[b]mencegah kemungkaran atau mencari kesalahan[/b]

Untuk apa-apa bicara berkaitan fiqh Islam.
Pengendali :: abuqais

[b]mencegah kemungkaran atau mencari kesalahan[/b]

Postby apai abu firdaus on Thu Jun 05, 2003 10:01 am

assalamualaikum.

jika diperhatikan zaman ini, orang suka mencegah kemungkaran kerana berdasarkan kepada satu hadis yang bermaksud><,'cegahlah kemungkaran dgn tangan kamu, kalau tak mampu gunakan lidahmu, kalau tak mampu dengan hati kerana itulah selemah2 iman'.

jadi kita saksikan baik kat mana di malaysia ni orang akan mencegah kemungkaran baik menyerbu hotel rumah dan tempat disko dan yang sewaktu dgnnya......untuk mencegah kemungkaran maksiat ini.

ada satu dalil dari al quran yang bermaksud ><,'janganlah kamu mencari kesalahan orang........' dan dari hadis yang bermaksud><,'tutuplah aib saudara mu nanti Allah akan menutup aibmu'

jadi kalau diperhatikan orang yang mencegah kemungkaran ini sanggup hendak memecahkan pintu rumah untuk menangkap si pelaku maksiat tadi pdahal tanpa izin tuan punya rumah. dan ada yang sanggup mengintai2 untuk menangkap pelaku maksiat tadi malah ada sesetengah pihak yang sanggup menayangkan kes2 sebegini di kaca televisyen.

jadi adakah mereka ini mencegah kemungkaran, mencari kesalahan orang ataupun membuka aib orang ataupun mereka melakukan kesemua kesalahan yang disebutkan.

jadi kepada sapa2 yang tahu atau ahli hukum untuk kes sebegini boleh tak bagi pendapat anda yang akan dijadikan garis panduan dalam mencegah kemungkaran tapi tak sampai mencari salah orang atau membuka aib orang?

terima kasih.

wassalam
apai abu firdaus
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 330
Joined: Thu Jun 05, 2003 9:49 am
Location: kuching sarawak

Postby awang bin ali on Thu Jun 05, 2003 12:56 pm

Nabi saw telah amalkan hadis2nya..gitu juga para sahabat ra.

Mereka ni sebaik2 ikutan.

agama yg diamalkan ikut fahaman dan cara mereka..hasilnya kebaikan.
agama yg diamalkan ikut faham saya dan cara saya..kekadang brcampur ngan amarah, dan nafsu..hasilnya fitnah, lebih keburukan dari kebaikan.
Cintailah sedara kamu, kasihlah sedara kamu..Brsatulah sebagai satu ummah. gembirakanlah Allah swt dan RasulNya saw.
awang bin ali
Ahli Kehormat
Ahli Kehormat
 
Posts: 7533
Joined: Sun Mar 04, 2001 8:00 am

Postby apai abu firdaus on Thu Jun 05, 2003 2:10 pm

ya kerana hendak mengikut Nabi SAW dan para sahabatnyalah saya hendak bertanyakan pendapat yang ahli dalam hukum hakam nie.........

ini kerana pernah sekali saidina umar membuat rondaan dan di dalam meronta itu beliau telah mengendap seorang hamba Allah yang sedang melakukan maksiat di dalam rumahnya, jadi saidina umar mengatakan kepada lelaki itu kamu berbuat maksiat kepada Allah.......lelaki tersebut menjawab ya wahai amirul mukminin tetapi saya buat satu kesalahan tetapi kamu membuat tiga kesalahan satu kamu tidak memberi salam kedua tidak meminta izin dan ketiga kamu mencari kesalahan............rasanya ramai orang sedia maklum berkenaan kisah saidina umar ini.........jadi dgn sebab itu saya bertanyakan pendapat kepada yang ahli berkenaan hal ini..................


sila betulkan kalau salah

wallahualam
....sampaikanlah ilmu walaupun satu ayat...........
apai abu firdaus
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 330
Joined: Thu Jun 05, 2003 9:49 am
Location: kuching sarawak

Postby awang bin ali on Thu Jun 05, 2003 2:43 pm

tul..dalam kisah trsebut Umar ra salah..

maka usahlah buat spt tu.
Cintailah sedara kamu, kasihlah sedara kamu..Brsatulah sebagai satu ummah. gembirakanlah Allah swt dan RasulNya saw.
awang bin ali
Ahli Kehormat
Ahli Kehormat
 
Posts: 7533
Joined: Sun Mar 04, 2001 8:00 am

Postby apai abu firdaus on Thu Jun 05, 2003 2:46 pm

sebab tu saya nak tanya kepada sapa yang ahli dalam hal ni............

nak cegah kemungkaran sampai mane limit dier...............

mencari kesalahan orang ni macam mane pulak ................

membuka aib orang macam mane pulak..............

kepada sapa2 yang ahli boleh beri sikit garis panduan dalam hal yang saya sebutlan kat atas....................

terima kasih
apai abu firdaus
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 330
Joined: Thu Jun 05, 2003 9:49 am
Location: kuching sarawak

Postby g@y@t on Fri Jun 06, 2003 8:51 am

As’kum,

Terima kasih kpd Apai Abu firdaus yang bertanya. Dan tidak lupa juga kpd Awang yang sentiasa ada utk berkongsi ilmu bersama kita.

Soalan ini merupakan satu soalan yang baik. Mari kita lihat hukum mengenai tajassus (mengintip/mengintai) dahulu.

Imam Nawawi mengatakan bahawa haram memandang ke dalam rumah seseorang apabila tanpa izin kerana ia boleh mendatangkan aib penghuni dan menimbulkan fitnah. Ibnu Al-Arabiy dalam syarah sahih At-turmudizi mengatakan ijmaa’ ulama’ mengharamkan perbuatan tajassus ini tanpa izin dan restunya. Dr Yusuf Qaradawi sendiri dalam bukunya Al-Halal Wal-Haram fil Islam membuat sebuah subtopik kahs berkaitan hukum tajassus ini. Berikut saya lampirkan pendapat beliau:

---------

Tidak adanya kepercayaan terhadap orang lain, menyebabkan seseorang untuk melakukan perbuatan batin yang disebut su'uzh-zhan(bersangka buruk) dan melakukan perbuatan badan yang berbentuk tajassus. Sedang Islam bertujuan menegakkan masyarakatnya dalam situasi bersih lahir dan batin. Oleh karena itu larangan bertajassus ini dibarengi dengan larangan su'uzh-zhan (berburuk sangka). Dan banyak sekali su'uzh-zhan ini terjadi karena adanya tajassus.

Setiap manusia mempunyai kehormatan diri yang tidak boleh dinodai dengan tajassus dan diselidiki cacat-cacatnya, sekalipun dia berbuat dosa, selama dilakukan dengan bersembunyi.

Abul Haitsam sekretaris Uqbah bin 'Amir --salah seorang sahabat Nabi-- berkata: saya pernah berkata kepada Uqbah: saya mempunyai tetangga yang suka minum arak dan akan saya panggilkan polisi untuk menangkapnya. Maka kata Uqbah: Jangan! Tetapi nasehatilah mereka itu dan peringatkanlah. Abul Haitsam menjawab: Sudah saya larang tetapi mereka tidak mau berhenti, dan tetap akan saya panggilkan polisi untuk menangkapnya. Uqbah berkata: Celaka kamu! Jangan! Sebab saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. berkata:

"Barangsiapa menutupi suatu cacat, maka seolah-olah ia telah menghidupkan anak yang ditanam hidup-hidup dalam kuburnya." (Riwayat Abu Daud, Nasa'i, Ibnu Hibban)

Rasulullah s.a.w. menilai, bahwa menyelidiki cacat orang lain itu termasuk perbuatan orang munafik yang mengatakan beriman dengan lidahnya tetapi hatinya membenci. Kelak mereka akan dibebani dosa yang berat di hadapan Allah.

Dalam hadis Nabi yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah s.a.w, pernah naik mimbar kemudian menyeru dengan suara yang keras:

[i ]"Hai semua orang yang telah menyatakan beriman dengan lidahnya tetapi iman itu belum sampai ke dalam hatinya! Janganlah kamu menyakiti orang-orang Islam dan jangan kamu menyelidiki cacat-cacat mereka. Sebab barangsiapa menyelidiki cacat saudara muslim, maka Allah pun akan menyelidiki cacatnya sendiri; dan barangsiapa yang oleh Allah diselidiki cacatnya, maka Ia akan nampakkan kendatipun dalam perjalanan yang jauh." (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah) [/i]

Maka demi melindungi kehormatan orang lain, Rasulullah s.a.w. mengharamkan dengan keras seseorang mengintip rumah orang lain tanpa izin; dan ia membenarkan pemilik rumah untuk melukainya. Seperti sabda Nabi:

"Barangsiapa mengintip rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka halal buat mereka untuk menusuk matanya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Diharamkan juga mendengar-dengarkan omongan mereka tanpa sepengetahuan dan perkenannya. Sabda Nabi:

"Barangsiapa mendengar-dengarkan omongan suatu kaum; sedang mereka itu tidak suka, maka kelak di hari kiamat kedua telinganya akan dituangi cairan timah." (Riwayat Bukhari)

Al-Quran mewajibkan kepada setiap muslim yang berkunjung ke rumah kawan, supaya jangan masuk lebih dahulu, sehingga ia minta izin dan memberi salam kepada penghuninya.

Firman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu masuk rumah selain rumah-rumah kamu sendiri, sehingga kamu minta izin lebih dahulu dan memberi salam kepada pemiliknya. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu, supaya kamu ingat. Maka jika kamu tidak menjumpai seorang pun dalam rumah itu, maka jangan kamu masuk, sehingga kamu diberi izin. Dan jika dikatakan kepadamu: kembalilah! Maka kembalilah kamu. Yang demikian itu lebih bersih buat kamu, dan Allah Maha Menge tahui apa saja yang kamu kerjakan." (an-Nur: 27-28 )

Di dalam hadis Nabi, juga dikatakan:

"Barangsiapa membuka tabir kemudian dia masukkan pandangannya sebelum diizinkan, maka sungguh dia telah melanggar suatu hukum yang tidak halal baginya untuk dikerjakan." (Riwayat Ahmad dan Tarmizi)

Nas-nas larangan tentang tajassus dan menyelidiki cacat orang lain ini meliputi hakim dan yang terhukum, seperti yang diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Mu'awiyah dari Rasulullah s.a.w. ia bersabda:

"Sesungguhnya kamu jika menyelidiki carat orang lain, berarti kamu telah merusak mereka atau setidak-tidaknya hampir- merusak mereka itu." (Riwayat Abu Daud dan ibnu Hibban)

Abu Umamah meriwayatkan dari Rasulullah s.a.w., ia bersabda:

"Sesungguhnya seorang kepala apabila mencari keragu-raguan terhadap orang lain, maka ia telah merusak mereka." (Riwayat Abu Daud)


------

Kesimpulannya, kita diharamkan mencari kecacatan orang lain. Apabila kita mendapati terdapat kemungkaran yang berlaku di depan mata kita, maka cegahlah sedaya yang kita mampu berdasarkan hadis yang dimaksudkan oleh saudara abu. Ia adalah hadis sahih riwayat Imam Muslim. Berikut makna penuh matan hadis berkenaan.

Dari Abi Sa'id Al-Khudri r.a. telah berkata : Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda :

"Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubah/mencegah dengan tangannya (kekuasaan) jika ia tidak mampu, maka dengan lidahnya (secara lisan), dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya (merasakan tidak senang dan tidak setuju). Dan itu adalah selemah-lemah Iman".


Mencegah apabila berlaku didepan kita bukannya membawa makna mencegah setelah kita mencari kesilapan org itu. Kerana di situ kita telah melakukan perbuatan yg haram yakni tajassus. Harap dapat meleraikan kekeliruan saudara. WA.

Wassalam
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby awang bin ali on Fri Jun 06, 2003 9:06 am

alhamdulillah....

Islam ni sempurna..ada sistem yg trsendiri.

Kita tak tahu, apakah kemungkaran dan jenis fasakh pada seseorg..dan kita pula selalu brsangka baik trhadap sesama org Islam...kita juga tak tahu akan kesahihan niat seseorg.

mahfumnya..solat tu mencegah fasakh dan mungkar..

oleh tu kita seru manusia kepada solat, prbaguskan solat..bila seseorg tu tetap brsolat, baguskan solatnya..insyaallah segala sifat2 mazmumah, fasakh dan mungkar yg dia trlibat..akan disucikan dan hilang dari dirinya.

mahfum..seseorg yg kejakan solat, dosanya akan gugur spt mana daun2 yg brguguran dimusim gugur..
..solat umpama mandi 5 kali sehari, yg mana jika mandi 5 kali sehari, pasti akan badannya suci dari kekotoran..
..solat brjemaah selama 4o hari ngan takbirtuulla, diberi 2 jaminan..bebas dari sifat2 munafik dan dari neraka jahanam.
..satu langkah ia melangkah kemasjid, satu dosa diampunkan, satu darjat dinaikkan..

banyak lagi kelebihan2 solat..
Bila lagi suci dirinya, hatinya..semakin bencilah ia dari prkara2 fasakh dan mungkar..lagi suci hatinya, lagi sensitiflah ia ngan perkara2 yg mungkar dan fasakh.
Dan dirinya akan suci dari sifat2 munafik..keikhlasan dalam amalan2nya yg lain akan brtambah baik.
Solat adalah ubat kepada penyakit rohani dan masalah sosial.
Cintailah sedara kamu, kasihlah sedara kamu..Brsatulah sebagai satu ummah. gembirakanlah Allah swt dan RasulNya saw.
awang bin ali
Ahli Kehormat
Ahli Kehormat
 
Posts: 7533
Joined: Sun Mar 04, 2001 8:00 am

Postby apai abu firdaus on Fri Jun 06, 2003 10:40 am

terima kasih goyot kerana memberikan jawapan kepada persoalan apai ni. begitu juga kepada pe reply yang lain terima kasih.

kesimpulan nya, kita mencegah kemungkaran yang berlaku di depan mata kita tapi bukan nya mencarik kesalahan orang yang bersembunyi melakukan maksiat...........kerana jika Allah hendak disiksanya mereka ini kalau tak di ampuni Allah mereka ini. ..wallahulam


satu masalah lagi akan timbul saudara goyot adakah hukum ini akan melibatkan pihak polis atau pihak berkuasa yang berkaitan............contohnya adakah di zaman Nabi SAW atau di zaman abu bakar, umar, usman dan ali membenarkan pihak berkuasa misalnya polis , kastam dll pada zaman mereka untuk mengeledah di rumah orang untuk tujuan mencari bukti untuk kes mahkamah atau mungkin ada kisah yang sewaktu dengannya.

terima kasih

wassalam
....sampaikanlah ilmu walaupun satu ayat...........
apai abu firdaus
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 330
Joined: Thu Jun 05, 2003 9:49 am
Location: kuching sarawak

Postby g@y@t on Fri Jun 06, 2003 10:45 pm

satu masalah lagi akan timbul saudara goyot adakah hukum ini akan melibatkan pihak polis atau pihak berkuasa yang berkaitan


Saya tak mampu utk mengeluarkan hukum atau fatwa berkaitan isu ini. Perkara ini melibatkan isu kenegaraan, keselamatan, keamanan dan faktor zaman juga perlu diambil kira. Fiqh itu adalah bersifat dinamik. Ia juga berubah bergantung pada zaman, suasana dan tempat kita berada. Setakat ini saya masih belum berjumpa dgn fatwa di Malaysia berkaitan perkara ini. Mungkin ada antara kita yang pernah terbaca perkara ini dan boleh dikongsi bersama. WA.

Wassalam
g@y@t
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 1913
Joined: Wed Dec 25, 2002 8:00 am

Postby madini on Sat Jun 21, 2003 12:50 pm

Emmm...sulit gak persoalan ni...

Para pencegah maksiat yang ada sekarang ini dalam istilah islamiknya dipanggil ahli jawatankuasa hisbah,iaitu satu badan yang ditubuhkan dalam sesebuah negara islam yang berfungsi melaksanakan konsep amar makruf dan nahi mungkar...dimana setiap ahli hisbah ini boleh bertindakmengikut etika2 yang dibolehkan.

Dalam kitab Ahkamus Sultaniah oleh Al-Mawardi...dalam hal menegah kemungkaran misalnya terbahagi kepada 2 keadaan :-

1/Dalam keadaan terangan2 - Wajib ditegah dan disoal dahulu sebelum diambil tindakan.
Contohnya,seseorang yang makan dikhalayak ramai dalam bulan ramadhan,kerana boleh jadi dia seorang musafir atau terdapat keuzuran yangmembolehkan ia berbuka puasa...dalam hal ini para ahli hisbah tidak boleh terus menghukum orangini,tetapi menasihatinyaagar tidakmakan secara terangan2.

2/Dalam keadaan yang tertutup - dalam hal ini tidak boleh mengintip atau bertajassus kecuali dalam beberapa keadaan seperti terdapat tanda2 yang jelas yang menunujukkan terdapat aktiviti maksiat ditempat tersebut
seperti rumah pelacuran yang memang diketahui ramai,
begitu juga jika terdapat berita dari seseorang yang diyakini kebenarannya yang memberitahu bahawa terdapat sepasang lelaki dan perempuan didalam sebuah rumah utk berzina atau terdapat seorang lelaki bersama lelaki lain ditempat tertutup dgn tujuan utk membunuhnya,
maka dalam hal ini ahli hisbah boleh menyiasat atau bertajassus utk mencegah kemungkaran yang bakalberllaku.

Tentang peranan polis pula sudah semestinya lebih besar maslahatnya berbanding ahli hisbah...kerana ia menyangkupi keselamatan negara atau anasir2 yang boleh meruntuh dan merosakkan masyarakat dalamsesebuah negara...jadi dalam hal ini,pada pendapat kawan,polis boleh menjalankan penyiasatan dengan bertajassus dan mengintip aktiviti orang yang menjadi suspek dalam sesuatu kes...kerana jika bertembung antara maslahat individu dengan maslahat umum,maka endaklah diutamakan maslahat umum...maknanya boleh diketepikan haknya (suspek) dengan mengintip kegiatannya demi menjaga hak yang lebih besar iaitu masyarakat,seperti mengintip seseorang yang disyaki pengedar dadah,perogol bersiri dan sebagainya.
Kerana dalam siasah peperangan islam membolehkan mengintip gerakan musuh atas nama maslahat negara...begitu jugamengintip pergerakan suspek atas nama maslahat...bahkan rasulullah pernah memberi izin kepada seorang sahabatnya yang menyahut seruan rasulullah utkmembunuh seorang musuh islam iaitu Ka'ab ibn Al-Ashraf dengan memburukkan2 baginda s.a.w didepan Ka'ab utk memperdayakannya...
sedangkan hukum memburuk2 atau mencela rasulullah adalah haram,
tetapi dalam kes utk membunuh Ka'ab ini,rasulullahmembenarkan atas nama maslahat.....

Ini sekadar pandangan kawan jer...betulkan kawan kalau tersilap!
Wallahu a'lam..
madini
Pengendali
Pengendali
 
Posts: 305
Joined: Mon Jun 24, 2002 8:00 am

Postby tytsezh on Tue Jun 24, 2003 9:07 am

assalamualaikum

Wilayah al-Hisbah ialah satu institusi yg menjlankan tugas amr makruf dan nahi munkar,menegakkan keadilan selain dari institusi al-Qadha dan al-Mazalim. Orang yang dilantik dibawan wilayah ini dipanggil muhtasib.
dari segi bahasa ihtisab bermakna meneliti,mentadbir,melihat,mencegah munkar,mendapat balasan,(lihat karim Zaidan Nizam a-Qadha).Istilah melaksanakan tugas keagamaan,menyeru melakukan makruf yg jelas jika teryata ditinggalkan dan mencegah kemungkaran yg jelas jika ternyata dilakukan.

secara praktik telah pun ada dizaman Rasul(lihat kes Rasul Vs Peniaga Kurma) ,Said bin Said al-As dilantik sebagai muhtasib di pasar Mekah,zaman Sahabat praktik Saidina Omar(lihat kes Syyaidina Omar VS rashid as-Saqafi(Ibnu Qayyim..al-Turuq al-Hukmiyyah) begitulah seterusnya.Hisbah secara sistematik dan terkenal dgn istilah ini mulai zaman al-Mahdi salah seorang Khalifah Abbasiyyah.

Dizaman kini muhtasib boleh diertikan sebagai mana agen perlaksana/peguatkuasaan..undang2 seperti polis,penguatkuasa agama,JPj,majlis daerah dsb.

Bagi tugas nahi mungkar ada beberapa syarat khas yg perlu dipatuhi...bersambung.
tytsezh
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 632
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: kuantan

Postby apai abu firdaus on Tue Jun 24, 2003 2:16 pm

terima kasih atas artikel saudara tu..............

adakah muhtasib di zaman tu akan mencegah kemungkaran sampai boleh pecah pintu rumah orang atau mengintip orang lain mungkin nak dapatkan bukti atau sebagainya..............ataupun mereka yang bertindak jadi agen penguatkuasa ketika itu hanya mengambil tindakan terhadap kemungkaran yang terjadi kat depan mereka ataupun di tempat terbuka dan bukan nya tempat tertutup.......................

jadi boleh terangkan...... mungkin ada sapa2 yang pernah terbaca atau belajar pasal perkara tersebut

wassalam
apai abu firdaus
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 330
Joined: Thu Jun 05, 2003 9:49 am
Location: kuching sarawak

Postby tytsezh on Tue Jun 24, 2003 3:02 pm

assalamualaikum

sambungan,,,

Bagi tugas amar makruf tiada syarat khusus,kerana ianya adalah nasihat petunjuk serta taklim,harus pada bila2 masa yhg sesuai.Manakala nahi munkar da beberapa syarat khusus sekurang2nya 4 syarat.(lihat Abd Qadir Audah a[-tasriyc al-jinaii m.s 501)

saya tak cadang nak hurai semua cukuplah apa yg relevan..
etika muhtasib dalam nahi mungkar adalah tertaaluk pada etika yg disebut dalam al-Ihya Ulumuddin -al Ghazali;haram..mengintip dan memeriksa, curi dgr menghidu bau atau memeriksa baju bagi nak cari apa yg tersembunyi,tak boleh masuk rumah tanpa izin,malah tak boleh nak korek rasia dari jiran mengenai apa yg berlaku.

Ulamak secra jelas..memasukan syarat nahi munkar mestilah jenayah/maksiat itu secara zahir tanpa perlu pada intipam dan pemeriksaan.Itu kaedah umum yg dipakai..ini berdasarkamn Firman Allah dalam surah alhujurat /31,hadis riwayat muawiyah,dan kes Tuan rumah vs s.Omar(sdr dah citerkan).

Walaubagaimanapun,menurut almawardi dalam Al-ahkam al-sultaniyah ms 218...jika ada ghlabah zon atas perlakuan maksiat yg tersembunyi dan ada tanda2 yg nyata atau ada aduan yg bolweh dipercayai seperti ada tanda bau hasisy yg keluar dari rumah,atau terdengar suara ada adua uyg thiqah ada kemmungkina berlaku zina atau pembunuhan maka harus dalam keadaan begini..tajaasus atau taptisy ,Seterusnya rumah yg tertutup jika dalam keadaan begitu atau ada perlakuan yg dilihat seorang atau berdua ada perlakuan maasi dalamnya...mamka harus masuk kedalam sekalipun tanpa izin,apapun ttanda maksiat itu hendaklah berasaskan dari tanda2 zahir diluar seperti bau arak atau dgr suara org mabuk,,,ibid..

Dalam kontek ari ni...ada yg perlu waran atau tanpa waran...org yg dilihat melakukan jenayah hendak ditangkap tapi lari masuk dalam rumah..maka muhtasib berhak untuk masuk bagi menagkapnya.Wajib bagi tuanrumah atau siapapun memmberi kerjasama,jika masih gagal barulah dapatkan waran geledah atau waran geledah tak dapt (hakim cuti misalan)sedangkan org tu brg tu perlu diambil,muhtasib berhak untuk masuk dan pecah(Kanun Acara Jenayah Negeri Pahang 2002)

mana yg kurang sila tambah dan mana yg tak kene betulkan...
tytsezh
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 632
Joined: Thu Jan 01, 1970 8:00 am
Location: kuantan

Postby apai abu firdaus on Tue Jul 01, 2003 10:38 am

tq 4 reply

kalau penguatkuasa sebegitu eloklah .............tak dicariknya kesalahan orang membuat kemungkaran secara tersembunyi.............


tapi trend sekarang ni kalau nak tengok cerita2 tu............siap pasang kamera pun ada, rakam perbualan telefon pun ada nak dapatkan buktilah konon tapi sebenarnya carik salah orang ...........ini kerana manusia memang lemah dan akan/sering melakukan kesalahan kalau nak dicarik memang jumpe..................

bukannya saya nak menyokong/berpihak kat sapa2 tapi sekadar nak tau .............terutama selepas saya terbaca kisah tuan rumah vs saidina umar tu suatu ketika dulu..........ini kerana saya terfikir bahwa pada masa tu saidina umar antara orang yang dijamin syurga oleh Allah dan tinggi ilmu dan pemerintah dan imam..........tapi terdiam bila ditegur oleh tuan rumah tersebut...........kalau pemimpin sekarang habislah tuan rumah tu mau nak dikatakan menghina pemimpin...................

wallahualam
apai abu firdaus
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 330
Joined: Thu Jun 05, 2003 9:49 am
Location: kuching sarawak

Postby awang bin ali on Tue Jul 01, 2003 12:21 pm

Bayan hidayat..petunjuk/atau guideline dalam buat keja..bila gi dakwah, salah satunya sentiasa semaikan perasaan kasih sayang dan memuliakan sedara kita dan sentiasa brprasangka baik.

Bayan hidayat untuk jemaah sekuriti pulak.. yg awang diberitahu, mereka ni pulak sentiasa mencurigai dan setiap org tu ada potential untuk buat kejahatan..sentiasa awasi pergerakan seseorg dan jika trdapat apa2 tanda yg mencurigai, tindakan segera akan diambil..
Dan mereka ni biasanya tidak pilih bulu..semua org sama je..semua ada potential..semada org awam atau org khawas..org jahil atau org alim.
Namun ..jemaah sekuriti ni juga sentiasa diawasi agar tidak melampaui batas2..

Bayan hidayat untuk jemaah istiqbal..lain pulak.
Bayan hidayat untuk jemaah khidmat ..lain pulak.
Bayan hidayat untuk jemaah tasykil..lain pulak.
Bayan hidayat untuk keluar buat gasht..lain pulak ada prbezaan serba sedikit ngan setiap jenis gash, dan ada 5 jenis gasht.
Setiap jemaah ada caranya trsendiri..procedurenya trsendiri disamping procedure2 yg umum bagi setiap satu jemaah.
.....
Polis dan pihak brkuasa..umumnya adalah jemaah sekuriti..mereka jalankan tugas ikut undang2 dan kuasa yg ada pada mereka..namun gitu kebebasan mereka untuk mengintip/ mengawasi/mengeledah pada sesapa yg disyakki semada ada bukti atau tidak..pun ada undang2 yg menjaga kebebasan ni..kita kena tahu gak akan undang2 ni untuk jaga hak kita.

tu je..
Cintailah sedara kamu, kasihlah sedara kamu..Brsatulah sebagai satu ummah. gembirakanlah Allah swt dan RasulNya saw.
awang bin ali
Ahli Kehormat
Ahli Kehormat
 
Posts: 7533
Joined: Sun Mar 04, 2001 8:00 am

Postby apai abu firdaus on Thu Jul 03, 2003 2:45 pm

terima kasih kepada reply............

mungkin kita pernah terdengar semasa perlantikan khalifah zaman sahabat nabi SAW mengatakan.............ikutlah aku kalau aku ikut Allah dan RasulNya.........

jadi memang betul kita patut ikut undang2 sekuriti kat negara kita tapi undang2 ciptaan manusia ni ada yang ikut islam dan ada yang tak...........jadi macam mane tu?

banyak jugaklah kalau nak dibagi kan contohnya cume kat sini taknak diperkatakan..............

sapa cakap bahawa undang2 ni akan meliputi orang awam dan orang atasan .............sebenar nya tak...................untuk orang2 awam je kebanyakan undang2 ni dilaksanakan tapi untuk orang atasan lagi2 yang ada pengaruh silaplah.........silap2 orang yang nak menyaman disaman balik atau yang sewaktu dgnnya................

ni pendapat saya yang lemah ni je.............

wallahulam
apai abu firdaus
Ahli Setia
Ahli Setia
 
Posts: 330
Joined: Thu Jun 05, 2003 9:49 am
Location: kuching sarawak


Return to Bicara Fiqah

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest