sembahyang jamak

Untuk apa-apa bicara berkaitan fiqh Islam.
Pengendali :: abuqais

sembahyang jamak

Postby apit on Fri Jan 09, 2004 6:45 pm

assalamualaikum...
soalan: boleh x kalo semayang jamak lebih dari 4 hari?

perbincangan asal kat sini:: http://www.sahabatrimba.com
Last edited by apit on Mon Dec 05, 2005 7:56 pm, edited 1 time in total.
Ya Allah Ya Tuhanku, Jauhilah HambaMu Ini Dari Perbuatan Keji Dan Munkar..Amin
apit
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 60
Joined: Tue Dec 02, 2003 4:17 am

Postby g@y@t on Fri Jan 09, 2004 10:36 pm

as'kum,

Setelah melihat URL yg diberikan, saya dapati betapa perlunya seorang yg berilmu utk berada di forum berkenaan. Bahkan bukan hanya di forum itu sahaja, ttp juga forum2 yg lain. Sekurang2nya memantau pendapat yg diberikan oleh pengunjung. Sikap mengambil ringan persoalan hukum merupakan satu gejala yg bleh mengundang masalah yg besar. Seseorang yg memberikan jawapan itu bertanggungjawba ke atas jawapannya. Sekiranya salah jawapannya, maka dia akan bertanggungjawba ke atas kesesatan yg diwujudkan oleh dirinya. WA.

Berbalik kpd soalan sdr. Ulama' berbeza pendapat mengenai jangka masa dibolehkan solat safar. Fiqh syafi'i menetapkan, jika sampai ke tempat tujuan dan berniat bermukim di situ melebihi 4 hari 4 malam, maka tamatlah solat safar serta merta sepanjang menetap di tempat yg baru tiba itu. Ttp jika perjalanan itu terus-menerus tanpa ada niat menetap, boleh terus melakukan solat safar hingga 18 hari.

Sheikh Sayyid Sabiq dalam fiqhus sunnah berbeza pendpt dgn pendpt mazhab. Beliau sependpt dgn Ibn Taymiyah dalam persoalan ini. Inilah pendapat yg rajih pada pandangan G@y@t. Saya lampirkan huraian Sheikh Sayyid Sabiq dari kitabnya Fiqhus sunnah.



BILAKAH MUSAFIR ITU MENCUKUPKAN SHALATNYA?

Seorang musafir itu boleh terus mengqashar shalatnya selama ia masih dalam bepergian. Jika ia bermukim di suatu tempat karena sesuatu keperluan yang hendak diselesaikannya maka ia tetap boleh mengqashar, sebab masih terhitung dalam bepengian walaupun bermukimnya di sana sampai bertahun-tahun lamanya. Adapun kalau ia bermaksud hendak bermukim di sana dalam waktu tertentu, maka menurut pendapat yang terkuat yang dipilih oleh Ibnul Qaiyim, bermukimnya itu belum lagi menghilangkan hukum bepergian, baik lama atau sebentar, selama ia tidak berniat hendak menjadi penduduk tetap di sana itu. Dalam hal ini para ulama mempunyai berbagai-bagai pendapat, dan diringkaskan oleh Ibnul Qaiyim sambil memperkuat pendapatnya sendiri sbb.:

“Rasulullah s.a.w. bermukim di Tabuk selama duapuluh hari dan terus mengqashar shalat dan tidak pernah mengatakan kepada umatnya supaya tiada seorangpun mengqashar shalat bila lebih lama bermukim dari waktu itu, hanya kebetulan saja lama bermukim Nabi s.a.w. itu duapuluh hari. Bermukim dalam waktu sedang bepergian, tak dapat dianggap sudah keluar dari hukum bepergian, baik lama ataupun sebentar, asal saja ia tidak bermaksud hendak menetap di sana sebagai penduduk. Di kalangan ulama-ulama Salaf dan Khalaf banyak terdapat pertikaian mengeinai masalah ini. Dalam shahih Bukhari dari Ibnu ‘Abbas, katanya:

“Nabi s.a. w. bermukim dalam salahsatu perjalanannya selama sembilan belas hari dan selalu bersembahyang dua raka‘at. Maka kamipun kalau bermukim dalam perjalanan selama sembilanbelas hari, kami akan tetap mengqashar, dan kalau lebih dari itu, akan kami cukupkan".

Menurut lahirya ucapan Ahmad, yang dimaksud oleh Ibnu ’Abbas itu ialah bermukimnya Nabi sa.w. di Mekah di waktu kota itu dibebaskan. Tapi sebenarnya bermukimnya di Mekah itu lamanya delapanbelas hari, sebab beliau akan melanjutkan perjalanan ke Hunain dan di sana tidaklah bermaksud akan bermukim. Inilah bermukimnya Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Ibnu ’Abbas itu. Ada pula yang mengatakan bahwa maksud Ibnu’Abbas ialah ketika bermukimnya Nabi s.a.w. di Tabuk, sebagai yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, katanya:

“Nabi s.a.w. bermukim di Tabuk selama duapuluh hari dan selalu mengqashar shalatnya". (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya).

Miswar bin Makhramah berkata: “Kami bermukim dengan Sa’ad di salah satu desa di wilayah Syam selama empatpuluh hari. Selama itu Sa’ad tetap mengqashar tapi kami mencukupkan”. Berkata Nafi’: “Abdullah bin ‘Umar bermukim di Azerbeijan enam bulan dan tetap bersembahyang dua raka’at ketika tertahan oleh salju waktu memasukinya”. Hafash bin Ubaidullah mengatakan bahwa Anas bin Malik bermukim di Syam dua tahun dan terus bersembahyang sebagai seorang musafir. Dan menurut Anas, para sahabat Nabi s.a.w. bermukim di Ramhurmuz selama tujuh bulan dan tetap mengqashar shalat, sedang menurut Hasan, ia bermukim dengan Abdurrahrman bin Samurah di Kabul selama dua tahun, dan Abdurrahman terus mengqashar tapi tidak menjama’. Kemudian Ibrahim mengatakan pula bahwa para sahabat pernah bermukim di Rai selama satu tahun atau lebih, dan di Sajistan selama dua tahun.

Nah, inilah dia petunjuk yang diberikan oleh Rasulullah s.a.w. dan dicontohkan oleh para sahabatnya, dan memang itulah yang benar.

Adapun pendapat orang-orang itu, di antaranya ialah yang dikemukakan oleh Imam Ahmad bahwa jika seseorang berniat hendak bermukim selama empat hari, maka harus mencukupkan shalatnya, dan kalau kurang masih boleh mengqashar. Mengenai hadits Nabi s.a.w. dan perbuatan para sahabat itu mereka tafsirkan bahwa baik Nabi s.a.w. maupun para sahabat, tidak bermaksud akan bermukim, tapi mereka selalu mengatakan: “Hari ini atau besok kita akan pergi.”

Tapi dalam hal ini ada satu hal yang harus menjadi perhatian, yaitu bahwa Rasulullah s.a.w. membebaskan kota Mekah - suatu kota yang telah sama dimaklumi keadaannya - dan bermukim di sana adalah dengan tujuan hendak mengokohkan asas-asas keislaman serta menghancurkan sendi-sendi kemusyrikan dan mempersiapkan segala sesuatu bagi umat Arab sekeliling. Pekerjaan seberat itu tentulah memerlukan waktu berhari-hari dan tidak cukup hanya sehari dua saja. Demikian pula waktu di Tabuk untuk menantikan kedatangan musuh, karena antara Tabuk dan tempat kediaman musuh jaraknya bermil-mil. Nabi s.a.w. tentu maklum, bahwa untuk maksud tersebut tidak cukup waktu empat hari saja.

Demikian pula ketika ‘Umar bermukim di Azerbejan selama enam bulan dan tetap mengqashar sebab terhalang oleh salju. Teranglah sudah bahwa salju itu tidak akan cair hingga jalan akan terbuka di dalam waktu empat hari. Juga Annas yang bermukim di Syam selama dua tahun serta sahabat-sahabat yang bermukim di Ramhurmuz tujuh bulan dengan tetap mengqashar, tentulah mereka mengerti bahwa mengepung musuh dan berperang itu tidak cukup dalam waktu empat hari pula.

Sahabat-sahabat Imam Ahmad mengatakan dalam pada itu, bahwa kalau bermukim untuk berjihad, atau karena dipenjarakan oleh fihak penguasa atau sebab sakit, maka boleh mengqashar, baik bermukim itu menurut taksiran akan berjalan lama atau sebentar. Ini memang suatu pendapat yang benar! Tetapi anehnya, mereka mengemukakan pula suatu syarat yang samasekali tidak berasal dan Kitabullah, dan sunnah Nabi atau Ijma’, dan tidak pula dari amal perbuatan salah seorang sahabat. Kata mereka syaratnya itu ialah bahwa dalam taksiran itu hendaklah ada kemungkinan bahwa urusan itu akan dapat selesai dalam waktu yang tidak menghapuskan hukum bepergian, yakni dalam waktu yang kurang dan empat hari.

Sekarang baiklah kita ajukan suatu pertanyaan pada mereka: Dari manakah tuan-tuan peroleh syarat tersebut, padahal Nabi s.a.w. sendiri, ketika beliau bermukim lebih dan empat hari, dan tetap mengqashar shalat, baik di Mekah maupun di Tabuk, tak pernah mengatakan suatu apapun, dan tak pula menerangkan bahwa beliau tidak bermaksud akan bermukim lebih dari empat hari, padahal beliau mengetahui bahwa perbuatan beliau akan menjadi contoh dan teladan bagi umat, dan bahwa mereka akan mengqashar pula di waktu mukim? Ternyata tidak sepatah katapun dari mulut beliau yang melarang qashar bila bermukim lebih dari empat hari itu, padahal penjelasan rnengenai ini amat diperlukan sekali. Begitu pula halnya perbuatan para sahabat di belakang yang mengikuti Nabi s.a.w., tidak pula mereka mengatakan suatu apa kepada orang-orang yang mengqashar bersama mereka.

Mengenai pendapat Malik dan Syafi’i, kedua Imam ini mengatakan bahwa jika seseorang berniat hendak mukim lebih dari empat hari, harus mencukupkan shalat, dan kalau kurang, boleh mengqashar. Abu Hanifah r.a. berpendapat, jika berniat mukim limabelas hari, harus mencukupkan, dan kalau kurang boleh mengqashar. Ini juga merupakan pendapat Al-Laits bin Sa’ad, dan menurut riwayat, juga dianut oleh tiga orang sahabat, yaitu ‘Umar, Abdullah bin ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas.

Sa’id ibnul Musaiyab mengatakan jika seseorang bermukim selama empat hari, hendaklah ia mencukupkan sembahyangnya empat raka’at. Tetapi ada juga riwayat yang menyatakan bahwa pendapat Ibnul Musaiyab ini sama seperti madzhab Abu Hanifah. Menurut ‘Ali bin Abi Thalib r.a. jika bermukim sepuluh hari, harus mencukupkan. Ini ada juga yang meriwayatkannya sebagai pendapat lbnu ‘Abbas.

Dalam pada itu Hasan mengatakan bahwa boleh terus mengqashar selama seseorang belum kembali ke tempatnya semula, sementara ‘Aisyah berkata bahwa dibolehkan selama belum lagi meletakkan perbekalan dan wadahnya.

Tetapi para Imam yang berempat r.a. semuafakat bahwa kalau bermukimnya seseorang itu karena ada sesuatu keperluan yang harus diselesaikan, dan selama menunggu itu ia mengatakan: “Saya akan pulang han ini atau esok”, maka selama itu ia boleh tetap mengqashar. Hanya dalam salah satu pendapat imam Syafi’i, bahwa kalau keadaannya seperti demikian, maka dibolehkannya rnengqasar itu terbatas tujuhbelas atau delapanbelas hari, dan jika lebih dari itu, maka harus mencukupkan. Dalam hal ini lbnul Mundzir mengatakan dalam satu penyelidikannya, bahwa para ahli telah ijma’ bahwa seorang musafir itu dibolehkan tetap rnengqashar selama ia tidak bermaksud akan terus menetap di sana, walaupun bermukimnya itu berlangsung selama waktu bertahun-tahun”.

-----------

Sekian. WA.

wassalam
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby apit on Sat Jan 10, 2004 11:04 pm

boleh abg g@y@t masuk ke forum tu takkk?
tolong kasi komen sikit kat situ..
budak-2 tu dah confius tu..
bleh tolong bimbing kite orng tak...
sape-2 ler yg tahu kat forum nie..
sila bagi pendapat/nasihat kat kami yang daif nie kat::

www.sahabatrimba.com

saya jadi makin confius nie bang.. :kenyit:
Ya Allah Ya Tuhanku, Jauhilah HambaMu Ini Dari Perbuatan Keji Dan Munkar..Amin
apit
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 60
Joined: Tue Dec 02, 2003 4:17 am

Postby g@y@t on Sun Jan 11, 2004 12:22 am

boleh abg g@y@t masuk ke forum tu takkk?


hmmm...setakat masuk mmg boleh. tapi kalo nak jadi pemantau sepenuh masa takleh ler. sebab ada komitmen lain selain mengendalikan BMC. tapi jika ada kekeliruan, sdr datanglah sini utk bertanya. Pd masa tu bolehlah saya atau pengendali lain 'melawat' utk menyelesaikan kekeliruan di sana.

saya jadi makin confius nie bang..


apa yg masih keliru?


wassalam
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby g@y@t on Mon Jan 12, 2004 12:43 am

as'kum,

saya baru sahaja lepas membaca reply2 di forum tersebut. Dan saya dapati satu serangan peribadi telah dilakukan dgn menghukum munafiq pada sesauatu yg semmg tidak patut dilakukan. Saya telah cuba utk register di forum tersebut utk menerangkan perkara sebenar, tapi tak gheti. Mungkin sdr apit boleh bantu.

apa yg sdr wirda kemukakan tidak ada salahnya. Bahkan betul belaka. cuma beliau tidak menjelaskan dgn terprinci sehinggakan org lain terkejut dgn pendapat yg dinukilkan.

Berikut saya ringkaskan pendpt yg diberikan oleh wirda:

1. Musafir bukannya satu2nya sebab membolehkan jama'

Pendpt ini mmg benar. Ttp erlu dijelaskan dgn lebih detail mengenai pendpt di atas. Berdasarkan mazhab syafi'i, jama' boleh dilakukan atas beberapa sebab, iaitu:

-musafir
-krn hujan(jama' ta'dim sahaja)

Kedua2 sebab di atas ada syarat2 mereka sendiri yg saya rasa tidak perlu saya sentuh buat masa ini.

Adapun pendpt yg mengatakan jama' tanpa hajat, sptmana yg dikatakan oleh wirda(polis trafik etc), ini merupakan pendpt Mazhab hanbali. Pendapat ini disokong/dipersetujui oleh pentahqiq(pengkaji semula) spt Dr Yusuf al-Qaradhawi krn dalilnya yg kuat iaitu:

Drpd Ibn abbas ra katanya, "Nabi saw solat 7 rakaat dan 8 rakaat di Madinah iaitu Zohor dgn Asar dan Maghrib dan Isya'."[HR Bukhari]

Dalam riwayat Imam Muslim ditambah:
"bukan dalam keadaan takut dan juga musafir"

Dalam hadis di atas menunjukkan Rasulullah saw mengerjakan jama' walaupun di tempat tinggalnya iaitu madinah.

2. Tertib solat jama'

Jumhur(majoriti) ulama' termasuk mazhab syafi'i, mengatakan tertib itu wajib pada jama' takdim. Ttp, jama' ta'khir tertib tidak menjadi syarat. Boleh saja mengerjakan solat isya' dahulu, ataupun boleh juga maghrib dahulu.

Sekian. Saya berharap, tidak ada lagi org menghukum sesuatu mengikut nafsu. Krn tidak semestinya apa yg kita pelajari itu adalah mutlak. Sedangkan ilmu itu luas. Krn mungkin krn kejahilan kita, kita bukan menghukum sahabat kita sahaja, ttp menghukum juga ulama' yg hebat seperti Imam Ahmad. WA.

wassalam

RUJUKAN

Fiqh al-Manhaji 'ala Imam as-Syafi'i
Dr Mustofa al-Khin, Dr Mustofa al-Bugho & ali asy-syarbaji

Fiqh al-Islami wa-adillatuhu
Dr Wahbah al-Zuhaily
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby apit on Sun Jan 25, 2004 12:52 am

soalan 1
-------------
maknanya disini, kalo kita lakukan jamak takdim, katakan zohor dan asar, kita boleh sembahyang zohor kemudian asar ataupun asar dahulu baru zohor...camtu ke ustaz?

soalan 2
----------
kita boleh sembahyang jamak qasar selagi mana kita tidak berniat untuk bermastautin ditempat tersebut..tidak kira selama mana kita berada,( 4 hari,4 minggu etc)selagi tidak berniat hendak tinggal tetap ditempat tersebut, kita boleh jamak qasa..btul ke cam tu?

soalan 3
---------
katakan saya ingin jamak qasar (takdim) solat zohor dan asar..
betul ke niat saya macamni::
zohor
----------
sahaja aku sembahyang fardhu zohor qasa kerana Allah taala

asar
--------
sahaja aku sembahyang fardhu asar menghimpunkan pada waktu zohor qasa kerana Allah taala
Ya Allah Ya Tuhanku, Jauhilah HambaMu Ini Dari Perbuatan Keji Dan Munkar..Amin
apit
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 60
Joined: Tue Dec 02, 2003 4:17 am

Postby g@y@t on Sun Jan 25, 2004 11:24 pm

as'kum,

SOALAN 1:

Ya, benar. Itulah pendapat mazhab syafi'i. Tertib bukanlah syarat malah harus sahaja.(Fiqh Islami 1)

SOALAN 2:

Mazhab syafi'i menetapkan tempoh had bagi solat safar adalah 3 hari tidak termasuk hari perjalanan pergi dan pulang. Oleh itu, jika seseorang itu berniat utk tinggal satu tempat selama 5 hari, maka tidak boleh dia mengerjakan solat safar sepanjang tempoh dia di tempat tersebut. Ini krn dia sudah dikira bermukim.

Ttp, sekiranya dia tidak berniat utk beberapa hari, atau dia tak tau berapa hari utk bermusafir dan bila dia akan pulang, maka tempoh maksimum utk dia solat safar adalah 18 hari. Sekiranya, dia masih lagi belum pulang selpas 18 hari itu, maka dia tidak boleh lagi solat safar. Inilah ketetapan dalam mazhab syafi'i.(fiqh manhaji)

Wlbgmp, Sheikh Sayyid Sabiq dalam fiqhus sunnah, mengatakan tidak ada tempoh maksimum atau tiada had hari bagi mengerjakan solat safar. Dgn erti kata lain, org yg bermusafir boleh mengerjakan solat safar tidak mengira tempoh bilangan hari. 3, 5, 10, 50 hari atau beberapa tahun sekalipun, seorang itu boleh solat safar selagi dia tidak berniat utk tinggal secara tetap disitu. Ini krn tidak ada dalil yg kukuh yg menjadi alasan kpd pendpt fuqaha yg menetapkan bilangan hari tertentu.(Fiqhus sunnah)

SOALAN 3

Apa yg sdr tulis iaitu 'sahaja aku .......' itu bukanlah niat. Ia merupakan susunan perkataan yg membentuk satu ayat semata2. Niat bukanlah susunan tersebut. Ttp niat itu merupakan lintasan hati bagi mengerjakan sesuatu. Kalau sdr berdiri di atas sejadah utk mengerjakan solat, sudah pasti sdr sudah tahu apa yg sdr ingin buat. Sikap tahu apa yg nak dibuat itulah sebenarnya niat. Krn mustahil sdr berdiri di atas sejadah, ttp takde niat utk buat sesuatu.(fathul bari, Zaadul maad)

Sbg cth, kalau kita hendak makan sesuatu. tangan ktia akan mengambil makanan tersebut dan suapkan ke dalam mulut kita. Tindakan kita itu, memerlukan niat. Kalau tiada niat, mustahil akan berlaku proses makan itu.

Sekian. saya harap sdr faham. Jika masih keliru, bertanya lagi, dan isnya Allah kami akan cuba bantu setakat yg mampu. WA.

wassalam
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby sooners on Mon Jan 26, 2004 4:12 pm

Assalaamu'alaikum.

Boleh saya daptkan confirmation dr saudara g@y@t ttg jawapan saudara mengenai tertib solat jama' taqdim.

Pada mulanya saudara mengatakan begini:
Jumhur(majoriti) ulama' termasuk mazhab syafi'i, mengatakan tertib itu wajib pada jama' takdim. Ttp, jama' ta'khir tertib tidak menjadi syarat. Boleh saja mengerjakan solat isya' dahulu, ataupun boleh juga maghrib dahulu.


Tetapi dlm jawapan seterusnya kpd soalan apit mengenai jamak taqdim, sdr mengatakan begini:
Ya, benar. Itulah pendapat mazhab syafi'i. Tertib bukanlah syarat malah harus sahaja.(Fiqh Islami 1)


Cuma inginkan penjelasan dan kepastian :) .

Terima kasih. Wassalaam.
sooners
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 37
Joined: Wed Jun 12, 2002 8:00 am
Location: Pahang

Postby g@y@t on Mon Jan 26, 2004 10:35 pm

as'kum,

syukran kpd sooners krn memperbetulkan kesilapan saya. Sebenarnya jawapan saya itu berkenaan jama' takhir, bukannya taqdim. Adapun jama' taqdim, tertib hukumnya wajib. terima kasih sekali lagi kpd sooners. maafkan saya krn tersilap.

wassalam
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby apit on Wed Jan 28, 2004 6:47 pm

time kasih kpd sooners & g@y@t..
tapi saya kurang clear kat niat tu..
maknenyer kalo dah nak smayang tu, just terdetik kat hati nak semayang jamak qasa zohor dah kire btul ke?
Ya Allah Ya Tuhanku, Jauhilah HambaMu Ini Dari Perbuatan Keji Dan Munkar..Amin
apit
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 60
Joined: Tue Dec 02, 2003 4:17 am

Postby g@y@t on Wed Jan 28, 2004 10:50 pm

Ya benar. Niat itu lintasan hati bukannya susunan perkataan. Itulah definisi niat yg telah dibuat oleh ulama'2 muktabar. Demikian juga lafaz niat iaitu 'ushalli........'

Al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi, iaitu seorang lagi ulama’ dari kalangan syafi’iyyah, di dalam kitabnya Al Amru bil Ittiba’ wan Nahyu ‘Anil Ittida’ menukilkan kata2 Imam Syafi’I yg bermaksud, “Was2 dalam niat solat dan taharah adalah bagian dari kebodohan terhadap syariat atau akalnya yg kurang sempurna.”

Ibn Abu al-Izz Abdussalam berkata dalam al-Itba’ halaman 62, “Imam 4, baik Syafi’I maupun lainnya tak ada yg mensyaratkan lafaz niat dalam solat. Mereka sepakat bahawa niat tempatnya di hati. Akan tetapi ulama’ Mutakhir, yg datang belakangan mewajibkan hal itu dan menganggap itu sbhgn dari mazhab Syafi’i. Padahal menurut Imam Nawawi, anggapan itu salah. Perbedaan pendpt dalam permasalahan ini sebenarnya telah didahului oleh ijma’.”

Imam Nawawi yg juga ulama’ ulung dari kalangan syafi’iiyah berkata dalam kitab majmu’ iaitu kitab yg mensyarahkan kitab Muhazzab bahawa, “Telah berlaku salah faham di kalangan ulama’ dgn kata2 Imam Syafi’I; Sesungguhnya dia tidkalah sama dgn ibadah puasa. Tidaklah seseorang masuk di dalam kecuali dgn zikir(lafaz-g@y@t)." Lalu mereka mengira zikir itu hendaklah org itu melafazkan niatnya, padahal apa yg dimaksudkan dgn zikir oleh Imam as-Syafi'i adalah takbiratul ihram, bukan yg lainnya.” Kata2 ini juga dipetik oleh Ibn Qayyim sptmana yg telah saya lampirkan dalam jwpn sblm ini.

Imam as-Suyuthi dalam ‘Ashbabu wa al-Nadhair fi Qawa’id al-fiqhiyyah dalam bab ‘Tempat niat’ mengatakan niat itu di dalam hati. Dan niat di dalam hatilah yg diambil kira sekalipun lidah mengatakan sebaliknya. Sebagai cth, sekiranya sipelaku ingin mengerjakan solat Asar, tapi dia melafazkan solat Zuhur, maka solatnya sah, krn yg dikira adalah dalam hati.

wassalam
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby apit on Fri Jan 30, 2004 7:33 pm

satu lagi soalan ...
jarak tempat kerja ke rumah saya lebih kurang 30km..
semalam saya kena outstation yg jaraknya 100km..
sya bergerak dari office pukul 12.30 pm...
bile saya sampai ke tempat tu(outstation), saya boleh sembahyang jamak qasa zohor dan asar..
lepas saya siapkan semua kerja, saya terus balik office pada hari yg sama..saya tiba di office pukul 8.00 mlm..

soalan
---------
1-boleh ke saya sembahyang jamak maghrib dan isya di office?
2-dimanakah jarak sebenar perjalanan itu dikira?di office atau di rumah saya?
Ya Allah Ya Tuhanku, Jauhilah HambaMu Ini Dari Perbuatan Keji Dan Munkar..Amin
apit
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 60
Joined: Tue Dec 02, 2003 4:17 am

Postby g@y@t on Fri Jan 30, 2004 11:35 pm

1-boleh ke saya sembahyang jamak maghrib dan isya di office?


Boleh, krn tamatnya permusafiran adalah di rumah anda.

2-dimanakah jarak sebenar perjalanan itu dikira?di office atau di rumah saya?


Setiap perjalanan musafir itu bermula dari tpt mastautin atau mukimnya. Dgn erti kata lain dari rumah. Jadi perjalanan itu bermula dari rumah. LAinlah kalau ofis tu la rumah sdr :gelak: .

wassalam
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby apit on Sat Jan 31, 2004 6:57 pm

:D
kekadang bleh jadi umah gak office tu.. :gelak:
ok bang..dah faham skarang..
time kasih..
Ya Allah Ya Tuhanku, Jauhilah HambaMu Ini Dari Perbuatan Keji Dan Munkar..Amin
apit
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 60
Joined: Tue Dec 02, 2003 4:17 am

Postby apit on Sat Feb 21, 2004 5:59 pm

assalamualaikum...
ade lagi masalah pasal jamak nie...
kalo saya duk kat Terengganu..
pastu saya belajar kat Johor..
kekadang saya balik kg(kat terengganu) dlm 1 bulan sekali..
mase kat kg tu bleh ke saya sembahyang jamak?
saya masih dikire bermastautin ke kat kg?
Ya Allah Ya Tuhanku, Jauhilah HambaMu Ini Dari Perbuatan Keji Dan Munkar..Amin
apit
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 60
Joined: Tue Dec 02, 2003 4:17 am

Postby g@y@t on Sat Feb 21, 2004 10:11 pm

as'kum,

Nampaknya sdr masih kurang menguasai bab solat safar ini. Utk memahami bab musafir ini, sdr kena paham apa itu mukim dan mastautin. Kampung sdr merupakan mastautin sdr. Kalo dah abih belajar, sdr akan kembali ke kampung. Maka telah ijma' bhw seseorang itu yg berada di mastautinnya, tidak boleh solat qasar. Begitu juga mukim.

Namun, perincian perlu dilakukan mengenai solat jama' secara khusus. Krn ulama' berbeza pendpt mengenai syarat bolehnya solat jama'. Dan perkara ini telahpun dihuraikan di atas iaitu bab jamak krn hajat.

sekian. jika masih keliru, insya Allah kami akan jelaskan dgn lebih detail. WA.

wassalam
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby apai abu firdaus on Thu Feb 26, 2004 2:50 pm

saya cadangkan baik diberi penerangan apa itu bermukim dan mastautin........

wassalam
apai abu firdaus
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 330
Joined: Thu Jun 05, 2003 9:49 am
Location: kuching sarawak

Postby g@y@t on Fri Feb 27, 2004 12:50 am

MASTAUTIN

=Tempat tinggal seseorang yang dia berniat utk menetap di situ sehingga meninggal.

MUKIM

Fiqh syafi'i menetapkan seseorang hanya boleh mengerjakan solat safar sekiranya dia hanya tinggal di sesuatu tpt tidak lebih dari 4 hari. Sekiranya dia menetap lebih dari 4 hari itu, maka dia dipanggil bermukim.

Demikianlah penjelasan ringkas mengenai mastautin dan mukim. WA.

wassalam
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby apai abu firdaus on Fri Feb 27, 2004 10:47 am

terima kasih atas reply.........

daripada jawapan solan dua saudara apit di atas,

apabila seseorang dari kuching katakan kursus atau meeting kat kl untuk tempoh 5 hari, maksudnya dia akan pergi sehari sebelum kursus dan balik sehari selepas kursus, iaitu perjalanan ni dirancang dimana tiket pergi balik dah ada, hotel pun dah dibookingkan;

adakah dia boleh melakukan jamak untuk 4 hari sahaja, manakala hari kelima dia kena solah macam biasa...........ataupun disebabkan dia dah tau akan berada kat kl 5 hari tak termasuk hari pegi dan balik, tak boleh mengerjakan solah jamak, kena solah macam biasa?

terima kasih

wa
apai abu firdaus
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 330
Joined: Thu Jun 05, 2003 9:49 am
Location: kuching sarawak

Postby g@y@t on Fri Feb 27, 2004 1:18 pm

jwpn ringkas sblm gi semayang... :gelak:

berdasarkan fiqh syafi'i, seseorang yg telahpun berniat utk tinggal di satu2 tempat selamat 5 hari misalnya, maka dia tidak boleh melakukan solat safar meskipun pada 4 hari pertama. Tetapi jika dia tidak pasti berapa hari dia akan tinggal(tidak menetapkan berapa lama, mungkin esok balik etc), maka dia boleh melakukan solat safar sehingga 18 hari maksimum. Jika dah sampai 18 hari itu dia belum lagi selesai urusan(blum balik), maka dia tidak boleh lagi solat safar. Inilah qaul mazhab syafi'i.

Muhaqqiq(ulama' pengkaji semula hukum) mengatakan tidak ada dalil yg mengatakan tempoh bolehnya solat safar. Pendapat yg rajih adalah tidak ada tempoh minimum atau maximum. selagi dia bermusafir(tidak pulag ke rumahnya) maka dia dikira musafir. WA.

wassalam
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby apai abu firdaus on Fri Feb 27, 2004 3:09 pm

terima kasih.....

apai selalu iaitu malakukan solah jamak selama 3 hari tak termasuk hari pegi dan balik

wassalam
apai abu firdaus
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 330
Joined: Thu Jun 05, 2003 9:49 am
Location: kuching sarawak

Postby tytsezh on Sat Feb 28, 2004 1:10 pm

Salam,

sekadar menumpang pandangan atau mengukuhkan pandangan G@y@t,penentuan batasan masa bermukim tiada dalil yang jelas,menurut Ibnu Rusd,dalam Bidayah al-Mujtahid,punca perselisihan tentang waktu atau batasan tersebut kerana ianya termasuk perkara yang didiamkan darinya oleh Syarak..Hakikatnya safar tidak terikat dengan masa tertentu yang diniatkan oleh musafir begitu juga bermukim tidak terikat dengan masa tertentu yang diniatkan oleh musafir.setiap yang bermusafir dan bermukim bagi kedua adalah hakikat yang jelas untuk diketahui halnya,untuk membezakan antara musafir, bemukim atau bermastautin bukanlah sesuatu yang sukar.so apabila namanya saja musafir harus baginya qasar tanpa batasan waktu,dan begitulah sebaliknya.Inilah pandangan Ibnu Taimiyyah,Ibnu Hazm,Hasan al-Basri,Qatadah dan lain-lain ulamak.Soal niat bermukim atau bermusafir bukanlah perkara yang disuruh oleh Allah.sesungguhnya niat hanya wajib dalam perkara yang diperintah leh Allah supaya berniat,maka tidak harus dipakai dalam perkara yang tidak disuruh.

Rujuk al-Muhalla,Ibnu Hazm 5/42.

Majmuk Fatawa,Ibnu Taimiyyah, 24/41

Masail Fi al-fiqh al-muqaran,Sulaiman al-Asyqar dll , ms.118.

Bidayah al-Mujtahid,Ibnu Rusyd, 1/169
tytsezh
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 632
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: kuantan

Postby ixaura123 on Tue Apr 06, 2004 6:53 pm

banyaknya pendapat ulama' mana satu nak pakai?

berdasarkan fiqh syafi'i, seseorang yg telahpun berniat utk tinggal di satu2 tempat selamat 5 hari misalnya, maka dia tidak boleh melakukan solat safar meskipun pada 4 hari pertama.

selama ni jika saya bermusafir (eg: selama 2 minggu) pada 3 hari pertama saya akan buat jama' qasar. hari berikutnya solat seperti biasa. maknanya................ apa jadi ngan solat saya jika mengikut pendapat syafie sebenarnya saya telah dikira bermuqim dan tidak boleh jama' qasar kerana saya telah tahu akan tinggal selama 2 minngu di tempat itu?
Perlukah saya mengqada' solat2 saya? :nangis: :pitam:

-----------
(YA ALLAH AMPUNKANLAH HAMBA MU YANG JAHIL INI)
ixaura123
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 175
Joined: Mon Mar 29, 2004 9:36 pm
Location: selangor

Postby g@y@t on Thu Apr 08, 2004 9:32 pm

as'kum,

maaf lewat menjawab.

Persoalan mengqadha' solat memerlukan perbincangan yg lebih mendalam memandangkan terdapat khilaf perlu atau tidak qadha' jika ada meninggalkan solat2 terdahulu. Namun saya ringkaskan perbincangan ini.

Meninggalkan solat krn sengaja

Ada dua pendpt mengenai mengqadha solat krn sengaja meninggalkannya. Jumhur ulama' termasuk syafi'iyyah mengatakan wajib org itu mengqadha. Jika terlalu byk yg telah ditinggalkan dan dia tidak ingat pula berapa byk solat yg telah ditinggalkan, hendaklah dia membuat anggaran brapa byk dan mengqadha'kannya.

Sementara ulama' lain mengatakan tidak ada qadha' dalam kes sengaja. Bahkan dia telah berdosa besar dan hendaklah dia bertaubat dgn taubat yg sebenar2nya iaitu taubat nasuha. Ini pendpt Ibn taimiyyah, Ibn Hazm, Sheikh Sayyid Sabiq dan lain2.(Sayyid Sabiq; Fiqhus sunnah)

----------

Berbalik kpd persoalan sdr iaitu tidak tahu perihal hukum di atas dari sudut pandangan Syafi'i. Spt yg telah dijelaskan, org yg telahpun menetapkan niat utk bermukim tidak boleh melakukan solat safar meskipun pada haru pertama. Demikianlah pendpt syafi'iyyah.

Jika seseorang itu mengerjakan juga krn kejahilan atau salah fahamnya, maka tidak perlulah dia mengqadha'kan solat2 itu.

Drpd Abu Hurairah ra, Ibn Abbas ra dan Abu Dzar ra, bhw Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya Allah mengabaikan dari umatKu kesalahan, kelupaan dan ketika dipaksa."[HR Ibn Majah]

Namun, sekiranya dia tidak tahu krn tidak mengambil berat/tidak peduli/mengambil kisah, berdasarkan padangan Dr Yusuf al-Qaradhawi maka ia dikira berdosa. Ini dikatakan oleh Dr YQ ketika membahaskan org yg melakukan sesuatu yg membatalkan puasa dalam keadaan tidak tahu.(Dr YQ; fiqhus siyyam)

Tambahan

Pendpt yg rajih dalam persoalan had bil hari solat safar adalah pendapat yg mengatakan tidak ada had hari. Ini krn dalil2 yg digunakan oleh fuqaha' yg menetapkan had limit hari adalah tidak jelas dan tidak kuat.(fiqhus sunnah) Jadi sekiranya sdr memilih pendpt ini, maka tidak timbul persoalan sdr yg asal.

Sekian. WA.

wassalam
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby masri@mujahid on Thu Apr 22, 2004 9:39 pm

bagaimana pula dgn jarak utk bermusafir..varu2 nie saya ade pergi pertandingan kat Pasir Besar.. rumah saya kat tampin..jaraknya x sampai 2 marhalah..tp kalu nak pergi tu ambik masa sejam jugaklah..maka saya telah menjamakkan solat zohor dgn asar....adakah solat saya sah
masri@mujahid
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 190
Joined: Fri Apr 09, 2004 10:04 pm
Location: N9

Postby g@y@t on Thu Apr 22, 2004 11:12 pm

as'kum,

persoalan yg sdr kemukakan sudah byk kali diterangkan di BMC. Namun kami akan cuba utk menjwbnya sekadar yg termampu. dan adalah lebih baik sdr mencarinya menggunakan fungsi 'Cari' utk mendptkan penjelasan yg lebih panjang.

Pertama, soalan sdr saya ringkaskan kpd boleh atau tidak menjama'kan solat dalam keadaan tidak melebihi 2 marhalah?

Pertama, jumhur fuqaha' mengatakan musafir bukanlah salah satu sbb bolehnya solat jama'. Namun musafir mmg merupakan salah satu sbb yg membolehkan jama' itu. Jumhur fuqaha' mengatakan jarak musafir itu hendaklah 2 marhalah(atau lebih kurang). Ini termasuklah pendpt syafi'iyyah. (Dr Wahbah; Fiqh Islami)

Namun dalam mazhab syafi'i, terdapat beberapa sbb lain yg membolehkan solat jama' selain musafir spt jama' krn hujan. (Fiqh manhaji)

Mazhab yg paling luas(antara 4 mazhab utama) dalam bolehnya jama' adalah mazhab Hanbali. Mereka membolehkan jama' jika dalam keadaan yg memerlukan selagi tidak menjadi amalan tetap. Spt kesibukan yg tidak dapat dielakkan. Cthnya polis trafik. (Dr Yusuf al-Qaradhawi; Fatawa Muasirah)

Berbalik kpd isi penting soalan iaitu jarak musafir. Ulama' muhaqqiq mengatakan bhw tidak ada sebrg dalil yg kuat mengatakan syarat permusafiran itu adalah 2 marhalah. Pendpt yg kuat mengatakan bhw tidak ada had jarak utk mengerjakan solat safar. asalkan ia dikenali uruf sebagai musafir maka dia boleh mengamalkan rukhsoh solat itu. (Sayyid sabiq; Fiqhus sunnah, Prof Hasbi; Koleksi Hadis2 Hukum)

Tetapi saya mengatakan, sesiapa yg selesa dgn pendpt mazhab teruskan sahaja. Bahkan ini juga jalan yg baik bagi mereka yg ingin mengelakkan dari perasaan was2. Namun sesiapa yg memilih pendpt yg rajih spt yg dijelaskan di ataspun tidak mengapa.

dalam menjawab sah atau tidak solat sdr, saya mengatakan insya Allah sah. WA.

wassalam

p/s: saya menganggap soalan sdr merujuk kpd solat jama dan qasar. Krn jika persoalan jama lain pula citer dia spt yg saya ringkaskan dalam beberapa paragraph pertama.
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby masri@mujahid on Sat Apr 24, 2004 11:44 am

jkk utk jwp ustaz gayat....
masri@mujahid
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 190
Joined: Fri Apr 09, 2004 10:04 pm
Location: N9

Postby squid on Wed Dec 01, 2004 12:05 pm

Seorang yang sedang bermusafir berhenti solat jamak taqdim di masjid.
Blhkah beliau solat zuhur 4 rakaat dengan niat untuk dijamak kepada solat asar dengan menjadi makmum kepada imam yang solat zuhur di situ?
kemudian setelah selesai solat jamaah itu, beliau bangun solat asar 2 rakaat yang dijamakkan dengan solat zuhur?
squid
Ahli
Ahli
 
Posts: 2
Joined: Wed Dec 01, 2004 11:56 am

Postby g@y@t on Wed Dec 01, 2004 2:04 pm

Blhkah beliau solat zuhur 4 rakaat dengan niat untuk dijamak kepada solat asar dengan menjadi makmum kepada imam yang solat zuhur di situ?


Boleh

kemudian setelah selesai solat jamaah itu, beliau bangun solat asar 2 rakaat yang dijamakkan dengan solat zuhur?


Juga boleh.
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby apit on Mon Dec 05, 2005 7:59 pm

sy terkeliru mengenai jamak qasar
kita hanya boleh melakukan jama' qasar selepas melalui 2 marhalah.Jika tidak sampai 2 marhalah tidak boleh qasar.


betul ke pernyataan sy diatas itu?
mintak pendapat dari ustaz2 sekalian
Ya Allah Ya Tuhanku, Jauhilah HambaMu Ini Dari Perbuatan Keji Dan Munkar..Amin
apit
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 60
Joined: Tue Dec 02, 2003 4:17 am

Next

Return to Bicara Fiqah

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests