ayat tersebut Allah telah memerintahkan kaum wanita yang beriman agar melabuhkan penutup kepala mereka sehingga dapat menutupi leper dan juga dada. Mereka dilarang daripada membiarkannya terdedah sebagaimana perlakuan wanita jahiliah dahulu.

Kalaulah menutup muka adalah wajib, nescaya ia akan disebut setara terang didalam mayat dengan memerintahkan mereka meletakkan tudung kepala supaya menutupi muka mereka, sebagaimana terangnya suruhan Allah ketika memerintahkan supaya dilabuhkan penutup kepala pada bahagian leper dan juga dada. Ibnu Hazmin ketika menyebut ayat ini telah berkata: " Di dalam ayat tersebut Allah telah memerintahkan kaum wanita supaya melabuhkan penutup kepala mereka sehingga ke pangkal leher serta pada bukaan dada. Ini merupakan dalil yang menunjukkan bahawa wajibnya menutup aurat yang meliputi leher dan juga dada. Ayat ini juga dalil kepada harusnya untuk mendedahkan muka. Tidak mungkin untuk difahami selain daripada itu sama sekali.

3: Arahan Kepada Lelaki Supaya Menundukkan Pandangan.

Lelaki diperintahkan supaya menundukkan pandangan matanya sebagaimana yang terdapat di dalam al-Quran dan juga sunnah. Firman Allah:

" Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: " Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka lakukan. " An-Nur: 30

Rasulullah (s.a.w) bersabda:

" Sekiranya kamu memberi jaminan kepadaku untuk menunaikan enam perkara nescaya aku akan memberi jaminan syurga kepada kamu. latu benarlah ketika bercakap, tunaikanlah apabila kamu diberi amanah, tundukkanlah pandangan kamu... "

Rasulullah (s.a.w) telah bersabda kepada Ali:

" Janganlah kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan yang seterusnya. Sesungguhnya bagi kamu pandangan yang pertama dan bukannya yang berikutnya. "

Sabda Rasulullah (s.a.w) yang bermaksud; " Wahai para pemuda sekelian! Sesiapa di kalangan kamu yang mampu untuk berkahwin, maka berkahwinlah kerana sesungguhnya dengan berkahwin itu lebih dapat menundukkan pandangan juga lebih memelihara kemaluan..." (Diriwayatkan oleh al jama'ah daripada Ibnu Mas'ud)

Kalaulah kesemua muka telah tertutup dan semua wanita memakai niqab, maka apakah maknanya gesaan supaya menundukkan pandangan? Apakah ketika itu pandangan mata boleh tertarik atau mendatangkan fitnah sedangkan semua muka tertutup rapi? Dan apakah makna bahawa perkahwinan lebih menundukkan pandangan jika kita sendiri tidak dapat melihat sesuatu pun daripada wanita?

4: Firman Allah (s.w.t) kepada RasulNya:

" Tidak halal bagimu mengahwini perempuan perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain) meskipun kecantikannya menarik hatimu. " Al-Ahzab: 52

Dari manakah timbulnya rasa kagum dengan kecantikan seseorang wanita kalau tidak ada di sana ruang untuk melihat muka wanita yang merupakan tempat berhimpun segala kecantikannya?

5: Hadis: " Apabila kamu melihat seorang wanita lantas kamu mengkaguminya.."

Berdasarkan kepada dalil-dalil yang ada serta kejadian yang berlaku jelas menunjukkan kepada kita bahawa kebanyakan daripada kaum wanita di zaman Rasulullah tidak memakai niqab bahkan muka mereka adalah terdedah melainkan sedikit sahaja. Di antara dalilnya ialah:

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim dan Abu Daud daripada Jabir bahawa Rasulullah (s.a.w) telah melihat seorang wanita lalu berasa kagum dengannya. Kemudian Rasulullah pun mendatangi (menyetubuhi) isterinya Zainab yang ketika itu sedang menyamak kulit sehinggalah baginda memenuhi hajatnya. Setelah itu baginda pun bersabda:

" Sesungguhnya seseorang wanita datang dalam gambaran syaitan dan pergi juga dalam gambaran syaitan. Apabila seorang daripada kamu melihat wanita dan berasa kagum dengannya, maka datangilah (setubuhilah) isterinya kerana sesungguhnya yang demikian itu dapat memalingkannya daripada perasaan yang ada di dalam dirinya. "

Hadis ini juga telah diriwayatkan oleh ad-Darimi daripada Ibnu Mas'ud tetapi isteri Rasulullah (s.a.w) di dalam riwayat ini ialah Saudah. Di dalam riwayat ini juga baginda bersabda:

" Mana-mana lelaki yang melihat wanita lantas berasa kagum dengannya, maka datangilah isterinya. Sesungguhnya apa yang ada pada isterinya adalah sama dengan apa yang ada pada wanita yang dikaguminya itu. "

" Seorang wanita telah berjalan di hadapanku lalu terlintas di dalam hatiku rasa berahi terhadap wanita. Setelah itu aku pun mendatangi sebahagian daripada isteriku sehinggalah akhirnya aku telah dapat memenuhi hajatku. Maka demikian jugalah hendaklah kamu lakukan ketika menghadapi perkara yang sama. Sesungguhnya di antara pekerjaan yang paling ideal bagi kamu ialah mendatangi perkara perkara yang halal. "

Sebab kepada datangnya sabda Rasulullah (s.a.w) itu jelas menunjukkan bahawa Rasulullah (s.a.w) telah melihat seorang wanita yang tertentu sehingga terdetik di dalam hatinya rasa berahi disebabkan sifat kemanusiaan dan kelakian yang ada pada Rasulullah. Dan perkara seumpama ini tidak akan berlaku melainkan jika dapat dilihat muka wanita tersebut yang dapat membezakan seseorang wanita daripada wanita yang lain.

Pandangan terhadap muka wanita tersebutlah yang telah menjadi perangsang kepada syahwat keinginan yang ada pada manusia, sebagaimana sabdanya yang bermaksud: " Apabila seseorang kamu melihat seorang wanita lalu mengkaguminya..." menunjukkan bahawa itu adalah satu perkara yang lumrah dan biasa berlaku.

6: Hadis: "Lalu Rasulullah (s.a.w) meniliknya dari atas ke bawah."
Di antara dalil yang menunjukkan bahawa kebanyakan wanita pada zaman Rasulullah (s.a.w) tidak memakai niqab bahkan mendedahkan muka mereka, ialah hadis yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim daripada Sahl bin Saad bahawa seorang wanita telah datang menemui Rasulullah (s.a.w) lalu berkata:

" Wahai Rasulullah! Aku datang ini adalah untuk menyerahkan diriku ini kepada kamu." Rasulullah (s.a.w) pun melihat tepat ke arah wanita tersebut, ke atas dan ke bawah. Setelah itu Rasulullah pun menundukkan pandangannya. Bilamana wanita itu melihat Rasulullah senyap tanpa menyuarakan sebarang keputusan, maka wanita itu pun duduk... "

Kalaulah wanita tersebut tertutup mukanya bagaimanakah Rasulullah (s.a.w) dapat melihatnya? Apakah mungkin dengan muka wanita yang tertutup itu Rasulullah dapat memandang lama ke arahnya, ke atas dan ke bawah?

Tidak ada riwayat yang mengatakan bahawa wanita tersebut melakukan demikian dengan tujuan meminang, selepas itu dia menutup mukanya. Bahkan diriwayatkan dia duduk dalam keadaan sebagaimana dia datang. Kejadian ini turut disaksikan oleh para sahabat. Kemudian salah seorang daripada mereka telah memohon kepada Rasulullah (s.a.w) supaya mengahwinkan wanita tersebut dengannya.

7. Hadis mengenai perempuan daripada kabilah Khath'am dan alFadhl bin Abbas.

An Nasaie meriwayatkan daripada Ibnu Abbas (r.a): Seorang wanita daripada kabilah Khath'am telah meminta fatwa daripada Rasulullah (s.a.w) ketika Haji Wada' (Haji Perpisahan). Ketika itu al-Fadhl bin Abbas menunggang bersama baginda. Kemudian di dalam hadis tersebut dinyatakan bagaimana al-Fadhl telah terdorong untuk melihat wanita tersebut yang ternyata adalah seorang wanita yang cantik. Lalu Rasulullah pun memalingkan muka al-Fadhl ke arah lain.

Di dalam hal ini Ibnu Hazmin telah berkata: "Kalaulah muka adalah aurat yang wajib ditutup, nescaya Rasulullah tidak akan membiarkan wanita tersebut berada di khalayak ramai dalam keadaan tidak menutup muka dan akan memerintah wanita tersebut supaya menutup mukanya. Juga apakah mungkin untuk Ibnu Abbas mengetahui sama ada wanita tersebut cantik atau tidak jika mukanya tertutup? Dengan ini, benarlah apa yang kamu telah katakan bahawa muka adalah bukan aurat! Berbanyak-banyak pujian dipanjatkan kepada Allah."

Kisah ini juga telah diriwayatkan oleh at-Tarmizi daripada Ali (r.a). Di dalam riwayat tersebut disebut: "Rasulullah telah memalingkan leher al-Fadhl. Abbas bertanya:

" Wahai Rasulullah! Mengapa kamu palingkan leher sepupumu? " Rasulullah (s.a.w) menjawab: " Aku telah melihat seorang teruna dan dara, lalu aku merasakan keduanya tidak akan selamat daripada hasutan syaitan." (Imam at-Tarmizi telah mengkategorikan hadis ini sebagai hadis hasan sahih). "

Ketika membicarakan perkara ini al-Alamah as-Syaukani telah berkata: " Berdasarkan hadis ini Ibnu al-Qotton telah mengambil hukum harus untuk melihat wanita jika benar-benar selamat daripada fitnah. Ini jelas kerana Rasulullah tidak menyuruh wanita tersebut menutup mukanya. Kalaulah Abbas tahu bahawa melihat wanita itu adalah haram, maka sudah tentu dia tidak akan menanyakan perkara itu kepada Rasulullah. Dan kalaulah apa yang difahami olehnya adalah harus, nescaya Rasulullah tidak akan memperakui pertanyaannya itu."

Di dalam kitab Nailul Autor, al-Alamah as-Syaukani telah berkata: " Hadis ini cukup sesuai untuk membuktikan bahawa ayat hijab yang bermaksud " apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri nabi), maka mintalah dari belakang tabir " adalah khusus untuk isteri-isteri Rasulullah (s.a.w) sahaja. Ini kerana kisah al-Fadhl berlaku ketika Haji Wada' iaitu pada tahun kesepuluh, sedangkan ayat hijab turun ketika peristiwa pernikahan Zainab iaitu pada tahun kelima hijrah."

8: Hadis-hadis lain

Di antara hadis-hadis lain yang juga turut menjadi dalil antaranya ialah: Hadis daripada Jabir bin Abdullah di mana beliau telah berkata: " Aku telah bersama-sama Rasulullah (s.a.w) pada hari Raya. Rasulullah telah mengerjakan sembahyang hari raya sebelum dan pada membaca khutbah... Setelah itu Rasulullah pun menemui kaum wanita lantas memberi peringatan serta kata nasihat kepada mereka dengan katanya:

" Banyakkanlah bersedekah, sesungguhnya ramai di kalangan kamu yang akan menjadi kayu api di dalam neraka! Lalu bangunlah seorang wanita yang terpilih dan berpipi merah seraya berkata: " Bagaimana boleh berlaku demikian wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab: " Kerana kamulah orang yang paling banyak merungut dan mengengkari suami."

Jabir berkata: Kata-kata Rasulullah ini menyebabkan mereka menyedekahkan barang perhiasan mereka seperti cincin dan anting-anting dengan cara mencampakkannya ke dalam baju Bilal."

Bagaimana Jabir boleh tahu keadaan pipi wanita tersebut jika mukanya adalah tertutup dengan niqab?

Imam Bukhari juga telah meriwayatkan kisah sembahyang Hari Raya ini daripada Ibnu Abbas di mana Ibnu Abbas telah dapat bersama Rasulullah (s.a.w) ketika Hari Raya. Rasulullah telah menyampaikan khutbah setelah selesai menunaikan sembahyang sunat Hari Raya. Setelah itu baginda menemui kaum wanita dengan diiringi oleh Bilal untuk memberi peringatan serta kata nasihat kepada mereka dan menyuruh mereka supaya bersedekah. Saya sendiri melihat bagaimana tangan-tangan mereka mencampakkan barang-barang perhiasan mereka ke dalam baju Bilal.

Dalam membicarakan hadis ini Ibnu Hannin telah berkata: "Ibnu Abbas yang berada di samping Rasulullah (s.a.w) telah melihat sendiri tangan-tangan wanita. Dengan ini maka tangan dan muka wanita itu bukanlah aurat. "

Hadis yang telah diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud berdasarkan lafaz riwayat Abu Daud, daripada Jabir di mana Nabi (s.a.w)telah berdiri pada hari raya. Mula-mula baginda mengerjakan sembahyang setelah itu baginda pun menyampaikan khutbah kepada orang ramai. Setelah selesai, baginda turun menemui kaum wanita untuk memberi peringatan kepada mereka dalam keadaan bersandar pada tangan Bilal. Bilal ketika itu menghamparkan bajunya dan para wanita mencampakkan sedekah mereka. Ketika menceritakan peristiwa itu dia berkata: "Kaum wanita mencampakkan cincin cincin mereka.

Abu Muhammad bin Hazmin berkata: Cincin dalam hadis di atas ialah sejenis cincin besar yang dipakai oleh kaum wanita di jari jemari mereka. Kalaulah tapak tangan mereka ketika itu tidak kelihatan sudah tentu mereka tidak akan dapat menyerahkannya.

Hadis yang tersebut di dalam Sahih Bukhari dan Muslim daripada Aisyah (r.a) bahawa beliau berkata:

" Adalah kaum wanita Muslimat bersama Nabi (s.a.w) mengerjakan sembahyang subuh dalam keadaan mereka berselimut dengan pakaian bulu. Kemudian kelompok wanita tadi kembali ke rumah-rumah mereka setelah selesai solat dalam keadaan mereka masih tidak dikenali kerana keadaan yang masih gelap."

Mafhum hadis ini menunjukkan bahawa mereka akan dikenali jika keadaan sudah cerah dan bilamana muka mereka terdedah.

Hadis riwayat Muslim di dalam Kitab Sahihnya bahawa Subai'ah binti al-Haris adalah isteri kepada Sa'ad bin Khaulah, salah seorang sahabat yang menyertai peperangan Badar. Sa'ad meninggal dunia pada Haji Perpisahan (Hajatul Wadaa') yang ketika itu Subai'ah sedang mengandung. Tidak berapa lama setelah kematian Sa'ad, Subai'ah melahirkan anaknya. Setelah suci daripada nifas, Subai'ah pun mulalah berhias-hias supaya ada orang masuk meminang. Ketika itu Abu Sanabil bin Ba'kak telah masuk menemuinya seraya berkata: " Kenapakah kamu berhias ini? Mungkin kamu ingin berkahwin lagi! Demi Allah, sesungguhnya kamu tidak boleh berkahwin melainkan setelah berlalunya empat bulan sepuluh hari." Subai'ah berkata: " Apabila Abu Sanabil berkata demikian aku pun mengumpulkan segala pakaianku pada petang hari itu juga pergi menemui Rasulullah(s.a.w)untuk bertanyakan perkara tersebut. Lalu baginda memberikan fatwa bahawa edahku telah tamat sebaik sahaja aku melahirkan anak dan baginda menyuruhku supaya berkahwin jika itu yang aku mahu."

Hadis ini menunjukkan bahawa Subai'ah telah kelihatan di hadapan Abu Sanabil dalam keadaan berhias, sedangkan Abu Sanabil bukanlah muhrimnya, bahkan Abus Sanabil inilah yang kemudiannya telah meminang Subai'ah. Kalaulah Subai'ah ketika itu memakai niqab, bagaimana Abu Sanabil boleh tahu sama ada dia berhias atau tidak?

Hadis daripada Ammar bin Yasir (r.a) bahawa seorang wanita telah lalu di hadapan seorang lelaki. Lelaki itu telah mengarahkan pandangannya kepada wanita tersebut. Oleh kerana terlalu asyik memandang akhirnya dia telah terlanggar dinding sehingga luka mukanya. Kemudian lelaki itu menemui Rasulullah (s.a.w) dalam keadaan darah mengalir di pipinya. Lalu lelaki itu menceritakan apa yang telah berlaku kepada dirinya. Rasulullah menjawab:

" Sekiranya Allah mengehendaki kepada hamba Nya kebaikan, maka Dia akan menyegerakan balasan dosa yang dilakukan semenjak di dunia lagi. Akan tetapi jika Allah mengehendaki perkara yang sebaliknya, maka Allah akan melambat-lambatkan balasan dosa sehinggalah disempurnakan pada Hari Akhirat kelak. Keadaannya itu samalah dengan keldai. "

Hadis ini menunjukkan kepada kita bahawa wanita-wanita ketika itu tidak memakai niqab. Malah kedapatan di kalangan mereka yang menarik perhatian kaum lelaki sehingga ke tahap terlanggar dinding dan luka mukanya.

9: Para sahabat pelik dengan pemakaian niqab:

Telah sabit di dalam sunnah bahawa pemakaian niqab oleh wanita di dalam setengah-setengah keadaan telah menimbulkan keganjilan serta tanda tanya kepada mereka. Antaranya:

i. Abu Daud meriwayatkan daripada Qais bin Syimas (r.a), beliau berkata bahawa seorang wanita (iaitu Ummu Khallad) telah datang menemui Rasulullah (s.a.w) dalam keadaan memakai niqab bertanyakan perihal anaknya yang telah terbunuh. Beberapa orang sahabat telah berkata kepadanya: " Anda datang untuk bertanya perihal anak anda sedang anda memakai niqab?!" Wanita itu menjawab: "Kalau pun aku telah hilang anakku, akan tetapi aku tidak akan sekali-kali kehilangan rasa maluku!"

Kalaulah niqab itu suatu yang lumrah serta biasa di kalangan wanita ketika itu, nescaya si perawi hadis ini tentu tidak akan melahirkan keganjilannya hingga perlu untuk menyatakan bahawa wanita yang datang menemui Rasulullah (s.a.w) dalam keadaan berniqab. Begitu juga para sahabat tidak akan merasa ganjil sehingga menyebabkan mereka berkata: "Anda datang bertanyakan tentang anak anda sedang anda memakai niqab?!"

Daripada jawapan yang diberikan oleh wanita itu, dapat kita mengetahui bahawa pemakaian niqab oleh wanita tersebut adalah didorong oleh sifat malu, bukannya kerana suruhan daripada Allah atau RasulNya. Kerana kalaulah pemakaian niqab itu merupakan arahan serta suruhan syarak, sudah tentu jawapan yang akan diberikan olehnya adalah berbeza. Bahkan soalan tentangnya juga tidak akan diutarakan kerana sudah menjadi sifat seorang muslim yang benar-benar beriman untuk tidak mempersoalkan apa jua yang diperintahkan kepadanya oleh syarak. Seorang yang benar-benar beriman tidak akan bertanya mengapa aku sembahyang atau mengapa aku mesti mengeluarkan zakat? Ini adalah berdasarkan kepada suatu kaedah yang telah ditetapkan iaitu:

Maksudnya: Apa yang didatangkan berdasarkan asalnya, maka ia tidak ditanya tentang sebabnya.

1O: Keperluan muamalat mewajibkan mengenali identiti seseorang.

Keperluan muamalat seseorang wanita dengan orang lain di dalam urusan kehidupannya menuntut supaya identiti wanita itu dikenali oleh orang yang berurusan dengannya; tidak kira sama ada wanita itu sebagai penjual atau pembeli, wakil atau yang mewakilkan, saksi atau yang disaksikan dan seumpamanya. Oleh yang demikian kita mendapati para fuqahak telah sepakat mengatakan bahawa wanita wajib mendedahkan mukanya di dalam perbicaraan supaya identitinya dikenali oleh hakim, para saksi dan pendakwa. Adalah suatu yang mustahil untuk kita mengenali identiti serta menghukum seseorang wanita sebagai fulanah binti fulan jika mukanya tidak dikenali oleh orang lain sebelum berlakunya perbicaraan. Kalaulah mukanya tidak dikenali, maka pendedahan mukanya di hadapan perbicaraan itu tidak akan memberi sebarang manfaat.

Dalil Mereka Yang Mewajibkan Pemakaian Niqab.

Apa yang kami paparkan sebelum ini ialah dalil-dalil utama jumhur fuqahak yang mengatakan bahawa pemakaian niqab adalah tidak wajib. Maka apakah pula dalil mereka (bilangan mereka sedikit) yang menyatakan wajib?

Sebenarnya saya tidak mendapati bagi orang yang mengatakan wajibnya memakai niqab dan wajibnya menutup muka dan kedua tangan- satu dalil syarak yang sabit secara sahih, mempunyai dalalah (petunjuk kepada hukum) yang nyata dan selamat daripada sebarang kritikan sehingga dapat diterima oleh dada dan hati dengan tenang.

Pendek kata, segala dalil yang ada pada mereka hanyalah nas nas yang tidak terang maksudnya serta tertolak oleh nas-nas yang terang dan dalil-dalil yang nyata.

Di sini saya akan menyebutkan dalil-dalil mereka yang paling kuat dan saya sertakan dengan penolakan saya terhadap dalil-dalil tersebut:

1: Di antaranya ialah pandangan sebahagian ulama tafsir ketika mentafsirkan firman Allah yang menceritakan masalah jilbab:

" Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: " Hendaklah mereka menghulurkan jilbabnya ke tubuh mereka. " Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali kerana itu mereka tidak diganggu. " Al-Ahzab: 59

Sebahagian ulama tafsir dari kalangan ulama salaf telah menafsirkan menghulurkan jilbab ke tubuh mereka dengan mereka menutup dengan jilbab itu keseluruhan muka mereka sehingga tidak kelihatan sesuatu pun melainkan mata sahaja supaya mereka dapat melihat dengannya.

Penafsiran yang seumpama ini telah diriwayatkan daripada Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Ubaidah as-Salinani dan lain-lainnya. Walaupun begitu tidak berlaku di sana persepakatan pada makna `jilbab' mahupun `menghulurkan'.

Apa yang pelik ialah penafsiran yang dibuat oleh Ibnu Abbas di sini sebagaimana yang diriwayatkan daripadanya adalah berbeza dengan penafsirannya pada ayat di dalam surah an Nur!

Dan lebih pelik lagi kerana ada di kalangan ulama tafsir yang meriwayatkan kedua-dua pendapat tersebut. Mereka memilih atau mentarjihkan pada surah al-Ahzab pendapat yang mereka lemahkan atau dhaif dan pada surah an Nur!

Imam an Nawawi telah menyebut di dalam kitabnya Syarah Muslim hadis Ummu `Atiah pada bab mengenai sembahyang hari raya: " Salah seorang daripada kami tidak mempunyai jilbab..." Ketika mengulas hadis ini Imam an-Nawawi telah berkata: " AnNadhr bin Syumail telah berkata: " Jilbab ialah sejenis baju yang bentuknya lebih pendek -dan lebar- daripada khimar. Ia bertudung dan digunakan oleh wanita untuk menutup kepalanya.

Pendapat yang lain pula mengatakan bahawa ia adalah sejenis baju yang besar tanpa selendang, digunakan untuk menutup bahagian dada serta belakang badan. Ada juga pendapat yang mengatakan bahawa ia adalah seumpama baju tebal seperti selimut yang biasanya diperbuat daripada bulu. Pendapat lain pula mengatakan ia adalah seumpama selendang dan pendapat yang terakhir pula mengatakan ia adalah khimar.

Walau bagaimanapun, firman Allah yang bermaksud; " Menghulurkan jilbabnya ke tubuh mereka " tidak menunjukkan wajibnya menutup muka, sama ada dari sudut bahasa mahupun secara uruf Ini kerana tidak ada di sana sebarang dalil al-Quran, Sunnah ataupun Ijmak yang menyebut tentangnya. Mengenai kata kata sebahagian ulama tafsir bahawa ayat tersebut mewajibkan menutup muka, kata-kata ini bertentangan dengan kata-kata sebahagian ulama tafsir lain yang mengatakan bahawa ayat ini tidak menunjukkan kewajipan menutup muka, sebagaimana yang dinyatakan oleh pengarang kitab Adhwaaul Bayaan.

Oleh yang demikian, ayat yang mereka kemukakan sebagai hujah untuk mengatakan wajibnya menutup muka adalah tertolak.

2. Mereka juga berhujah dengan tafsiran yang telah disebut oleh Ibnu Mas'ud kepada firman Allah yang bermaksud " dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya " bahawa apa yang biasa nampak daripadanya ialah selendang dan baju luar.

Tafsiran tersebut adalah bercanggah dengan apa yang telah sabit dinyatakan oleh Para sahabat yang lain, antaranya Ibnu Abbas, Aisyah, Ibnu Umar, Anas dan ulama-ulama Tabien yang lain. Mereka telah menafsirkan ayat tersebut sebagai celak mata dan juga cincin ataupun tempat kepada kedua-dua perhiasan itu tadi iaitu muka serta dua tapak tangan. Ibnu Hazmin menyatakan bahawa tafsiran tersebut adalah benar-benar sahih daripada mereka.

Tafsiran ini telah disokong oleh al-Alamah Ahmad as-Syanqiti sebagaimana yang telah disebut di dalam kitabnya yang bertajuk " Mawaahibul Jalil Min Adillati Khalil ". Beliau telah berkata: " Sesiapa yang berpegang dengan tafsiran Ibnu Mas'ud mengenai firman Allah yang bermaksud " kecuali yang (biasa) nampak daripadanya " sebagai baju luar, maka dijawab bahawa tafsiran yang paling baik ialah tafsiran al-Quran dengan al-Quran. Di mana al-Quran telah mentafsirkan perhiasan wanita itu dengan barang kemas. Ini jelas sebagaimana firman Allah :

" Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. " An-Nur: 31

Dengan ini ternyatalah bahawa perhiasan yang disebut di dalam al-Quran adalah merujuk kepada barang kemas wanita.

Pernyataan ini dikuatkan dengan penjelasan kami yang lalu di mana pengecualian di dalam ayat tersebut iaitu ayat yang bermaksud " kecuali yang biasa nampak daripadanya " adalah bertujuan untuk memberi keringanan serta kemudahan. Sedangkan terdedahnya pakaian luar adalah suatu perkara yang perlu dan bukannya lagi sebagai keringanan ataupun kemudahan.

3: Mereka juga berhujah dengan apa yang telah dinyatakan oleh pengarang kitab Adhwaaul Bayaan ketika mengambil dalil daripada firman Allah tentang isteri-isteri Rasulullah (s.a.w)

" Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. " Al-Ahzab: 53

Sesungguhnya sebab atau illah kepada hukum ini (iaitu hukum wajib berhijab) ialah ia lebih menyucikan hati-hati lelaki dan wanita daripada sebarang perkara buruk sebagaimana yang disebut di dalam firman Allah yang bermaksud " cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Sebab atau illah ini merupakan petanda yang terang yang menunjukkan alasan kepada hukum itu.

Kerana tiada seorang pun dari kalangan muslimin yang berkata, bahawa wanita selain daripada isteri-isteri Rasulullah (s.a.w) tidak perlu kepada hati yang benar-benar bersih. Begitu juga tidak ada seorang pun yang mengatakan bahawa lelaki adalah tidak perlu kepada hati yang bersih daripada sebarang rasa yang tidak baik terhadap wanita.

Akan tetapi bagi mereka yang benar-benar meneliti struktur ayat tersebut akan mendapati bahawa, apa yang dimaksudkan dengan `kesucian' yang disebut sebagai sebab kepada hukum tersebut, bukanlah keburukan yang diandaikan boleh berlaku sama ada daripada Ummah Mukminin ataupun para sahabat yang masuk menemui mereka.

Ini kerana keburukan yang seumpama itu adalah jauh untuk difahami daripada keadaan struktur ayat tersebut. Adalah tidak tergambar bagi Ummah Mukminin dan juga para sahabat yang masuk menemui mereka berlaku lintasan hati yang sedemikian.

Sebaliknya `kesucian' di sini ialah semata-mata berfikir untuk berkahwin secara halal setelah wafatnya Rasulullah yang kadang kadang terlintas di dalam hati salah satu pihak.

Manakala dalil yang digunakan oleh sesetengah mereka yang mewajibkan niqab dengan ayat yang sama iaitu firman Allah yang bermaksud " maka mintalah dari belakang tabir " adalah tertolak kerana ayat ini hanya khusus untuk isteri-isteri Rasulullah (s.a.w) sahaja. Ini jelas disebutkan di dalam ayat.

Sementara pendapat yang mengatakan bahawa ` pengajaran sesuatu ayat adalah berdasarkan umum ayat dan bukannya berdasarkan sesuatu sebab yang khusus ' tidak boleh digunakan di sini kerana lafaz di dalam ayat yang sedang kita bincangkan bukannya umum.

Begitu juga qias yang mereka gunakan iaitu menyamakan semua wanita dengan isteri-isteri Rasulullah (s.a.w) adalah tertolak kerana qias tersebut adalah qias dalam masalah yang berlainan. Ini disebabkan para isteri Rasulullah itu ternyata lebih diberati pada urusan mereka berbanding dengan wanita-wanita lain. Ini jelas sebagaimana firman Allah:

" Wahai isteri-isteri Nabi, kamu sekelian tidaklah seperti wanita yang lain. " Al-Ahzab: 32

4. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhari daripada Ibnu Umar bahawa Rasulullah (s.a.w) telah bersabda:

" Janganlah wanita yang dalam ihram itu memakai nigab atau sarung tangan. "

Hadis ini menunjukkan bahawa niqab dan sarung tangan adalah suatu yang maklum di kalangan kaum wanita yang bukan di dalam ihram.

Kami tidak menafikan bahawa ada di kalangan wanita yang bukan di dalam ihram secara sukarela memakai niqab dan juga sarung tangan. Tetapi persoalannya, dimanakah kedudukan dalil ini dalam mewajibkan niqab dan sarung tangan?

Malah lebih logik kalau mereka menjadikan keadaan tersebut sebagai dalil untuk tidak wajibnya pemakaian niqab dan sarung tangan. Ini kerana perkara perkara yang diharamkan ketika ihram pada asalnya adalah harus. Sebagai contoh memakai pakaian yang berjahit, bau-bauan, berburu dan sebagainya. Tidak ada di sana satu perkara pun yang asalnya adalah wajib, kemudian berubah menjadi haram hanya kerana ihram.

Oleh yang demikian kebanyakan fuqahak, telah menjadikan hadis ini sebagai hujah (sebagaimana yang kami telah sebutkan sebelum ini) bahawa muka dan dua tapak tangan bukanlah aurat. Jika kedua-duanya adalah aurat sudah tentu Rasulullah tidak akan mewajibkan kepada wanita untuk mendedahkannya ketika ihram.

5. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan al-Baihaqi daripada Aisyah katanya: " Serombongan kafilah telah melintas lalu di hadapan kami yang ketika itu sedang di dalam ihram bersama Rasulullah (s.a.w). Sebaik sahaja rombongan itu berada setentang dengan kami, salah seorang daripada kami melabuhkan jilbabnya daripada atas kepalanya sehingga menutupi mukanya. Apabila rombongan itu melepasi kami, kami pun membuka tutup mukanya semula."

Hujah dengan hadis tersebut adalah tertolak di sebabkan beberapa perkara:

Pertama:

la adalah hadis dhaif. Di dalam rangkaian rawinya terdapat Yazid bin Abu Ziyaad yang terkenal dengan beberapa kecacatan. Oleh kerana sesuatu hukum itu tidak boleh diambil daripada hadis-hadis yang dhaif, maka dengan sendirinya ia adalah tertolak.

Kedua:

Perbuatan yang dilakukan oleh Aisyah itu tidak menunjukkan bahawa ia adalah wajib. Kalau perbuatan Rasulullah sendiri tidak menunjukkan wajibnya sesuatu, bagaimana kita menjadikan perbuatan orang lain sebagai dalil wajibnya sesuatu?

Ketiga:

Sebagaimana yang kita semua sedia maklumi di dalam Ilmu Usul, apabila berlaku berbagai-bagai andaian di dalam sesuatu peristiwa, maka ia akan menjadi dalil yang mujmal (yang boleh diandaikan dengan banyak andaian). Oleh itu peristiwa tersebut tidak boleh dijadikan dalil.


Andaian yang berlaku di sini ialah hukum yang terdapat di dalam hadis tersebut adalah antara hukum-hukum yang hanya dikhususkan untuk para isteri Rasulullah sahaja seperti haram mengahwini mereka setelah kewafatan Rasulullah dan yang seumpamanya.

6. Hadis marfu' yang telah diriwayatkan oleh at-Tarmizi:

" Wanita adalah aurat. Apabila dia keluar, maka dia akan dipandang dengan pandangan yang tajam oleh syaitan. "

Imam at-Tarmizi telah mengkategorikan hadis ini sebagai hadis Hasan Sahih.

Berdasarkan hadis ini, sebahagian ulama mazhab Syafie dan Hanbali telah menyatakan bahawa seluruh tubuh wanita adalah aurat tanpa mengecualikan muka, tapak tangan ataupun kaki.

Apa yang sahih, hadis tersebut tidaklah menunjukkan kepada keseluruhan hukum yang mereka sebutkan itu. Malah ia menunjukkan kepada kita bahawa hukum asal kepada wanita ialah penjagaan dan penutupan, bukannya pendedahan dan pembukaan. Keadaan kebanyakan tubuh badan wanita adalah aurat sudah cukup menjadi dalil kepada kita tentang hakikat ini.

Jika kita mengambil hadis ini berdasarkan maknanya yang zahir, maka wanita sama sekali tidak dibenarkan untuk mendedahkan sesuatu daripada tubuhnya tanpa mengira ketika sembahyang atau pun haji.

Sedangkan ini jelas bertentangan dengan hukum yang telah sabit.

Dan juga bagaimana kita boleh gambarkan bahawa muka dan kedua tapak tangan adalah aurat sedangkan di sana para ulama telah bersepakat mengatakan harus mendedahkan kedua-duanya di dalam sembahyang dan wajib mendedahkan keduanya ketika ihram?

Adakah boleh diterima (melalui pemahaman berdasarkan maknanya yang zahir) syarak menghukumkan harusnya mendedahkan aurat ketika sembahyang dan mewajibkannya ketika di dalam ihram?

7. Di sana ada satu dalil yang digunakan oleh mereka yang mewajibkan pemakaian niqab ketika mana mereka tidak menjumpai dalil-dalil yang kukuh daripada nas. Dalil tersebut ialah sadduz zaraai'. Inilah senjata yang dihunuskan ketika segala senjata-senjata lain sudah ditumpulkan.

Yang dimaksudkan dengan sadduz zaraai' ialah melarang sesuatu yang harus kerana dikhuatiri akan membawa kepada yang haram. la merupakan perkara yang menjadi perselisihan di kalangan ulama; ada yang menerima, ada yang menolak, ada yang meluaskan penggunaannya dan ada yang menggunakannya hanya dalam skop yang sempit.

Imam Ibnu al Qaiyim di dalam kitabnya " I'laam alMuwaaqiin " telah mengemukakan sebanyak sembilan puluh sembilan dalil yang membuktikan bahawa kaedah sadduz zaraai' boleh dijadikan hujah.

Perlu diingat bahawa menjadi perkara yang sedia maklum di kalangan para pengkaji ilmu fikah dan ilmu Usul bahawa:

Berlebih lebih dalam mengharamkan sesuatu yang harus kerana dikhuatiri akan membawa kepada yang haram adalah sama seperti berlebih lebih dalam mengharuskan perkara yang membawa kepada yang haram.

Ini dapat dilihat apabila berlebih-lebih dalam mengharuskan perkara yang membawa kepada haram akan mendatangkan lebih banyak mudarat kepada manusia di dalam urusan ugama dan juga dunia mereka, begitu juga keadaannya jika berlebih-lebih dalam menghalang manusia melakukan perkara yang harus. Keadaan ini akan menghalangkan kebaikan yang banyak daripada manusia; sama ada di dunia ataupun di akhirat.

Apabila syarak telah menetapkan ke atas kita sesuatu hukum berdasarkan kepada nas-nas dan juga kaedah-kaedahnya, maka adalah tidak wajar untuk kita menolak hukum tersebut hanya dengan pendapat kita ataupun kerana kebimbangan kita. Tindakan sedemikian seolah-olah menghalalkan apa yang telah Allah haramkan ataupun mengadakan hukum yang tidak diizinkan oleh Allah.

Umat Islam pada dekad-dekad yang lalu terlampau ketat dalam urusan mereka. Mereka menggunakan slogan sadduz zaraai' supaya tidak berlaku fitnah sebagai alasan. Sehingga mereka telah menegah kaum wanita daripada pergi ke masjid.

Dengan itu mereka telah menghalang kebaikan yang banyak daripada dikecapi oleh kaum wanita, sedangkan bapa atau suami mereka tidak mampu untuk memberikan kepada mereka ilmu pengetahuan atau kata-kata nasihat yang boleh mereka perolehi dimasjid-masjid. Kesan daripada suasana ini wujudlah wanita yang sepanjang hidupnya hinggalah dia menghembuskan nafas terakhirnya, tidak pernah menunaikan sembahyang walaupun satu rakaat!

Keadaan ini jauh bertentangan dengan apa yang telah dinyatakan oleh Rasulullah (s.a.w) sendiri dalam sabdanya:

" Janganlah kamu menghalang hamba-hamba Allah yang perempuan daripada mendatangi masjid-masjid Allah. " Hadis Riwayat Muslim

Dahulu, pernah berlaku perdebatan yang hangat di kalangan sebahagian orang Islam mengenai penglibatan kaum wanita di alam pendidikan. Adakah harus bagi kaum wanita untuk pergi ke sekolah atau ke universiti bagi tujuan tersebut? Hujah mereka yang melarang hanyalah menutup jalan jalan yang membawa kepada perkara yang haram (sadduz zaraai' ).

Ini kerana wanita-wanita yang berpendidikan tinggi, mereka lebih mampu untuk melakukan perkara yang tidak baik seperti mengurat dan menjalin hubungan dengan lelaki sama ada melalui penulisan atau surat menyurat dan lain-lain... Perselisihan ini berakhir dengan kata sepakat membenarkan penglibatan kaum wanita untuk turut sama menimba segala ilmu yang memberi manfaat kepada mereka, keluarga dan juga masyarakat. Tidak kira sama ada ilmu keagamaan mahupun keduniaan.

Fenomena tersebut telah menjadi suatu yang lumrah di kalangan masyarakat Islam di seluruh pelusuk negara Islam sehingga tidak ada seorang pun yang menolaknya, melainkan jika didapati berlaku di sana perkara yang benar-benar bertentangan dengan ajaran dan adab-adab Islam.

Bagi kita, cukuplah segala hukum-hakam dan juga adab-adab yang telah ditentukan oleh syarak sebagai langkah untuk mencegah daripada berlakunya kemungkaran dan fitnah.

Di sana terdapat banyak contoh, antaranya mewajibkan pakaian yang memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh syarak, larangan mendedahkan aurat, larangan berkhalwat dan arahan supaya memelihara tatatertib dan bersopan ketika bertutur atau berjalan. Di samping itu syarak juga memerintahkan kepada lelaki dan juga wanita supaya menundukkan pandangan. Semuanya ini sebenarnya sudah memadai dan tidak perlu lagi untuk kita memikirkan halangan halangan lain.

8. Golongan yang mewajibkan menutup tapak tangan dan muka ini telah menjadikan uruf umum (kebiasaan yang lumrah) yang berlaku di kalangan umat Islam pada beberapa kurun yang lampau sebagai dalil.

Uruf yang mereka maksudkan itu ialah pemakaian niqab dan yang seumpamanya di kalangan wanita Islam ketika itu. Sebahagian fuqahak telah berkata yang maksudnya; Uruf adalah diiktibar dalam syarak, oleh itu kadang-kadang sesuatu hukum itu bergantung ke atasnya.

Begitu juga Imam an Nawawi dan lain-lainnya ketika menyebut dalil berkenaan harusnya wanita melihat lelaki, telah memetik daripada Imam al-Haramain yang mengatakan bahawa muslimin sepakat melarang wanita daripada keluar dalam keadaan tidak menutup muka.

Dakwaan mereka ini kita tolak berdasarkan beberapa noktah:

Pertama:

Uruf yang mereka nyatakan adalah bertentangan dengan uruf yang berlaku di zaman yang disifatkan sebagai sebaik baik zaman. Iaitu uruf di zaman Rasulullah dan juga para sahabat. Orang-orang yang mengambil petunjuk daripada mereka inilah sahaja lah yang akan beroleh petunjuk.

Kedua:

Uruf yang mereka nyatakan itu bukanlah uruf yang bersifat umum yang meliputi seluruh kawasan. Berlaku di Bandar bandar, tetapi tidak di kampung-kampung, pekan dan sebagainya.

Ketiga:

Perkara yang sedia maklum di dalam ilmu Usul bahawa perbuatan Rasulullah (s.a.w) tidaklah menunjukkan kepada wajibnya sesuatu perkara. Sebaliknya ia hanyalah dalil kepada harus untuk melakukan perkara tersebut. Kalaulah perbuatan Rasulullah (s.a.w) sendiri tidak menunjukkan kepada wajibnya sesuatu perkara, inikan pula perbuatan orang lain!

Dari sini jelaslah kepada kita bahawa uruf yang mereka katakan itu (sekalipun kalau kita menerima bahawa ia termasuk di dalam uruf yang umum), paling kuat pun ia hanyalah menunjukkan bahawa mereka melakukan yang demikian (pemakaian niqab) hanyalah kerana memandang itu adalah lebih baik sebagai langkah penjagaan dan berhati-hati, bukan menunjukkan bahawa mereka menjadikannya sebagai kewajipan syarak.


Keempat:

Uruf yang mereka katakan itu adalah bertentangan dengan uruf sekarang yang lahir daripada keperluan perkembangan zaman dan kemajuan di dalam berbagai sektor kehidupan dan sistem kemasyarakatan, juga perubahan kedudukan wanita itu sendiri. Kalau dulu mereka adalah jahil dan terperosok di dalam rumah, tetapi kini wanita telah keluar daripada zaman kejahilannya, keluar daripada keadaannya yang kaku kepada suasana yang aktif bergerak serta turut terlibat di dalam pelbagai bidang kehidupan.

Oleh itu, hukum yang dibina berdasarkan uruf sesuatu zaman atau tempat akan turut berubah dengan berubahnya zaman atau tempat.

Salah Faham Yang Terakhir.

Sebagai penutup, di sini kami akan memaparkan beberapa salah faham yang berlaku di kalangan segelintir golongan `beragama' yang lebih cenderung untuk mengenakan sekatan terhadap kaum wanita. Ringkasan salah faham tersebut ialah, mereka berkata:

Kami menerima dalil-dalil yang anda kemukakan mengenai wanita boleh mendedahkan muka. Di samping itu kami juga menerima hujah anda yang mengatakan bahawa wanita di zaman Rasulullah (s.a.w) dan Khulafa ar-Rasyidin tidak melazimi pemakaian niqab melainkan sedikit sahaja.

Akan tetapi suatu hakikat yang harus kita maklumi ialah zaman tersebut adalah suatu zaman yang cukup ideal. Ini kerana zaman tersebut dipenuhi oleh individu-individu yang bersih akhlaknya serta tinggi jiwanya. Ketika itu wanita yang terdedah mukanya akan aman daripada sebarang gangguan dan juga perkara yang menyakitinya.


Malangnya suasana sedemikian tidak lagi wujud di zaman kita sekarang. Kemungkaran dan kerosakan akhlak berluasa. Manusia ketika ini seolah-olah sentiasa diekori oleh fitnah walau di mana sahaja mereka berada. Oleh yang demikian adalah suatu yang terbaik untuk wanita menutup mukanya agar nanti tidak memberi peluang kepada si serigala lapar yang sememangnya sentiasa tercari cari peluang pada setiap keadaan.

Penolakan terhadap salah faham ini adalah berdasarkan kepada beberapa noktah:

Pertama:

Sekalipun zaman Rasulullah (s.a.w) dan Khulafa' ar-Rasyidin merupakan zaman yang cukup ideal (yang tidak pernah terpapar disepanjang sejarah kemanusiaan kesucian dan ketinggian sepertinya) akan tetapi ini tidak bermakna tidak berlaku di sana sebarang kecacatan. Kerana walau apa jua keadaannya, mereka itu tetap manusia biasa yang mesti ada pada mereka titik kelemahan serta kesilapan.

Oleh itu, tidak hairan jika di kalangan mereka juga berlaku zina sehingga dikenakan hukuman hudud dan ada juga yang melakukan perbuatan keji yang lebih rendah daripada zina. Begitu juga ada di kalangan mereka yang fasik dan golongan yang suka mengusik dan mengganggu kaum wanita dengan akhlak mereka yang menyeleweng. Allah (s.w.t) telah menurunkan firman Nya di dalam surah al-Ahzab yang memerintahkan wanita yang beriman supaya melabuhkan jilbab mereka sehingga mereka dikenali sebagai wanita merdeka yang terpelihara dan dengan itu mereka tidak akan diganggu. Firman Allah:

" Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali kerana itu mereka tidak diganggu. " Al-Ahzab: 59

Allah juga telah menurunkan beberapa ayat di dalam surah Al-Ahzab yang berbentuk ugutan ke atas golongan fasik serta yang suka mengganggu, jika mereka tidak menghentikan perbuatan mereka yang buruk itu. Firman Allah:

" Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit di dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan khabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), nescaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Dimana sahaja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya. " Al-Ahzab: 60-61

Kedua:

Dalil-dalil syarak (jika ia benar-benar sahih serta terang hujahnya) adalah bersifat umum serta berkekalan. Ia bukanlah dalil ataupun hujah untuk satu atau dua zaman sahaja kemudian tidak boleh digunakan lagi.

Kalau benarlah kata-kata yang mengatakan bahawa dalil-dalil syarak tidak bersifat kekal, maka sudah tentu syariat ini adalah bersifat sementara. Sedangkan ini adalah bercanggah dengan hakikat syariat Mohammed yang merupakan penutup kepada segala syariat.

Ketiga:

Sekiranya kita membuka bab ini untuk laluan akal, nescaya kita akan membatalkan hukum yang telah sabit di dalam syarak dengan pandangan kita.

Adalah menjadi hasrat golongan yang terlalu `ekstremis' untuk membatalkan hukum-hakam syarak yang pada dakwaan mereka adalah terlalu mudah dengan alasan untuk menunjukkan sikap wara' dan berhati-hati.

Begitu juga golongan yang `moderate' di mana adalah menjadi keinginan mereka untuk membatalkan hukum-hakam yang telah tetap dengan alasan untuk menyelaraskannya dengan kemajuan zaman dan seumpamanya.

Sedangkan hakikat sebenar mengenai syariat Islam itu ialah syariat yang memerintah dan bukannya syariat yang diperintah. Ini bermakna kita yang tunduk kepada syariat dan bukannya syariat yang tunduk kepada kita. Firman Allah
KulopAtoi
K. Pengendali
K. Pengendali
 
Posts: 1848
Joined: Sat Feb 24, 2001 8:00 am
Location: Ujung Sana

Postby g@y@t on Sat Dec 25, 2004 10:16 pm

Dr Yusuf al-Qaradhawi telah membahaskan mengenai isu niqab ini dengan panjang lebar dalam kitabnya fatawa muasirah. Beliau telah menjelaskan isu ini dgn menarik sekali. Bahkan sheikh Nasiruddin al-albani telah menuli satu kitab khas membahaskan mengenai jilbab wanita dalam kitabnya yg bertajuk 'Hijab al-Mar'ah al-Muslimah'. Ada baiknya mereka yg mampu utk meneliti sendiri fatawa tersebut. Saya hanya sekadar memetik beberapa isi penting sahaja.

Pemakaian niqab ini adalah isu khilafiah yg tidak patut dijadikan punca perbalahan. Ia tidak melibatkan bid'ah. Krn setiap pendpt di dasari dgn nas dan dalil dari al-quran dan hadis. Hanya interpretasi terhadap dalil2 itu yg menjadikan perbezaan pendpt. Ini krn setiap dalil itu bukan bersifat qat'i dalalah.

Jumhur ulama' mengatakan niqab itu tidak wajib Imam an-Nawawi kitab al-majmu' telah meringkaskan pendpt pemakaian niqab ini spt berikut:

-Syafi'i, abu Hanifah, Malik, al-Auzie, Abu Thaur dan satu riwayat dari Ahmad dan lain2 aurat bagi wanita merdeka adalah seluruh tubuh kecuali muka dan 2 tapak tangan shj.

-Abu Hanifah, as-Thauri dan al-Muzanni mengatakan kaki bukan aurat.

-Imam ahmad dalam satu riwayat yg lain mengatakan seluruh wanita itu aurat melainkan muka sahaja. Pendpt ini juga merupakan pendpt mazhab Daud spt yg dikatakan dalam nailul author.

-Ibn Hazmin pula spt yg disebut dalam al-Muhalla mengecualikan muka dan 2 tapak tangan.

Katakanlah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa kelihatan padanya, dan hendaklah mereka melepaskan kain tudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka.. (al-Nur, ayat 31)

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, bahawa para ulamak berselisih pendapat mengenai, apakah muka itu aurat atau bukan. Dan ayat di atas telah menjadi hujah kepada kedua-dua kelompok dengan penafsiran yang berbeda.

Kita ambil sedikit petikan ayat: ..dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa kelihatan padanya.

Terjemahan ayat : kecuali yang biasa kelihatan padanya.. dapat juga diterjemahkan: kecuali apa yang zahir (illa ma zahara). Pada ayat ini Allah Taala melarang wanita mempamirkan perhiasan, kecuali apa yang zahir. Persoalannya di sini ialah, apa maksud perhiasan zahir yang boleh dipamirkan? Jadi, dapat difahami bahawa perhiasan ada dua:
1. Yang zahir/nyata
2. Yang tidak zahir/nyata (batin/dalaman/tersembunyi)

Apakah perhiasan zahir? Apakah pula perhiasan yang tidak nyata? Para ulamak yang mengatakan muka itu adalah aurat, mereka menafsirkan bahawa perhiasan yang zahir itu ialah pakaian itu sendiri. Bila wanita berpakaian, bertudung dan menutup muka, maka itulah dia maksud perhiasan yang zahir. Perhiasan yang tidak nyata pula ialah, rantai leher, gelang, anting-anting dsbnya..

Manakala menurut ulamak yang berpendapat muka itu bukan aurat menafsirkan bahawa maksud perhiasan yang zahir yang boleh diperlihatkan di hadapan lelaki ialah celak dan cincin. Ada yang menambah telapak tangan. Ada yang tambah warna telapak tangan, iaitu pewarna yang dibubuh di telapak tangan (termasuk kuku). Dan, macam-macam lagilah.. tetapi di sekitar itulah. Perhiasan yang tersembunyi pula ialah rantai leher, anting-anting dsbnya.

Kitab-kitab tafsir berikut ada menjelaskan pendapat-pendapat berkenaan:
1. Jamiul Bayan Al-Thabari
2. Ahkamul Quran AL-Jashas
3. Al-Wajiz fi Tafsiril Quran al-Aziz Al-Wahidi
4. Maalimatut Tanzil AL-Baghawi
5. Tafsir al-Kasyaf Al-Zamakhsyari
6. Ahkamul Quran Ibnul Arabi
7. Al-Muharrir al-Wajiz Ibnu Athiyah
8. Zadul Masir Fi Ilmit Tafsir Ibnul Jauzi
9. Al-Tafsir al-Kabir Al-Fakhrur Razi
10. Al-Jami li Ahkamil Quran Al-Qurthubi
11. Tafsir al-Baidhawi
12. Lubabut Tawil Fi Maanit Tanzil Al-Khazin
Dan banyak lagi

Pembahasannya lebih kurang sama dalam menafsirkan `perhiasan yang zahir. Berikut ini adalah apa yang tersebut di dalam Zadul Masir fi Ilmit Tafsir oleh Ibnul Jauzi:
Maksud `perhiasan yang zahir/apa yang biasa dilihat, terdapat tujuh pendapat, iaitu:
1. Ia bermaksud pakaian. Ini adalah riwayat dari Abu Ahwash dari Ibnu Masud.
2. Bererti telapak tangan, cincin dan muka - Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas
3. Bererti celak dan cincin Juga dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas.
4. Bererti gelang, cincin dan celak Al-Misywar bin Mukhrimah.
5. Bererti celak, cincin dan pewarna telapak tangan Pendapat dari Mujahid.
6. Bererti cincin dan gelang Dari al-Hasan.
7. Bererti celak, cincin dan pewarna telapak tangan dari al-Dhahhak.

************
Itulah pendapat mereka tentang maksud perhiasan zahir yang biasa dilihat. Berdasarkan pendapat Ibnu Abbas, Al-Misywar bin Mukhrimah, Mujahid, dan al-Dhahhak dan al-Hasan dapat kita simpulkan bahawa yang boleh dipamerkan ialah perhiasan yang tidak mungkin diselindung yang memang biasa dipakai oleh para wanita. Kalau perhiasan di muka apa lagi kalau bukan celak. Kalau di telapak tangan apa lagi kalau bukan cincin. Cuma ada beberapa ulamak yang mengatakan bahawa muka itu sendiri adalah perhiasan. Dan telapak tangan itu sendiri adalah perhiasan. Jadi, mereka tidak memasukkan celak dan cincin sebagai perhiasan yang boleh dipamerkan.

Aisyah ra berpendpt bahawa wajah itu bukan aurat berdasarkan sebuah hadis yg bermaksud:

"Apabila seorang perempuan itu telah baligh, maka tidak halal baginya utk mendedahkan sesuatu drpd tubuhnya kecuali muka dan jgn sampai meliebihi had ini (sambil baginda memegang pertengahan lengannya)."

Pednpt ini juga merupakan pendpt Ibn Abbas dan Anas ra. Namun Ibn Mas'ud berpendpt muka itu termasuk aurat. Ini menunjukkan kesmua mereka berbeza pendapat dalam memahami ayat yg sama. Ulama' tafsir kmudiannya telah mentarjih pendpt2 ini. antaranya, at-Tabari, al-Qurtubhi, ar-Razi, al-Baidhawi dan lain2. Mereka mengatakan muka itu bukan aurat dan termasuk sesuatu yang biasa nampak. Ini dikuatkan lagi dgn hadis berikut:

Asma bin Abu Bakr telah masuk menemui Rasulullah saw dengan pakaian yg nipis lalu bagindapun berpaling daripadanya dan bersabda, "Wahai Asma', sesungguhnya apabila seorang wanita itu telah baligh, tidak harus utk dilihatkan tubuhnya kecuali ini dan ini(sambil menunjukkan ke arah muka dan dua tapak tangan)."[HR al-baihaqi. Abu Daud juga meriwayatkan hadis yg lebih kruang sama lafaznya]

Hadis di atas adalah dhaif. namun ada beberapa hadis lagi yg seumpama hadis ini, dan ia saling menguatkan atara satu dgn yg lain sehingga dinaik taraf ke hadis hasan sahih. Demikinalah yg dikatakan oleh Albani dalam kitabnya 'Hijab al-Mar'ah al-Muslimah'.

Quote:

Firman Allah Taala dalam surah an-Nur,ayat 60:

“Dan perempuan-perempuan tua yg telah terhenti(haid dan mengandung)yg tidak ada keinginan kahwin(lagi),tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak(bermaksud) menampakkan perhiasan.”

menggunakan ayat di atas sebagai dalil utk mengatakan wajibnya memakai niqab tidak tepat. Ibn Katsir dalam tafsirnya mengatakan kelonggaran ini memberikan kemudahan kpd kaum tua yg telah putus haid utk tidak menutup aurat sptmana org muda. Ia tidak membahaskan sedikitpun mengenai batas aurat.

Firman Allah Taala dalam surah al-Ahzab,ayat 59:

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak perempuan dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka menghulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”yg demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,kerana itu mereka tidak diganggu dan Allah Maha Pengampun dan Penyayang

Dalam kaitan ini Ibnu Abbas RA berkata:
“Allah SWT telah memerintahkan isteri-isteri orang mukmin apabila mereka keluar dari rumahnya untuk satu keperluan, wajib bagi mereka menutup kepala dan wajahnya dengan jilbab, sedang mereka boleh menampakkan mata saja.”

Para ulama dan Fuqaha berkata bahawa penafsiran seorang sahabat Rasulullah tentang sesuatu hukum daripada ayat suci Al-quran merupakan dalil dan hujah, bahkan ada sebahagian ulama yang menggolongkan sebagai hadis Marfu’ yg sampai kepada Rasulullah SAW. Sedangkan pernyataan Ibnu Abas yg membolehkan membuka kedua-dua belah mata adalah kerana darurat dan hajat seperti untuk melihat jalan dan sebagainya.

Benar bhw jumhur mufassirin mengatakan perintah di atas termasuk juga muka kecuali mata. Ini juga merupakan tafsiran Ibn Abbas, Ibn Mas'ud dan lain2 lg.

Apa yg pelik, Ibn Abbas telah manfasirkan ayat annur:30 dgn tafsiran yg berbeza spt yg telah diberikan sblm ini. Bahkan bertambah pelik jumhur mufassirin menafsirkan kedua2 ayat ini berbeza berdasarkan riwayat Ibn Abbas.

'menghulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka', firman Allah ini tidak menunjukkan ke arah hukum wajib, samda dari sudut bahasa maupun uruf. Tidak terdapat sebrg dalil dari al-quran, sunnah atau ijma' yg menyebut khusus mengenainya. Adapun ada ulama' yg mengatakan wajib, ia bertentangan pula dgn ulama' yg berbeza pendpt dgn mereka yg mngatakan ayat tersebut tidak memaksudkan muka sebagaimana yg dikatakan oleh pengarang kitab Adhwaaul Bayaan.

wassalam
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby dania_natasya on Tue Dec 28, 2004 4:45 pm

mmmm...terima kasih kepada semua yang membantu....
camner saya nak simpulkan yea di sini???
mengenai aurat sesama muhrim takder masalah...
cuma yang menjadi persoalan bila berada di khalayak ramai....
iaitu bila berhadapan dengan lelaki-lelaki yang bukan muhrim...

betul tak apa yang saya fahamkan...bila berada di khalayak ramai (di kawasan umum)
bahawa....seorang wanita muslimah itu wajib untuk menutup seluruh badannya..
melainkan muka dan tapak tangan.....
selain itu dia bukan sekadar wajib menutup aurat...
tetapi perlu berjilbab....(berjubah)......tanpa perlu memakai niqab(penutup muka)....

so...macammana dengan perempuan-perempuan yang kerja seperti jururawat, dan selainnya yang memerlukan pemakaian seluar panjang...adakah perkara begitu dibolehkan dalam Islam....???

dan satu lagi...mengenai pemakaian jilbab, sekiranya terdpat lelaki yang bukan muhrim (kawan suami/abg) kita, adakah perlu kita memakai jilbab walaupun kita berada di rumah sendiri..

sekian, terima kasih...
wassalam...

maaf jika soalan saya nih agak bodo-bodo sket..... :P
ISLAM IS THE WAY OF LIFE
dania_natasya
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 157
Joined: Mon May 24, 2004 1:20 pm

Postby fikrul mustanir on Tue Dec 28, 2004 5:10 pm

Assalamualaikum,

betul tak apa yang saya fahamkan...bila berada di khalayak ramai (di kawasan umum)
bahawa....seorang wanita muslimah itu wajib untuk menutup seluruh badannya..
melainkan muka dan tapak tangan.....
selain itu dia bukan sekadar wajib menutup aurat...
tetapi perlu berjilbab....(berjubah)......tanpa perlu memakai niqab(penutup muka)....


Benar, menurut pandangan yang saya pegang. :)

so...macammana dengan perempuan-perempuan yang kerja seperti jururawat, dan selainnya yang memerlukan pemakaian seluar panjang...adakah perkara begitu dibolehkan dalam Islam....???


Mereka tiada pilihan kecuali mengenakan jibab dan khimar sebagaimana yang disyariatkan. Jika tidak sedemikian, menurut pandangan saya, mereka telah melakukan keharaman.

Kami rasa simpati dengan mereka kerana tidak mampu untuk berpakaian secara Islam. Berdasarkan hal inilah kami menyatakan bahawa umat Islam tiada pilihan lain kecuali berusaha menegakkan Daulah Islamiyah dalam usaha mereka untuk mentaati Perintah-Perintah dan Larangan Allah SWT secara keseluruhan. Tiada jawapan lain bagi permasaalahan ini kecuali "iqamatil khilafah ala minhajin nubuwah" !!

dan satu lagi...mengenai pemakaian jilbab, sekiranya terdpat lelaki yang bukan muhrim (kawan suami/abg) kita, adakah perlu kita memakai jilbab walaupun kita berada di rumah sendiri..


(pindaan) Maaf jawapan saya terdahulu tak tepat yang sebenarnya tidak perlu memakai jilbab tetapi perlu menutup aurat kerana ikhtilat tersebut berlaku didalam kehidupan khusus. :D

wassalam...
User avatar
fikrul mustanir
Ahli Emeritus
Ahli Emeritus
 
Posts: 2495
Joined: Wed Aug 13, 2003 5:53 pm
Location: The Future Daulah Khilafah

Postby dania_natasya on Wed Dec 29, 2004 5:56 pm

mmm..terima kasih saya ucapkan di atas maklumbalas semua...
tapi yang tak bestnya....kenapa semua yang bermaklum balas....
adalah para muslim sahaja...ye ker muslim sahaja...

so, apa pendapat para muslimah kita??
ada apa-apa komen atau pertanyaan yang nak
diutarakan....silakanlah.....!!!

kita sama-sama membetulkan apa yang tidak betul...
yer tak??

okaylah....itu saja..wassalam!!!!
ISLAM IS THE WAY OF LIFE
dania_natasya
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 157
Joined: Mon May 24, 2004 1:20 pm

Postby dania_natasya on Wed Jan 12, 2005 1:27 pm

mmm.nampak gayanya takder sapa yang nak menyampuk...
takpelah gue nyampuk sorang-sorang....

sejak akhir-akhir nih kita nampak perkembangan "positif" dalam majalah-majalah
kat Malaysia nih...sekarang dah ada majalah yanag covernya wanita bertudung...
dan berfesyen yang menutup auratlah katakan....tutup semua....main belit-belit....tudung....
pusing atas, depan...belakang....last-last....bahagian dada tak tertutup dengan tudung....

mmm....pada pendapat patik....inilah antara majalah-majalah yang banyak mengelirukan umat,

bertudung hanya menjadi trend sahaja....tapi tidak mengikut syarak yang sebenar,
maknanya kalo seseorang tuh dah tudung kepala....kira "baik"lah awek tuh.....
kiranya penyanyi pakai tudung kira perrrghhh...baik gile....
tapi kekadang adakah kita berfikir....

setakat mana baiknya seseorang wanita/muslimah yang kita nak jadikan sebagai ukuran?

adakah dengan bertudung dah boleh dikatakan baik....??

mmmmm...camner tuh???

okaylah hamba nak tanya satu soalan....

bolehkan muslimah kita menjadi cover untuk majalah? (model yang menutup aurat)

apa pendapat yang arif???

Buntu nih.......
(ada cita-cita nak jadi model nih....... :D :D :D :D :D .....tapi sayang tak cukup tinggi) :gelak: :gelak: :gelak:
dania_natasya
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 157
Joined: Mon May 24, 2004 1:20 pm

Postby zuren_mai on Thu Aug 25, 2005 10:48 am

Cerita mengenai Aurat Lelaki / wanita memang tak kan habis selagi dunia ini ada jantina ini
dan selagi dunia ini sentiasa bersilih ganti dengan mereka2 yang mempunyai ilmu2 fesyen
yang terkini dan digilai ramai.Tak dinafikan kan?

cuma antara gila berfesyen dan penetapan hukum Syarak ianya x boleh disamakan/
xboleh dikotak-katikkan...

Tetapi saper orang muda2 yang mahu keetinggalan zaman dalam dunia berfesyen???

rasanya dimana2 kita akan lihat peniaga akan menayangkan pelbagai fesyen terkini..kebanyakkannya yang membuka aurat..menjolok mata..menaikkan nafsu jer..

Jarang sekali nak tayang busana muslimah yang terkini siap dengan kesopanan dan
keayuan menutup auratnya..kecuali di Butik Busana Muslimah jer...

Maka..

saper yang ada ilmu dan masih berpegang dengan hukumNya
tetap mahu berfesyen menutup aurat yang indah...

saper yang gila berfesyen pasti akan tergelincir dari garis2 landasan di atas yang panjang berjela2 dipaparkan...xmungkin dapat tercapai pun...

bertudung ajer cukup le..
lihat lah macam2 gaya pintal,pusing,ikat,simpul...mana nak tutup labuh bahagian dada???
mmmm...yang ada tutup cantik auratnya..mak Hajjah jer..iitu yang dok kat kampong..
dan yang kuat pegangannya. :matabulat: :matabulat: :matabulat:
pelajar2 kat sekolah Agama dan UIA yang masih lom tergoda lagi ...
(eheheheh iya ker???) :matabulat: :matabulat:

manusia itu takkan puas dan tak sempurna kejadian..
tapi akal lah yang menghalang ia dari tergelincir...

A'uzubillah.....
zuren_mai
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 104
Joined: Mon Apr 15, 2002 8:00 am
Location: berc

Postby akunilah on Thu Sep 15, 2005 8:32 pm

bagaimana pula dgn jubah seluar ye? boleh pakai tak? ataupun mengenakan seluar dan t shirt longgar sewaktu berjoging?
User avatar
akunilah
Ahli Emeritus
Ahli Emeritus
 
Posts: 1600
Joined: Thu Jun 30, 2005 6:26 pm

Postby limau nipis on Fri Sep 16, 2005 10:14 am

akunilah wrote:bagaimana pula dgn jubah seluar ye? boleh pakai tak? ataupun mengenakan seluar dan t shirt longgar sewaktu berjoging?


assalamualaikum..

jika diyakini menutup aurat dan tidak melanggar syarak, maka dibenarkan.. islam pun bukan ortodoks hanya kata baju kurung atau jubah labuh sahaja boleh pakai.. cuma pastikan pakai baju yang longgar dan menutup aurat. wassalam
User avatar
limau nipis
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 4456
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am

Postby limau nipis on Wed Sep 21, 2005 9:56 am

Assalamualaikum.. sekadar rujukan dari buku Tafsir Wanita

Adab Sopan Santun Keluarnya Wanita dari Rumahnya

Wajib bagi wanita untuk beradab sopan santun spt garis panduan ini:

[1] Meninggalkan wangian (yang boleh menggoda) jika dia keluar rumah.

Dari Zainab At-Tsaqafiyah, sabda Rasulullah saw:
"Jika salah seorang perempuan di kalangan kalian menghadiri solat Isya', maka janganlah dia memakai wewangian pada malam itu." -HR Muslim:443

Dari Abu Hurairah, sabda Rasulullah saw:
"Siapa saja dari perempuan yang memakai wewangian, maka janganlah dia ikut solat Isya' bersama kami" -HR Muslim:444

Dari hadits Al-Asyaa'ri, sabda Rasulullah saw (sanadnya disahkan hasan):
"Barangsiapa di antara wanita yg memakai wangian, dan dia berjalan di tengah-tengah manusia dgn tujuan utk mencium wanginya, maka wanita itu berzina" -HR Ahmad:4/313 dan An-Nasai: 8/513 dgn sanad dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan An-Nasai

[2] Berjalan di sisi jalan (bukan di tgh jalan untuk mencari perhatian).

Diriwayatkan Ibnu Hibban dan lainnya dengan isnad yang hasan, kerana adanya beberapa jalur periwayatan dari Abu Hurairah dia mengatakan, Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tidaklah wanita berhak berjalan di tgh-tgh jalan" -HR Ibnu Hibban dalam sahihnya: 5601 dari hadis Abu Hurairah.

[3] Hati-hati dengan menutupi diri jika dia memasuki rumah seseorang yang didalamnya banyak lelaki.

Hadis Ibnu Majah dan lainnya dengan isnad sahih dari hadis Aisyah dia berkata pada wanita-wanita penduduk Hamsh;
Mungkin kalian adalah (seperti) wanita-wanita yang masuk ke kamar-kamar mandi. Saya mendengar Rasulullah bersabda,
"Wanita mana saja yg menanggalkan pakaiannya di tempat selain rumah suaminya, maka sesungguhnya dia telah menghancurkan penghalang yang ada antara dia dengan Allah" -HR Abu Daud:4010

[4] Hendaknya dia keluar dengan menutup aurat.

Hendaknya dia menutup semua auratnya kerana sesungguhnya wanita itu adalah aurat.

Imam Ahmad meriwayatkan, dgn sanad hasan dari hadis Usamah, dia berkata:
"Rasulullah memberikan pakaian asal Mesir yg agak tebal. Kain itu diberikan sebagai hadiah oleh Dahyah al Kalbi. Maka saya pakaikan kain itu buat isteriku."
Maka Rasulullah bersabda, "Kenapa kamu tidak memakai pakaian yg kuberikan padamu itu?"
Saya katakan: Wahai Rasulullah, saya pakaikan pakaian itu utk isteriku!
Rasulullah bersabda: "Suruh dia untuk memakai pakaian dalm di bawah pakaian itu, sebab saya khuatir kain itu menampakkan bentuk tulangnya" - HR Ahmad:5/205

[5] Wajib baginya untuk menghiasi diri dengan adab sopan santun.

[6] Wajib bagi dirinya untuk menghiasi dirinya dengan perasaan malu.

Sebagaimana difirmankan Allah,
"Maka datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan." (Al-Qashash: 25)

Image

28:25 Afterwards one of the (damsels) came (back) to him, walking bashfully. She said: "My father invites thee that he may reward thee for having watered (our flocks) for us." So when he came to him and narrated the story, he said: "Fear thou not: (well) hast thou escaped from unjust people."

[7] Wajib baginya utk tidak bercampur baur dengan para lelaki, dan jangan sampai dia berhias dan bertingkahlaku sbgmana perilaku orang jahiliyah terdahulu.

Image

33:33 And stay quietly in your houses, and make not a dazzling display, like that of the former Times of Ignorance; and establish regular Prayer, and give regular Charity; and obey Allah and His Messenger. And Allah only wishes to remove all abomination from you, ye members of the Family, and to make you pure and spotless.

[8] Dan jika dia terpaksa harus bicara dgn seorang lelaki atau untuk meminta sesuatu, misalnya, maka wajib baginya untuk tidak merendahkan (mendesahkan) suaranya dengan mendayu-dayu.

Image

33:32 O Consorts of the Prophet! Ye are not like any of the (other) women: if ye do fear ((Allah)), be not too complacent of speech, lest one in whose heart is a disease should be moved with desire: but speak ye a speech (that is) just.

[9] Jangan memakai pakaian yg glamour yang akan membuatkan pandangan orang terfokus padanya.

[10] Hendaknya tidak terlalu banyak keluar kecuali kerana memang dalam keadaan terpaksa.
User avatar
limau nipis
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 4456
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am

Postby surfaris on Sun Oct 02, 2005 1:18 pm

limau nipis wrote:
akunilah wrote:bagaimana pula dgn jubah seluar ye? boleh pakai tak? ataupun mengenakan seluar dan t shirt longgar sewaktu berjoging?


assalamualaikum..

jika diyakini menutup aurat dan tidak melanggar syarak, maka dibenarkan.. islam pun bukan ortodoks hanya kata baju kurung atau jubah labuh sahaja boleh pakai.. cuma pastikan pakai baju yang longgar dan menutup aurat. wassalam


jd, boleh pakai seluar longar lah? bila keluar dgn suami lg..
surfaris
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 38
Joined: Tue Dec 30, 2003 4:58 pm

Postby limau nipis on Mon Oct 03, 2005 8:45 am

surfaris wrote:jd, boleh pakai seluar longar lah? bila keluar dgn suami lg..


ya
Firzanah Amni, Fawwaz Amin, Fahri Ahmad dan Fateh Aqmar; permata hati kami

Fahri stops lactating at 2 years, 2 weeks and 1 day old <-phew, what an achievement!
User avatar
limau nipis
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 4456
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am

Postby WARIS on Fri Jan 13, 2006 9:02 am

KONSEP PAKAIAN DALAM IBADAT

(BILANGAN 178 BAHAGIAN PERTAMA)





(Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)



Pakaian adalah di antara tiga perkara terpenting yang perlu dimiliki oleh setiap orang dalam hidupnya selain daripada makanan dan tempat tinggal. Justeru kerana ia merupakan keperluan asasi, pakaian juga boleh menjadi ukuran keperibadian seseorang, sebagai simbol atau tanda dan lain-lain perlambangan.



Kriteria berpakaian itu tidak memadai hanya berdasarkan kebiasaan ukuran adat, kerana adat boleh berubah. Oleh yang demikian, pakaian juga boleh berubah. Berapa banyak bentuk atau corak pakaian yang kalau dipakai dianggap tidak sopan tetapi sekarang ini menjadi popular.



Kalau begitu, ukuran agamalah yang dipakai bagi menentukan kriteria berpakaian itu. Corak dan fesyen tetap sahaja berbeza berdasarkan tempat dan zaman, yang penting pakaian itu menurut syara‘ menutup aurat biarpun dalam keadaan bersendirian. Antara maksud menutup aurat itu, selain menutup seluruh badan bagi wanita, pakaian itu longgar, tidak ketat serta tidak jarang dan lain-lain.

Pendeknya pakaian itu bukan sahaja ada hubungan dengan agama, tetapi juga ada hubungan dengan muru‘ah, budi pekerti dan ketertiban.



Ketiadaan pakaian yang layak dan sesuai bagi seseorang boleh menjatuhkan maruahnya bahkan boleh menggugurkan orang itu dari tuntutan hadir sembahyang berjemaah, sebagaimana yang disebutkan oleh pengarang kitab Fath al-Mu‘in bahawa di antara perkara-perkara uzur berjema‘ah dan uzur sembahyang Jum‘at



ialah tidak mempunyai pakaian yang sesuai atau layak kepada seseorang sekalipun telah mempunyai penutup auratnya. (Hasyiah I‘anat at-Thalibin: 2/79)



As-Sayyid al-Bakri pula menambah bahawa keuzuran disebabkan tidak mempunyai pakaian yang sesuai atau layak itu boleh menjatuhkan muru‘ah seseorang jika dibandingkan dengan lain-lain keuzuran. (Hasyiah I‘anat at-Thalibin: 2/79)



Pakaian semasa mengerjakan ibadat haji atau umrah telah pun ditetapkan kriterianya. Berpakaian sewaktu menunaikan sembahyang Jumu‘ah sangat digalakkan dengan memakai yang indah-indah.


Dalil Menutup Aurat



Menutup aurat adalah wajib ke atas setiap Muslim, tidak kira lelaki atau perempuan. Kewajipan ini berdasarkan kepada dalil- dalil daripada Al-Qur’an dan hadits. Antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:



Tafsirnya: “Dan hendaklah kamu tetap diam di rumah kamu serta janganlah kamu mendedahkan diri kamu seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah zaman dahulu (semasa keluar hendaklah memakai pakaian yang sopan dan jangan mendedahkan aurat seperti cara kaum Jahiliyah)”

(Surah al-Ahzaab: 33)



Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala yang lain:





Tafsirnya: “Wahai anak-anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu (bahan-bahan untuk) pakaian menutup aurat kamu, dan pakaian perhiasan; Dan pakaian yang berupa taqwa itulah yang sebaik-baiknya”.

(Surah Al-‘Araaf: 26)









Firman Allah Ta‘ala lagi:





Tafsirnya: “Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram) dan memelihara kehormatan mereka dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka atau anak-anak tiri mereka atau saudara-saudara mereka atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan atau perempuan-perempuan Islam atau hamba-hamba mereka atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi daripada perhiasan mereka dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman supaya kamu berjaya.”

(Surah Al-Nûr: 31)



Sementara itu dalil daripada hadits yang menyentuh tentang kewajipan menutup aurat itu ialah hadits yang diriwayatkan oleh Bahz bin Hakim daripada bapanya dan daripada datuknya:



Maksudnya: “Dia berkata: “Saya bertanya: “Wahai Rasulullah! (Kepada siapakah) dari aurat kami boleh kami perlihatkan dan (kepada siapa) kami hindarkan?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Peliharalah aurat kamu melainkan dari isteri kamu atau hamba sahaya perempuan kamu”.

Dia berkata: “Saya bertanya: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pula jika ada orang-orang berhimpun sebahagiannya dengan sebahagian yang lain?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kamu berdaya agar jangan dilihat aurat kamu oleh seseorang, maka janganlah pula dia (orang lain) itu melihat aurat kamu”.

Dia berkata: “Saya bertanya: “Bagaimana pula jika seseorang itu bersendirian?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah itu lebih berhak dimalui daripada manusia.”

(Hadits riwayat Abu Daud)



Melalui dalil-dalil yang disebutkan, jelaslah bahawa agama Islam amat mengambil berat terhadap masalah aurat sehingga diterangkan dengan jelas sebagaimana ayat 31, surah Al-Nûr di atas, dan lebih daripada itu kita juga digalakkan untuk menutup aurat dalam keadaan kita berseorangan meskipun di suatu tempat yang tertutup.

rujukan : http://www.brunet.bn/gov/mufti/irsyad/p ... 2_2004.htm
WARIS

Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah s.a.w.bersabda, "Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..!

Sila layari: http://enwaris.blogspot.com/
WARIS
Ahli Kehormat
Ahli Kehormat
 
Posts: 9331
Joined: Wed Dec 28, 2005 4:03 pm

Postby kiss on Fri Jan 20, 2006 11:23 am

Terima kasih diatas mengutarakan topik ini.
Bagi saya, asas kepada semuanya adalah kita berdoa dan memohon kepada Nya agar kita diberi petunjuk dan hidayah agar segala perbuatan kita dipelihara.
Juga dengan kurniaan akal yg telah dianugerahkan, kita renung sejenak disebalik hikmah dan kebaikan `menutup aurat' ini..
kiss
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 60
Joined: Thu Dec 29, 2005 3:54 pm
Location: KL

Postby WARIS on Fri Jan 20, 2006 5:20 pm

Usahalah dulu, baru tawakkal.

:D
WARIS

Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah s.a.w.bersabda, "Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..!

Sila layari: http://enwaris.blogspot.com/
WARIS
Ahli Kehormat
Ahli Kehormat
 
Posts: 9331
Joined: Wed Dec 28, 2005 4:03 pm

Postby iperswis2 on Mon Jan 23, 2006 11:15 am

Tawakkal itu dari awal hingga akhir ... bukan selepas berusaha sahaja.
iperswis2
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 292
Joined: Thu Jan 27, 2005 1:15 pm
Location: Malaysia

Postby fikrul mustanir on Mon Jan 23, 2006 11:28 am

iperswis2 wrote:Tawakkal itu dari awal hingga akhir ... bukan selepas berusaha sahaja.


saya setuju dengan kenyataan di atas, sebab ayat berkaitan tawakkal itu berbunyi, "fa in azamta fa tawakkal alallah." (Apabila telah berazam engkau maka bertawakkallah kepada Allah.)

Jadi bila berazam saja terus bertawakkal walaupun usaha untuk melaksanakan azam itu belum bermula lagi.
User avatar
fikrul mustanir
Ahli Emeritus
Ahli Emeritus
 
Posts: 2495
Joined: Wed Aug 13, 2003 5:53 pm
Location: The Future Daulah Khilafah

Postby fasihah on Mon Jan 23, 2006 2:53 pm

fikrul mustanir wrote:
iperswis2 wrote:Tawakkal itu dari awal hingga akhir ... bukan selepas berusaha sahaja.


saya setuju dengan kenyataan di atas, sebab ayat berkaitan tawakkal itu berbunyi, "fa in azamta fa tawakkal alallah." (Apabila telah berazam engkau maka bertawakkallah kepada Allah.)

Jadi bila berazam saja terus bertawakkal walaupun usaha untuk melaksanakan azam itu belum bermula lagi.


salam...
erm.. :kenyit: :kenyit:
lillahita'ala...
mg Allah redhai semua..
teruskan krn hamba hina ini sentiasa dahagakan ilmu... :oops:
Bismillahirrahmanirrahim.....
~hamba hina lagi faqir~
User avatar
fasihah
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 956
Joined: Mon Jun 14, 2004 8:23 pm
Location: bumi Allah

Postby iperswis2 on Mon Jan 23, 2006 3:07 pm

"fa in azamta fa tawakkal alallah." (Apabila telah berazam engkau maka bertawakkallah kepada Allah.)

Saudara Fikrul, boleh tak sertakan surah dan ayat berapa ...

Bantuan didahului jutaan trima kasih
iperswis2
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 292
Joined: Thu Jan 27, 2005 1:15 pm
Location: Malaysia

Postby WARIS on Mon Jan 23, 2006 4:22 pm

Salah satu contoh ialah apabila Rasulullah s.a.w. bertanya kepada seorang Arab Badwi mengapa beliau meninggalkan untanya tanpa ditambat. Jawab Arab Badwi itu: “ Aku bertawakkal kepada Allah”. Rasulullah s.a.w. kemudian bersabda: “Tambat unta kamu dahulu, kemudian bertawakkal kepada Allah”.



Sekarang ANTA/ENTE/ANTUM semua tambat UNTA dulu baru bertawakkal ke? atau TAWAKKAL dulu baru tambat UNTA.
ANA was-was juga dengan kenyataan Fikrul ni.

Silap-silap langkap ANTA/ENTE/ANTUM semua yang jadi UNTA, kalau bertindak tanpa ilmu.
WARIS

Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah s.a.w.bersabda, "Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..!

Sila layari: http://enwaris.blogspot.com/
WARIS
Ahli Kehormat
Ahli Kehormat
 
Posts: 9331
Joined: Wed Dec 28, 2005 4:03 pm

Postby iperswis2 on Mon Jan 23, 2006 4:33 pm

ANA was-was juga dengan kenyataan Fikrul ni.

Kenyataan mana yang di was-was?
iperswis2
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 292
Joined: Thu Jan 27, 2005 1:15 pm
Location: Malaysia

Postby WARIS on Tue Jan 24, 2006 9:32 am

ANA tak was-was dengan saudara fikrul, ANA tau dia bijaksana, cuma ana was-was surah dan ayat berapa ...

ANA pernah tengok kenyataan Tuan Kahar, dia bantai jer ayat surah yasin, tapi bila disemak rupanya tidaklah sebegitu maksudnya.
WARIS

Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah s.a.w.bersabda, "Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..!

Sila layari: http://enwaris.blogspot.com/
WARIS
Ahli Kehormat
Ahli Kehormat
 
Posts: 9331
Joined: Wed Dec 28, 2005 4:03 pm

Postby fikrul mustanir on Tue Jan 24, 2006 10:10 am

iperswis2 wrote:
"fa in azamta fa tawakkal alallah." (Apabila telah berazam engkau maka bertawakkallah kepada Allah.)

Saudara Fikrul, boleh tak sertakan surah dan ayat berapa ...

Bantuan didahului jutaan trima kasih


Terlebih dahulu ana ingin meminta maaf kerana ana tersilap quote ayat tersebut sebenarnya ayat tersebut berbunyi "fa iza azamta.." (apabila telah berazam engkau...)bukan "fain azamta" (jika telah berazam engkau....). Semoga Allah mengampunkan kesilapan ana ini. Ayat tersebut adalah dari surah Ali imran, ayat 159.

Selain dari ayat tersebut di atas banyak ayat-ayat berkaitan tawakkal yang membawa indikasi qath'i (pasti) akan kewajiban bertawakkal kepada Allah di dalam melakukan sebarang urusan disebutkan dalam al Quran, seperti:-

"Apabila kamu ditolong oleh Allah, maka tidak ada yang sanggup mengalahkan kamu dan menghinakan kamu. Maka, siapakah yang dapat menolong kamu setelah (pertolongan) Allah? dan kepada Allahlah hendaknya orang-orang beriman bertawakkal." (Al imran: 160)

"Katakanlah (Muhammad): 'Kami tidak akan ditimpa musibah, kecuali apa yang telah Allah tetapkan kepada kami. Dialah Zat Yang menjadi Pelindung kami. Dan kepada Allahlah orang-orang beriman hendaknya bertawakkal.' " (At Taubah: 51)

"Allah (adalah Tuhan), tiada Zat yang berhak disembah kecuali Dia, dan kepada Allahlah orang-orang beriman hendaknya bertawakkal." (At taghabun: 13)

Berdasarkan ayat-ayat ini semuanya menunjukkan qarinah yang jelas bahawa khitab (seruan) untuk bertawakkal kepada Allah merupakan khitab yang mutlak tanpa meletakkan sebarang syarat kepadanya. Bergitu juga hadis-hadis berkaitan kewajiban bertawakkal kepada Allah semuanya datang dalam bentuk yang mutlak, antara lain:-

"Akan masuk surga dari kalangan ummatku, 70,000 kelompok tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mencuri, menjadi peramal, memuji dirinya dan orang-orang yang bertawakkal kepada Tuhannya." (HR Buhari dari ibnu Abbas)

" Apabila kamu bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar, niscaya Dia akan memberikan rezki kepada kamu seperti memberikan rezki kepada burung yang berangkat pagi dengan perut yang kosong dan kembali dengan kenyang." (HR At Tarmizi dan Ahmad)

Oleh itu, orang yang mengingkari (menafikan) kewajiban melakukan tawakkal kepada Allah adalah kafir. Sedangkan orang yang tidak melakukannya hukumnya adalah haram dan berdosa.

Berdasarkan inilah para ulama' mendefinasikan tawakkal sebagai, "Tawakkal adalah kepasrahan secara bulat kepada allah terhadap kemaslahatan yang inigin dicapai serta mudharat yang ingin dihindarinya, baik dalam masaalah dunia dan akhirat." (Taqiyuddin an nabhani, Kaifiyatu Izalati Al-Atribah 'Ani Al-Juzur, 20)

Imam Al-alusi mendefinasikannya sebagai "sikap menampakkan kelemahan dan ketergantungan kepada yang lain (Allah), serta merasa cukup hanya kepadaNya dalam melakukan aktiviti yang diperlukannya. " (mafahim Yajib Tashihuha Fi At-Tawakkal Wa Rizki Wa Al-Ajal, Dr Muhammad Ali Hassan, 16)

Kekeliruan Umat Islam yang meletakkan usaha sebagai syarat pada bertawakkal kepada Allah adalah kerana kesalahan mereka memahami hadis yang dibawakan oleh sdr waris, iaitu; " 'Ekqilha wa tawakkal." (Tambatlah ia (unta engkau) dan bertawakkal.)

Mereka memahamkan bahawa huruf "waw" pada hadis tersebut sebagai "waw tartib" yang membawa maksud kemudian. Dengan itu mereka menafsirkan hadis tersebut sebagai, “Tambat unta kamu dahulu, kemudian bertawakkal kepada Allah”. Pada hal 'waw' tersebut bukanlah 'waw tartib'.

Perlu dijelaskan bahawa: Pertama, mauduk hadis tersebut adalah mauduk berkenaan melakukan hukum sebab-akibat (iaitu, Nabi menunjukkan bagaimana kaedah untuk melakukan sesuatu kerja. Kerja tersebut mestilah sejajar dengan maksud yang hendak dicapai berdasarkan hukum sebab-akibat), bukan kewajiban bertawakkal. Apabila ada nas tertentu telah menunjukkan mauduk tertentu berdasarkan sebab wurud atau sebab nuzul-nya, maka tidak dapat digunakan untuk menjelaskan makna yang lain, selain mauduknya. Kedua, huruf 'waw' di dalam hadis tersebut bukanlah 'waw tartib' (yang menunjukkan urutan perintah), sehingga tidak boleh ditafsirkan "kerja dahulu, baru kemudian bertawakkal". Ketiga, apabila diertikan sebagaimana yang ramai diduga orang , iaitu berkerja dahulu kemudian bertawakkal, maka pengertian tersebut adalah bertentangan dengan ayat al Quran, yang secara qathi menerangkan; "Apabila telah berazam engkau, maka bertawakkallah kepada Allah." (Al imran: 159) Ayat tersebut secara jelas menerangkan kaitan azam (perbuatan hati) dengan tawakkal; dan bukanya kaitan usaha (perbuatan tubuh) dengan tawakkal.

Oleh itu adalah keliru apabila kita beranggapan bahwa tawakkal itu datang selepas kita berusaha tetapi tawakkal (mengantungkan harapan dan kepasrahan yang bulat kepada Allah) itu mestilah diwujudkan di dalam hati kita setiap kali kita berazam untuk melakukan sesuatu pekerjaan.

Walhu'alam.
User avatar
fikrul mustanir
Ahli Emeritus
Ahli Emeritus
 
Posts: 2495
Joined: Wed Aug 13, 2003 5:53 pm
Location: The Future Daulah Khilafah

TIGA PERINGKAT TAWAKAL UTAMAKAN IKHTIAR INSAN

Postby WARIS on Tue Jan 24, 2006 10:48 am

TIGA PERINGKAT TAWAKAL UTAMAKAN IKHTIAR INSAN

Tiga peringkat tawakal utamakan ikhtiar insan

Oleh Ahmad Tarmizi Zakaria

TAWAKAL adalah sikap seorang Muslim yang benar-benar menyerah diri kepada keagungan dan kekuasaan Allah yang Maha Esa. Secara umumnya, sikap tawakal akan menjuruskan seorang mukmin kepada menghayati fitrah kejadiannya sebagai makhluk ciptaan Allah yang sentiasa mempunyai kelemahan dan kekurangan. Ia dapat mengelakkan kita daripada bersikap sombong dan ego dalam tindak tanduk dalam kehidupan.


Seseorang yang memahami konsep tawakal tidak akan mudah berputus asa andainya menemui kesukaran dalam kehidupan.

Mereka, malah menganggapnya sebagai satu proses dalam mencari keredhan Allah. Seterusnya, akan menerbitkan rasa syukur jika usaha yang dilakukan itu berjaya. Sebaliknya, menerima dengan penuh sabar andainya usahanya itu menemui kegagalan.

Menurut Dr Yusuf Al-Qardhawi, tawakal adalah antara ibadah hati paling utama dan salah satu daripada bermacam akhlak iman yang agung. Imam al-Ghazali pula membahagikan tawakal ini kepada tiga peringkat iaitu:-

Dalam ketiga-tiga peringkat tawakal itu, jelas bahawa antara ciri orang yang bertawakal adalah tidak meminta-minta dan tidak pula menolak pemberian serta menerima segala ketentuan Allah ke atasnya.

Sesungguhnya, perlu difahami bahawa sifat tawakal tidak sama sekali menyuruh kita agar menyerahkan sesuatu perkara bulat-bulat kepada Allah. Andainya benar sedemikian, mengapa Allah mengurniakan nikmat akal kepada kita yang seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dalam hal ini, Rasulullah SAW mengutamakan ikhtiar sebelum bertawakal kepada Allah sepenuhnya. Ia disandarkan kepada satu peristiwa pada zaman Nabi iaitu seorang sahabat menemui Baginda. Kemudian Nabi bertanya: "Dengan apakah kamu ke sini?"

Sahabat itu menjawab: "Saya ke sini dengan menaiki unta."

Lantas Nabi bertanya: "Di mana unta kamu sekarang?"

Sahabat itu menjawab: "Saya letakkan di luar tanpa mengikatnya kerana saya berserah (tawakal) kepada Allah."

Kemudian Nabi menegurnya dengan berkata: "Ikatlah unta kamu itu kemudian barulah bertawakal."


Pengajaran daripada peristiwa itu adalah tawakal perlu didahului oleh usaha dan ikhtiar yang bersungguh-sungguh. Hakikat itu sama seperti kita meninggalkan rumah atau kenderaan tanpa menguncinya dengan betul.

Ia tentu mengundang perompak atau pencuri yang sememangnya menantikan peluang sedemikian.

Tawakal tidak harus menjadi alasan bagi kita untuk sengaja membiarkan harta benda terdedah kepada ancaman, tanpa ada usaha untuk melindunginya daripada dicuri.

Sikap tawakal amat dianjurkan oleh ajaran Islam supaya dihayati oleh seluruh umatnya.
WARIS

Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah s.a.w.bersabda, "Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..!

Sila layari: http://enwaris.blogspot.com/
WARIS
Ahli Kehormat
Ahli Kehormat
 
Posts: 9331
Joined: Wed Dec 28, 2005 4:03 pm

Next

Return to Bicara Muslimah

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest