hukum qisas

Untuk apa-apa bicara berkaitan fiqh Islam.
Pengendali :: abuqais

hukum qisas

Postby sofiyah on Tue Jul 20, 2004 10:22 am

assalamualaikum....sahabat budiman sekalian ....
saya kat sini ingin tahu keadan-keadan yng wajib dikenakn hukumam qisas .....
kalau saudari dan saudara boleh berikan pandangan ........saya hargai ....saya ingin tahu lebih detail....
sofiyah
Ahli Berdaftar
Ahli Berdaftar
 
Posts: 60
Joined: Wed Sep 04, 2002 8:00 am
Location: k.l

Postby Nurani on Wed Jul 21, 2004 10:21 pm

Assalamualaikum …

Firman Allah SWT yang bermaksud:
“Itulah hukum-hukum yang telah ditentukan. Oleh kerana itu janganlah kamu mencabulinya, dan sesiapa yang mencabuli hukum-hukum Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (Al-Baqarah:229)

Perlu difahami terlebih dahulu bahawa hukum Allah atau perundangan Islam itu terbahagi kepada tiga cabang, cabang di dalam undang-undang jenayah Islam iaitu :

1- QISAS : Dalam kesalahan yang berkaitan dengan hak sesama manusia berhubung dengan penyeksaan seperti membunuh dan mencederakan.
2- HUDUD : Dalam perkara yg berhubung dengan hak Alah atau berhimpunnya hak Allah dan manusia iaitu kesalahan yang berhubung dengan keperluan memelihara agama, nyawa, akal, maruah, keturunan dan keperluan menjaga harta.
3- TA’ZIR: Dalam perkara yg tidak ada nas daripada Al-Qur’an dan hadis, dimana urusannya terserah kepada pemerintah atau kebijaksanaan mahkamah dengan kaedah-kaedah dan dasar-dasar yang ditetapkan oleh Islam.

Kesalahan jenayah tidak boleh terkeluar dari ketiga cabang ini.

Oleh kerana pertanyaan hanya menyangkut pada hukum Qisas.. ana cuba berkongsi secara ringkas serba sedikit apa itu qisas.. moga kita sama2 beroleh manfaat, insyaAllah.

HUKUM QISAS
Pengertian dari segi bahasa memberi maksud memotong. Dan dari segi syarak bererti hukuman yang ditetapkan oleh syarak melalui nas-nas al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi SAW kerana kesalahan-kesalahan yang melibatkan hak individu.

a) Jenis Jenayah Qisas
Kesalahan-kesalahan yang mewajibkan hukuman qisas ialah membunuh dengan sengaja dan mencederakan anggota tubuh badan seperti mencederakan mata, hidung dan telinga.

a) Hukuman terhadap kesalahan qisas
Mengikut hukum qisas seseorang penjenayah mesti diikuti dengan hukuman yang sama sepertimana ia lakukan ke atas mangsanya. Kalau ia membunuh maka ia mencederakan orang lain maka hukumannya dicederakan balas.

Ini sahaja serba sedikit untuk membantu, Wassalamualaikum.
Salam persaudaraan.. disini kita bertemu, moga ukhwah dan perjuanagn kita diredhai dan diberkati Allah.
Nurani
Ahli
Ahli
 
Posts: 5
Joined: Mon Jul 05, 2004 1:10 am
Location: Darul Iman

Postby usamahzaitzev on Fri Jul 23, 2004 6:07 am

Askm...


saya kat sini ingin tahu keadan-keadan yng wajib dikenakn hukumam qisas .....
kalau saudari dan saudara boleh berikan pandangan ........saya hargai ....saya ingin tahu lebih detail....


JINAYAT


Menurut bahasa, jinayat bermakna penganiayaan terhadap badan, harta, atau jiwa. Sedangkan menurut istilah, jinayat adalah pelanggaran terhadap badan yang didalamnya mewajibkan qishas atau harta (diyat). Juga bermakna sanksi-sanksi (hukuman) yang dijatuhkan terhadap perlakuan penganiayaan. Dengan demikian, perlakuan penganiayaan itu sendiri dan sanksi (hukuman) yang dijatuhkan atas penganiayaan atas badan disebut dengan jinayat. Pematahan terhadap gigi, begitu pula pembunuhan yang mirip dengan sengaja disebut pula dengan jinayat. Masing-masing penganiayaan itu disebut dengan jinayat. Begitu pula sanksi (hukuman) bagi masing-masing penganiayaan itu disebut dengan jinayat.

Salah satu bentuk jinayat yang paling besar adalah sanksi bagi perbuatan membunuh. Dan termasuk salah satu hukum yang paling menonjol yang telah diketahui adalah pengharaman terhadap tindakan membunuh tanpa hak. Diharamkannya pembunuhan telah ditetapkan berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Allah Swt. berfirman:

"Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja)". (TQS an-Nisa' [4]: 92)

"Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal is di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya". (TQS an-Nisa' [4]: 93)

Ayat-ayat ini qath'iy baik tsubut (sumber) dan dalalahnya (penunjukkan dalilnya) di dalam pengharaman perlakuan membunuh. Oleh kerana itu, ia termasuk hukum-hukum yang bersifat qath'iy (pasti). Adapun Sunnah, dari Ibnu Mas'ud berkata, telah bersabda Rasulullah saw.:

Tidaklah halal darah seorang muslim yang telah bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Aku (Muhammad) adalah utusan Allah, kecuali karena salah satu dari tiga hal ini, (yaitu) lelaki yang telah beristeri yang berzina, jiwa dengan jiwa (gishash), murtad dari agamanya sehingga memisahkan diri dari jamaah.

BENTUK PEMBUNUHAN

Pembunuhan ada empat macam, (yaitu) disengaja, seperti di sengaja, tidak sengaja, dan terjadi tidak dengan kesengajaan.

Pembunuhan Disengaja

Pembunuhan yang disengaja, adalah seseorang membunuh orang lain dengan sesuatu yang pada umumnya dapat membunuh orang lain; atau seseorang memperlakukan orang lain yang pada umumnya perlakuan itu dapat membunuh orang lain. Pembunuhan yang disengaja ada tiga macam;

Pertama, memukul dengan alat yang biasanya dapat membunuh seseorang. Misalnya pedang, pisau tajam, pistol, dan sesuatu yang biasanya dapat digunakan untuk membunuh. Atau memukul orang dengan benda berat dan besar yang boleh mengakibatkan terbunuhnya orang, seperti benda-benda dari besi. Contohnya, kayu yang berat, batu besar, atau kayu yang besar, dan lain-lain. Pembunuhan seperti ini merupakan jenis pembunuhan yang disengaja, dan dikenai hukum-hukum pembunuhan yang disengaja.

Kedua, membunuh seseorang dengan alat yang biasanya tidak dapat membunuh seseorang, akan tetapi ada indikasi lain yang umumnya boleh menyebabkan terbunuhnya seseorang. Seperti tongkat yang didalamnya ada besi yang berat, atau di kepalanya ada paku yang besar. Atau pemukulannya dilakukan secara berulang-ulang yang biasanya dapat membunuh seseorang, seperti dengan batu yang dilemparkan berulang-ulang, yang umumnya boleh membunuh seseorang, atau batu yang pinggirnya dibuat lancip seperti pisau. Semua ini dianggap bahagian dari jenis pembunuhan yang disengaja. Diriwayatkan dari Anas:

"Seorang Yahudi telah menyepit kepala seorang perempuan dengan dua batu. Kemudian ditanyakan kepadanya, siapa yang melakukan hal ini? Ia menjawab, "Si fulan atau fulan, hingga menyebut nama seorang Yahudi". Rasulullah saw. bertanya, "Apakah engkau telah menyepit kepalanya?" Yahudi itu akhirnya mengakui perbuatan¬nya. Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan untuk menyepit kepala Yahudi itu dengan dua buah batu.."

Ketiga, memperlakukan seseorang dengan suatu perbuatan yang biasanya perbuatan itu dapat membunuh seseorang, seperti mencekik lehernya, menggantung lehernya dengan tali, atau melemparkan seseorang dari tempat yang tinggi, seperti dari puncak gunung atau bangunan-bangunan yang tinggi, dilempar dari kapal terbang, atau menenggelamkan seseorang ke dalam laut, atau melempar seseorang ke dalam api.. Perlakuan tersebut boleh juga dengan cara memenjarakan seseorang di suatu tempat dan tidak diberi makan dan minum, hingga batas waktu yang seseorang tidak mungkin mungkin bertahan, yang akhirnya ia (mangsa) meninggal. Perbuatan lainnya adalah seperti memberikan minuman beracun, atau perbuatan-perbuatan lain yang biasanya boleh menyebabkan terbunuhnya seseorang.

HUKUMAN PEMBUNUHAN SENGAJA


Hukum pembunuhan yang disengajakan, pembunuhnya akan dibunuh. Dalam kes pembunuhan yang disengaja wajib dijatuhkan qishah bagi pelakunya, iaitu membunuh sipembunuhnya sebagai balasan atas perbuatannya membunuh orang dengan sengaja, jika wali orang yang dibunuh tidak memaafkannya. Apabila ada pengampunan, maka diyatnya harus diserahkan kepada walinya, kecuali jika mereka ingin bersedekah (tidak menuntut diyat). Dalilnya adalah firman Allah Swt.:

"Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalarn membunuh". (TQS al-Isra [17]: 33)

"Diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh". (TQS al-Baqarah [2]: 178)

"Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu".
(TQS al-Baqarah [2]: 179)

Qishah adalah sebanding, iaitu membunuh si pembunuhnya. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda:

"Barangsiapa yang terbunuh, maka walinya memiliki dua hak, bisa meminta tebusan (diyat), atau membunuh si pelakunya".

Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Syuraih al-Khaza'iy, is berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

"Barangsiapa tertumpah darahnya atau tersakiti, maka is boleh memilih salah satu dari tiga pilihan, sama ada qishah (balas bunuh), atau mengambil tebusan (diyad),atau memaafkan, jika ingin yang keempat, maka kuasailah dirinya (dibuang)".

Rasulullah saw. bersabda:

"Pembunuhan yang disengaja wajib kena qishah kecuali diampuni wali terbunuh".

Diriwayatkan dari Tirmidzi dari `Amru bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

"Barangsiapa yang membunuh dengan sengaja, maka keputusannya diserahkan kepada wali-wali pihak terbunuh. Mereka berhak membunuh, atau mengambil diyat, yakni 30 unta dewasa, 30 unta muda ([i]jadza'ah), dan 40 unta yang sedang bunting, dan mereka juga berhak memaafkannya[/i]".

Ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa hukuman bagi pembunuhan yang disengaja adalah qishash, atau pihak wali meminta tebusan, atau memaafkan.

Adapun qishash terhadap seorang muslim karena membunuh orang kafir, maka dalam kes ini harus dibezakan antara kafir harbi, iaitu kafir yang tidak diberi jaminan keamanan maupun hak-hak umum dari daulah Islam, dan juga tidak ada jaminan khusus bagi orang kafir tersebut dengan kafir dzimmi, maupun dengan kafir musta'min. Kafir harbi yang tidak diberi jaminan keamanan, maka seorang muslim maupun kafir dzimmi, tidak dibunuh karena membunuh kafir harbi tersebut. Kafir harbi fi'lan, iaitu orang kafir yang memusuhi negara Islam secara langsung; seperti halnya suku-suku sebelum Rasulullah saw. mengumumkan perang terhadap mereka. Sebab, bagi kafir harbi fi’lan tidak ada khilaf (perbezaan pendapat), bahwa seorang muslim harus memerangi mereka di manapun mereka berada. Darah mereka tidak terjaga.

Adapun bagi ghair fi’lan, yakni kafir yang tidak memerangi Islam, jika ia bukan kafir mu'dhid, yakni orang kafir yang berada dalam perjanjian dengan negara Islam, maka jika seorang muslim membunuhnya, maka seorang muslim itu tidak dibunuh karena membunuh orang kafir tersebut. la hanya menyerahkan diyat yang jumlahnya separuh dari diyat seorang muslim. Diriwayatkan dari `Amru bin Syu'aib dari bapaknya dan dari kakeknya, bahwa Nabi saw. bersabda:

"Seorang kafir separuh diyatnya seorang muslim"

Alasannya, kita tidak mengumumkan perang terhadap mereka, dan antara kita dengan mereka (kafir harbi) tidak sedang terjadi perang langsung.

Oleh karena itu, seorang muslim secara mutlak tidak dibunuh kerana membunuh kafir harbi yang tidak memiliki perjanjian. Dalilnya, bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan dengan jelas dalam haditsnya, bahwa seorang muslim dan kafir mu'dhid tidak dibunuh karena membunuh seorang kafir. Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali ra, bahwa Nabi saw. bersabda:

"Perhatikan, seorang mukmin tidak dibunuh karena membunuh seorang kafir, demikian pula kafir yang memiliki perjanjian".

Dari Rasulullah saw., bahwa beliau saw. bersabda:

"Seorang muslim tidak dibunuh karena membunuh seorang kafir, demikian pula kafir yang memiliki perjanjian".

Makna dari hadits, "Seorang muslim tidak dibunuh karena rnembunuh seorang kafir, demikian pula kafir yang memiliki perjanjian" adalah seorang muslim tidak dibunuh karena membunuh orang kafir, demikian pula seorang kafir yang memiliki perjanjian (kafir harbi yang terikat dengan perjanjian, baik kafir yang mendapat jaminan keamanan, maupun kafir dzimmi). Ini adalah dalil, bahwa seorang muslim dan kafir mu'dhid tidak dibunuh karena membunuh kafir harbi.

Selain kafir harbi, boleh tergolong kepada kafir dzimmi, atau kafir musta'min. Jika ia seorang kafir dzimmi, maka is memperoleh perlakuan sama seperti seorang muslim dalam hal penjagaan terhadap darah, harta, dan kehormatannya. Darah mereka haram atas kaum Muslim, seperti halnya darah seorang muslim. Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Abdullah bin `Amru dari Nabi saw. bersabda:

"Barangsiapa yang membunuh kafir mu'ahid, maka is tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga tercium dari jarak 40 tahunperjalanan".

Imam Tirmidziy meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Hurairah, dari Nabi saw., bahwa beliau saw. bersabda:

" Perhatikan, barangsiapa membunuh kafir mu'ahid, maka is mendapat celaan dari Allah dan RasulNya. Sungguh aku berlindung dari celaan Allah, dan ia tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga tercium dari jarak 40 tahun perjalanan".

Dua hadits ini menunjukkan keharaman membunuh kafir mu'ahid dan dzimmi, dan memberi ancaman yang keras atas pembunuhan yang menimpa kafir mu'ahid dan kafir dzimmi, kerana terdapat dalalah yang menunjukkan bahwa orang yang melakukan perbuatan itu, akan kekal di dalam neraka, dan haram surga baginya.

PEMBUNUHAN MIRIP SENGAJA

Pembunuhan yang mirip sengaja adalah pembunuhan yang sengaja dilakukan, akan tetapi menggunakan alat yang umumnya tidak (secara pasti dapat) membunuh seseorang. Kadang-kadang maksudnya hanya untuk menyiksanya saja, atau untuk memberi pelajaran, akan tetapi melampaui batas (lupa diri). Seperti memukul dengan tongkat, cambuk, kerikil, tangan kosong, atau dengan sesuatu yang umumnya tidak mematikan, dan tidak ada indikasi lain yang pada umumnya juga boleh menyebabkan kematian. Jika seseorang terbunuh dengan cara seperti ini, maka pembunuhan ini tergolong pembunuhan yang mirip disengaja. la sengaja memukulnya akan tetapi tidak untuk membunuhnya. Disebut juga 'amad al-khatha', atau khatha' al-'amad, kerana ada unsur sengaja dan tidak sengaja. Pelakunya sengaja melakukan, dan tidak sengaja pula membunuhnya. Abu Hurairah berkata:

"Dua orang perempuan dari suku Hudzail saling membunuh, salah satunya melempar pihak yang lain dengan batu. Kemudian terbunuhlah seseorang di antaranya beserta janin yang ada di dalam perutnya".

Rasulullah saw. menetapkan bahwa diyat janinnya adalah membebaskan seorang budak laki-laki atau walidah (budak perempuan), dan menetapkan diyat bagi perempuan itu karena ketidak-sengajaannya.

HUKUMAN PEMBUNUHAN MIRIP SENGAJA

Hukum pembunuhan yang mirip disengaja, diyatnya sangat berat, iaitu menyerahkan 100 ekor unta, dan 40 ekor diantaranya sedang bunting. Had (hukuman) ini didasarkan pada riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud dari `Amru bin Syu'aib dari bapaknya (dan) dari kakeknya, bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

"Diyat pembunuhan yang mirip disengaja sangat berat seperti pembunuhan yang disengaja, akan tetapi pelakunya tidak dibunuh. Hal itu supaya syaitan menyingkir dari kalangan manusia, sehingga tidak ada balas dendam, atau pengangkatan senjata".

Imam Bukhari meriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Amr bahwa Rasulullah saw. bersabda:

"Perhatikan, orang yang terbunuh secara "mirip disengaja. ", terbunuh karena cambuk, atau tongkat, maka diyat-nya adalah 100 ekor unta, dan 40 ekor diantaranya sedang bunting".

PEMBUNUHAN SECARA TIDAK SENGAJA

Pembunuhan yang tidak disengaja ada dua bentuk. Pertama, pelaku melakukan tindakan yang ia sendiri tidak bermaksud menimpakan (perbuatan itu) kepada pihak yang terbunuh, namun menimpa orang tersebut, yang akhirnya membunuhnya. Seperti, tujuannya adalah melempar binatang, namun ternyata mengenai seseorang, kemudian orang itu terbunuh. Atau, seseorang melakukan tindakan yang ternyata menyebabkan terbunuhnya seseorang, akan tetapi ia tidak bermaksud membunuhnya. Seperti, mengundurkan kereta dan ternyata membunuh seseorang yang ada di belakangnya, atau ingin membunuh seseorang akan tetapi ternyata mengenai orang lain, dan akhirnya orang lain yang menjadi korban(terbunuh).Pembunuhan seperti ini termasuk pembunuhan yang tidak disengaja.

Kedua, pelaku membunuh seseorang di negeri kafir, seperti di Eropah atau wilayah Amerika yang is sangka kafir harbiy, tetapi ternyata orang yang ia bunuh itu muslim(yg menyembunyikan ke-Islamannya). Pembunuhan seperti ini termasuk jenis pembunuhan yang tidak disengaja.

Ini adalah dua jenis pembunuhan yang tidak disengajakan. Dan semua hal yang tercakup dalam pembunuhan ini termasuk dalam pembunuhan yang tidak disengaja. Hukum pembunuhan yang tidak disengaja memerlukan perincian. Jika pembunuhan itu adalah pembunuhan model pertama; yakni pelaku melakukan tindakan yang ia sendiri tidak bermaksud menimpakan (perbuatan itu) kepada pihak yang terbunuh, akan tetapi menimpa orang itu, yang akhirnya membunuhnya. Dalam hal ini is harus menyerahkan diyat berupa 100 ekor unta, dan harus membayar kafarat dengan membebaskan budak. Jika ia tidak menjumpai budak maka is harus berpuasa 2 bulan secara berturut-turut.

Namun, jika pembunuhannya adalah pembunuhan model kedua, is hanya diwajibkan membayar kafarat saja, dan tidak wajib membayar diyat. Dalilnya adalah firman Allah Swt :

"Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal is mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah is (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalahAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".
(TQS an-Nisa [4]:

Ini adalah dalil, bahwa sanksi(hukuman) pembunuhan yang tidak disengaja adalah membayar diyat dan kafarat. Tidak ada bezanya, baik yang dibunuh itu muslim maupun kafir yang memiliki perjanjian. Dalilnya adalah firman Allah Swt pads ayat itu sendiri:

"Dan jika is (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah is (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut". (TQS an-Nisa [4]: 92)

Dan di dalam ayat itu juga, Allah Swt. berfirman:

"Jika is (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal is mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin". (TQS an-Nisa [4]: 92)

Akan tetapi (jika yang terbunuh itu) orang yang memusuhi kaum 'Muslim, padahal is seorang mukmin, maka diyatnya adalah membebaskan budak saja, dan tidak disebutkan yang lainnya. Padahal ayat sebelumnya menyebutkan diyat beserta pembebasan budak sebagai kafarat. Maka ayat sesudahnya menunjukkan bahwa hukum pada masalah ini berbeda. Ayat tersebut menunjukkan bahwa hukum pada kondisi seperti ini adalah membayar kafarat saja, yakni membebaskan budak mukminah, atau puasa selama dua bulan secara berturut-turut. Ini adalah dalil pada kondisi kedua. Oleh karena itu, ayat ini seluruhnya sebagai dalil atas pembunuhan yang tidak disengajakan.

PEMBUNUHAN YG TERJADI DGN KETIDAKSENGAJAAN

Pembunuhan yang terjadi karena ketidaksengajaan adalah, seseorang melakukan suatu perbuatan tanpa ia kehendaki, akan tetapi perbuatan itu telah menyebabkan terbunuhnya seseorang. Seperti misalnya, terbaliknya orang yang sedang tidur, yang menyebabkan terbunuhnya seseorang; seseorang yang jatuh dari tempat tinggi, kemudian menimpa seseorang dan akhirnya membunuh orang yang tertimpa. Boleh juga ketika seseorang tergelincir kemudian menimpa orang lain, hingga menyebabkan terbunuhnya orang tersebut. Keadaan lain adalah ketika ada seseorang yang sedang bermain-main dengan senjata, namun 'meletus' secara tidak sengaja dan membunuh orang lain.. Semuanya termasuk pembunuhan yang terjadi tanpa kesengajaan, selama kejadian itu telah"memaksa" pelakunya.

Model pembunuhan seperti ini mirip dengan pembunuhan tidak sengaja jenis pertama. Mengundurkan kereta yang menyebabkan terbunuhnya seseorang adalah pembunuhan yang tidak disengaja. Demikian pula tatkala seseorang yang bermaksud melempar binatang dengan batu, namun ternyata malah mengenai seseorang atau sedang memain-mainkan senjata yang menyebabkan terbunuhnya seseorang. Itu semua termasuk pembunuhan yang tidak disengaja.

Kemiripan dua model pembunuhan ini sangat jelas. Pembunuhan tidak disengaja terjadi pada perbuatan yang dikehendaki oleh pelakunya, akan tetapi apa yang diakibatkan dari perbuatannya tidak sesuai dengan kehendaknya. Adapun pembunuhan yang terjadi karena ketidak¬sengajaan, tidak ada kehendak dari pelakunya secara mutlak, juga terhadap apa yang diakibatkan dari perbuatannya itu, atau dari yang lainnya. Oleh karena itu, ia tidak dibunuh kerana ia melakukan pembunuhan yang tidak disengaja, tetapi masuk pada kategori melakukan pembunuhan yang terjadi karena ketidaksengajaan.

Demikianlah hukum pembunuhan seperti ini mirip dengan model pembunuhan tidak sengaja "jenis pertama", yaitu wajib membayar diyat 100 ekor unta, dan wajib membayar kafarat dengan membebaskan budak. Jika is tidak mendapatkan budak, wajib berpuasa selama duabulan berturut-turut.

JINAYAT SELAIN JIWA

Jinayat selain jiwa, adalah jinayat atas salah satu organ dari anggota tubuh manusia; atau atas tulang dari tulang-tulang tubuh manusia; atau atas kepalanya; atau atas bagian dari tubuh manusia. Tanpa memandang statusnya, baik laki-laki ataupun wanita, merdeka atau budak, miskin, kafir dzimmi ataupun kafir musta'min. Sebahagian fukaha’ berpendapat bahwa qishash selain jiwa dari organ-organ tubuh didasarkan pada firman Allah Swt.:

"Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (at Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya". (TQS al-Maidah [5]: 45)

Para ahli fikih menetapkan qishash selain pada jiwa dari organ-organ tubuh manusia, suatu kaedah, "gigi (dibalas) dengan gigi." Jadi, barangsiapa mencongkel mata seseorang, maka matanya harus dicongkel pula. Namun, ayat ini turun bagi bani Israil, ayat yang menceritakan kisah tentang mereka dan bukan khithab bagi kita. Dengan demikian berlaku kaedah:

Syari'at sebelum kita bukanlah syari'at bagi kita”.

Dengan begitu, siapapun tidak dibenarkan berhujjah menggunakan ayat ini dan mengambilnya sebagai dalil. Sebab, kita tidak diperintah dengan ayat tersebut.

Yang benar adalah, jinayat selain jiwa tidak di-istidlal-kan dari ayat tersebut, akan tetapi disandarkan dengan riwayat yang disebutkan dalam hadits-hadits. Ayat diatas berupa kisah tentang bani Israil. Selain itu ayat tersebut menerangkan tentang syari'at orang-orang Yahudi. Dan kita memang tidak diperintahkan untuk mengikuti syari'at-syari'at seperti itu. Walhasil, ayat tersebut tidak layak digunakan sebagai dalil. Bahkan tidak sah dijadikan sebagai dalil, selama kita tidak diperintahkan dengan ayat tersebut. Bahkan, tidak ada nash di dalam al-Quran yang boleh gunakan sebagai dalil untuk menetapkan jinayat pada selain jiwa. Sedangkan firman Allah Swt.:

"Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu". (TQS al-Bagarah [2]: 194)

Ayat ini turun berkaitan dengan perlakuan kaum Muslim terhadap orang kafir, dan tidak menjelaskan tentang jinayat pada selain jiwa. Nash ayat tersebut adalah:

"Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishas. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah is seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa". (TQS al-Bagarah [2]: 194)

Demikianlah, tidak ada perang di bulan haram. Kemudian Allah menjelaskan di dalam ayat ini, bahwa jika orang-orang musyrik memerangi kalian di bulan haram, maka perangilah mereka di bulan haram, dan barangsiapa menyerang kalian maka perangilah mereka setara dengan serangan yang mereka lakukan terhadap kalian. Maksud ayat tersebut adalah seranglah orang kafir setara dengan serangan yang dilakukan oleh mereka. Kemudian Allah Swt. berfirman bahwa kaidah untuk berperang dengan orang-orang musyrik adalah bulan haram dengan bulan haram. Lalu, Allah swt memberlakukan qishas pada bulan-bulan yang dihormati. Iaitu berlangsungnya penghormatan selama bulan-bulan yang diharamkan. Selanjutnya Allah Swt. memperluas kaidah ini, dengan menyatakan bahwa siapa saja yang memusuhi kaum Muslim maka balaslah mereka dengan perlakuan yang setimpal.

Dengan begitu, objek pembahasan ayat ini adalah peperangan antara kaum Muslim dengan orang kafir, bukan sanksi(hukuman) selain jiwa. Alasannya, ayat sebelumnya yang berhubungan dengan ayat tersebut berbicara te'ntang peperangan. Allah Swt. berfirman:

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah); dan fitnah (kekufuran) itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. Bulan haram dengan bulan haram, dan pads sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishash. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu". (TQS al-Baqarah [2]: 190-194)

Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa objek pembahasannya (maudu') adalah peperangan antara kaum Muslim dengan orang kafir. Dengan demikian ayat ini pembahasannya khusus mengenai peperangan. Jadi, ayat tersebut tidak layak digunakan dalil untuk menetapkan `uqubat (sanksi) selain jiwa. Sedangkan firman Allah Swt.:

"Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu". (TQS an¬Nahl [16]: 126)

Ayat ini senada dengan firman Allah Swt:

"Dan balasan atas suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa", (TQS asy-Syura [42]: 40)

Yang dimaksud ayat tersebut adalah menghindari dosa dari jiwa dan membalas permusuhan dengan balasan yang setimpal. Ayat ini tidak menjelaskan tentang sanksi (`uqubat)) selain jiwa, akan tetapi hanya berhubungan dengan menghindari dosa (keburukan). Karena seseorang tidak boleh menyakiti orang lain kecuali sekedar dengan apa yang diterimanya. Dan tidak boleh melebihi apa yang sudah diterimanya. Dalilnya adalah firman Allah Swt:

"Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar". (TQS an-Nahl [16]: 126)

Dengan demikian, ayat tersebut tidak layak digunakan sebagai dalil yang menunjukkan `uqubat selain badan dijatuhkan oleh negara. Dari sini jelaslah bahwa tidak ada nash-nash dalam al-Quran yang menunjukkan 'uqubat (sanksi) selain jiwa. Dalil yang menunjukkan sanksi selain jiwa berasal dari as-Sunnah, bukan yang lain.

Sedangkan apa yang disebutkan di dalam Sunnah tentang `uqubat selain jiwa, bagi orang yang meneliti perkara ini tidak akan melihat adanya sanksi qishash pada organ dari anggota-anggota badan, maupun tulang yang terdapat di dalam tubuh secara mutlak, kecuali pada gigi. Terdapat riwayat dari al-Hasan dari Samrah bahwa Rasulullah saw. bersabda:

"Barangsiapa yang membunuh budaknya, kami akan membunuhnya. Dan barangsiapa yang memotong hidung budaknya, kami akan memotong hidungnya".

Juga riwayat yang dituturkan oleh Abu Dawud bahwa Nabi saw. bersabda:

"Barangsiapa yang mengebiri budaknya (hamba), maka kami akan ganti mengebirinya".

Riwayat-riwayat ini hanya berlaku khusus dalam perkara sanksi (hukuman) yang dijatuhkan tuan kepada budaknya. Dan tidak berlaku umum. Topik yang dibahas dalam riwayat-riwayat itu adalah perlakuan tuan kepada budaknya (hamba), bukan topik tentang persanksian (penghukuman). Riwayat-riwayat itu hanyalah sanksi khusus yang dijatuhkan kepada pemilik budak, jika ia melakukan perlakuan penganiayaan kepada budaknya. Riwayat tersebut tidak berlaku umum untuk seluruh manusia, karena memang sanksi yang disebutkan dalam riwayat tersebut tidak berlaku umum untuk seluruh manusia. Sehingga, jika seseorang memotong hidung bukan budaknya, maka is tidak dikenai hukuman yang setimpal, yakni potong hidung.

Begitu pula jika ia mengebiri bukan budaknya, maka ia tidak dikebiri pula. Karena, hadits di atas tidak menunjukkan pengertian seperti ini. Dalam hadits itu Rasulullah saw. bersabda, "`abdahu" (budaknya),

"memotong hidung budaknya"

dan

"mengebiri budaknya."

Beliau saw. tidak mengatakan, "abdan" (manusia), atau "ahadan" (seseorang). Isnadnya adalah pada lafadz "abdahu", sehingga berlaku khusus untuk budak saja, tidak berlaku bagi yang lain. Berdasarkan hal itu hadits ini tidak bisa digunakan sebagai dalil wajibnya qishash (hukuman setimpal) pada anggota tubuh secara mutlak.

Ada yang menyatakan bahwa kami berargumentasi dengan hadits:"Barangsiapa membunuh hambanya, maka kami akan balas membunuhnya". Dan -menurut mereka- kami telah menjadikannya sebagai dalil bahwa seseorang yang merdeka harus dikenai sanksi (hukuman)bunuh jika ia membunuh seorang budak, padahal hadits itu topiknya secara khusus membahas perlakuan tuan kepada budaknuya. Jawabnya adalah sebagai berikut. Hadits yang menyatakan:

"Barangsiapa yang membunuh budaknya, maka kami akan membunuhnya pula".

Dilihat dari dalalah manthuq-nya (penunjukkan tekstualnya) tidak menunjukkan pengertian bahwa orang yang merdeka dibunuh karena membunuh budak, akan tetapi orang yang merdeka harus dibunuh karena membunuh budak ditunjukkan oleh dalalah mafhum-nya (penunjukkan kontekstualnya). Sabda Rasulullah saw:

"Barangsiapa membunuh budaknya"

Manthuq-nya menunjukkan pengertian, bahwa seorang tuan jika mem¬bunuh budaknya maka ia harus dibunuh balik. Jadi, tidak menunjukkan pengertian lain. Sehingga hadits itu tidak menunjukkan pengertian bahwa seorang tuan dibunuh karena membunuh budaknya. Melainkan hanya menunjukkan bahwa seorang tuan harus dibunuh balik jika is membunuh budaknya saja. Kaedah fahwiy al-khithab (mafhum muwafaqah) menunjukkan bahwa selain tuan harus dibunuh karena membunuh budaknya itu lebih utama. Yaitu, jika seorang tuan dibunuh karena membunuh budaknya, padahal is adalah pemilik budaknya, dapat berbuat atas budak itu sekehendak hatinya, maka sesungguhnya membunuhnya karena dia membunuh budak yang bukan miliknya adalah lebih utama dia dibunuh. Hadits ini menunjukkannya berdasarkan dalalah mafhum (penunjukkan dari apa yang tersirat) bukan dalalah manthuq (penunjukkan dari apa yang tersurat). Dan dalalah ini (maksudnya dalalah mafhum) tidak terkandung dalam hadits:

"Barang siapa memotong (salah satu anggota tubuh) budaknya maka kami akan memotongnya"

dan tidak terdapat pula pada hadits:

"Barangsiapa mengebiri budaknya maka kami akan mengebirinya".

Sesungguhnya kandungan hadits ini tidak menunjukkan bahawa seandainya dia memotong seorang budak yang bukan miliknya maka dia akan dipotong karenanya. Dan seandainya dia mengebiri budak yang bukan miliknya maka dia akan dikebiri (pula) kerananya. Alasannya, seorang tuan punya hak untuk mendidik budak yang dimilikinya, dan dia dilarang memberikan pendidikan/pelajaran sehingga sampai menghilangkan salah satu anggota tubuh dari budaknya, juga dilarang untuk mengebiri atau memotong budaknya. Hal ini tidak boleh dipahami bahwa lebih utama apabila dia diperlakukan dengan perlakuan yang sama jika dia melakukannya pada budak yang bukan miliknya.

Masalahnya karena mafhum muwafaqah kadang-kadang berupa penyebutan yang lebih rendah yang mencakup yang lebih tinggi, dan kadang-kadang juga berupa penyebutan yang lebih tinggi yang mencakup yang lebih rendah malah kadang-kadang berupa penyebutan sesuatu dengan mencakup kedudukannya yang sejajar/sama dengan yang disebutkannya. Semua yang telah disebutkan diatas tidak terdapat sedikitpun dalam hadits, "Barangsiapa memotong budaknya ....." dan hadits, "Barangsiapa mengebiri budaknya..... Di dalamnya tidak dijumpai penyebutan sesuatu yang mencakup sesuatu yang lain. Namun hadits, "Barangsiapa membunuh hambanya..." mengandungi tanbih (penyebutan) sesuatu yang tinggi mencakup yang lebih rendah.


Selain itu karena tidak ada nash yang datang yang menunjukkannya baik dari al-Qur'an maupun as-Sunnah. Dan terdapat dalam hadits-hadits shahih penjelasan tentang diyat setiap anggota tubuh dan uqubat (sanksi) satu anggota dari anggota-anggota tubuh adalah diyat, yang terdapat didalam hadits yang menyebutkan anggota tubuh tersebut.

Ini berkaitan dengan anggota-anggota tubuh, adapun mengenai tulang-tulang, maka ada dalil dari Sunnah yang menyebutkan bahwa untuk tulang gigi berlaku atasnya qishash. Bukhari telah mengeluarkan dari Anas:

"Bahwa ar-Rubayyi' bibinya telah mematahkan gigi seri seorang perempuan, lalu mereka (keluargaAnas) merninta maaf, tetapi mereka menolak. Kemudian mereka menawarkan denda, tetapi mereka tetap menolak. Lalu mereka datang kepada Rasulullah saw, maka mereka tetap hanya menuntut qishash. Maka Rasulullah saw memerintahkan (dilangsungkan) hukuman qishash (atas Rubayyi'), lalu Anas bertanya: 'Ya Rasulullah, apakah engkau akan mematahkan gigi Rubayyi'? Demi Dzat yang mengutusmu dengan benar, hendaklah engkau tidak mernatahkan giginya'. Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Hai Anas, Kitab Allah (menetapkan) qishash". Lalu pihak keluarga perempuan tersebut merasa puas, kemudian mereka memaafkan (Rubayyi'). Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah, ada orang yang kalau dia bersumpah atas nama Allah, tentu Allah akan menetapkan sumpahnya itu".

Dalam hadits ini terdapat dalalah bahwa gigi apabila telah dipatahkan, maka ada qishash. Dengan kata lain dipatahkan lagi gigi orang yang mematahkan gigi orang lain. Hanya saja dalam hadits ini terdapat beberapa perkara yang harus diperhatikan ketika mengguna¬kannya untuk beristidlal. Diantaranya adalah bahwa perkataan Rasulullah saw: "Kitab Allah (menetapkan) qishash" bukan merupakan isyarah kepada ayat:

"Dan karni telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa." (TQS. al-Maidah [5]: 45)

Akan tetapi perkataan ini tiada lain adalah isyarah pada ayat: "kutiba alaykurn al qishash". Ini karena ayat "wa katabna alayhim.." merupakan isyarah baginya dengan kaidah, "gigi dengan gigi" karena ayat ini terkenal dengannya. Bahkan yang paling terkenal dari ayat ini adalah "gigi dengan gigi ". Seandainya isyarah itu kepadanya maka pastilah Rasulullah saw akan mengatakan, `Kitab Allah (menetapkan) qishash gigi dengan gigi', terutama karena peristiwa itu adalah peristiwa tentang gigi, dan perkataan beliau: "Kitab Allah (menetapkan) qishash", menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah ayat qishash, yaitu firman Allah: "Kutiba 'alaykum al qishash" bukan ayat "wa katabna 'alayhim".

Selain dari itu ayat "wa katabna 'alayhim" tidak mengungkapkan tentang sanksi (hukuman) anggota-anggota tubuh dengan qishash, akan tetapi hanya menyebutkan tentang anggota-anggota tubuh yang berlaku kaedah "gigi dengan gigi". Adapun kata qishash diungkapkan untuk sanksi pelukaan, dan setelah menyebutkan anggota-anggota tubuh maka ayat berpindah pada pelukaan. Maka ayat tersebut menyebutkan: "wa al juruuh qishash". Peristiwa yang ada adalah peristiwa yang berkaitan dengan tulang, bukan berkaitan dengan pelukaan.

Oleh karena itu maka perkataan tersebut bukan merupakan isyarah pada ayat "as-sinn bi as-sinn", akan tetapi pada ayat qishash yaitu firman Allah: "Kutiba alaykum al qishash ". Dan diantara hal-hal yang harus diperhatikan pula adalah bahwa hadits menyebutkan tentang gigi saja, maka nash ini merupakan dalil atas wajibnya qishash atas gigi bukan yang lain. Jadi, tidak sah beristidlal dengannya untuk jenis tulang lainnya, dan min baab awla bukan merupakan dalil atas qishash salah satu anggota tubuh dari anggota-anggota tubuh lainnya, karena nash ini berkaitan dengan tulang bukan dengan anggota tubuh. Jadi, khusus untuk tulang gigi saja.

Apabila perkara-perkara ini diperhatikan pada saat beristidlal dengan hadits tadi, maka jelaslah bahwa hadits merupakan dalil atas `apabila gigi dipatahkan maka berlaku qishash'. Tetapi qishash tidak diberlakukan pada tulang-tulang selain gigi secara mutlak, karena tidak terdapat dalil yang menunjukkan hal itu. Dan hadits Anas tidak menunjukkan selain pematahan gigi. Dari penuturan ini jelas bahwa tidak ada qishash atas salah satu anggota dari anggota tubuh manusia, dan tidak ada qishash atas semua tulang manusia, kecuali gigi apabila dipatahkan. Dan sesungguhnya sanksi dari setiap anggota tubuh seperti yang telah disebutkan oleh hadits adalah dengan denda.

Disamping itu Rasulullah saw tidak mengatakan : 'as-sinnu bi as-sinni' tetapi mengatalan: al-qishash. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masalah gigi berlaku kesamaan dalam uqubat (sanksi). Apabila gigi dipatahkan maka harus dipatahkan gigi orang yang mematahkannya. Apabila gigi dicabut maka harus dicabut lagi gigi orang yang telah mencabutnya. Apabila hanya menjadikan gigi itu goyang, maka orang yang menjadikan gigi itu goyang diperlakukan dengan perlakuan yang sama. Kerana inilah yang namanya qishash.

Hanya saja perlu diketahui bahwa sebagaimana terdapat nash tentang qishash atas gigi, terdapat pula diyat atas gigi, yang tercantum dalam surat yang dikirim oleh Nabi saw kepada 'Amru bin Hazm ketika beliau mengutusnya ke Yaman:

"Dan (diyat) gigi adalah lima ekor unta".

Dan bila wajib diberlakukan qishash, dan bila wajib diberlakukan diyat? Sebagian fukaha’ berpendapat bahwa qishash atas gigi hanya diberlakukan apabila ada kesengajaan. Jadi, barangsiapa mencelakakan gigi orang lain secara sengaja maka diberlakukan qishash atasnya berdasarkan hadits Anas. Jika kecelakaan itu tidak disengaja maka diberlakukan diyat. Berdasarkan hal ini maka apabila ada seseorang yang memukul orang lain dengan maksud untuk mematahkan giginya, dengan sesuatu biasanya akan merusakkannya, atau dengan perlakuan yang biasanya akan mematahkan gigi, atau dengan sesuatu yang tidak akan mematahkan gigi tetapi disertai dengan sesuatu yang akan mematahkan gigi atau dengan perbuatan yang biasanya akan mematahkan gigi, maka dalam kondisi-kondisi ini saja terjadi kesengajaan, dan diberlakukan atasnya qishash.

Sedangkan jika seseorang memukul orang lain tetapi tidak bermaksud untuk mematahkan giginya, atau memukul dengan sesuatu yang tidak akan mematahkan giginya, tetapi giginya patah, maka dalam masalah ini tidak ada qishash. Yang ada hanya wajib membayar diyat, berupa lima ekor unta. Inilah hukum qishash bagi anggota-anggota tubuh manusia, dan tulang-tulang manusia. Tidak ada qishash atas anggota-anggota tubuh manusia secara mutlak dan tidak ada qishash atas tulang-tulang manusia, kecuali gigi. Hanya dalam masalah gigi saja terdapat qishash. Sedangkan mengenai pelukaan di badan maka qishash dalam hal ini telah tetap berdasarkan Sunnah. Di dalam Shahih Muslim dari Anas, bahwa saudara perempuan Rubayyi' -Ummu Haritsah- telah melukai seseorang maka mereka mengadukannya kepada Nabi saw, maka Rasulullah saw bersabda:

"Al-qishash itu adalah al-qishash"

Maka berkata Ummu Rubayyi': "Wahai Rasulullah, apakah engkau mengqishash fulanah? Demi Allah dia (Rasulullah) tidak akan mengqishashnya". Maka berkata Rasulullah saw:

"Subhanallah, wahai Ummu Rubayyi', al-qishash kitab Allah"

Dia berkata,

"Tidak demi Allah, dia tidak akan mengqishashnya selamanya". Dan perempuan itu melakukan hal itu sampai mereka rela menerima diyat. Maka Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya diantara hamba Allah itu ada orang yang apabila dia bersumpah karena Allah maka Allah akan menetapkan sumpahnya itu "

Hadits ini menunjukkan bahwa dalam pelukaan terdapat qishash, dan isyarah Rasulullah saw dalam perkataan beliau:

`Al-qishash itu adalah kitab Allah"

Adalah isyarah pada firman Allah SWT, "Kutiba 'alaykum al-qishash" dan bukan isyarah pada firman Allah: "Wa katabna 'alayhim fiha".Dan dari Jabir:

"Bahwa seorang laki-laki telah terluka, kemudian dia bermaksud menuntut (dilaksanakan) hukum qishash, lalu Nabi saw melarang dilaksanakannya qishash kepada pihak yang melukai itu sampai orang yang dilukai itu sembuh."

Dan dari 'Amru bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya:

"Bahwa seorang laki laki telah menusuk seseorang dengan tanduk binatang pada lututnya, lalu is datang kepada Nabi saw seraya berkata: "Balaslah untukku'. Lalu Nabi saw bersabda: "Sampai engkau sembuh". Kemudian dia datang (lagi) kepada Nabi SAW lalu is berkata "Balaslah untukku", lalu dia pun dibalas. Kernudian (pada suatu hari) is datang kepada Nabi saw dan berkata: "Ya Rasulullah, aku menjadi pincang". Nabi saw bersabda: "Aku benar-benar telah melarangmu tetapi engkau tidak menta'atiku, maka Allah membinasakanmu dan sia-sialah pincangmu itu". Kemudian Rasulullah saw melarang "qishash pada suatu luka hingga sembuh".

Dua hadits ini meskipun untuk menunjukkan bahwa pelaksanaan qishash atas pelaku pelukaan dilakukan setelah luka korban sembuh, akan tetapi kedua hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam pelukaan ada qishash dengan dalalah isyarah. Maka kedua hadits ini dapat dijadikan dalil bahwa sesungguhnya dalam pelukaan itu ada qishash. Berdasarkan hal ini maka qishash diberlakukan atas pelukaan yang dilakukan terhadap badan.

Hanya saja qishash dalam pelukaan tidak berlaku, kecuali jika telah memenuhi syarat-syaratnya. Diantara syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah bahwa pelukaan itu dilakukan secara sengaja. Jika tidak disengaja maka tidak ada qishash, dan yang berlaku adalah diyat saja. Syarat lainnya adalah tidak ada kekhawatiran, yaitu kekhawatiran akan meninggalnya orang yang diqishash apabila diberlakukan qishash. Apabila ada kekhawatiran atau ditakutkan akan meninggal karena qishashnya itu, maka tidak ada qishash. Yang ada adalah denda yang ditetapkan oleh orang yang adil apabila pelukaan itu bukan pelukaan aI-Jaifah dan bukan luka gores karena dipijak. Juga disyaratkan bahwa pelukaan itu termasuk yang harus diqishash kecuali kalau orang yang memukul itu tidak sengaja, baik pukulan itu banyak atau sedikit. Jika kondisinya demikian, maka tidak ada qishash. Yang ada hanyalah hukumah dengan syarat pelukaan itu bukan pelukaan al-jaifah atau luka gores karena dipijak.

Demikian juga tidak ada qishash apabila` mangsa memaafkan atau apabila dia mengambil diyat atau hukuman, dan tidak menuntut qishash lagi. Qishash hanya diberlakukan apabila mangsa memintanya. Jika mangsa tidak memintanya maka tidak ada qishash, kerana hal ini berkaitan dengan hak hamba. Apabila telah terpenuhi syarat-syarat ini maka diberlakukan qishash. Jika salah satu syarat tidak terpenuhi maka tidak ada qishash, dan sanksinya (hukuman) tiada lain adalah berupa denda yang terdapat di dalam syara'. Qishash tidak diberlakukan kecuali setelah luka korban sembuh, berdasarkan hadits Jabir tadi dan hadits 'Amru bin Syu'aib setelah Rasulullah saw mengizinkan terdapat perkataan:

"Kemudian Rasulullah saw melarang".

Sesungguhnya perkataan ini menunjukkan haramnya meminta qishash sebelum sembuh, karena kata "tsumma" menunjukkan tartib, maka larangan itu datang setelah beliau menghapus izin yang terdapat sebelumnya. Jadi, tidak diberlakukan qishash dalam pelukaan kecuali setelah luka itu sembuh.

Ini pembahasan tentang pelukaan yang dilakukan pada badan. Adapun as-syijaj iaitu pelukaan di kepala, maka tidak ada qishash atasnya. Artinya tidak diberlakukan qishash, karena masalah ini tidak termasuk dalam hadits-hadits pelukaan. Karena as-syijaaj tidak termasuk dalam pelukaan maka tidak dinamakan pelukaan. Sudah diketahui dikalangan para ulama bahwa as-syijaaj adalah pelukaan di kepala, dan al jarah adalah pelukan di badan. Maka hadits-hadits al jarah tidak boleh dijadikan dalil atasnya. Kerana al jarah tidak menunjukkan as-syijaaj, baik secara bahasa maupun secara syara'. Disamping itu tidak terdapat nash yang menunjukkan adanya qishash atas as-syijaaj baik dalam Kitab maupun dari Sunnah. Yang ada hanya nash tentang diyat atas al jarah. Oleh karena itu maka sanksi as-syijaaj adalah diyat yang terdapat dalam Sunnah.

Dari semua pembahasan di atas, jelaslah bahwa sanksi(hukuman) atas tindakan kriminal yang (darjat) lebih rendah dari menghilangkan nyawa ada perinciannya, (iaitu) anggota-anggota tubuh manusia seluruhnya, dan tulang-tulang manusia seluruhnya kecuali gigi, dan as-syijaaj (yaitu pelukaan di kepala). Sanksi (hukuman) atas semuanya adalah hanya denda saja, berupa diyat yang terdapat dalam as-Sunnah. Tidak ada sanksi (hukuman) fisik di dalamnya, dan tidak ada qishash di dalamnya.

Adapun mengenai gigi dan pelukaan atas badan, maka atasnya terdapat sanksi (hukuman) fisik dan denda. Mengenai gigi apabila penganiayaan atasnya dilakukan secara sengaja, maka sanksinya adalah qishash. Dan jika tidak ada kesengajaan atau karena kesalahan atau korban tidak menuntut qishash dan meminta diyat, maka dalam dua keadaan ini sanksinya adalah diyat, bukan yang lainnya. Dengan kata lain, sanksi dalam perkara ini adalah sanksi (hukuman)berupa denda. Apabila telah terpenuhi semua syarat-syarat pelukaan, dan korban tetap menuntut qishash, maka dalam hal ini sanksinya adalah sanksi badan yaitu qawad atau qishash. Tetapi apabila tidak terpenuhi satu dari syarat-syarat yang harus dipenuhi, atau korban tidak menuntut qishash lagi, maka dalam hal ini hukuman-nya adalah berupa denda.

Adapun mengenai kadar sanksi berupa denda ini tergantung, apabila ada nash yang menjelaskan tentang ukuran diyatnya, maka diyatnya sebesar apa yang telah disebutkan oleh nash. Dan hal ini terbatas hanya pada dua perkara. Yang pertama al-Jaifah, yaitu luka yang sampai ke dalam rongga tubuh. Dan yang kedua fatqu shaghirah, yaitu luka gores kerana dipijak. Yang pertama terdapat dalam hadits, dan yang kedua dalilnya adalah Ijma' sukuti. Selain dari kedua jenis luka tersebut, tidak ada nash yang menjelaskan tentang ukuran diyatnya. Maka sanksinya(hukuman) adalah hukuman yang adil.

Sumber:

*Abdulrahman al-Maliki. Nizham al-Uqubat.

Rujukan:

*Wahbah al-Zuhaili. al-Fiqh al-Islami wa-Adillatuhu .
لا عزة الا بالاسلام
usamahzaitzev
Ahli Kanan
Ahli Kanan
 
Posts: 281
Joined: Sat Jun 26, 2004 7:42 am

Postby g@y@t on Fri Jul 23, 2004 7:15 am

alhamdulillah. JKK kpd usamah di atas perkongsian ilmunya. Jwpn yg beliau berikan amat baik dan rasanya tidak perlu ditambah lagi. WA.

wassalam
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am


Return to Bicara Fiqah

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests

cron